
Ana terbangun di pagi hari ketika masih pukul 5 pagi, wanita itu ingin bergerak bangun namun sebuah tangan kokoh melingkari perut yang telanj***, Ana mau tak mau berbaring sebentar sembari melirik ke samping,
Deg!!!!!!!
Arkana tertidur pulas seperti bayi yang polos, dan mudah di dekati, tanpa sadar Ana tertarik untuk mengamati lebih lama wajah kaku itu, Ana membalikan tubuhnya dengan posisi menyamping sementara lengan Arkana masih memeluknya dengan posesif,
Dan.....
Hey..mengapa tampan sekali, alis Arkana yang sedikit tebal, bulu matanya ternyata lentik juga ini pertama kalinya Ana melihat wajah Arkana dari dekat, maksudnya adalah ia bisa menilai wajah Arkana tanpa intimidasi pria ini. Ana tersenyum, hidung Arkana begitu mancung, jelas dia bukan berasal dari negara ini namun berasal dari negara penghasil pria tampan. Ana tersenyum lagi seakan betah menikmati wajah sang Mafia ketika tertidur..
''Mengapa kau sangat tampan ketika tertidur begini..? kau terlihat lebih mudah di dekati dan ramah..''bisik Ana begitu saja...
''Cobalah untuk tersenyum paling tidak sehari 3 kali sehari.'' bisik Ana lagi dengan suara yang pelan.
Ana semakin betah berlama-lama menatap wajah Arkana, kali ini ia malah semakin berani menyentuh area wajah Arkana yang begitu tampan sempurna, kapan lagi bisa sedekat ini dengan Arkana..mungkin ketika dia nanti sudah pergi ia bisa mengenang Arkana ketika ia merindukannya nanti..
''Eh...Rindu..'' Ana menggeleng pelan mengusir jauh perasaannya, mana mungkin ia punya waktu untuk rindu yang ada waktunya hanya untuk Alex. jadi apa salahnya jika ia memanfaatkan waktunya sekarang...?
Jemari lentik itu menyentuh Alis Arkana yang tebal, lalu bergerak turun untuk menyentuh kedua kelopak matanya, Ana tersenyum untuk ke sekian kalinya ia suka melakukan ini pada Arkana, ia sangat menyukai ketika Arkana tampak pasrah karna memang sedang tertidur.
Kini jemari itu bergerak menelusuri hidung Arkana yang tinggi menjulang, sangat tampan..dia di berkati keindahan ragawi yang sempurna..kini jemari Ana bergerak turun dan menyentuh permukaan bibir Arkana dengan sedikit gemetar, takut-takut kalau Arkana bangun, namun tampaknya Arkana sangat lelah dan tidak terganggu dengan sentuhannya..
Ana memejamkan mata......
Ketika ingatan tentang ciuman panas Arkana menggodanya di pagi hari, apakah dia sudah gila, mengapa malah memikirkannya..? tidak Ana kau sudah gila....jangan pernah berubah hanya karna gairah yang sama..
Ana menggeleng pelan usai berperang dengan hatinya, wanita itu membuka mata, namun ia sangat terkejut ketika sepasang mata coklat itu sangat tajam dan terbuka menatapnya..
Astaga.....bahkan jemari Ana masih berada di permukaan bibir Arkana, wajah Ana merah padam..
Bodoh..fix...kau bodoh Ana..gumam Ana di dalam hatinya, mengapa ia malah melakukan hal konyol..?
Arkana begitu terkejut ketika pagi ini Ana menyentuhnya, bahkan ia sudah terbangun dari tadi dan mendengar semua perkataan Ana kepadanya, pria itu tersenyum, mengapa hatinya berdebar senang mendapat sentuhan Ana pagi ini..
''Apa yang kau lakukan dengan wajahku.''
Suara sedingin es itu tampak begitu menekan, Ana menghela nafas, ia dengan mudahnya kembali ke pengaturan awal..
''Aku sedang mengambil bulu matamu yang terjatuh.'' Ana memberi alasan..
__ADS_1
Arkana mendekatkan wajahnya...menikmati wajah Ana yang pucat namun manis di pagi hari...
''Kau tau jika tak ada yang boleh menyentuh wajahku.''
''Aku kan istrimu jadi aku sedikit punya hak bukan..'' jawab Ana begitu saja..
Tanpa di duga Arkana tersenyum melirik bibir Ana,
''Sentuhanmu membangkitkan gairahku yang masih tersisa..lalu aku harus bagaimana...''
''Apa...apa maksudmu.''
''Bukankah kau...harus bertanggung jawab..'' desah Arkana tak menyerah..
Ana melotot dengan tidak terima ketika Arkana menyentuh dadanya, menari wakita itu untuk berada di atasnya..
''Kau harus belajar mnerima sentuhanku kemudian kau akan kuajarkan bagaimana cara menyentuhku bagaimana...''
''Arkana...''
''Aku masih ingin Ana...''
*****************************************************
Keduanya turun bergandengan tangan dari lantai atas, rencana hari ini adalah Arkana akan mengajak Ana mendaki gunung, dulu dia sering melakukannya setelah rehat sejenak dari dunia mafianya, kini ia ingin mengajak Ana bersamanya..
''Bukankah kau bilang ingin memancing.'' ucap Ana pelan.
''Besok saja kita memancing, hari ini aku akan menunjukan keindahan gunung di dekat sini..kau akan terpesona sayang.''
Arkana tersenyum tampak antusias...mereka lalu mendekati mobil dan Arkana membimbing Ana lebih dahulu untuk duduk, lalu pria itu melangkah mengitari mobil dan masuk..mobilpun meninggalkan kawasan Vila menuju bukit yang di tuju Arkana.
KIra-kira satu jam perjalan dengan mobil tibalah mereka di sebuah bukit yang begitu indah, Arkana keluar dai mobilnya dan tak lupa membawa Ana bersamanya, keduanya sama-sam melangkah naik ke daerah perbukitan yang cukup tinggi.
Udara yang sejuk dan pemandangan yang memanjakan mata membuat Ana tak berhenti untuk tersenyum, sekilas ia melirik ke arah Arakana yang juga tampak rilex...dan tak berhenti tersenyum..
''Kau tau mengapa aku membeli vila disini..''
Ana menoleh dan menggeleng....
__ADS_1
Arkana semakin mengeratkan genggamannya,
''Dulu adikku menyukai daerah pegunungan, sebenarnya aku membeli vila ini untuk dirinya..''
Ana menghentikan langkahnya sebentar lalu menatap Arkana..
''Maafkan aku Arkana, bisakah aku bertanya kepadamu..tapi berjanjilah kau tidak akan marah.''
Arkana menatap mata Ana yang terlihat sedikit cemas lalu mengangguk....
''Baik tanyakan saja, aku akan mencoba untuk jujur.''
Ana menghela nafasnya sebelum bertanya, dia tau ini adalah hal yang sensitif dan mungkin Arkana akan tersinggung jadi....ia hanya ingin tau yang sebenarnya..
''Kematian Katren, apakah kau yakin jika Alex adalah orsng yang bertanggung jawab di balik tindakan bunuh diri adikmu.....''
Kata-kata Ana menguap ketika melihat perubahan wajah Arkana yang mengeras,...
Astaga, dia pasti sudah menyinggung pria ini, Ana memejamkan matanya....Arkana akan marah kepadanya..
''Jika kau tidak siap bicara maka.....''
''Adikku hamil....ketika dia meninggal.''
Wajah Ana menjadi pucat...hatinya mendadak nyeri seketika itu juga, dengan mata yang berkaca-kaca,..Hamil..?
Arkana mengepalkan tangannya..........
''Aku memasang cctv di kamarnya dan mendapat bukti jika Alex memaksa Katren adikku untuk mengugurkan kandungannya..
Ana hampir saja jatuh ketika tubuhnya mendadak lemas mendapat informasi ini,
''Tidak mungkin...''perkataan itu lolos dari mulut Ana hingga kenyataan itu membuat Arkana menoleh...
''Kau tidak percaya padaku yah, bagaimana kalau kau melihat sendiri buktinya, bagaimana ketika pria itu memaksa adikku untuk melakukan hal yang keji....Arkana mendadak di kuasai amarah, mencengkram lengan Ana dan tersenyum kejam....
''Aku tak akan melepaskannya Ana....tidak, dia harus membayar apa yang ia lakukan kepadaku.. dan adikku.''
Tubuh Ana bergetar takut.......
__ADS_1