
Dayse kembali kerumah dengan hati yang sangat puas, dia telah memberitahu segalanya tentang Aleysa Arkana kepada sang dosen kiler, dan dia berharap Derrek akan memanfaatkan waktu dengan baik ia ingin melihat gadis sok cantik itu jatuh ke dalam genggaman Derrek dengan begitu Damian akan menjadi milikknya..
Ceklek!!!
Pintu terbuka dan Dayse langsung di hadapkan dengan tatapan tajam seorang Deniz Morgan yang sedang menatapnya tajam, sementara rumah tampak sepi...
Dayse segera masuk dan bersiap melangkah...melewati Deniz begitu saja...
''Day.....tunggu...'' suara Deniz terdengat tenang...
Dayse menoleh sebentar dan mengerutkan kening...
''Ada apa kakak..''
''Duduklah karna aku ingin bicara....''ucap Deniz dengan selidik
Dayse akhirnya mendekat dan duduk di hadapan sang kakak dan menunggu...
''Dimana Mommy dan Daddy..'' tanya Dayse sambil menatap sekelilingnya..
''Mereka sedang berada di rumah ayah Arkana..''
Dayse hanya mengangguk mengerti...ia kemudia menatap sang kakak..
''Lalu apa yang ingin kakak katakan,...''
''Kakak melihatmu menemui Mr. Derrek tadi Day,...kakak hanya ingin kau tau jika,..jangan pernah mencoba merencanakan sesuatu yang buruk kepada Aley....''
Deg!!
Dayse mengangkat wajahnya, jelas ia tidak terima...
''Kakak selalu dan selalu membelanya,...yah..apakah kakak tidak juga sadar walaupun kau bersikap baik meski kakak mencoba menjilatnya dengan melindunginya...dia tak akan melihatmu...kakak, mengapa kau tidak sedikitpun membelaku aku adik kandungmu kakak.....jadi aku....''
''Justru karna kau adalah adik kandungku aku tidak ingin kau menghancurkan hubungan orangtua kita...kau benar-benar sudah gila dengan menyangka Damian akan melepaskan Aley...mereka sudah bertunangan dan akan menikah sebentar lagi....jika Mommy dan Daddy tau semua rencanamu ini maka kau tau betul apa yang akan mereka lakukan....''
Dayse bangkit berdiri dari kursi...matanya bersinar penuh dengan dendam,..
''Silahkan saja katakan semua yang kakak tau, mengapa dirumah ini kalian selalu memujanya..mengapa...''
__ADS_1
''Dayse,.....kendalikan dirimu, kau tau apa yang membedakanmu dengan Aleysa...dia gadis yang manis dan baik hati tidak sepertimu yang serakah dan selalu iri...
Deniz mendekat mencengkram kedua lengan adiknya dengan tatapan tajam..mereka saling menatap..
''Aku akan mengawasimu Day...jika kau berani melakukan sesuatu di luar batas maka aku sendiri yang akan menghukum dirimu...kau harus ingat itu Day...''
Deniz menghempas pegangannya dengan kasar hingga Dayze hanya melirik tajam, dendamnya semakin membara dan keinginan untuk menghancurkan Aleysa semakin besar saja...ia tak akan menyerah meski ia tau akan membayar mahal semua akibatnya,..
Deniz melangkah meninggalkan ruang tamu dengan kebekuan yang terasa,
*********************************
''Menikah bulan depan....'' ulang Damian dan Aleysa secara bersamaan...
Alex mengangguk membenarkan kata-kata keduanya, pria itu bangkit dari tempat duduknya dan mendekati keduanya...
''Damian...aku tak ingin kalian bertunangan lama-lama, meniikah saja...''
Damian menggeleng....
''Papa..menikah bukanlah hal yang mudah...kami masih muda dan tidak terlalu...'' kata-kata Damian terputus,..
Aleysa dan Damian hanya saling menatap pasrah...
''Papa....bisakah memberi kami sedikit waktu..mungkin 3 bulan dari sekarang..setelah aku menyelesaikan ujianku,...'' ucap Aley membujuk..
Alex selalu mendengarkan Aleysa dan itu bukanlah hal yang baru,...pria itu mengangguk dengan terpaksa...
''Baiklah....karna kau yang meminta sayang, tapi papa ingin mengatakan satu hal pada kalian, tidak ada tambahan waktu lagi tentang pernikahan, kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan dari sekarang...'' ucap Alex tajam...
Damian hanya memejamkan matanya, sementara Aleysa hanya menghela nafas...
''Baiklah papa....''
*************************
Aleysa keluar dari kantor dengan tatapan yang kosong, langkah mereka mencapai parkiran dan berhenti sebentar seblum masuk ke dalam mobil. Aleysa menghala nafas.. menikah di usia muda apalagi Damian pria ini sangat dingin, apakah pernikahan mereka bisa bertahan...apakah ia bisa menemukan kebahagiaan bersama Damian..Aleysa menoleh dan menemukan wajah es itu yang semakin membuatnya gerah,...
''Aleysa....aku akan mengantarmu pulang sekarang..mama juga pasti sekarang berada di rumahmu jadi....''
__ADS_1
''Damian,...mengenai pernikahan itu,....''
Damian mendekati Aleysa menjebak gadis itu terhimpit dengan badan mobil. dengan kedua tangan di di sisih tubuh Aleysa, Damian menatapnya tajam dengan senyuman tipis di wajahnya...
''Pernikahan itu akan terjadi...kau akan menjadi istriku dengan segera jadi....persiapkan dirimu Aley...'' kata-kata Damian membuat wajah Alyesa melebarkan matanya...
Damian membuka pintu mobil dan menuntunnya masuk sedikit memaksa..
Aleysa hanya menurut walau ia sangat kesal karna pemaksaan Damian...pria itu kemudian memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil...
Tak berapa lama kemudian mobil itu segera melaju pelan membelah jalan di depan mereka..
''Damian...kau bilang kau tidak menyukaiku,....bagaimana sekarang kau malah tak ingin menundanya...''
''Well...aku tau benar kita tak bisa mengelak dari perjodohan ini Aley...jadi nikmati saja apa yang akan terjadi di depan kita...''
''Tapi aku tak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai...Damian...''
''Kau tidak mencintaiku Aley...'' Damian mendekatkan wajahnya...
Aley merasa bingung harus menjawab apa, pria ini sangat aneh..bukankah selama ini mereka seperti dua kutub yang berbeda...aneh jika Aley bilang ia mencintai Damian,....sementara Damian semakin mendekatkan wajahnya dan membuat Aleysa hampir tak bisa bernafas dengan baik...
''Akku...aaku memang belum...''
Damian menyipitkan matanya dengan tajam dan menikmati wajah gugup Aley yang membuatnya candu...
''Maka mulai sekarang, belajarlah untuk menyukaiku dan mencintaiku...hanya itu yang bisa kau lakukan Aley..karna satu hal yang pasti..kau sudah tidak mungkin lepas dari pernikahan ini apalagi lepas dari seorang Damian Rule,...''
Aleysa menggeleng...namun terlambat ketika bibir Damian sudah mendarat di bibirnya, menyesap hangatnya bibir Aley yang lembut dan mengul**nya hati-hati..
Aleysa membeku, ketika dinginnya bibir Damian menembus bibirnya yang hangat dan bersatu disana seolah merindu, Aley sama sekali tak bisa melepaskan diri dari ciuman yang membuatnya mabuk...tubuhnya pasrah bersandar di jok mobil dengan Damian yang sudah berada di atasnya...
Sejak pertama kali mencium Aley, Damian sudah merasakan betapa ketegangan *****al di antara mereka begitu kuat dan ia tak mampu melupakan ciuaman mereka.
Damian tentu tak ingin kehilangan Aley, di samping mereka memang sudah di jodohkan, ia memang tak ingin, ia tak rela jika Aleysa menjadim milik orang lain, Damian tidak ingin kehilangan wanita yang di gilainya...
Aleysa mengutuk tubuhnya yang seolah pasrah dengan cumbuan Damian yang begitu ahli, bahkan ciuman mereka semakin dalam saja menghadirkan debaran indah di jantung Aleysa...sentuhan Damain terlalu kasar dan menuntut hingga ia menyerah karna Aleya menikmati ciuman itu dengan sadar...
Damian melepaskan pagut** bibir mereka dan tersenyum...
__ADS_1
''Kau adalah milikku Aleysa Arkana...'' bisik pria itu dingin...