
Semua mata tertuju kepada Day saat ini dan membuatnya gugup..
''Aku baik-baik saja jangan khawatir.....''ucap Day sembari meminum jus buah yang di pesannya tadi...
Namun,...wajahnya berubah dengan cepat ketika rasa mual itu kembali menyerangnya hingga Dayse tak bisa menahannya, ia pun pamit menuju toilet dengan cepat dan terburu-buru...
''Day seperti sedang hamil saja..'' ucap Diza polos..
Will mendengar dengan seksama ucapan Diza dan menyimpannya di dalam hati dan pikirannya..ia berharap jika penyatuan mereka semalam akan menghasilkan kehamilan bagi Day..ia sangat berharap..
''Diza...Day belum menikah jangan mulai menebar gosip.'' ucap Mark tajam..
''Maaf Mark aku kan hanya menebak, dulu aku juga begitu di awal kehamilan...bukankah aku selalu mual ketika mencium bau atau bahkan makan dan minum.....''
Mark menatap Will dengan senyuman permintaan maaf...
''Maafkan istriku Will, dia hanya asal bicara...''
''Tidak Mark...aku mengerti..'' ucap Will sembari meneguk minuman di tangannya..
**********
Pertemuan mereka selesai, Mark dan Diza sudah pamit pulang dan meninggalkan Day dan juga Will yang melangkah menuju mobil..
''Apakah kau...benar baik-baik saja....''tanya Will menatap Day...
''Tentu saja..aku baik, ada apa..'' tanya Day sambil mengunyah permen mint untuk meredakan sedikit rasa mualnya....
''Aku pikir kau hamil..''
Deg!!!!!
Hamil...? Day bahkan tidak memikirkan tentang kemungkinann jika ia sedang hamil..
Dayse tentu saja tak akan membiarkan seorang anak tumbuh di dalam dirinya tidak...ia tak ingin hamil anak Will..Day sungguh tak ingin itu terjadi.. ia akan melakukan apapun untuk mencegah anak itu lahir....mereka akan bercerai jadi tak ada alasan bagi Day untuk hamil...
Day menghentikan langkahnya dan menatap Will yang terlihat berharap, ia mendekat....
''Aku meminum pil anti kehamilan selama kita bercinta...jadi jangan berharap Will....'' tatap Day dengan sangat dingin...
Will membeku melihat tatapan Day...lalu perlahan mengangguk..
''Baiklah....aku mengerti Dayse...'' balas Will pelan..
Mereka berhenti di samping mobil dan saling menatap...
__ADS_1
''Derrek akan menjemputku Will jadi kau tidak perlu mengantarku...'' ucap Day dengan senyuman tajam...
Will mengeraskan wajahnya...
''Baiklah...aku juga akan menjemput Luna..'' ucap Will sembari masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Day sendirian di dalam mobil....gadis itu mengepalkan tangannya..
Mengapa dia pergi begitu saja, padahal kan Day hanya bercanda..? Dayse hanya tertawa dengan kesal...lalu melangkah keluar dari pusat perbelanjaan itu dengan rasa marah...
Dayse hanya terus berjalan disisih jalan sambil menunggu taxi, hal yang tidak di sadari Day kalau Will tidak benar-benar pergi...namun pria itu malah mengawal Day dari belakang dan menjaganya dalam jarak yang tidak terlalu jauh..
Will hanya tersenyum..
Mengapa dia berbohong...??
**********
Aley memejamkan matanya ketika anak perempuannya terus menerus menangis keras dan membuatnya tak tahan..ada pengasuh namun anaknya tak mau lepas dari pelukannya..
Aura....namanya...
Menjadi ibu di usia muda membuat Aley begitu kewalahan, terutama ia harus turun tangan langsung merawat Aura....tidak muda dan sangat melelahkan..
Damian sibuk dengan pekerjaannya walau sesekali membantunya hingga Aley benar-benar kesal..ia kehilangan semua teman-temannya karna pernikahan dininya...
Damian tersenyum menatap sang putri Aura yang sedang di gendong oelh pengasuhnya meski gadis kecil itu terus menangis...
''Anakku....mengapa menangis...''
Damiana melepas jassnya dan melepamparkannya ke atas soda dan membuat Aley menoleh..
''Bagus kau sudah pulang dan aku ingin bicara...''ucap Aley bersedekap..
Damian menghela nafas..kali ini apa lagi...?? pria itu mendekat dan menatap Aley..
''Ada apa sayang, mengapa kau malah membiarkan Aura menangis...''
''Aku ingin ke pesta...hari ini teman-temanku sudah berkumpul Damian...''
Wajah Damian mengeras..lalu menatap Aley dengan tajam..
''Bukankah minggu lalu kau sudah kesana...mengapa kau pergi lagi dan lagi...Aley..kau sudah punya suami dan anak...bisakah kau...menekan semua keinginan egoismu.''
''Tapi ini teman baikku Damian....bagaimana kalau Aura kita titipkan di rumah papa atau ayah saja...'' bujuk Aley tak lelah...
''Tidak Aley jangan membebani orangtua kita...Aura tanggung jawab kita jadi jangan melemparnya semaumu Aley..mereka sudah tua dan tidak pantas untuk mengurus anak-anak kita...'' ucap Damian tegas...
__ADS_1
Aley benar-benar geram,....
''Aku benar-benar muak Damian, kau tak tau betapa lelalhnya aku mengurus Aura...aku bisa gila jika harus mengurus anak setiap hari....aku masih muda dan kau tau aku melewatkan semua acara penting di masa mudaku...aku kehilangan segalanya dan itu karna dirimu..'' ucap Aley dengan tajam...
Damian menajamkan tatapannya...
''Tak ada yang boleh pergi dari rumah ini Aley....jika kau memaksa pergi maka aku tak akan tinggal diam dan kau tau apa yang bisa aku lakukan...'' ucap Damian geram...
Damian lalu mencium Aura dan menyerahkannya kepada pengasuh sementara ia segera membersihkan dirinya...
Aley duduk di tepi ranjang dengan rasa kesal yang menumpuk di dadanya, rasanya sungguh kesal...ternyata pernikahan tak seindah bayanganya, mengurus anak dan suami benar-benar menyita waktunya..bahkan ia sangat iri melihat beberapa temannya bisa berjalan-jalan, nongkrong, main dan tanpa beban apapun mereka bahkan tertawa lepas dan bebas..
Aley memejamkan matanya ketika airmatanya menetes...
''Mengapa hidupnya begitu sial...menikah seolah telah memakunya di tempat..hingga ia tak bisa melakukan apapun di masa mudanya Aley sungguh frustasi..
Hingga saat Damian keluar dari kamar mandi, Aley memasang wajah paling dingin kepadanya, Damian hanya menggeleng pasrah ia sungguh tak mengerti mengapa Aley tak bisa berhenti memikirkan teman-temannya...
''Aley.......''
''Aku mau menginap dirumah ibu..'' ucap Aley dengan suaranya yang dingin..
''Kau akan meninggalkan aku begitu..''
''Yah....aku sangat muak Damian, aku rasa kau terlalu mengekangku dan aku butuh udara segar yang pasti bukan dirumah ini...''
Ucap Aley melangkah namun, Damian menarik lengannya hingga ia berbalik...
''Aku akan menjemputmu besok Aley....''
''Tidak......aku berencana seminggu disana,....oya aku akan mengadu pada papa Alex atas semua sikapmu dan lihat saja bagaimana orang tua kita akan menghukum dirimu...'' ucap Aley tajam...
Damian hanya mengangguk...
''Kau adalah istriku...kau harus menurut kepadaku Aley...''
''Damian,.....kau sama sekali tidak mengerti aku, bagaimana menjadi aku, kau egois dan selalu memaksakan kehendak...aku muak...''ucap Aley dengan tajam..
Damian tak mampu menahan langkah Aley yang menjauh keluar dari kamar...Damian mengepalkan jemarinya....
Aley......apa lagi yang harus kulakukan padamu..? Damian mengusap wajahnya dengan kasar..
Sementara itu ponselnya berdering...
Will menelfon...?
__ADS_1