Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 131


__ADS_3

Jeny menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuh rampingnya mulai melebar. Pipi chuby nya pun terlihat semakin menggelembung seperti balon. Dan lehernya terlihat begitu pendek sekarang.


“Apa aku akan sangat jelek nantinya..” Gumam jeny sedih.


Jeny menghela nafas. Porsi makanya memang bertambah akhir akhir ini. Mungkin karna tubuhnya memang butuh asupan gizi lebih mengingat ada kehidupan di dalam rahimnya yang juga membutuhkan nutrisi dan vitamin.


Jeny mengusap perutnya yang masih terlihat rata. Tidak lama lagi dan seiring dengan berjalanya waktu perutnya pasti akan semakin membesar dan akhirnya buncit. Dan pada titik itu nanti dirinya pasti akan sangat gendut. Jeny menelan ludahnya. Selama ini tomy selalu memujinya cantik. Dan tiba tiba jeny berpikir mungkin tomy tidak akan mau memandangnya jika melihat tubuhnya yang membengkak dengan perut buncit. Tomy juga mungkin tidak mau lagi memeluk bahkan menyentuhnya.


Deringan ponsel tomy membuat jeny tersentak. Wanita cantik itu menolehkan kepalanya dan menemukan ponsel milik suaminya berada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Satu kali, dua kali, hingga untuk yang ketiga kalinya ponsel tomy terus berdering. Sepertinya seorang yang menelephone tomy sangat tidak sabar dan memaksa agar tomy segera mengangkat telephone nya.


Penasaran jeny pun mendekat. Wanita itu berlalu dari depan cermin riasnya kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang. Jeny meraih ponsel tomy dan menemukan nomor tanpa nama yang tertera di layar ponsel pria itu. Jeny terdiam sesaat. Tomy belum lama masuk ke dalam kamar mandi, Jika menunggu tomy sampai selesai mungkin si penelephone akan langsung naik tensinya.


“Aku angkat nggak papa kali yah..” Gumam jeny.


Jeny pun akhirnya mengangkat telephone tersebut. Dan begitu jeny mengangkatnya terdengar sebuah isak tangis seorang wanita yang begitu jelas. Entah suara siapa itu karna jeny sama sekali tidak dapat mengenalinya.


“Tomy.. Hiks hiks.. Ini aku.. Rachel.. hiks hiks..”


Kedua tangan jeny langsung mengepal erat. Jeny pikir tomy sudah benar benar berhenti berkomunikasi dengan rachel. Tapi nyatanya rachel tetap menghubunginya.


“Tolong aku... Hiks hiks.. Aku cacat sekarang.. Aku nggak bisa jalan lagi.. Aku hiks hiks.. Aku butuh kamu.”


Dada jeny mulai kembang kempis menahan amarah. Rachel menelephone suaminya sambil menangis. Hal itu memperkuat dugaan jeny bahwa tomy dan rachel memang memiliki hubungan yang jeny tidak pernah tau. Tidak heran jika minggu lalu orang tua rachel bahkan sampai datang langsung ke rumahnya.


“Tomy.. Hiks hiks..”


Tidak mau mendengar isak tangis menyebalkan rachel jeny pun langsung memutuskan sambungan telephone nya. Jeny kemudian meletakan kembali ponsel tomy di tempatnya. Dan baru sedetik jeny melepaskan ponsel itu deringanya kembali terdengar.


“Sayang...”

__ADS_1


Jeny menelan ludahnya. Kedua tanganya mengepal semakin erat hingga buku jarinya terlihat memutih mendengar suara tomy yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Jeny sudah tidak bisa lagi menoleransi semua bukti tentang hubungan rachel dan suaminya.


“Sayang.. Kenapa?” Tanya tomy sambil melangkah mendekat pada jeny yang duduk di tepi ranjang.


“Jangan mendekat.” Jeny bangkit dari duduknya dan melengos membuang muka.


Tomy langsung berhenti melangkah. Pria itu menatap bingung pada jeny yang sama sekali tidak menoleh menatapnya.


“Sayang...”


“Jujur sama aku tomy.. Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan rachel?”


Tomy menelan ludahnya. Entah apa yang di pikirkan jeny saat ini sampai bisa bertanya seperti itu.


“Sayang apa maksud kamu? Aku nggak ada hubungan apa apa sama rachel.. Kamu..”


“Tidak akan ada asap jika tidak ada yang menyulut api tomy.”


Tomy menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang baru saja di katakan oleh istrinya. Padahal tadi saat tomy hendak mandi jeny masih bersikap seperti biasanya. Manis dan ceria.


Jeny benar benar tidak bisa lagi menahan amarahnya. Tomy selalu saja menutupi sesuatu darinya. Dan sekarang jeny baru menyadarinya bahwa sangat tidak mungkin tomy perduli pada rachel bahkan sampai meninggalkanya demi menjenguk rachel.


“Ya tuhan.. Sayang.. Aku harus jujur bagaimana lagi? Aku benar benar tidak ada hubungan apa apa dengan dia.. Kami..”


“Lalu kenapa? Kenapa kedua orang tua rachel bahkan sampai datang kesini? Untuk apa?”


Untuk itu tomy sendiri tidak tau. Seingatnya tomy hanya sekali bertemu dengan kedua orang tua rachel saat masih di amsterdam. Dan kemarin adalah untuk yang kedua kalinya tomy langsung bertatap muka dengan keduanya.


“Sayang.. Aku mohon jangan begini.. Aku benar benar tidak ada apa apa sama rachel. Dan tentang orang tua rachel datang aku juga tidak tau... Aku jujur, aku memang menelephone mereka.. Aku hanya memberitahu tentang keadaan rachel..”


Jeny tertawa hambar. Air matanya menetes. Tomy sampai menghubungi keduanya demi rachel. Tomy bahkan terlihat sangat akrab dengan keduanya.

__ADS_1


“Sayang..”


“Stop. Jangan dekati aku..”


Jeny mengangkat kedua tanganya di udara memberi isyarat agar tomy tidak mendekat padanya. Dadanya terasa sesak karna tomy yang begitu sangat memperdulikan wanita lain.


“Mungkin aku bodoh karna percaya begitu saja sama kamu.. Dan tentang kamu dan rachel... Aku nggak tau bagaimana dekatnya kalian di amsterdam.. Dan bodohnya lagi aku percaya begitu saja dengan apa yang kamu ucapkan..”


Tomy menggelengkan kepalanya. Jeny sudah salah faham dan mengartikan sendiri hubungan rachel dengan tomy. Tomy tidak tau harus bagaimana menjelaskanya pada jeny.


“Sayang aku bener bener nggak ada apa apa sama rachel.. Kami hanya kenalan saat di universitas.. Tolong percaya sama aku...”


Jeny tidak menghiraukan apa yang di jelaskan suaminya. Wanita cantik itu malah melangkah menuju lemari kaca yang berisi berbagai model dan merek tas mahalnya. Jeny meraih satu tas slempang berwarna hitamnya kemudian berjalan lagi menuju nakas mengambil dompet juga ponselnya dan memasukanya ke dalam tas tersebut.


“Sayang... Kamu mau kemana? Dengarkan aku..”


Jeny menggelengkan kepalanya. Dengan air mata berderai jeny melangkah keluar meninggalkan tomy yang terus saja mengikutinya.


“Ya tuhan sayang... Jangan begini..”


Tomy menahan lengan jeny begitu jeny hendak menuruni anak tangga namun dengan cepat jeny menghempaskanya.


“Jangan sentuh aku !!” Pekik jeny marah.


Tomy tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya karna tiba tiba jeny marah dan menuntut penjelasan tentang hubunganya yang sebenarnya memang tidak ada apa apa dengan rachel.


“Sayang.. Kenapa tiba tiba kamu begini.. Apa salah aku?” Tanya tomy dengan kedua mata berkaca kaca.


Jeny tersenyum sinis mendengarnya. Air matanya terus saja menetes namun jeny dengan cepat langsung menyekanya.


“Kamu pikir sendiri apa salah kamu.. Jangan cari aku kalau kamu masih tetap berhubungan dengan rachel.”

__ADS_1


Jeny langsung berlari menuruni anak tangga setelah itu. Air matanya terus saja menetes. Jeny benar benar merasa sangat kecewa kali ini pada tomy. Jeny pikir tomy sudah tidak lagi berkomunikasi dengan rachel. Tapi nyatanya wanita itu masih saja tetap menghubungi suaminya.


“Ya tuhan.. Cobaan apa lagi ini..” Gumam tomy meneteskan air mata menatap kepergian istrinya.


__ADS_2