
Mata Ana melebar dengan ekspresi terkejut melihat sosok yang terikat itu tampak pasrah dan masih tak sadarkan diri, dengan gemetar Ana mendekat dan menyadari jika yang terikat itu adalah Jesika...matanya menjadi panas karna tidak tega..
''Apa yang kau lakukan kepadanya Arkana...''
Pria itu tersenyum dingin dan sama sekali tidak merasakan iba sedikitpun melihat wanita yang terikat itu...ia malah mendekati Ana dan merengkuhnya sekejap di dalam pelukannya, matanya memindai mata Ana yang basah....
''Dia telah berani menghinamu dan aku...tak memiliki kesabaran lagi padanya...anak buahku sudah memberikan dia pelajaran yang indah..''
Ana menoleh lagi pada sosok Jesika yang masih memakai gaun yang sama ketika mereka sedang bertengkar tadi, namun gaunnya sudah kusut dan ada robek di bagian bawah gaunnya dan kenyataan itu membuat Ana merasa nyeri,..ia memang membenci Jesika karna penghinaannya yang berada di luar batas, namun menyiksanya adalah hal yang sama sekali tidak pernah di pikir oleh Ana...
''Apa maksudmu Arkana, apa yang telah kau lakukan kepadanya..........'' airmata Ana berguguran..
''Aku akan membunuhnya saat ini juga meski...sebelumnya ia akan mengalami penyiksaan yang tak pernah ia alami sebelumnya.......''
Ana melebarkan matanya dengan syok, ia tak pernah melihat sisi Arkana yang kejam di depan matanya, yah...memang yang ia tau adalah ia menikahi seorang mafia paling kejam yang bahkan tidak mengenal rasa kasihan namun, sungguh tak bisa menerima jika Arkana akan membunuh Jesika, meski ia sangat benci dengan wanita ini.
''Membunuhnya...tidak...''
''Tidak..'' ulang Arkana tak terima...
''Arkana...aku memang ingin membalas perbuatannya kepadaku tapi bukan berarti aku harus membunuhnya aku tidak bisa...aku mohon.....''
Wajah Arkana berubah menjadi sangat beku dan tidak tersentuh, memegang kedua bahu Ana pria itu mengeraskan tatapannya..
''Anastasia..mungkin kau lupa sesuatu jika suamimu adalah seorang Mafia..aku terbiasa melenyapkan orang-orang yang menggangguku apalagi dia sudah menghinamu aku tak bisa bersabar aku.....tak bisa membiarkan kau bertindak sendiri aku tak tahan Ana...''
Ana mengangguk namun ia tak mau kalah begitu saja, nyawa seseorang di pertaruhkan disini dan ia tak akan membiarkan Jesika mati karna dirinya..tidak.....
''Bisakah kau mengabaikannya saja, bisakah kau tidk ikut campur dengan pembalasan dendamku, aku sama sekali tak ingin membunuhnya, bagiku aku sudah cukup membalasnya...masalah antara kami sudah selesai.''
''Tidak..akan selesai ketika berurusan denganku Ana, dia harus mati dan itu keputusan final bagiku.''
''Tidak Arkana aku mohon.....''
Ana menggeleng ketakutan ya Tuhan..apa yang sudah dia lakukan, Arkana akan membunuh Jesika..membunuhnya..?
Pada saat yang sama......
Jesika terbangun dan mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya, ia menangis keras dan menjadi ketakutan melihat sekelilingnya ada pria berbadan tegap dan sedang menatpnya tajam..
Lalu pandangannya beralih pada sosok wanita yang menatapnya dengan kesedihan...wanita itu adalah Ana.....??
__ADS_1
''Ana.........'' desah Jesika dengan suara yang bergetar..
Keduanya bertatapan tajam..Ana sungguh meraa kasihan,
Ana kemudian menatap Arkana dengan tatapan memohon,
''Arkana aku mohon...ampunilah dia...''
''Kau memohon ampun untuk wanita yang telah menyakitimu itu, kau benar ingin menguji kesabaranku Anastasia...''
''Kau sudah cukup menyiksanya Arkana, aku mohon jangan membunuhnya...''
Arkana mengeluarkan pistol dan meraih Ana mendekat....
''Ini akan menjadi pelajaran untukmu Ana, berhentilah merasa kasihan karna aku sama sekali tak perduli jika ia menangis darah di hadapannku..''lirik Arkana tegas,..
''Tapi mereka adalah urusanku Arkana, tak bisakah kau membiarkan aku,...membalas mereka sendiri..''
''Tidak..kau terlalu bermain-main Ana dan aku tidak menyukai itu...dan sekarang aku akan mengambil alih pembalasan dendammu dengan caraku..''
Ana menghela nafas.....
Untuk pertama kali dalam hidup Ana, dia sangat menyesal membalaskan dendamnya, seolah perasaan sakit dan terlukanya di masa lalu sirna di ganti rasa takut..itu artinya hal yang sama akan terjadi kepada Fera, Steve, Danar dan juga ALex..
Ketika Arkana anak mengarahkan pistol ke arah Jesika di luar dugaan Ana berdiri menghalangi tembakan itu dan Jesika hanya memejamkan matanya ia melihat dengan jelas sosok James Arkana sang mafia kejam itu berdiri dengan kekuasaan yang dia punya..
Jadi Ana adalah istri dari James Arkana...? tubuh Jesika bergetar menahan rasa takut. itu artinya dia tak akan selamat..
Jesika menangisi hidupnya yang hancur...bahkan ini hari pertunangannya, meski ia tau Danar mungkin telah membatalkan pertunangannya...sakit sekali..
''Pergi dari sana Ansatasya....''
''Kali ini saja Arkana, aku memohon sebagai istrimu aku....mohon, jangan membunuhnya........''
Arkana menggertakan giginya, ketika ia harus mengalah.......
''Tidak dia harus mati sekarang juga, Ana..''
Ana menggeleng....ia tak ingin menghindar dari sana. dan tak ingin melihat Jesika mati di hadapannya tidak, meski untuk itu ia akan melawan Arkana....
''Bagus kau...mulai berani menentang keputusanku Ana..''
__ADS_1
''Hanya untuk kali ini Arkana...aku berjanji jika aku...tidak akan menghalangimu di kemudian hari aku mohon...'' Ana menangis dengan putus asa..
Sementara Jesika membeku, ketika ia di ujung kematiannya justru Ana memasang tubuhnya untuk menghalanginya dari murka sang Mafia. Jesika kehilangan seluruh egonya, AN sungguih wanita yang baik dan ia sungguh menyesal sekarang...
''Lalu kau pikir aku akan melepaskan dirinya sekarang...'' ucap Arkana tajam..
Dan tanpa di duga keduanya, seorang pria yang merupakan salah satu dari anak buah Arkana yang menculik Jesika menjatuhkan dirinya di lantai dan menunduk ke arah Arkana,....
''Tuan Arkana..akulah yang menyentuhnya..jadi bisakah tuan menginjinkan aku membawanya ke pulau milik tuan dan kami akan menetap disana...aku berjanji dia tak akan membuat masalah lagi...''
Ana menghela nafas dengan lega....lalu menatap Jesika yang melebarkan matanya syok..seorang pria bertubuh tinggi mempunyai wajah yang sangar, kulitnya hitam karna terbakar matahari..pria ini akan membawanya....? Jesika menggeleng dengan ekpresi jijik tentu saja,..tubuhnya mulus seperti mutiara..mana mungkin harus bersama pria ini..?
Arkana akhinya setuju begitu juga Ana, ia mendekati Jesika dan memegang bahu wanita cantik itu...
''Maafkan aku..tapi hanya ini yang bisa aku lakukan Jesika...''
Airmata Jesika menetes........
''Kau mengharapkan aku berterimakasih....''
Ana menggeleng mengerti penderitaan Jesika yang terlihat di matanya...
''Aku hanya ingin minta maaf...Jesika..''
Arkana lalu meraih tubuh Ana menjauh dan pergi dari sana, sementara Jesika memejamkan matanya sedih....pria itu mendekatinya...
''Nona...aku akan melindungimu mulai dari sekarang..''
Jesika mengeraskan tatapannya.........
****************************************
Ana melangkah gontai dengan tatapan kosong ketika Arkana membawanya masuk kedalam mobil...airmatanya menetes lagi...
Kehidupann seperti apa yang telah di jalaninya sekarang...? bisakah dia melarikan diri lagi....? batin Ana menjerit keras....
Arkana menatap istrinya dengan dingin,...
''Aku ingin mengatakan kepadamu Ana jika aku...tidak akan membiarkan Alex hidup..'' desis Arkana tajam..
Kali ini Ana menoleh dengan kesedihan yang tak bisa ia tutupi...
__ADS_1
''Apa......?''