Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Sakit Di Hati


__ADS_3

Ana membuka matanya dan yang di rasakannya adalah tubuhnya menjadi lebih baik dan segar, ia sudah merasa tidak sakit lagi, raganya sudah pulih meski jauh di dalam hatinya tidak akan pernah pulih seumur hidupnya..airmatanya menetes di sudut matanya, awalnya hanya berupa tetesan kecil namun lama kelamaan berubah menjadi tangisan sedih, ingatan tentang percintaan menyakitkan yang di lakukan Arkana menyisakan trauma kepadanya, seluruh tubuhnya bergetar ketika mengingat betapa menyakitkan tubuhnya ketika pria itu menyatukan diri..bahkan tidak cukup sekali Arkana terus menerus menyiksanya dalam percintaan panjang yang membuatnya serasa hancur...


Ana memejamkan matanya...


''Tidak...tidak.....'' jeritnya sendirian....


Seketika Dokter Erik yang memang di tugaskan untuk menjaganya segera masuk ke dalam kamar setelah mendengar teriakan Ana..


''Nyonya Ana.....''


Dokter Erik lalu berlari menghampiri Ana dan memegang kedua bahunya untuk menenangkan namun wanita itu terlalu terguncang sehingga pria itu harus sedikit menggunakan nada yang tinggi...''


''Nyonya Ana sadarlah...''


Ana menghela nafas dengan frustasi, tangisannya semakin pecah tak terkendali melihat dokter Erik menatapnya iba, seperti tatapan seorang ayah...


''Dokter....''isak Ana dengan perasaan yang hancur...


''Kau harus tenang nyonyan Ana, tenanglah....okey...''


Ana menjadi tenang kembali atas permintaan sang dokter, wanita itu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, dokter lalu memberinya obat untuk di minum...


Keduanya saling menatap.........


''Apa kau merasa lebih baik Nyonya Ana...''


Ana mencoba tersenyum, namun sungguh ironis airmatanya kembali menetes di wajahnya yang masih terlihat pucat...


''Aku pikir aku sudah terbebas darinya.'' Ana tertawa dan airmatanya semakin berderai disana, Dokter Erik menjadi sangat iba namun ia tak bisa berbuat apapun untuk menolong Ana.,...


Pria itu hanya menghela nafas......


''Jangan berbicara seperti itu nyonya, apa kau tau berapa banyak orang yang menginginkan kehidupan..''


Ana menoleh...


''Kehidupan seperti apa Dokter...aku bahkan merasa hidup di Neraka..''


Dokter Erik hanya tersenyum berusaha mengerti perasaan Ana,


''Nyonya Ana aku tak bisa ikut campur atas rumah tanggamu namun, kau hanya perlu ingat satu hal jika...hidup memang kadang tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.''

__ADS_1


''Tapi mengapa aku yang harus selalu menderita..mengapa aku selalu yang menjadi korbannya,...aku ingin bahagia Dokter...aku tidak mencintainya namun dia terus saja memaksaku dan aku benci padanya...''


''Tuan Arkana memang sangat kejam...jadi tak mudah baginya untuk bersikap lembut...bisakah kau sedikit mengerti nyonya Ana..''


''Yah...mengapa aku harus mengerti, tak cukupkah penderitaanku selama ini...aaaa..aku lupa kau bekerja padanya mana mungkin kau tidak membelanya Dokter...'' Ana tersenyum dingin...


''Percayalah..kau beruntung masih hidup sekarang dengan semua pemberontakanmu nyonya Ana...''


Ana menoleh...


''Apa maksud Dokter Erik...''


''Percayalah padaku nyonya Ana bahwa tuan Arkana tak pernah memakai hati ketika menghadapi siapapun selama ini...''


''Aku tetap membencinya dan aku tetap akan pergi darinya Dokter Erik... Ana menggeleng...aku tak bisa tahan selamanya hidup bersama pria itu..''


''Jangan pernah mengorbankan orang lain lagi nyonya Ana, kau tau benar apa yang akan tuan lakukan jika kau tetap memberontak..''


Ana membeku...sekali lagi dia di paksa tunduk oleh kekejaman Arkana dan ia tidak suka itu, sudah cukup selama ini ia menyerah tapi sekarang tidak lagi semua ancaman Arkana tak akan pernah membuatnya takut...malah semakin menumbuhkan keinginan untuk pergi lebih kuat dari sebelumnya..


''Ini hidupku sendiri dokter, aku adalah milikku sendiri....''


''Aku tau...tapi jangan lupa tentang apa yang terjadi pada Jesika, tuan Arkana pasti sudah membunuhnya jika kau tidak membela...''


''Aku mencintai pria lain, Arkana merebutku darinya...apa kau pikir itu adil...''tatap Ana menaikan alisnya kesal..


Dokter Erik membetulkan letak kacamatanya dan menatap Ana dengan tajam..


''Kau sudah menikah..entah kau suka atau tidak nyonya Ana, tapi dengan bibirmu sendiri kau mengucap janji yang sama di hadapan Tuhan, apa kau mau mengingkari janji itu sekarang....''


Ana memalingkan wajahnya dari tatapan Dokter Erik yang seakan sedang menghakiminya..


''Ini pernikahan yang salah....aku rasa Tuhan juga akan setuju dengan keputusanku...''


''Nyonya Ana tak bisakah anda melihat bahwa ini adalah takdir antara kau dan tuan Arkana...? Tuhan menempatkanmu disisihnya mungkin dengan maksud sebagai cahaya baginya, mungkin saja dia bisa berubah...''


''Aku bukan cahaya Dokter..bahkan cahaya di dalam diriku sudah mati...bagaimana aku bisa meneranginya...''tantang Ana dingin..


Dokter Erik hanya menghela nafas...


''Aku hanya bisa mengingatkanmu nyonya Ana berhentilah melawannya selain dia suamimu tuan Arkana akan kembali membunuh karna dirimu..''

__ADS_1


''Itu bukan urusanku Dokter...aku sama sekali tidak takut kepadanya lagi..'' ucap Ana dengan tatapan beku..


Dokter Erik kehabisan kata, sungguh ia tak menyangkan jika Ana sangat keras kepala, bukan salahnya juga dia bersikap seperti itu...penderitaan yang lama menumbuhkan dendam yang mengakar di dadanya, hanya saja Ana tidak menyadari dia sedang berhadapan dengan siapa saat ini. Ana akan sadar jika sudah waktunya, Erik hanya bisa mendoakan agar sang tuan mendapatkan cahaya melalui Ana, entah kapan...ia berharap dalam waktu dekat..


**********************************


Alex mendorong Arkana hingga cengkraman pria itu terlepas....keduanya lalu sama-sama berdiri saling menatap tajam...


''Milikmu yah...aku sangat kasihan kepadamu Arkana..jelas-jelas dia sama sekali tidak mencintaimu, dia membencimu dan ingin bersamaku...bukankah kau seharusnya mengalah...bukankah sangat menyakitkan jika cinta yang kau punya bertepuk sebelah tangan...''


Arkana tersenyum dengan sangat dingin, bahkan senyumnya tidak menyentuh sampai ke matanya, pria itu tetap mengawasi Alex dengan sangat tajam bagai elang yang mengintai mangsanya...


''Aku tidak perduli cinta Alex, cinta yang ku punya sudah terbakar habuis ketika kau...membuat adikku terbunuh..kau juga membuat dia menderita..bukankah semua sepadan...kau tetaplah mencintai dan aku akan memilikinya..bagaimana.''


''Bajingan...aku tak akan pernah mengalah padamu lihat saja, aku akan membawanya pergi darimu...''


''Benarkah....aku akan menunggu waktu itu Alex, percayalah jika sampai itu terjadi maka aku tak akan bisa menahan diriku untuk menghabisimu...'' Arkana bersungguh-sungguh..


Alex mengangkat bahu tidak perduli ancaman Arkana...


''Dengan senang hati aku akan menunjukannya kepadamu.......''


Arkana mengepalkan tangannya dengan kuat...


****************************


Malam harinya Arkana kembali pulang dan mengetahui jika Ana sudah terbangun dan baik-baik saja..pria itu tak sabar untuk bertemu Ana meski ia yakin, Ana pasti akan menunjukan sikap benci....


Ceklek!!!


Pintu kamar terbuka dan Arkana membeku melihat Ana tampak cantik, wajahnya segar seperti tak pernah terjadi apapun kepadanya..memakai gaun tipis yang menggoda An menoleh dan tersenyum..


''Arkana..kau dari mana...'' bisik Ana lembut...


Seperti tak pernah terjadi apapun padanya, untuk sesaat Arkana masih menebak apa yang sebenarnya terjadi kepada Ana..pria itu tak menjawab namun langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya disana...


Namun setelah keluar ia kembali menemukan An seperti sedang menunggunya..


''Apa kau baik-baik saja...''


Ana mendekati Arkana dengan pandangan mata yang redup, jemarinya yang bergetar menyentuh lengan kokoh Arkana untuk sesaat keduanya bertatapan...

__ADS_1


''Maafkan aku....Arkana..'' mata Ana menjadi panas dan berubah seketika menjadi genangan airmata...


Arkana membeku.........


__ADS_2