
Dilan menghentikan langkahnya ketika tatapannya menjadi lain pada sosok Diza..pria itu berhenti sebentar sementara jemarinya naik dan menyentuh dadanya yang berdebar...
Mengapa.....? bukankah dia menganggap Diza sebagai adiknya..? mengapa dia merasakan perasaan ini...mengapa seharusnya ia tidak merasakannya bukan..?
Diza menghentikan langkahnya ketika menyadari jika Dilan masih berdiri dengan wajah bingung...
''Dilan.......ayo...aku sudah lelah..'' jerit Diza dengan tatapan menekan..
Dilan mengangguk lalu mendekati Diza dan membukat pintu mobil dan Diza pun masuk,,....
Dilan menutup pintu dengan tatapan kecewa, mengapa ia kecewa...?
Astaga perasaan apa ini...??
*************************
Damian mulai menyuapi Alesya buah jeruk yang di kupasnya, sementara sedari tadi Aley hanya mengerutkan dahi ia berpikir keras untuk bisa mengingat sosok pria yang selalu menemaninya tanpa henti....bahkan Aley sudah merasa bosan berada di ruangan rumah sakit ini.
''Aku heran..apakah kau tidak punya pekerjaan lain selain menjagaku disini...kau tidak bosan menjagaku Dami....''
''Damian....panggil namaku Damian, jangan singkat begitu..''
''Memangnya kenapa, Damian terlalu kepanjangan untukku, Dami lebih pas....'' Aley tersenyum sembari mengunyah jeruk yang asam itu di dalam mulutnya...
Damian hanya terkekeh.....
''Terserah kepadamu...''
Aley tersenyum...
''Aku ingin belajar berjalan Dami...tolonglah,...bisakah kau membantuku...'' ucap Aley dengan nada memohon..
Damian akhirnya bangkit berdiri dan mendekati Aley, keduanya bertatapan dengan jarak yang dekat, kedekatan ini membuat Aley sedikit mengenang...apakah mereka pernah bertatapan seperti ini...?
Wajah Aley menjadi gugup.....
''Bisakah kau memegangku....''
Damian menaikan sudut bibirnya, ia bukan memegang Aley, namun memeluk tubuhnya agar Aley bisa berdiri...mata gadis itu membulat sempurna ketika menyadari bibir mereka nyaris bersentuhan....
Deg!!!
''Dami.......''
''Aku ingin sedikit mengingatkanmu Aley,.....''
Ketika Aley masih terlena dengan tatapan Dami, ia sedikit terkejut ketika bibir Dami menyambar bibirnya dan ********** lembut, bibir Aley yang hangat begitu manis...menyambut bibir Damian yang dingin dan basah...
Hening.....
Ketika Damian menjauhkan bibirnya, dan menatap mata Aley yang berkabut, posisinya adalah Aley masih berada di dalam pelukan posesif Damian yang bahkan tidak menyisakan jarak di antara mereka..
''Kau mengingatnya.....'' bisik Damian mendekat lagi...
Aley hanya mengerutkan dahi lagi, lalu sedikit menggelengkan kepalanya...
Damian terkekeh...kemudian kembali menyentuh bibirnya dan membawa Aley dalam ciuman yang panas dan sedikit menuntut..
Aley membuka bibirnya ingin bicara, namun Damian menggunakan kesempatan, lidahnya bergerak masuk menjelajah dan menggilas bibir Aley dan membuat gadis itu sedikit kewalahan...
__ADS_1
Lama....Damian menaklukan Aley di dalam ciuman panasnya yang menggila, sudah lama dia tak merasakan penyatuan kecil setelah Aley mengalami kecelakaan, sudah seminggu Aley terbaring di rumah sakit dan Damian begitu stres...apalagi pernikahan mereka tertunda sampai Aley benar-benar di nyatakan sembuh...
dan ciuman mereka kali ini sedikit membuat kerinduan itu terbayar meski...Damian tidak bisa menyentuh Aley yang masih sakit...namun ia cukup puas menikmati ciuman mereka......
Aley sedikit terkejut dengan kemampuan ciuman Damian yang begitu ahli kepadanya, bahkan pria ini sanggup membuatnya melayang...
Damian mendudukan tubuh Aley di atas ranjang dan kembali mencumbunya dengan begitu ahli, hingga suara pintu terbuka membuat Damian mnenarik dirinya tiba-tiba,..
Aleya yang terlanjur menikmati hanya mampu mengerang protes...
Pintu terbuka lebar dan sosok Dokter Mark melangkah masuk dengan senyuman salah tingkah, melihat wajah Aley dan Damian barusan sudah menjelaskan apa yang terjadi barusan, pria itu hanya menggeleng..
Bibir Aley terlihat bengkak, betapa ganasnya Damian,
Dokter Mark tak jadi masuk dan hanya berdiri di pintu...
''Apa dokter akan memeriksa Aley...''
Mark tersenyum...
''Aku rasa kau sudah memeriksanya lebih dahulu Aley terlihat lebih sehat..'' Mark menaikan alisnya menuduh..
Aley melebarkan matanya malu...sementara Damian kehilangan kata...
''Setelah Aley sembuh maka menikahlah dengannya..aku tau betapa sulitnya kau...menahannya..''
Mark tidak menunggu jawaban Damian karna ia segera keluar dari sana dengan senyuman lucu..
Marka menghentikan langkahnya ketika mendapat pesan dari Diza.
Dear kakak...
Mark tersenyum lalu membalas...
Dear Adikk
Kakak akan menjemputmu jadi, dandan yang cantik...
Mark lalu sedikit berdehem sembari melanjutkan langkahnya, Diza sangat manis namun..dia terlihat seperti gadis remaja...setelah Mark pikir, Diza lebih cocok menjadi adiknya di banding mereka punya hubungan serius...namun Mark tidak enak mengatakannya pada Diza...
Ia akan menunggu waktu yang tepat.........
***************************
Diza sudah berdandan dengan begitu manis, ia terlihat sangat dewasa..malam ini kedua orangtuanya sedang berada di rumah ibu Ana...jadi dia tidak perlu pamit meski ia telah mengatakannya akan pergi bersama Mark..
Setelah menunggu...
Sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah, dan Mark keluar dari pintu mobil dengan tatapan beku yang terpesona...
Deg!!!!!
Diza sangat cantik, dan dewasa,...tak ada lagi wajah remajanya dia sangat manis....dan sanggup menggetarkan hati Mark..
''Kau sangat cantik...''
Diza mengulum senyumnya, ia sungguh jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dokter Mark...
''Aku memang cantik di mata kedua orangtuaku..''
__ADS_1
''Dan di depanku...'' sambung Mark serius, ia sedikit menyesal dengan pernyataannya tadi siang...kali ini Diza terlihat mempesona...
''Sudah siap untuk makan malam....''
''Aku sangat lapar...'' ucap Diza dengan senyuman manisnya..
Mereka pun pergi....
***********************************
Pemandangan restoran di atas bukit sungguh indah di malam hari meski sedikit dingin, pelayan meletakan berbagai menu di atas meja, sementar Mark tak henti menatap wajah Diza yang merupakan candu baginya...
''Mari kita makan...'' ucap Mark dengan sopan..
Diza mengangguk dengan tak sabar, lalu mereka mulai makan, namun di tengah makan malam, tampak dua orang pasangan yang lewat dan seperti mengenal Mark..mereka menegurnya...
''Hay Mark....''
''Hay.....Jhon dan Sinta..'' balas Mark tersenyum...
Pria bernama Jhon itu tampak mengarahkan tatapannya kepada sosok Diza yang tersenyum..
''Wah...kau bersama dengan..kekasihmu Mark..''
Mark memijit pelipisnya...
''Aku bersama adikku...''
Deg!!!!!
Mendengar kata-kata adik membuat wajah Diza memucat..
Adik....
Adik......
Adik........
Dokter Mark hanya menganggapnya adik...? rasanya seperti di jatuhkan dari tempat yang tinggi Diza menjadi sangat patah hati..ia sudah berbunga-bunga bahkan Dokter ini memberinya harapan.. mengapa malah mengakuinya adik di hadapan temannya..
Tanpa sadar Diza menghela nafas dengan kecewa..setelah pasangan itu pergi, Diza merasa selera makannya hilang entah kemana, ia ingin pulang saja..
Diza meneguk air dingin dalam gelas sampai habis dan menatap ,Mark...
''Aku akan pulang lebih dahulu, silahkan kakak makan saja..'' ucap Diza dengan dingin..
Mark membeku, ia memejamkan matanya menyadari kalau....Diza tersinggung...
Ketika Diza melangkah keluar, Mark mengikutinya dengan cepat...
''Diza...aku mohon...Diza...''
''Lepaskan tangannmu dokter, astaga...kau sedang memberiku harapan kosonng...''
''Mulai sekarang menjauhlah...'' jerit Diza patah hati..
Gadis itu ingin melangkah pergi namun Mark kembali mencekal tangannya dan membuatnya berbalik, mereka saling menatap....
''Dengarkan aku Diza.......'' teriak Mark tajam...
__ADS_1