Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Mual


__ADS_3

Hani mengeluh ketika telah menyelesaikan pekerjaannya membersihkan ruanga, sialan Danar dia benar-benar memakai posisinya untuk menekan Hani.


Gadis itu lalu melangkah ke pantri untuk sekedar minum teh karana pagi-pagi ia sudah bekerja keras, penjaga pantry seorang wanita berusia 50 tahunan..mereka memanggilnya dengan nama Bibi Mia sedang menyeduh kopi pesanan tuan Danar, ketika melihat Hani ia pun menunduk memberi salam..


''Nona Hani..''


''Aku haus..bisakah aku meminta teh bibi Mia''


''Es teh bagaimana...''godanya pada Hani, mereka berasal dari negara yang sama,..Bibi Mia sebenarnya adalah pekerja di rumah tuan Danar pria itu membawa Mia jauh-jauh ketika wanita ini sudah tak lagi muda jadi dia mengenal betul apa yang di sukai tuan Danar dan tidak di sukainya..


Hani langsung tersenyum, selama tinggal di negara ini..Hani bahkan tidak pernah menyentuh es teh, ia jarang membuatnya..gadis itu langsung mengangukan kepalanya...


''Aku akan menunggu dengan sabar.''


''Baik nona Hani.''


Bibi Mia mulai meracik minuman dingin dan segar itu sementara Hani memakan beberpa potongan cake coklat sambil menunggu,


Pintu pantry tiba-tiba terbuka dan menampakan sosok Jeremi yang merupakan kekasihnya di lingkungan perusahaan, hubungan mereka memang baru berjalan sebulan dan sukses menutupinya dari lingkungan kantor terutama tuan Danar karna pria itu memang melarang hubungan pacaran di lingkungan yang sama. Jeremi pria yang baik dan manis ia pria yang berasal dari negara ini begitu tampan dan selalu membantunya ketika menemui kesulitan dalam hal pekerjaan, Jeremi tersenyum ketika melihat Hani..


Bibi Mia menatap Jeremi lalu mempersilahkannya duduk..


''Apa tuan Jeremi mau segelas es teh.''


Jeremi menatap Hani yang memberi isyarat jika ia ingin mencobanya..


''Aku akan menunggu bibi Mia terimakasih.'' balas Jeremi dengan sopan.


Hani dan Jeremi lalu duduk bersama dan saling menatap,


''Apa sebentar kau ada waktu Hani..aku ingin mengajakmu kerumah orangtuaku.''


Deg!!!!!!!!


''Orangtua..''ulang Hani mengerutkan kening...


Mengapa tiba-tiba ia menjadi sangat gugup....? astaga...


''Yah...aku menceritakan hubungan kita pada orangtuaku dan mereka ingin bertemu denganmu.''bisik Jeremi pelan ada harapan di balik ucapannya..


Hani melonggarkan tenggorokannya, bagaimana ini apa yang harus ia lakukan...? mengapa Jeremi mengatakan hal seirus ini kepadanya...?


Hani melonggarkan tenggorokannya...


''Bagaimana Hani....''


''Aku akan menghubungimu Jeremi, tapi kurasa ini terlalu buru-buru...bukankah hubungan kita belum lama dan aku belum ingin menikah jika itu maksudmu untuk mempertemukan aku dengan orangtuamu...''


''Aku mengerti....tapi tak ada salahnya kau menemui mereka bukan...''

__ADS_1


''Baik...aku akan pergi denganmu.'' balas Hani pelan..disini bahkan dinding punya telinga...


Sementara Bibi Mia mendengar pembicaraan mereka berdua dan lalu mengirim pesan kepada atasannya..


**********************************


''Aku akan meninjau lokasi proyek Hotel dan aku ingin kau menemaniku.''ucap Danar dengan suaranya yang dingin...


Hani harus meninggalkan pantry dengan cepat ketika tuan Danar mencarinya melalui telp, gadis itu sangat kesal karna Danar selalu melakukan apapun yang ia suka..dan disinilah ia sekarang, berada di ruangan Danar yang sedang menatapnya tajam.


''Kapan tuan Danar.''


Pria itu mengangkat wajahnya...


''Hari ini juga...apa kau keberatan..aku menelfon Ana untuk meminta ijin karna kita akan ada disana sampai besok.'' ucap Danar tak perduli wajah Hani yang pucat...


Malam ini ia telah berjanji akan makan malam bersama dengan Jeremi dirumah orangtua kekasihnya...bagaimana mungkin jika ia pergi dan membatalkan janji itu...tapi bagaimana caranya memberi alasan kepada tuan Danar...?


''Aaaku...sedang.....''


''Ada janji maksudmu.''


Hani begitu pucat dengan ekpresi gugup yang kentara..


''Apa maksudmu tuan Danar.''


Danar berdiri mendekati Hani dan meraihnya juga berdiri lalu setengah memeluk tubuh Hani tanpa sedikitpun perlawanan...


''Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu..bisakah jangan mengancamku tuan Danar.''


''Kalau begitu ikut aku sekarang dan tidak ada kompromi Hani..''


Hani tak punya pilihan untuk menolak, ia terpaksa menyetujui ucapan Danar meski ia sangat kesal untuk itu...gadis itu meronta hingga pelukan mereka terlepas.


Hani adalah gadis yang keras kepala dan sedikit memberontak karna itu Danar harus bersikap lebih keras kepadanya, ingatan tentang ucapan bibi Mia kepadanya membakarnya dengan cepat..


Sebenarnya Danar sudah menyukai Hani ketika pertama kali mereka bertemu dan kali ini ia berjanji untuk mendaptkan Hani dulu ia terlalu lengah dan akhirnya kehilangan Ana,..namun kini Danar tak akan gagal lagi..ia akan mendapatkan Hani dengan cara apapun..pria itu tersenyum misterius...


************************************************


Arkana menatap makanan yang di sediakan pihak Hotel dengan tatapan dingin dan tidak ingin...


''Singkirkan ini semua..aku bahkan tak bisa mencium aromanya..'' ucap Arkana menutup hidungnya agar mencegah aroma makanan itu sampai ke hidungnya, ia akan muntah jika menciumnya sekali lagi..


Alex yang melihat itu menjadi lucu..ia kemudian tertawa ketika pelayan itu menyingkirkan makanan itu dari sana..wajah Arkana menjadi pucat karna sejak datang kemari ia bahkan tidak bisa makan apapun...setiap makanan itu masuk maka Arkana akan memuntahkannkannya akhirnya tubuhnya menjadi lemas..


''Ada apa denganmu Arkana...bagaimana kalau kita mengunjungi dokter saja..''


''Dokter.'' ucap Arkana mempertimbangkan kata-kata Alex karna sungguh pekerjaannya terganggu karna rasa mual yang ia alami..

__ADS_1


Alex bangkit dari tempat duduknya..


''Ayo...aku akan mengantarmu ke dokter..''ucap Alex meraih kunci mobil...


Arkana akhirnya menyanggupi ucapan Alex, lalu merekapun melangkah keluar dari Hotel dan menuju rumah sakit terdekat di kota itu.


*********************************************


''Kandungan nyonya baik sekali..dia bayi yang sangat aktif dan sehat..''ucap sang Dokter kandungan ketika telah selesai memeriksa perut Ana..


Maya membimbing kakaknya turun dari ranjang, setelah di lakukan USG, lalu duduk di hadapan dokter..


''Bagaimana selama ini nyonya apakah ada sesuatu yang mengganggu, apakah kau masih mual, dan ngidam seperti kehamilan pada umumnya..'' goda sang dokter pada Ana..


Ana tersenyum dan menggeleng...


''Aku makan dengan baik, lalu tidur tanpa merasakan mual sendikitpun dokter..anakku benar-benar pengertian..''ucap Ana dengan rasa lega luar biasa...


Sementara Maya ikut lega...


''Mungkin saja kau tidak meraskannya nyonya tapi ayah dari bayimulah yang pasti merasakannya....''


Deg!!!!!!!!


Mata Ana berkaca-kaca ketika kata-kata dokter mengingatkannya pada Arkana, hingga Maya memeluk kakaknya untuk menghibur melihat Ana hampir menangis...


''Mungkin juga tidak dokter.''ucap Ana menutup pembicaraan...


Dokter hanya menghela nafas, seolah ikut merasakan kesedihan Ana...


Setelah menulis resep, Dokter lalu meminta mereka kembali kontrol di bulan berikutnya, dan merekapun keluar dari sana...


Ana dan Maya melangkah menuju mobil namun langkah Ana terhenti ketika ia seperti melihat seseorang di dalam ruangan IGD...


Jantung Ana berdebar ketika menyadari sosok yang tertidur di ranjang rumah sakit....langkah Ana terarah mendekat namun, seketika ia membeku melihat sosok Arkana yang ada disna..sedang di periksa dokter...


''Arkana...'' bisik Ana dengan mata berkaca-kaca..


Dan di saat yang sama Arkana tak sengaja membuang pandangan ke arah pintu luar,....


Matanya melebar tak ingin percaya...


''Ana...''jerit Arkana dengan suara yang lantang...


Ana mengepalkan tangannya...bergerak mundur dari pintu dengan sangat takut....


Tidak.....ia tak akan pernah menemui Arkana tidak...,bagaimana jika Arkana akan menyakitinya atau bayinya..bagaimana jika itu terjadi...? Ana lalu meraih tangan Maya untuk menjauh dan segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana..


Sedangkan Arkana tak mampu berbuat apapun...tak ada yang percaya kepadanya bahkan Alex mengira ia berhalusinasi..

__ADS_1


dokter lalu menyuntikan cairan yang membuatnya tertidur...namun sebelum kesadarannya terenggut ia masih memanggil nama Anastasya.....


__ADS_2