Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Sadar


__ADS_3

Begitu gempar keluarga besar Arkana, Rule, Morgan, Lois, dan juga keluarga Steve ketika mendengar berita pagi ini bahwa yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Aley adalah Dayse dan lebih tragisnya, Dayse menghilang tanpa jejak..bahkan semua anak buah terkuat mereka sudah mencari namun ia sama sekali belum bisa di temui...


Dave dan Maya begitu malu hingga menutup diri, di samping mereka marah atas kelakuan nekat Dayse namun tak bisa di pungkiri kalau rasa khawatir pasti ada, bahkan Deniz menjadi lebih tertutup sejak menghilangnya sang adik, meski Arkana dan Alex enggan menjatuhkan vonis kepada Maya dan Dave namun, mereka sadar diri dan tak ingin menambah luka keluarga Arkana..karna sampai saat ini Aley bahkan belum sadar,


Dave mengeraskan tatapannya, ia duduk dengan tidak tenang, mengapa putrinya mampu melakukan hal yang sama sekali tidak ia duga..mengapa ia mampu melakukan kejahatan yang besar, bahkan nyawa Aley sekarng masih dalam pengawasan dokter....


''Dimana anak itu bersembunyi...apakah kau sudah menghubungi teman-temannya...apakah kau sudah meminta orang-orang kita mencarinya...''


Maya mengangguk dengan memijit pelipisnya....


''Aku sudah mencarinya namun ia menghilang begitu saja, aku tak tau harus bagaimana Dave...aku sungguh akan merasa gila...''


Airmata Maya menetes, mengapa sejarah itu terulang lagi mengapa anaknya membenci putri Ana, seperti yang ia lakukan dulu...


Mengapa....??


Saat itu Deniz pulang entah dari mana, dan masuk begitu saja melewati Dave dan Maya...


''Deniz....duduklah...Daddy ingin bicara...'' ucap Dave dengan tajam.


Deniz tak menjawab namun hanya duduk dengan tatapanya yang dingin...


sementara Maya menatap Deniz dengan tajam...


''Katakan kepada Mommy, dimana adikmu pergi...? para pelayan melihatmu bersama Day keluar dari rumah jadi.....katakan dengan jujur Deniz...apakah kau membantunya pergi.....''


Deniz diam saja dan sontak semakin membuat Deve murka..pria itu segera meraih kemeja sang putra dengan begitu kuat...


''Katakan dimana Day atau kau akan merasakan kemarahan Daddy....aku tak akan mengampuni meski kau putraku...''


Deniz menghela nafas...matanya berkaca-kaca...


******************************


Damian menatap sosok Aley yang masih belum sadar, dan tersenyum mengambil jemari Aley dan mengecupnya dengan lembut,.....


''Yah...sayang, bukankah kau sudah lama tertidur,. sudah 3 hari...bangunlah...aku mohon, aku ingin kita berdebad lagi bagaimana...aku ingin melihat senyummu yang manis, aku ingin melihat bagaimana kau.....marah dan cemberut kepadaku Aley....sungguh aku sangat merindukanmu.....''bisik Damian tak berhenti menunggu..


Sang papa mengerti dengan keadaannya, dan memintanya stay di rumah sakit sampai Aley sadar sementara itu Alex akan menghandle perusahaan sampai Aley pulih..


Damian sungguh tak mampu lagi mengatakan apapun lagi....ia hanya menatap Aley seolah tidak lelah, terus dan terus menunggu adalah aktifitasnya sekarang...


''Sayang...aku.....''


Disaat yang sama.....

__ADS_1


Tangan Aley bergerak-gerak hingga membuat pria itu membeku....matanya melebar tak percaya, apalagi beberapa saat kemudian bulumata Aley bergerak,....


Damian bangkit dengan cepat dan menekan bel untuk memanggil dokter dan perawat, sementara itu jantungnya kian berdebar dengan cepat ketika melihat Aley mulai membuka mata dengan sempurna seraya menarik nafas dengan begitu dalam..


Pada saat yang bersamaan, Dokter Mark dan juga beberapa perawat masuk ke dalam kamar, dan mendapati Damian berdiri dengan tatapan tak terbaca, Mark menghampirinya dan menatapnya dengan tajam...


''Damian..bisakah kau menunggu di luar saja, kami akan melakukan pemeriksaan pada pasien...''ucap Mark memberi penjelasan.


Damian mengarahkan tatapan tajam kepada Mark,


''Dia tunanganklu dan aku ingin berada disisihnya dokter Mark..''


Mark menyipitkan matanya dengan tajam...


''Damian..bisakah kau tidak keras kepala saat ini....aku melakukan semua sesuai prosedurku sebagai dokter yang salah satunya adalah kau harus keluar....''


Damian mengerang kesal..ia lalu menganggukan kepalanya..


''Baik,...aku akan tunggu di balik pintu itu...''


Mark mengangkat bahu dengan acuh dan mempersilahkan Damian keluar...


Pria itu segera pergi dengan hati yang sungguh kesal namun tak bisa melakukan apapun.........


Setelah Damian pergi Mark kemudian tersenyum pada sosok Aley yang menatapnya bingung, ia masih belum bicara...


Aley hanya mengerutkan kening ia sama sekali tidak mengenal situasi yang asing ini...dimana dia sekarang, mengapa dokter ini menyebutnya Aleysa Arkana...?


Apakah itu adalah namanya...?


Aley tenggelam dengan pikirannya sendiri....dan membiarkan dokter ini memeriksanya, ia bahkan tidak bersuara sedikitpun,..dan hanya diam lalu berusaha mengingat-ingat sesuatu...


Setelah pemeriksaan, dokter Mark mendekat dan ingin menyentuh wajah Aley namun gadis itu menghindar dengan tatapan tajam...


''Siapa kau...jangan menyentuhku...'' ucap Aleysa dengan tatapan beku...


Saat itulah dokter Mark mengerutkan kening dan memikirkan sesuatu, memikirkan kemungkinan yang menimpa Aley...


''Jangan bilang kau tidak ingat apapun...'' desah Mark sampai melepas kacamatanya dengan lemas..


Aleysa hanya mengerutksn keningnya dengan bingung...


''Siapa aku.....'' ulangnya dengan suara tertahan...


Mark begitu terkejut sampai menarik kursi untuk duduk dan mendekat kepada Aley...

__ADS_1


''Jangan bercanda....kau tidak ingat....''


''Tidak...hoh..siapa aku....'' suara Aley menjadi histeris dan mulai menjerit panik ketika Mark mendekat...


Disaat yang sama....


Pintu ruangan terbuka dan Damian bergerak masuk....mendekati Aleysa yang kini mengalihkan pandangan ke arahnya....


Aleysa membeku ketika menatap mata Damian yang begitu tajam....gadis itu kembali memejamkan matanya, ketika ia berusaha mengingat siapa pria bermata es ini namun ketika ia berusaha mengingat kepalanya menjadi sakit..


''Aleysa...kau sudah sadar,...'' ucap Damian dengan tatapan haru yang tak bisa di jelaskan....


Pria itu tertegun berdiri di tempatnya, dan perlahan tersenyum dengan penuh rasa syukur....ketika melihat mata Aleysa yang membulat sempurna ketika menatapnya...


Damian mendekat meraih jemari Aleysa dan ingin menciumnya..


Namun tidak ia sangka jika Aley menarik tangannya menghindar dari pegangan Damian, hingga pria itu membeku..


''Siapa kau....''


Hening........


Damian membeku sungguh seperti mimpi mendengar ucapan Aleysa yang begitu dingin, hingga pria terdiam..


''Aleysa...''


''Bisakah kau pergi.....dokter..minta dia pergi, aku sangat takut menatapnya...aku tak mau melihatnya...'' jerit Aleysa dengan tatapan cemasnya...


Damian tak pernah menyangka,....tidak dia tidak siap sama sekali dengan reaksi Aley..tidak mungkin ini terjadi...Aley melupakannya....?


Deg!!!!!


Damian ingin mendekat namun Mark menahannya...


''Beri dia waktu Damian.....kami akan segera melakukan pemeriksaan pada kepalanya...''ucap Mark menenangkan..


Mata Damian menjadi basah...


''Tidak mungkin dia melupakan aku...tidak mungkin,......''


''Beri dia waktu....dia pasti akan mengingatmu lagi....''ucap Mark mencoba memberi penjelasan kepada Damian yang tidak mau terima...


Sementara itu Damian kembali mengarahkan tatapannya pada sosok Aleysa yang menatapnya dengan kosong..


''Aleysa.......''

__ADS_1


''Pergi.......keluar dari kamarku sekarang......'' ucap Aleysa terlihat takut,....


Damian menggeleng enggan keluar,....ia malah mendekati Aley......hingga gadis itu menjadi gelisah.....


__ADS_2