Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Cinta Yang Terpendam


__ADS_3

Pagi Hari...


Ana lebih dahulu turun dari kamar menuju lantai bawah lalu melangkah mendekati dapur, biasanya pagi begini ia akan memeriksa para karyawan yang merapikan etalase tempat berbagai macam cake yang akan di jual. para pembeli bahkan sudah antri di depan toko..


Arkana sudah pergi karna ia memang sedang mengerjakan proyeknya di kota ini hingga Ana tak bisa memerintahnya lagi. kata Arkana ia akan kembali secepatnya dari lokasi proyek..


Ana membuka pintu dapur dan langsung berhadapan dengan sosok Alex yang sedang berada di sana. Alex sedang menghias sebuah cake mini, yang sudah di lapisi krim putih, lalu menaburkannya dengan gula halus berwarna pink dan juga hiasan kue berbentuk Love,


Ana membeku disana memperhatikan Alex yang terlihat hati-hati mengerjakan kue itu...Ana tersenyum..


''Ehm...untuk siapa sih kue cantik itu.''


Alex begitu terkejut ketika suara Ana yang lembut menembus pendengarannya, dengan gugup ia menghentikan aktifitasnya menghias kue dan menatap Ana yang berdiri dengan wajah segarnya di pagi hari, dan dia sangat manis...


''Selamat pagi,....Ana.''


''Pagi Alex.'' balas Ana dengan senyuman tulus..


Alex menjauhi cake yang telah berhias itu dengan tatapan dingin, Ana mendekat...


''Wah..cake yang sangat cantik...kau pandai menghias juga.''


Alex mengulum senyumnya..


''Apa kau menyukainya..'' tanya Alex hati-hati.


Ana menoleh...


''Aku belum sarapan..tapi cake ini sangat enak tapi terlalu cantik untuk dimakan...'' ucap Ana tak rela..


Alex menatap cake itu, perasaanya pagi ini adalah ia sangat galau dengan perasaanya sendiri, semakin ia mencoba melupakan Ana..semakin perasaan itu kuat mengikat hatinya..ia tak ingin namun tak mampu melawan arus kuat dari dalam hatinya, menatap Ana saat ini semakin membuat jantungnya berdebar...


Alex tentu saja tak ingin merebut Ana dari Arkana, ia akan sangat merasa bersalah namun..ia tak kuasa juga melepas Ana,...mungkin ia lebih bahagia bisa memendam perasaanya agar bisa dekat dengan Ana...


itu sudah lebih dari cukup untuk hatinya...


''Yah...kau harus makan Ana..bukankah kau sedang hamil..''ucap Alex lalu mengambil cake itu dan meletakannya di dalam tangan Ana..


Keduanya bertatapan...


''Tapi...apakah cake ini memang untukku Alex..'' Ana merasa sedih jika mungkin Alex masih terluka karna dirinya sungguh ia tak ingin itu terjadi...


''Tidak sebenarnya aku ingin makan sendiri tapi...aku tak mungkin makan dan membiarkan anakmu kelaparan disana...aku akan jadi paman yang jahat.''


''Paman yang jahat,....''ulang Ana dengan tawa yang pecah..


Ana lalu menatap cake itu dengan ingin,..lalu mulai mengambil sendok dan mulai makan..


Suapan demi suapan di nikmati Ana di depan Alex, pria itu hanya tertawa melihat Ana makan dengan lahap..


''Mungkin kau harus makan makanan yang lebih berat Ana...''


''Yah...aku akan gendut nanti.'' mata Ana melebar protes..


''Tidak..kau akan terlihat cantik ketika kau gendut atau langsing..''

__ADS_1


Deg!!!!!!!


Senyum Ana menguap, mendekatkan wajahnya menyelidiki tatapan Alex yang misteriuus..


''Kau masih menyukaiku yah...astaga..pesonaku kuat sekali.'' pamer Ana dengan maksud bercanda...


Namun tanpa di duganya..Alex memegang kedua bahu Ana dan menatapnya dengan tajam hingga Ana melonggrakan tenggorokannya dengan susah payah..


''Dengarkan aku baik-baik Ana...kau akan tetap menjadi wanita pertama yang paling cantik di hatiku, tak akan ada yang mampu menggantikanmu..''


Ana membeku di tempatnya dengan tatapan gugup, sampai ia kehilangan tenaga...


''Alex..''


Pria itu melepaskan Ana dan bersedekap..


''Kau boleh tenang karna aku..tidak akan bersikap curang..bukankah aku pernah berkata kepadamu Ana...jika Arkana menyakitimu makan kau akan menjadi milikku..entah kau suka atau tidak..'' ada penekanan dalam nada suara Alex...


Ana berkaca-kaca sesaat....


''Bukankah itu sangat menyakitkan Alex...? mengapa kau tidak menyerah saja...aku telah menikah, Arkana mencintaiku...kau tidak punya peluang...''


Alex berdehehem.....


''Bagaimana jika kita tidak mendahului masa depan Ana, santai saja...aku tak akan merebutmu darinya..'' Alex mengedipkan matanya hingga Ana kehilangan kata.


Alex lalu menegakan tubuhnya, bahkan ia masih memakai jass rapi..sebenarnya ia sudah harus pergi bersama Arkana namun ia menyempatkan diri untuk menghias cake untuk Ana..anggaplah dia gila yah...dia sudah gila...karna Ana...


Alex lalu melangkah menjauhi dapur dan pergi dari sana dan membuat Ana menghela nafas...matanya terpejam dengan rasa gelisah...


***********************************************


Ana menatap seorang wanita perwakilan dari Hotel A...yang datang pagi ini dengan menawarkan kerjasama yang pernah di kirimkan kepada Ana selaku pemilik dari toko kue ini..


''Jadi..boss saya ingin menanyakan apakah nyonya bersedia jika bekerja sama dengan Hotel kami.''


Wanita itu meletakan perjanjian di atas meja sementara Ana menatap poin-poin dalam perjanjian itu dengan teliti..


''Boss saya telah mencoba cake di toko ini dan kami juga sudah memberi tester untuk para tamu dan di luar dugaan kalau mereka menyukai rasa disini..jadi nyonya apakah anda setuju.'' tanya wanita itu dengan tidak sabar..


Sementara Ana menatapnya..


''Aku akan memikirkannya nyonya, aku berjanji aku akan memberi jawaban secepatnya...aku merasa sedikit tidak percaya diri..''


''Mengapa harus menunggu, bukankah ini kesempatan emas dan langka nyonya Ana...? Hotel A adalah yang paling terbesar di kota ini jadi..seharusnya anda merasa beruntung di pilih untuk bekerja sama..'' bujuk wanita yang tampak ambisius itu...


Ana mulai goyah..haruskah ia menerimanya, tapi bukankah ia harus diskusi dulu setidaknya ia meminta pendapat Alex atau Arkana soal ini..


Ana menghela nafas tanpa sadar...


''Nyonya Ana..''


''Baiklah...aku akan menerimanya nyonya, dimana aku harus tanda tangan..'' tanya Ana...


Wanita itu tersenyum puas....

__ADS_1


************************************************


Arkana baru saja pulang dan langsung memeluk Ana dengan rasa rindu yang menguar...membayangkan jika ia ingin sekali cepat pulang ketika berada di lokasi proyek,..ia sungguh merindukan istrinya...


''Hey..kau bau matahari astaga..'' desis Ana melepaskan diri dari Arkana...


Pria itu menatap Ana dengan gemas lalu mencium perut Ana yang mulai membesar, sudah semakin mendekati hari melahirkan...dan Arkana menjadi tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya...


Jadi Arkana menahan apapun yang Ana perbuat padanya, Arkana menjauhkan tubuhnya...


''Apa kau sudah makan..dimana ALex..'' tanya Ana menatap ke arah mobil ini sudah jam makan siang..


''Alex sedang di lokasi proyek nanti malam baru ia kembali..''ucap Arkana menutup kata-katanya..


''Bagaimana kalau kau menemaniku makan Ana..'' bisik Arkana membujuk..


''Baiklah ayo....'' ajak Ana hendak melangkah namun..


Seorang pelayan mendekat ke arah mereka..


''Nyonya Ana....''


''Yah....''


''Ada barang masuk dan kami butuh bantuan tuan Arkana..'' ucap karyawan pria itu menunduk....


''Tuan Arkana sudah tidak bekerja lagi di toko ini jadi..''


''Tapi tuan Arkana punya anak buah yang bisa membantu kami mengangkat dus-dus besar itu..''


''Kau salah Aldo, tuan Arkana tak pernah..''


''Bukankah tuan Arkana sering melakukannya, dulu tuan Ana sering memanggil para pria berbadan besar untuk mengangkut barang-barang itu.''


Arkana memejamkan matanya sembari mengusap wajahnya dengan kasar, tamatlah riwayatnya karna Ana akan membunuhnya sekarang..


Pandangan mata Ana berbalik pada Arkana..


''Kau...membohongiku..''


''Ana tidak aku bisa jelaskan.........''


Ana menggeleng...........


''Kau makan sendiri dan hari ini jangan pernah menginjakan kakimu di kamar...'' ancam Ana tegas..


''Ana ayolah.....''


''Kau bisa tidur di luar..'' tatap Ana tajam lalu melangkah pergi,....


''Ana........'' jerit Arkana lemas....


Pandangan matanya tertuju kepada karyawan itu...


''Aku akan mematahkan tanganmu...'' desisnya mengepalkan tangannya..

__ADS_1


Karyawan pria itu pun melarikan diri dari sana dengan wajah pucat...


__ADS_2