
Sepanjang perjalanan pulang Ana hanya terdiam dengan pikirannya melayang sendiri, sedang Maya sesekali menoleh sedikit takut melihat sang kakak yang tampak pucat..
''Kakak...apa yang terjadi.''
''Tidak Maya, kakak baik-baik saja..bisakah kau lebih cepat mengemudinya..kakak ingin sampai dirumah dengan cepat.''
''Baiklah,...aku akan cepat.''
Ana memejamkan matanya dengan perasaan cemas luar biasa, bagaimana bisa Arkana ada di kota ini, apa yang ia lakukan kesini, ataukah Arkana sudah tau keberadaannya? tentu saja dia seorang mafia yang pasti punya koneksi dimana-mana, apakah itu artinya ia akan tertangkap..? Arkana...sudah hampir 2 bulan ia tidak bertemu jadi ia sedikit terkejut dengan sosok Arkana yang berubah, dan apa yang sedang terjadi kepadanya, mengapa dia ada disana di ruang IGD, apakah dia sedang sakit berat..?
Kepala Ana dilanda nyeri yang menusuk tentu saja ia sama sekali tak pernah membayangkan akan bertemu Arkana, mereka bahkan saling menatap apakah Arkana mengenalinya? Tidak... Ana menggeleng, ia harus lebih hati-hati dari sekarang. Ana sudah sejauh ini pergi dan ia tak akan pernah membiarkan dirinya di tangkap..tidak...
''Arrrhhhgggh....''
''Kakak...''jerit Maya terlihat sangat cemas kemudian menghentikan laju mobilnya ia sama sekali tidak mengerti apa yang di alami kak Ana, tadi kak Ana baik-baik saja mengapa sekarang terlihat terguncang...?
Maya menyentuh bahu Ana sekaligus menariknya menuju kesadaran...mereka saling menatap dan airmata itupun menetes di wajah Ana..ia tak mengerti mengapa ini terjadi kepadanya mengapa hidupnya tak pernah bisa tenang mengapa.?
''Kakak hanya sedikit lelah Maya..tapi kakak baik-baik saja..''
Maya hanya bisa mengangguk patuh ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi, Ana pun berusaha menahan dirinya..Hani sedang ke luar kota bersama tuan Danar jadi ia tak bisa bercerita tentang apa yang terjadi sedangkan Maya, gadis ini tidak tau apapun tentang Arkana bahkan ia tak mengenal wajah Arkana..itu wajar karna selama ini dia tinggal di panti.
Ana memutuskan akan menelfon Hani ketika sampai dirumah ia harus bercerita atau ia akan menjadi gila karna semua ini, ini terlalu mendadak dan ia sangat butuh saran dari Hani sekarang..
************************************************
Hani menatap satu-satunya kamar Hotel yang tersisa disini, mengapa hanya ada satu kamar yang tersisa padahal mereka berdua dan tidak memiliki hubungan apapun..?
__ADS_1
Danar sama sekali tak perduli wajah protes Hani, ia lalu membuka pintu dan lebih dahulu masuk sedangkan Hani masih berada di luar dengan tatapan bingung,...ia tak pernah berada di dalam satu ruangan dengan seorang pria manapun, bagaimana mungkin ia harus berada dalam satu kamar semalaman ini..?
Danar yang menoleh sebentar menatap Hani...
''Apakah kau mau berdiri disana saja..? kalau ya aku akan menutup pintunya.'' Danar memberi tatapan peringatan..
Akhirnya Hani tak punya pilihan selain ikut masuk, bukankah di beberapa Hotel sangat menyeramkan..? tidak Hantu lebih menyeramkan dari Danar jadi ia lebih memilih bersama pria ini. Hani baru saja meletakan tas dan terdengar ponselnya yang berdering, gadis itu menoleh dan meraih ponselnya..
Panggilan telp dari Jeremi..?
Hani lalu menatap ke arah Danar yang sedang menyalakan Televisi dan duduk santai di sofa, sementara Hani melangkah sedikit menjauh ia keluar ke arah Balkon dan menjatuhkan tubuhnya di sofa lalu menerima telp..
Hani : Sayang, maafkan aku...aku baru saja sampai jadi...
Jeremi : Aku merindukanmu..
Jeremi : Tentu saja orangtuaku sangat tidak sabar lagi untuk bertemu denganmu Hani, aku menunggumu pulang sayang..berhati-hatilah disana, aku mencintaimu..
Hani menutup telp dan seketika ia melompat ketika menyadari Danar sudah di belakangnya...membawa dua buah minuman di tangannya...udara yang dingin menusuk kulitnya Hani menghela nafas..
''Tuan Danar.''
''Maaf mengganggu kau bersama kekasihmu itu...ayo minum, ini akan menghangatkanmu sekaligus membuatmu tenang.''
Hani hanya mengangguk segan lalu menerima gelas yang berisi minuman asing itu yang berwarna kuning keemasan dan mulai meneguknya...ini pertama kalinya ia meneguk minuman aneh itu..tenggorokannya terasa hangat dan pekat juga sedikit manis..Hani yang tak terbiasa langsung terbatuk-batuk karnanya karna ia langsung meminumnya sampai habis hingga Danar mendekat dan mengusp punggung Hani untuk membuatnya tenang..
Danar tertawa seketika..
__ADS_1
''Mengapa kau meneguknya sekaligus Hani...''
''Aku memang sedang haus, dan..minuman apa itu..?''
''Champagne...''seru Danar tersenyum..
Hani hanya mengangguk-anggukan kepala, ia juga tak tau minuman itu apa yang pasti ia sudah mulai merasakan sedikit melayang..gadis itu juga lelah dengan perjalanannya yang panjang,
Hani mencoba berdiri walau tubuhnya menjadi goyah..hingga Danar harus menuntunnya pelan..mereka melangkah menuju kamar, namun Hani mulai tak bisa mengontrol tubuhnya hingga ia terjatuh dan Danar lalu memutuskan memeluknya, menahan Hani agar tidak terjatuh lagi, kini tubuh mereka merapat dengan kedekatan yang panas..
Tanpa sengaja Mata keduanya bertemu dengan tatapan tak terbaca, Danar menurunkan pandangan tepat pada permukaan bibir Hani yang padat dan penuh hingga wanita itu membeku ketika bibir Danar menyambar bibirnya yang tampak ranum dan manis...dan melum**nya Danar menjadi lupa diri sehingga dengan cepat membaringkan tubuh Hani di atas ranjang dan segera menindihnya...
Hani merasa bingung ketika minuman ini telah mengambil seluruh rasa malu dan canggungnya di ganti perasaan tenang dan lebih berani entah mengapa...
Danar kembali melum** bibir Hani dengan lembut dan dengan bibir yang membuka, mengilas dan menyes**p seluruh kemanisan bibir Hani dengan penuh gairah..
Seluruh tubuh Danar bergetar,darahnya berdesir menyadari sudah lama gairahnya tidak tersalurkan hingga membuat ia menginginkan Hani sekarang,...pria itu mempererat pelukan ya dan semakin memperdalam ciumannya hingga Hani mulai kewalahan, ini kali pertama dia merasakan ciuman dengan seorang pria dan membuatnya payah, minuman beralkohol itu cukup membuat sosok Hani merasa relax dan memberi sensasi melayang..ciuman Danar awalnya hanya ******* ringan namun berubah sekejap menjadi kebutuhan yang sudah lama di inginkan Danar, yang pasti Danar ingin memiliki Hani seutuhnya..
''Oh.. Hani, betapa aku mendambakanmu selama ini..'' desis Danar yang semakin bergairah suaranya berubah menjadi serak dan mendamba..
Hani mendengar ucapan Danar namun pikirannya sudah lebih dulu di kuasai kabut pekat sehingga Hani tak bisa mengerti kata-kata Danar...yang pasti ia sadar jika Bossnya ini sedang merayunya..
Danar menatap Hani dari atas dan menyadari jika Hani sudah mulai takluk dengan ciumannya mungkin karna pengaruh minuman itu, Danar sungguh berterimakasih pada minuman itu yang mengantarkan Hani pasrah di bawahnya...
Pria itu tersenyum dengan mata berbinar ketika jemarinya naik dan membuka atasan Hani dan melepaskan pakaiannya...
Srakkk!!!!!
__ADS_1