
Pagi hari itu juga setelah percintaan mereka, Mark membawa Diza pulang ke rumah Alex sekaligus mengatakan bahwa ia ingin segera menikahi Diza, dan tak ingin menundanya...semua orang berbahagia dan setuju tentu saja, di mata mereka Mark adalah sosok yang begitu berkualitas, ia pria yang sopan dan tak ketinggalan ia juga pria yang tampan seorang dokter penyelamat yang telah menyembuhkan banyak nyawa.karna itu Alex bahkan Ana dan Arkana mereka setuju, begitu juga dengan orangtua Mark yaitu Steve dan juga Fera, mereka menyambut baik rencana pernikahan Diza dan Mark yang ternyata lebih di majukan dari pernikahan Dilan dan Elena..
Diza sungguh tak bisa berkutik apalagi menolak pernikahan, semua keluarga tersenyum bahagia meski senyum itu sama sekali tak sampai kepadanya..
''Baiklah Mark, kapan kalian berdua ingin menikah...'' ucap Alex ketika bertanya serius kepada Mark..
''Mungkin dalam minggu ini juga jika Papa dan keluarga kita yang lain setuju...''
Deg!!!!
Diza kehilangan kata.....tubuhnya gemetar mendengar ucapan Mark yang begitu tajam....
''Menikah dalam minggu ini..?'' tubuh Diza melemah seketika..
''Lebih cepat lebih bagus untuk kalian.....''ucap Alex tersenyum....
Tanpa menunda waktu....
Pernikahan itu akhirnya di gelar dengan sangat mewah, sumpah dan janji pernikahan terucap tegas dari bibir Mark yang begitu bahagia,...dialah sang pemenang dia ingin Diza benar-benar menjadi miliknya dan itu terjadi..
Ada banyak tamu undangan salah satunya kedatangan Dilan....saudaranya memang terlihat frustasi, bahkan ada bau alkohol dari mulutnya.pria itu tidak datang dengan Elena, bahkan ia tidak memikirkannya sendiikitpun..
Di antara para tamu, Mark memeluk pinggang Diza dengan erat sambil berbicara dengan para dokter teman-temannya, Diza hanya tersenyum dalam diam ketik Mark sedang berbasa-basi...
Ketika Mark dan juga Diza berdiri, Dilan melangkah pelan dengan jemari yang terkepal,...matanya tertuju kepada Diza yang juga menatapnya, ada rasa sakit yang begitu besar melalui tatapan mereka...dan itu mampu membuat mata Diza berkaca-kaca...
Mark sadar dengan kedatangan Dilan, ia pun berbalik sambil tersenyum kepada para sahabatnya...sambil menggenggam jemari Diza pria itu membawa Diza mendekat kepada sosok Dilan yang begitu hancur di hadapan mereka..
''Dilan....aku senang melihatmu disini namun..dimana tunanganmu..jangan bilang kau meninggalkan dirinya,....?''
Mark menaikan sudut bibirnya dengan dingin...
Dilan malah menatap wajah Diza yang begitu cantik dalam balutan gaun pengantin yang indah, walau begitu wajah Diza tampak sendu...
''Diza......''
__ADS_1
Dilan ingin mendekat namun, Mark langsung menahan langkah Dilan dengan telunjuknya sambil memberi peringatan keras...
''Jangan membuatku marah Dilan...menjauhlah kau sama sekali tidak punya harapan....'' desis Mark tajam..
Dilan tersenyum dingin sembari menatap Dilan yang begitu sedih...
''Aku telah memutuskan pertunanganku dengan Elena jadi Mark...aku pasti akan merebut Diza kembali.....''
Kata-kata Dilan membuat wajah Mark seketika berubah dingin ia mendekati Dilan dan tersenyum....
''Coba saja dan lihat..kali ini aku tak akan menghadapimu dengan lembut lagi Dilan.....coba saja..'' desis Mark dalam senyuman...
Dilan mengangguk sementara matanya tetap menajam ke arah Diza yang juga menatapnya,..
''Selamat....selamat atas pernikahan kalian...''
Aleysa tiba-tiba muncul dan mengejutkan Diza dan Mark tak terkecuali Dilan...
Aleysa menatap mata Diza dan Dilan yang tampak tidak rela untuk saling melepaskan, Aley lalu menepuk punggung Dilan dan terkekeh...
''Kau benar-benar telah kehilangan harapan...mata Aley lalu mengarah kepada Mark dan tersenyum...Mark, jangan cemburu ya karna mereka akan saling merindukan karna dari kecil mereka selalu bersama...''ucap Aley menggoda Dilan yang tampak benar-benar terpukul..
''Aley...aku sangat menghormati persahabatan apapun itu namun ketika kau sudah menikah maka selalu ada batasan dan aku kurang bisa terima jika batasanku di langgar....aku yakin Damian pun akan melakukan hal yang sama....''
Aley terdiam dan langsung mengunci mulutnya rapat-rapat entah mengapa ia tak menemukan keramahan seorang dokter Mark di awal perjumpaan mereka dan ada sesuatu dalam diri Mark yang membuatnya ngilu entah apa...
''Yah,....aku mengerti itu Mark..''
''Bagus Aley, aku senang kau bisa mengerti...'' balas Mark dengan senyuman ramahnya yang terasa mengerikan...
Sedangkan Dilan hanya tersenyum...
''Kita liat saja nanti...Mark aku ingin melihat bagaimana hari di depan kita...'' ucap Dilan lalu melangkah meninggalkan sang pengantin yang menatapnya dengan tajam..
Aley masih menunggu dan berbincang sedikit, karna menunggu Damian yang sedang bicara dengan paman Steve dan bibi Fera..
__ADS_1
''Bagaimana kondisi kehamilanmu kakak.,...apakah perutmu terasa berat..'' tanya Diza penasaran sambil menyentuh hati-hati permukaan perut Aley dengan sayang..
''Tidak sama sekali Diza..kau akan senang ketika sadar ada kehidupan lain milikkmu sendiri yang bergantung sepenuhnya kepadamu..perasaan ini sangat indah sayang, dan aku harap kau segera merasakannya..'' ucap Aley menuh harap..
Deg!!!!!
Mark dan Diza saling menatap, kehamilan tak akan pernah terjadi bahkan setiap kali mereka bercinta Mark selalu mengingatkan dia meminum pil anti kehamilan...
Diza ingin menjawab namun Mark lebih dahulu menjawab...sembari memeluk Diza...
''Kami akan menunda Aley, usia Diza masih muda aku ingin menikmati pernikahan kami..''
Wajah Aley tampak senang, jarang ada pria yang mengerti untuk tidak memaksa wanita untuk hamil, Diza benar-benar tak salah memilih suami, karna dokter Mark adalah paket lengkap...
''Kau sangat baik dokter Mark...kau sangat mencintai Diza aku bisa melihat itu dan aku doakan yang terbaik untuk pernikahan kalian.......''
Diza hanya mengangguk menampilkan senyum terbaiknya sebagai topeng...ia sungguh tak mengerti mengapa Mark ingin menikahinya apa sebenarnya alasan Mark...
**********************
Setelah pernikahan dan hari itu juga Mark tidak menunggu untuk membawa Diza untuk tinggal di rumah mewahnya namun begitu privat, bahkan penjagaan di gerbang memakai standar ke amanan yang tinggi dan memang Diza mengakui jika Mark mendekor rumahnya seperti istana....
Pintu kamar pengantin yang begitu luias terbuka di hadapannya, ada ranjang besar di tengah ruangan dan semua fasilitas lengkap milik keduanya..
Diza melangkah pelan, sedari tadi ia terus berpikir sepanjang perjalanan, baginya tak masuk akal jika Mark tidak menginginkan anak darinya, bahkan anak kandungnya Mark menolak dengan tegas..
''Aku ingin bicara Mark..''ucap Diza sembari melepas perhiasannya..sementara Mark sedang melepas jass berikut dasi...
Pria itu melirik Diza dari sudut matanya...
''Tentang apa sayang...''
Mark mendekat dan membantu Diza melepas gaun beratnya dan menampakan punggung mulusnya..
''Mengapa kau tidak ingin punya anak....''
__ADS_1
Pria itu menatap mata Diza di cermin dan mendekakatkan wajahnya...ia segera menghempaskan gaun pengantin itu dan menatap tubuh Diza..
''Aku hanya menginginkanmu....hanya kamu...Diza...tidak akan ada anak dalam pernikahan kita....''