
Hari-hari Diza dan juga Mark tampak normal. tentu saja Mark bersikap sebagai suami yang setia, dia perhatian namun begitu posesif, kemanapun Diza pergi maka Mark harus tau dengan siapa...dan sampai berapa lama dia disana,.. bahkan Mark akan rela menjemput Diza walau di tengah kesibukannya sebagai dokter, hidup Diza seperti terpenjara..
Seperti pagi ini.... mereka turun untuk sarapan bersama dan Diza juga akan memulai kuliahnya setelah pernikahan..
Mark tersenyum sembari menggenggam tangan istrinya ia mulai merasa hidupnya berubah setelah pernikahan, Diza tetap melayaninya sebagai istri yang baik bagi pria itu dan Mark begitu bahagia...
''Apa kau akan memulai kuliah hari ini...'' ucap Mark melirik Diza yang mengikuti langkahnya...
''Yah....aku akan memulainya hari ini..''
Mark melirik jam di tangannya dan mengangguk,
''Aku akan mengantarmu lalu setelah pulang dari sana kau harus menunggu di kampus..''
Diza menaikan wajahnya menatap Mark...
''Tapi Mark....temanku mengajakku Mall kami akan........''
Saat itu juga Mark menoleh....wajahnya mengeras..
''Diza...kau adalah wanita yang sudah menikah, meski kau masih muda...aku tidak mengijinkanmu pergi....'' ucap Mark melangkah lebih dahulu..
Diza mengerang lalu mengikuti langkahnya...
''Mark aku mohon, semua teman sekelasku pergi...bagaimana mungkin aku tidak ikut, mereka akan menyangka kau mengekangku...''
Mark menghentikan langkahnya...
''Bagaimana kalau kau berhenti kuliah saja dan menjadi istriku sepenuhnya..itu lebih baik Diza..aku tak bisa membayangkan kau hilang dari pandanganku dalam jangka waktu yang lama...''
Diza memejamkan matanya....ia benar-benar kecewa namun ia tidak berani melawan Mark..
''Baiklah aku tidak akan ikut....'' balas Diza mengalah...
Mark tersenyum..lalu kembali menggenggam tangan Diza menuntunnya menuju ruang makan, sikapnya lebih hangat sekarang...
*****************
''Kau tidak ikut Diza....'' seru Nava dengan wajah kecewa...
''Maaf...aku dan suamiku memiliki janji..jadi...''
''Ya sudah, aku tidak akan memaksa..kau wanita yang sudah menikah sekarang jadi perintah suamimu adalah kewajiban..''
Diza mengangguk,...dan saat ia membuang muka, ia mendapati Dilan melangkah ke arahnya dan menarik tangannya...
''Aku ingin bicara....''ucapnya dengan segera menarik tangan Diza menjauh,..
Diza yang ketakutan berusaha melepas tangan Dilan dengan kuat namun sekali lagi pria itu tidak menyerah..
''Dilan..apa yang kau lakukan.....''
''Kita harus bicara...Diza...''
__ADS_1
Dilan kemudian menarik tangan Diza sembari membuka sebuah pintu ruangan dan menutupnya...
Mereka berdiri saling menatap tajam..
''Dilan, apakah kau tak tau jika aku sudah menikah,..tak taukah dirimu jika Mark akan marah melihat kita...''
''Diza...aku mencintaimu...''
Diza tertawa dengan kesal....
''Cinta....apakah kau pikir kata-kata itu berguna saat ini...''
''Apa....''
Diza mendekat...
''Seandainya kau memutuskan pertunangannmu lebih cepat dan membawaku, semua akan berbeda..tapi kau terlalu pengecut Dilan...'' airmata Diza menetes di wajah lugunya...
''Diza......aku...''
''Semua sudah terlambat, sangat terlambat bagimu...kita sudah berakhir..''ucap Diza lalu melangkah namun..
Gadis itu membeku ketika tubuhnya di peluk dari belakang....
''Aku akan merebutmu darinya...aku pasti akan mengahancurkan dirinya...'' desis Dilan penuh dendam..
Mendengar hal itu Diza begitu marah, ia menghempaskan pelukan Dilan dan menatapnya tajam..
''Aku tak akan kembali kepadamu, aku...wanita yang sudah menikah..dan perceraian tak akan pernah ada di dalam kamus hidupku..'' ucap Diza lalu melangkah meninggalkan Dilan sendirian..
''Diza...kau akan kembali kepadaku aku berjanji...kau akan kembali....'' ucap Dilan lalu mengambil ponselnya dan menelfon...
*************************
Siang hari Diza sudah menunggu Mark di depan kampus sesuai janjinya, meski dia kecewa karna teman-temannya pergi melewatinya dengan senyuman yang lepas..meski hatinya harus rela meninggalkan semua kehidupannya yang dulu...dimana setiap ada kegiatan kelompok maka dirinya akan selalu ikut bahkan untuk jalan-jalan Diza selalu ada disana..
Namun kini, semua kebiasaan itu lenyap dalam semalam...pernikahan kilatnya dengan Mark sungguh membalikan dunianya seketika..memang Mark juga tak pernah berkeliaran di luar dengan teman-temannnya dan akan langsung pulang...Mark adalah pria introvert akut, seorang penyendiri yang misterius yang benar-benar mengrikan...
Bagi Mark, Diza adalah dunianya karna itu begitu sampai di rumah, maka Mark hanya akan menghabiskan waktu bersama Diza, baik itu menonton, tidur dan bahkan melakukan aktifitas apapun ia hanya ingin bersama Diza...
Apakah ia harus menerima dan bahagia...?
Bunyi klakson mobil mengejutkan Diza..ia menyadari kehadiran Mark yang tepat waktu...''
Diza lalu bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Mark yang sedang menatapnya dingin. pria itu lalu mendekatinya dan meraih jemarinya...
''Apa kau lelah hari ini sayang....''
''Lumayan..'' balas Diza dengan senyuman..
Mark dan Diza lalu melangkah menuju mobil namun langkah mereka terhenti melihat seorang dosen kesayangan Diza...yang kebetulan juga pulang...mata Diza terarah pada permukaan perut sang Dosen yang sedang hamil...
''Diza......''
__ADS_1
''Ibu Nesa....''sapa Diza menundukan kepalanya...
Sedangkan Mark hanya terdiam sementara ia tau arah pandangan mata Diza yaitu pada perut sang dosen,...pria itu terdiam..
''Apa kabar ibu...''
''Baik Diza...kau sudah menikah sekarang...''tatap sang Dosen dengan wajah yang cerah..
''Ini suamiku dokter Mark Wiley..''
Mereka pun saling melemparkan senyum,....
''Dokter Mark begitu terkenal dengan kebaikan hatinya...aku sungguh-sunggguh merasa tersanjung bisa bertemu langsung dengan dokter...''
''Terimakasih nyonya..'' balas Mark tersenyum..
Nesa lalu mendekati Diza dan kembali mengarahkan tangannya di perut Diza..
''Semoga kau segera punya anak...kau tau Diza..kau tidak akan pernah merasa sendirian lagi kau akan merasa memiliki teman sejati...''
''Teman sejati,....'' ulang Diza tertarik..
Sementara Mark sungguh tak suka dengan sikap wanita ini yang mempengaruhi Diza....
''Aku punya teman dia....''
''Sayang..bukankah kita punya acara sebentar lagi, aku takut kita akan telat menghadirinya...''ucap Mark menekn di dalam matanya..
''Ahh..yah...kami harus pergi ibu Nesa, senang bertemu dengan anda...'' Diza mengakhiri pembicaraan mereka saat itu juga..
''Baik sayang hati-hati....'' balas Diza lalu melangkah masuk ke dalam mobil di ikuti Mark yang masuk...
***********
''Jangan terpengaruh dengan kata-katanya Diza..apakah kau sudah minum obatnya...''
Diza mengangguk....
''Aku tak akan pernah lupa kalau itu maksudmu Mark...''
''Bagus sayang...aku senang kau tidak membantah kata-kataku....Diza, kita tak perlu anak dalam kehidupan kita, mereka hanya akan menjadi pengganggu dan merepotkan...kita berdua akan bahagia tanpa makluk mengerikan itu...''
Deg!!!
Diza menoleh dan mengerutkan kening.......
*******************
Malamnya,.....Diza menatap botol berisi pil anti kehamilan yang sudah di sediakan Mark dalam jumlah banyak..
Kata-kata ibu Nesa selalu teringiang di dalam kepalanya, jemari Diza mengepal...
''Dia butuh anak, dia perlu seorang teman di dalam hidupnya...dan perasaan ingin memiliki anak itu semakin kuat saja...
__ADS_1
Diza lalu menatap sekali lagi botol itu dan membuangnya ke kotak sampah..
Dia ingin hamil.........