
Jesika meradang tentu saja, Ana sedang menghinanya karna menyamakan pilihannya untuk di berikan pada pelayan, wanita murahan ini harus disadarkan tentang posisinya, walau dia sekarang banyak uang namun dia mendapatkan semua itu dengan cara yang memalukan, menjadi simpanan apa yang perlu di banggakan...?
Jesika mendekat....menatap Ana dengan tajam, hal yang sama di lakukan Ana, keduanya berdiri saling menantang di depan para pelayan toko yang hanya bisa diam dan saling memandang...
''Apa kau sedang menyombongkan diri di hadapanku Ana, apa kau mau menunjukan kelasmu disni..astaga, kau harus sadar siapa dirimu..bahkan kau tidak pantas untuk membersihkan sepatuku...''
''Astaga hentikan bualanmu atau aku akan merobek mulutmu itu Jesika....''tatapan Ana mengeras...
Membuat nyali Jesika sedikit menciut....
''Mulai sekarang biasakan matamu untuk melihatku Jesika karna kita sama sekarang dan....aku pastikan tidak akan membiarkan kau menghinaku lagi,...''
''Wah....nyalimu besar juga Ana, aku ingin tau dari mana semua ini kau dapatkan....? di darah miskinmu itu tak mungkin ada jejak darah orang kaya..tidak, kau apakah kau telah menjadi simpanan atau bahkan menjual tubuhmu untuk mendapatkan ini semua....yah...apakah Danar juga salah satu pelangganmu.....aku tau...........
Paccckkkk...................
Kata-kata Jesika terputus ketika ia merasakan wajahnya di tampar dengan keras, hingga tubuhnya terhuyung namun beruntung jatuh di atas sofa dan bukan mendarat di lantai...wanita itu menoleh dan meradang.......
''Kau..menamparku...'' jeritnya tidak terima...
Ana tersenyum dingin, mendekati Jesika dan menundukan tubuhnya...
''Aku bahkan bisa membunuhmu jika kau menghinaku sekali lagi, kedudukanku lebih terhormat di banding menjadi simpanan atau menjual tubuhku Jesika...bukankah aku pernah berkata aku adalah gadis mahal..''
Jesika mendesar dengan gemetar.............
''Kau berbohong.......''
''Aku sangat kasihan padamu Jesika, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu....''
Ana mengangkat jemarinya dan memperlihatkan sebuah cincin pernikahan yang membuat Jesika kehilangan kata...
''Kau sudah menikah...''
''Karna itu jika kau menghinaku sekali lagi maka aku...tak akan segan-segan menghukum dirimu...''
Jesika menghela nafas.....Ana masih belum melepaskannya...
''Oya...aku penasaran, mengapa tuan Danar belum juga menikahimu yah...bukankah kalian sudah bertunangan sejak lama....? ataukah dia hanya ingin memakaimu saja tanpa ingin menikahimu...Jesika...apakah mungkin tuan Danar masih belum menyerah dengan masa lalunya...''
Jesika menggeleng...
''Apa maksudmu Ana.....''
__ADS_1
''Kau yang paling tau jawabannya Jesika, berhati-hatilah...''
Ana menjauhkan tubuhnya dengan penuh senyuman dingin, lalu melangkah meninggalkan toko itu dan membeli tas yang di inginkan Jesika...
Wanita itu menatap Ana dengan tajam......
''Siapa yang menikahinya....siapa.....'' desah Jesika merasa geram......
Lihat saja dia akan membalas Ana, dia harus mencari tau siapa yang menikahi Ana dan memberikan kemewahan itu kepadanya....siapa....??
**********************************
Ana melangkah keluar dari toko itu dengan mata berkaca-kaca...jantungnya berdebar keras dan tubuhnya bergetar....Ana tak percaya ia bisa menghadapi Jesika dan menghinanya....
''Nyonya....apa yang terjadi...''
Hani menahan tubuh Ana yang goyah dan hampir jatuh, Hani membimbing tubuh Ana untuk duduk di bangku sekitar Mall...menatap cemas kepada Ana yang tampak diam saja,....
''Nyonya....''
Ana memejamkan matanya, berhasil membalas Jesika membuat hatinya merasa lega, walau ia sedikit merasa iba namun...egonya segera mengambil alih pikirannya, mereka pantas mendapatkannya...
Namun...tetap saja, ini terlihat bukan dirinya...bersikap kasar dan berani namun, bukankah ia juga harus mempertahan dirinya...?
''Nyonya Ana...apakah nyonya baik-baik saja...'' Hani tampak sangat khawatir kepadanya..
Ana menoleh dan menganggukan kepalanya, ia pun tersenyum...
''Tentu saja...aku baik-baik saja Hani, tapi aku harus ke toilet sebentar...'
''Baiklah........''
Hani membimbing Ana sampai di pintu toilet dan menunggu disna..Ana lalu masuk sendirian dan menuju wastafel, menundukan kepala dan membasuh wajahnya...berulang kali hingga ia tak menyadari seseorang masuk dan mengunci pintunya disana....
Ana terus melakukan aktifitas mencuci wajahnya berulang-ulang kali, yah....ia harus mengingatkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan sekarang sangat pantas..bahwa ia tak perlu ragu dalam hal membalas, mereka pernah menghinanya itu berarti....
Ana juga pantas melakukannya....
Ana selesai membasuh wajahnya lalu menatap wajah polosnya di cermin....masih tak menyadari bahwa pintu sudah di kunci...wajah Ana bersih tanpa sapuan makeup dan lipstiknya..
Lama memandang wajahnya di cermin Ana merenung disana, mengapa ia merasa tidak bahagia...mengapa ketika ia banyak uang, ketika ia mampu membeli segalanya dan tidak kekurangan justru ia tidak menikmatinya...?
Ana menunduk lagi dan menyadari airmatanya menetes, tapi...ada sisi di hatinya yang terasa sakit dan ingin membalas, mereka telah menyakitinya berkali-kali dan itu sangat menyakitkan untuknya, dimanapun mereka melihatnya mereka pasti mengeluarkan hinaan karna kemiskinannya dan itu membuat Ana tidak tahan berada di posisi bawah...sangat tersiksa.....
__ADS_1
Ana kembali mengangkat wajahnya dan menatap ke arah cermin, yah..ini baru permulaan dan ia tak boleh lemah bukan....??
Ana meraih lipstiknya dan hendak memoleskannya di bibir, namun membeku melihat sosok bayangan di belakangnya. Ana bahkan sampai menjatuhkan lipstiknya karna terlalu terkejut...keduanya bertatapan tajam....
Ana buru-buru melangkah melewati pria itu namun....ironis langkahnya terhenti ketika tangannya di cekal, dengan gampangnya tubuhnya di hempas dan membentur wastafel di belakangnya...Ana menghela nafas dengan gugup...
''Ka..kau..''
Pria itu mendekat dengan tatapan rindu bercampur marah, memandang Ana yang tampak berubah dan semakin cantik membuatnya menggila...yah...
''Anastasya......''suara itu terdengar berat dan mendamba, namun Ana mengeraskan tatapannya...
Jemarinya terkepal dengan kuat, namun bergetar disana...
''Darimana kau...tau aku disini...katakan..'' mata Ana memerah dengan tajam.....
''Karna rinduku yang terlalu besar kepadamu karna aku.........''
''Aku harus pergi.....''
Ana mencoba melangkah melewati pria itu namun sekali lagi tubuhnya di cekal dan kali ini menjebaknya di wastafel tanpa mampu bergerak....
''Jika aku tak menginjinkanmu pergi maka tak ada yang bisa ku lakukan....''
''Benarkah..kau sadar apa yang kau lakukan, aku sudah menikah dan aku tidak akan...''
Kata-kata Ana terputus ketika pria itu mendekatkan wajahnya.......
''Aku tak pernah perduli....kau adalah milikku..''
''Dalam mimpimu....lepaskan aku..''jerit Ana keras...
''Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku...''
Ana mengerutkan keningnya..........
''Lepaskan aku...''
''Tidak.......''
Kali ini...Ana tak bisa bergerak ketika tubuh pria itu mendekat dan tersenyum dingin...menahan tubuh An..pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Ana...
Wanita itu berusaha meronta namun tak pernah bisa, tubuhnya sudah di kunci dan membuatnya tak bisa bergerak....
__ADS_1
''Arrrggghhh....''