
Maya membuka mata dan rasa sakit di kepala langsung menyerangnya dengan kuat hingga ia hanya memejamkan matanya dengan rasa kesal sembari jemarinya memijit pelipisnya.
Dimanakah ini...?
Maya kemudian berusaha bangkit dari ranjang dan menemukan tubuhnya memakai sebuah dres berwarna Navi berukuran jumbo di tubuh rampingnya, Maya seperti wanita yang hamil, mengapa ia sebut dres hamil..? karna ukurannya terlalu besar di tubuhnya, panjangnya menutupi mata kaki, matanya terpejam sesaat, siapa yang memakaikannya dres panjang ini benar-benar tidak mengerti mode...Maya mencoba mengumpulkan ingatan semalam, dan terkejut...Ana mengangkat wajahnya dan...
Deg!!!!!
Ia menemukan sosok Alex tidur di sofa dengan bertelanjang dada, pria itu tampak sangat lelap dalam tidurnya..ada rasa hangat ketika ia mengingat semalam Alex datang menyelamatkan dirinya...
Yah...menyelamatkannya dari sosok Mateeuw yang adalah kekasihnya sendiri, orang yang seharusnya melindunginya malah ingin menghancurkannya..
Maya sungguh tak habis pikir mengapa ia sangat bodoh hingga tidak menyadari bahwa selama ini sikap manis Matteuw hanyalah kebohongan...? untung saja Alex datang dan membawanya ke kamar ini..dia juga sudah mengganti pakaiannya dan membiarkan Maya tidur dengan nyenyak..
Hening.......
Tunggu....mengganti pakaian..? ALex melakukannya, itu berarti tubuhnya......??
''Arrrrrgggghhh...'' jerit Maya dengan suara lantang.
Suara Maya yang sedang menjerit histeris sendiri langsung menembus kesadaran Alex hingga pria itu membuka mata dan langsung berbalik...ia tersenyum menang...
'' Kau sudah bangun sayang..'' sapanya dengan suara lembut..hingga Maya merinding..
Betapa pucatnya wajah Maya saat ini, buru-buru ia menutup dadanya dari tatapan Alex yang tampak sinis. pria itu bangkit dari sana dengan cuek, astaga..gayanya yang santai seperti ini mengapa pria tua ini sangat tampan...?
''Ka,...ka..kau yang mengganti pakaian ku..'' tanya Maya dengan suara yang tercekat.
Alex tersenyum, menghampiri lemari pendingin dan meraih minuman kaleng, ia mengambilnya dua dan membawakannya satu untuk Maya...
ALex meletakannya di dalam genggaman Maya...
''Minumlah itu akan membuatmu segar.'' ucap Alex sembari meminum miliknya..
''Hey....jawab dulu.apa kau...''
Maya membeku ketika sekejap saja Alex merengkuh tubuh Maya dan mendekatkannya di dadanya...
''Kau...akibat kebodohanmu...hampir saja kau menyerahkan kesucianmu pada kekasih brengsekmu itu dan bukankah kau harus berterimakasih kepadaku..''
''Yah...aku ucapkan terimakasih..puas..''
''Tidak....kau lihat seluruh dadaku ini...''
Mata Maya membulat tak percaya...ada bekas cakaran disana dan membuat rasa malu langsung menyebar di wajahnya,
''Apakah aku yang melakukannya..''
''Yah..tentu saja, Matteuw memasukan bubuk perangsang dalam minumanmu dan akibatnya kau seperti kucing liar semalam...''
__ADS_1
Wajah Maya pucat...apakah mereka berdua.....telah....
Alex menikmati wajah pucat Maya, dia bisa membaca dengan jelas ketakutan itu, Maya berpikir mereka berdua telah melakukan hubungan itu...dan Alex memilih membiarkan Maya berpikir seperti itu...
Alex tak ingin kehilangan gadis ini, dan ia ingin segera mengikat Maya di dalam pernikahan kalau bisa.....
Alex menyentuh bahu Maya yang merosot dengan lemah,...
''Aku telah melihat seluruh tubuhmu Maya, termasuk mengganti pakaiannmu...apakah kau ingat..''
''Tidak...'' ucap Maya dengan wajah polos, gadis ini hampir menangis...
Kenyataan itu membuat Alex tak tahan, pria itu segera memeluk tubuh Maya ke dalam pelukannya...
''Semua sudah terjadi Maya...aku akan bertanggung jawab..''
Maya menghela nafas...
''Kakak akan membunuhku...'' keluh Maya lemah...
Alex membeku...
''Apa maksudmu.'' ucap Alex penasaran...
***************************************************************
''Ini cantik sekali nak...ketika kau lahir nanti ibu akan membuatkanmu resep yang spesial..kau akan bangga kepadaku sayang.'' bisik Ana sendirian...
Ia berada di ruangan khusus dapurnya, jadi jika dia sedang berkreasi di ruangan ini tak ada yang boleh mengganggunya. Hani dan Maya sudah mengerti itu...
Pintu terbuka sedikit dan Ana pikir itu Maya, karna Hani sedang sibuk bersama Danar untuk persiapan pernikahan mereka...
''Maya...mengapa tidak pulang semalam, kakak menelfon tapi kau mematikan ponselmu...kakak menunggu penjelasan oke..''
Hening........
Tak ada jawaban hingga Ana sedikit heran, tak biasanya Maya mendiamkan dirinya...wanita itu lalu membalikan tubuhnya dan membeku melihat bukan Maya yang berdiri disana namun Arkana..
Ana sungguh merasa sangat kesal....
''Apa kau tak punya sopan santun Arkana...''
Arkana mengangkat bahu menyerah...
''Aku meminta salah satui karyawanmu untuk menyampaikan pesan kepadamu jika aku ingin bicara namun,,,mereka tak berani masuk...''
''Lalau kau yang masuk begitu..''
''Ana maaf...''
__ADS_1
Ana menghela nafas....
''Kau bukan siapa-siapaku maka jangan menguji kesabaranku Arkana..kalau tidak..''
''Aku akan keluar dan menunggumu di depan Ana...percayalah...''Arkana meredupkan tatapannya...
Matanya lalu tertuju pada Cake kecil yang sedang di hias Ana...
''Kue itu sangat cantik, sepertimu.''
''Keluar sekarang juga...'' jerit Ana semakin kesal saja...
Arkana lalu mengangguk dan keluar dari sana dengan cepat, sedangkan Ana menatap marah pada kuenya, lalu mengambil potongan kue itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah...
Ana sungguh tak akan memberi kesempatan agar Arkana mendekatinya..tidak akan...yang ia lakukan sekarang hanyalah bertahan...sampai Arkana akan menyerah dan pergi...
Ana lalu melangkah keluar ruangan itu...
*****************************************************
Mereka berdua duduk di salah satu sofa di luar toko, Ana mengeraskan tatapannya..
''Katakan ada apa....''
''Apa kau sudah makan Ana..apa yang kau inginkan sekarang...aku akan...''
Ana tersenyum sinis...
''Jangan berpikir kalau aku memberimu kesempatan maka kau bisa merayuku seenaknya Arkana...aku tak akan pernah mengatakan apapaun yang aku suka kepadamu tidak....aku bisa mengurus diriku sendiri dan juga bayiku jadi kau tak p[erlu repot Arkana.''
Arkana mengeraskan tatapannya, ia mencoba bersabar..walau itu sangat sulit sekali, menghadapi sosok Ana yang sekarang begitu menguji kesabarannya namun...ia mampu menahan semuanya...lebih baik baginya jika Ana terus memarahinya setiap detik, namun ia bisa berada di sisinya di banding ia harus terpisah lagi...Arkana jelas tidak mampu....
Pria itu tersenyum dengan senyuman lembut yang baru pertama kali di lihat Ana...hingga Wanita itu membeku...
''Aku ingin bekerja di tempat ini...aku ingin kau menerimaku sebagai pegawaimu...bagaimana...?''
Ana sungguh terkejut dengan pernyataan Arkana ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa...
''Tidak Arkana..bagaimana bisa kau...''
''Aku tidak menerima penolakan...kau suka atau tidak, atau kau terima atau tidak aku...akan tetap bekerja disini...aku hanya ingin memberitahumu sayang...''
''Kau tak akan bertahan...''ucap Ana yakin...
''Bukankah aku pernah berkata aku bisa menginjak duri bahkan bara api demi dirimu..''
Ana mengepalkan tangannya...
Sial...Arkana memang Mafia yang sangat licik..
__ADS_1