
Maya turun dari mobil, hari ini dia berada di rumah sakit karna harus menebus obat kak Ana. setelah dari rumah sakit ia harus ke kampus untuk bertemu dengan kekasihnya yang bernama Matteuw, lalu mereka akan berangkat ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas, senyum kasmaran terbit di wajah Maya..
Hari ini ia sangat percaya diri dengan tampilan kasual, Maya memakai tshirt berwarna putih yang begitu pas membungkus tubuhnya yang padat di masa mudanya, untuk bawahan Maya menggunakan rok jeans pendek di atas lututnya, Maya terlihat sangat manis..tak lupa tas rangsel mungilnya yang menghiasi punggungnya..sedang rambutnya yang panjang di biarkan tergerai panjang menutupi punggungnya...
Maya hendak melangkah namun ia terkejut ketika seseorang berdiri di hadapannya dengan pandangan yang menusuk..
Hening.....
Hening.........
Hening...........
''Maya...'' senyum lega tergambar di wajah Alex, seperti ia sedang menemukan harta karun berharga.
''Kau...adalah paman.....'' Maya mencoba menebak..
Alex mengeraskan tatapannya..pria itu mendekat dan meraih tubuh Maya untuk setengah memeluknya...
''Hey..kau sangat tidak sopan paman..'' Maya berusaha memberontak..mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Alex yang kuat dan mengunci setiap pergerakannya.
''Jika sekali lagi kau memanggilku paman maka aku akan menciummu disini di tengah banyak mata yang memandang kita bagaimana...''
''Astaga..baiklah..aku menyerah maafkan aku okey..'' Maya akhirnya menghela nafas lega ketika Alex melepaskannya..
Mengapa pria ini ada di negara ini..ya ampun dunia ini sangat kecil buat mereka..
''Ehm..lalu aku harus memanggilmu apa...aku bahkan tidak tau namamu.''
''Alex...kau bisa memanggilku dengan nama Alex atau sayang...''
''Sayang..''
Tawa Maya pecah saat itu juga ketika ia merasa pria ini terlalu memaksakan dirinya, pantang bagi Maya untuk berkencan dengan si tuan Alex ini, ia sudah punya Matteuw yang tampan dan sumuran dengannya tidak...pria ini sudah gila,...
''Kau sedang mengejekku begitu.''
''Tidak...aku hanya merasa lucu dengan tingkah percaya dirimu tapi maaf tuan Alex, aku tak ingin memberimu harapan apapun...permisi,.''
Maya merasa pria ini terlalu percaya diri dan sedikit memaksa hingga membuatnya gerah..
Maya melangkah hendak pergi namun, tubuhnya tertarik kebelakang lebih tepatnya jatuh di pelukan Alex hingga mata mereka bertemu dan tertahan disana...
__ADS_1
''Lepaskan, aku harus mengambil obat.''
''Obat untuk siapa..kau sedang sakit.'' cecar Alex ingin tau.
Maya menganggukan kepala membenarkan,
''Jadi kau sedang sakit...'' ulang Alex mengerutkan kening...
''Yah...bukan masalah besar untuk kehamilan..'' suara Maya tertelan menyadari wajah Alex yang begitu pucat karna terkejut.
''Apa...hamil.'' teriak Alex syok dengan pernyataan Maya yang spontan.
Maya memakai kesempatan itu untuk menghindari Alex...ia melangkah cepat menjauhi Alex.
''Yah..karna itu jangan dekati wanita yang sedang hamil.'' ucap Maya menghindar...
Gadis itu mengucap syukur dalam hati ketika langkahnya tidak di cegah, yah..untuk kesekian kalinya ia bisa mengelabui pria tua itu...
Namun senyumnya tidak bertahan lama,...ketika kali ini bukan tangannya yang di tarik tapi Alex sudah mengalungkan tangan besarnya di pinggang Maya sehingga gadis itu menjadi sangat kesal, dan menghentikan langkah...
''Ada apa sih denganmu.''
Alex asik berpidato ria tentang masa depannya bersama Maya dan tak menyadari wajah Maya yang terlihat jengkel.
''Tuan Alex, aku rasa kau benar-benar gila...dan tidak tertolong.'' geram Maya menocba mengendalikan diri...astaga pria ini mengapa ia begitu tidak tahu malu...?
''Kau benar tentang aku Alex, si pria gila itu dan aku hanya ingin mengatakan satu hal kepadamu Maya...aku akan mendapatkanmu suka atau tidak...ayo kita mengambil obat.''
Maya sungguh kehilangan kata, ia tak punya pilihan selain mengikuti Alex menuju ke bagian apotik..petugas yang mengenali Maya langsung tersenyum kepadanya, Maya sering mengambil obat untuk sang kakak, petugas itu lalu menutup senyumnya ketika mendapat tatapan peringatan dari sosok Alex berdiri dengan aura membunuh yang kentara..
''Jadi pastikan kakakmu meminum obatnya dengan baik, jangan lupa vitamin penguat kandungan dan juga istirahat yang cukup..''
Maya langsung tersenyum dan mengucap terimakasih kepada petugas itu..ia mengabaikan tatapan tajam Alex kepadanya dan segera menarik pria itu menjauh...
''Kau berbohong..''
''Tidak aku hanya bercanda.''bisik Maya mengusap lengan Alex dengan gerakan menenangkan dan ia sama sekali tak sadar melakukan itu..mereka pun melangkah menuju parkiran dengan senyum Alex yang tak pernah lepas dari bibirnya..
Maya menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangannya dengan senyum canggung sementara Alex tak sedikitpun melepas tatapannya dari Maya, gadis ini begitu canrtik dan punya aura memikat yang kuat, bahkan Alex di buat tidak berkutik di depannya, bahkan hatinya berdebar sekarang...pria itu tersenyum tanpa disadarinya..
''Jadi..kita berpisah disini saja..''ucap Maya..
__ADS_1
''Aku masih tak rela.''
''Yah...apa aku istrimu sehingga kau tak rela.'' jerit Maya kesal.
''Kau akan menjadi istriku aku berjanji.'' ucap Alex dengan tatapan tajamnya...
Senyum Maya menguap, apa yang di pikirkan Alex saat ini, apakah dia benar-benar menyukai dirinya..? rasanya sulit di percaya...mereka baru saja bertemu sekali dan pria ini memutuskan hal yang tak masuk akal...?
Maya hanya mengangguk patuh...
''Ya...ya...ya....aku akan menjadi istrimu nanti tapi...sekarang aku harus pulang memberikan obatku pada kakakku yang sedang hamil.''
''Berikan nomor ponselmu dan alamatmu, aku ingin tau..'' ucap Alex seraya meraih ponselnya untuk menyalin.
''Untuk apa...'' ucap Maya keberatan...bagaimana jika pria ini seorang Mafia...seperti perdagangan manusia yang sengaja mendekatinya untuk membuatnya lengah dann mengambil orang dalam tubuhnya lalu menjaulanya di pasar gelap....tanpa sadar Maya menggelengkan kepala dengan ngeri...setidaknya ia berhati-hati, itu adalah pesan kakaknya Ana, dan Maya akan selalu mengingatnya...
''Yah...apa kau sedang mencurigaiku.''
Maya mendekat....dan menelisik mata Alex yang terlalu tajam untuk orang biasa,....
''Apakah kau seorang mafia..'' desah Maya menebak..
Alex merasa dejavu, dulu Ana juga takut pada Mafia dan kini hal yang sama di alami Maya..ada apa dengan kedua wanita ini, mengapa malah memaksanya untuk membuka jati dirinya..? jika dia jujur apakah Maya akan terima atu malah takut...?
Alex tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya hingga tubuh Maya terhimpit di badan mobil, pria itu mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak di anatar mereka...
''Jika kau ingin tau siapa aku maka kau harus menjadi kekasihku lebih dahulu, itu akan menjadi adil bukan.''
Alex mengedipkan matanya dan membuat Maya membeku di tempatnya...kesempatan itu di ambil Alex untuk melum** bibir Maya dengan lembut...
Deg!!!!!!!
Maya mengerutkan kening ketika hatinya berdebar, seolah mati rasa ketika Alex juga merebut ponselnya dan menyalin nomor Alex disana...lalu memberikan satu panggilan sebagai jejak agar ia tak kehilangan Maya lagi...
''Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang, aku ingin menemui kakakmu.'' bisik Alex tak terbantah...
Maya menjadi sedikit takut....
Hai...bagi yang penasaran visualnya bisa masuk ke grup chat author...gabung ya...❤️❤️
__ADS_1