
Arkana melirik jam di tangannya, ia tersenyum puas ketika menyadari semua anak buahnya telah mengerjakan semua pekerjaan mengangkut karung dan dus-dus besar itu dengan cepat..
Yah...hanya dengan menggunakan kekuasaannya maka Arkana bisa menyelesaikan masalahnya, sekarang tinggal menunggu waktu agar menemui Ana lalu memamerkan pekerjaanya di depan wanita itu..yah Arkana sudah tidak sabar lagi.
''Tuan Arkana..''
Suara Peter menembus lamunan Arkana hingga pria itu menoleh..
''Yah....''
''Sudah saatnya tuan Arkana menemui nyonya...''
''Apa kau yakin...''
''Yah....tentu saja tuan, ini sudah hampir 3 jam dan aku rasa...ini waktu yang tepat...''
Arkana bangkit dari kursi dan menegakan tubuhnya ia lalu melangkah namun, sekali lagi Peter menghentikan langkahnya...
''Tuan Arkana...''
''Ada apa lagi...'' Arkana mulai hilang kesabaran,...
''Maafkan aku tuan tapi..tampilan tuan terlalu rapi untuk seseorang yang telah mengangkut beberapa karung tepung dan dus-dus besar..bukankah nyonya Ana akan curiga...?''
Arkana melupakan hal itu karna terlalu senang ingin berakting di hadapan Ana..dan ia melupakan hal penting yang harus di lakukan, pria itu menatap Peter yang menunduk di hadapannya..pria ini akan menjadi mata-matanya yang setia...Arkana mendekati Peter dan menepuk pundaknya sedikit kuat...
Peter merasa ngilu seketika namun tak bisa protes, Peter hanya menahan kesakitan dalam hatinya...
''Kau....maukah menjadi orang kepercayaanku.'' Arkana menatap tajam...
Senyum bangga terukir di wajah Peter, demi apapunitu adalah impiannya menjadi anak buah Arkana, yah..dari tadi dia sudah melihat betapa tangguhnya para pria disini dan Peter akan melakukan apapun demi bisa menjadi bagian dari anak buah Arkana..ia pun mengangguk...
''Aku akan melakukan apapun...''
''Hahaha....bagus...aku menyukai itu..'' Arkana lalu mulai melepaskan jasnya dan melemparnya pada Peter...
Kemudian ia mulai mengambil debu dan bubuk tepung dan di tempelkan di baju dan juga tubuhnya...Rambutnya juga tak luput mendapat sasaran..yah...setelah semua selesai Arkana lalu melangkah menuju ruangan Ana..
Sementara Peter menundukan kepala, menjadi seorang mata-mata Mafia..ia sangat bangga sampai gemetar...
*************************************************
__ADS_1
Ana sedang membaca sebuah kerja sama yang di kirimkan sebuah Hotel yang baru di buka, Hotel itu bernama Hotel A, dia menawarkan agar toko Ana menjadi pemasok utama kue untuk para tamu di Hotelnya..
Ana membolak-balikan berkas perjanjian yang di berikan salah satu karyawannya..sembari berpikir, ini adalah kesmepatan emas baginya bukan,...? tokonya akan semakin di kenal luas nanti..
Pintu ruangan di ketuk dan Ana lalu menekan tombol di meja dan pintu terbuka, Ana mengangkat wajahnya dan...membeku disana..
Hatinya seperti di remas seketika, melihat keadaan Arkana yang berdiri dengan wajah pucat, tanpa di duga...Naluri Ana sebagai istri yang khawatir muncul di dalam dirinya..yah...membayangkan jika Arkana bisa mengangkat semua dus-dus besar dan karung tepung itu maka pria ini pasti sangat kelelahan..
Tentu saja itu sangat terlihat di wajahnya....Arkana seperti akan pingsan sebentar lagi..
''Arkana...''
Ana bangkit dari kursinya dan menghampiri suaminya, lalu membantunya untuk duduk, dengan sedikit panik Ana lalu mengambil air mineral dan memberikannya kepada Arkana yang terlihat sangat lemah...pria itu tampak mengerang sambil memejamkan matanya...
''Aku telah menyelesaikan tugas pertamaku Ana,....''bisik Arkana dengan suaranya yang rendah dan lemah...
''Minumlah dulu Arkana..jangan banyak bicara..'' bisik Ana lembut, Ana sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya saat ini, apakah dia sangat keterlaluan dengan meminta Arkana mengangkat semua itu...
Mata Ana menjadi panas....
Arkana menghela nafas ketika untuk pertama kalinya dalam 5 bulan, Ana berada sangat dekat dengannya tanpa perlawanan dan tanpa pertengkaran, Ana bahkan menyentuhnya dengan sangat kawatir..
Bisakah ia memeluk Ana sebentar saja..bisakah ia melakukannya...? Arkana sungguh tidak tahan untuk tidak menyentuh Ana..
Karna itu dengan nekat ia memeluk Ana hingga wanita itu membeku, hatinya bergetar sesaat ketika tubuh mereka saling memeluk....
''Hoh...'' desah Ana mulai sadar....
''Dadaku...sakit sekali.'' keluh Arkana membuat Ana diam di tempat membuat Ana mengurungkan niatnya untuk melepaskan pelukan mereka...
''Apakah kita ke dokter saja Arkana...aku akan...''
''Tidak...aku baik-baik saja...aku hanya perlu beberapa menit dalam posisi seperti ini...aku akan baik-baik saja Ana..'' bisik Arkana yang membuat Airmata Ana menetes...
Sungguh Ana merasa sangat bersalah karna menyebabkan rasa sakit di tubuh suaminya tidak..ia sama sekali tidak menginginkan ini..tidak..Ana hanya ingin memberi pelajaran...mengapa malah membuat Arkana cedera...dan kesakitan...?
Arkana merasakan isakan Ana yang pelan dan menjadi bingung sendiri, ia mau memabuat Ana terharu namun mengapa Ana malah menangis...?
Astaga...Ana sedang hamil dan tak boleh bersedih terlalu lama...anaknya juga akan merasa sedih bukan...?Arkana tiba-tiba menjauhkan tubuh Ana dan terkejut melihat betapa banyaknya airmata di pipinya...
''Ana...''
__ADS_1
''Kau mengangkat semua itu...punggungmu pasti terluka, aku akan mengobatimu..''
Ana bangkit dari sofa lalu mendekati laci meja dan dan mengambil kotak P3K dan hal itu membuat wajah Arkana memutih...
Gila....ini benar-benar gila...jika ia membiarkan Ana melihat punggungnya yang mulus tanpa lecet maka ini adalah akhir dari dunianya...Ana tak akan pernah memaafkan dirinya...
Keringat mulai terbit di wajah Arkana, sial...pikirkan sesuatu Arkana ayolah..biasanya kau sangat pintar mencari solusi..? bukankah kau seorang Mafia yang paling hebat...maka pikirkan sesuatu Arkana...
''Buka kemejamu Arkana...aku akan mengobatimu..'' pinta Ana mendekat...
Namun Arkana menggeleng...
''Tidak...aku baik-baik saja Ana...''
''Yah,..aku hanya ingin mengoleskan salep di punggungmu pasti ada memar disana...berbaringlah...''
''Mengapa kau bersikap seperti ini Ana...''ucap Arkana dengan nada yang dingin...
Langkah Ana terhenti..wajah yang ia tampilkan saat ini adalah wajah paling polos yang pernah di lihat Arkana...mata Ana terlihat memerah menyimpan airmata disana, yang akan mengalir sebentar lagi...
''Arkana aku hanya....''
''Kau tau benar perasaanku bukan, aku tak suka di kasihani...jika kau menyentuh dan mengobatiku maka kau harus melupakan amarahmu dan kembali kepadaku bagaimana...'' tawar Arkana serius...
Tentu saja Ana menolak....tak semudah itu memaafkan Arkana...
''Tapi kau terluka...''
''Aku akan menikmati luka ini Ana...bukankah aku sudah memberi banyak luka kepadamu selama ini..jadi luka ini bukanlah masalah bagiku.'' balas Arkana tegas..
Ana membeku di tempatnya......mengapa sikap Arkana yang seperti ini membuatnya sedih...? jemarinya bergetar masih memegang kotak P3K ditangannya...
''Aku sudah melakukan tugasku Ana..lalu sekarang, apalagi yang harus aku lakukan sebagai karyawanmu.'' tantang Arkana menatap Ana...
Wanita itu memejamkan matanya ketika airmata bening itu lolos dari matanya...
''Berbaringlah disana...dan jangan bangun sebelum aku memintamu..'' tunjuk Ana dengan tatapan beku...
Arkana tersenyum di dalam hatinya...
Ia menang kali ini.......
__ADS_1