
Mark mengantar Diza hari ini sampai ke kampusnya, ia lalu menatap gadis di sampingnya yang masih sedari tadi hanya diam di tepat duduknya..
''Aku akan menjemputmu lagi Diza,...''ucap Mark dengan tajam..
''Tidak..aku bisa pulang sendiri, supir akan menjemputmu atau Dilan.....'' Diza terkejut ketika Mark terlihat sangat marah...
Mendengar nama Dilan membuat Mark meradang, matanya menajam sempurna jemari Diza di cekal dengan kuat hingga gadis itu berbalik menatap mata Mark yang tajam...
''Dilan....beraninya kau menyebut namanya lagi...''
''Aku mencintainya....''
''Cinta.....?? Mark tertawa dingin,.....dia mendapat cintamu lalu aku mendapat tubuhmu lalu manakah yang lebih kuat di antara kami berdua....'' tatap Mark tajam..
Diza melonggarkan tenggorokannya....
''Cukup....kau membuatku muak Mark..''
''Karna itu jangan pernah menguji kesabaranku coba saja mendekatinya dan aku akan langsung mengatakan kepadanya apa yang terjadi kepada kita...dan kurasa Dilan akan mengerti....''
''Arrggghhhh..............''
Diza membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari sana..dia melangkah terlalu marah hingga melupakan rasa sakitnya...gadis itu kemudian mengerang...berdiri kaku dan memejamkan matanya..dan Diza merasakan sentuhan seseorang...yang ia tau itu adalah Mark..
''Lepas.....''
''Kau masih sakit Diza......biarkan aku membantumu..''
''Tidak...aku tidak mau....'' tatap Diza dengan dingin dan membuat Mark menahan dirinya..
Beberapa mahasiswa dan siswi tampak menatap mereka dengan saling berbisik....
''Baiklah..aku tak akan memaksamu...ingat kata-kataku, siang ini aku ada operasi dan kau akan menungguku,..sebelum operasi dilakukan aku akan lebih dahulu menjemputmu...''
Diza tak menjawab kata-kata Mark dan hanya diam saja sampai pria itu memutuskan pergi meninggalkan kawasan kampus..
Diza lalu melangkah pelan menuju bangku taman dan duduk disana...sambil menahan nyeri yang masih ia rasakan.
Diza memejamkan matanya ketika membayangkan milik Mark yang terlalu besar memaksa masuk menyatukan diri dengan tubuhnya...Diza pikir dia akan mati...ya ampun...gadis itu tertunduk dengan mengepalkan jarinya dia tak akan memaafkan Mark sampai kapanpun...
sebenarnya Mark tak ingin mengijinkan dia pergi namun berada di dalam apartemen itu membuat Diza seperti sesak nafas...lebih baik ia ke kampus dan melupakan kejadian buruk yang menimpanya..
Ketika Diza sedang menunduk..tiba-tiba seseorang mendatanginya dan menariknya berdiri..
''Diza.......'' teriak Dilan dengan tatapan tajam...
''Dilan....'' ulang Diza dengan tatapan beku..
Diza berdiri dengan tatapan tak tebaca..
__ADS_1
''Kemana kau semalam...aku hampir gila mencarimu Diza..tak taukah dirimu aku mencarimu kesana kemari...aku menelfon semua teman-temanmu dan mereka mengatakan tidak melihatmu....kau dari mana...atau jangan-jangan kau...........''
''Lepaskan aku........'' teriak Diza dengan keras..
Dilan membeku......
''Diza.......''
''Apa kau sudah memutuskan tunanganmu..apakah kau sudah melakukannya....kalau ya aku akan menjawab semua pertanyaanmu Dilan.......''
Deg!!!!
Sayangnya pernikahan itu tak bisa di undur lagi, orangtua sudah saling bertemu dan dia telah kehilangan hak untuk menolak..Dilan bahkan bertengkar dengan orangtuanya namun..semua terasa kosong karna....ayahnya bersikeras ia harus menikah karna ia adalah anak satu-satunya dari keluarga Lois...Dilan tak bisa menolak..
Pegangan di jemari Diza terlepas dengan dramatis hingga airmata Diza menetes hancur.....
''Tanggal pernikahan sudah di tentukan Diza...aku sama sekali tak punya kekuatan untuk melawan...'' ucap Dilan dengan mata yang basah...
Diza mengangguk berusaha menahan airmatanya....
''Kalau begitu semua sudah berakhir...sudah berakhir.....'' ucap Diza lalu melangkah melewati Dilan begitu saja..teramat perih luka yang dia alami sekarang dan menjadi sesuatu yang menyedihkan untuk dirinya...
Airmata Diza menetes...
Mengapa ini harus terjadi......mengapa........? Diza terus melangkah ketika pria itu masih mengejarnya...dari belakang..rasanya ingin mati saja..membayangkan semua hancur di hadapannya..
*********************
Aley menatap Damian yang sedang mengawasi para pekerjanya sembari memancing ikan di pinggir laut..
Tubuh Damian mulai menghitam karna setiap harinya dia selalu berada di luar ruangan...
Aley tanpa sadar tersenyum, ketika Damian mulai mendapat hasil tangkapan ikan melakui mata pancingnya..wanita itu kemudian sangat penasaran lalu mendekat walau ia dan Damian masih terliibat perang dingin...
Aley mendekati batu-batu besar di pinggir laut dan mulai memperhatikan Damian memancing, Aley ikut menanti dengan sabar, sementara Damian tak menyadari kehadirannya....
Pria itu sedang fokus memancing, kata ayah Arkan memancing bagus untuk melatih kesabarannya, jadi beberapa hari ini Damian mulai mencoba untuk sabar....
5 menit kemudian dia berhasil menarik ikan dari dalam laut...tanpa sadar Aley ikut menjerit di belakangnya hingga Damian menoleh dan matanya bertemu dengan mata Aley yang tajam...
''Aley.....disini tidak aman sayang.....''
Aley hanya memalingkan wajahnya dengan cuek....ia masih terlalu kesal dengan sosok Damian di hadapannya...
''Jangan sok perhatian Damian aku tidak butuh..'' ucap Aley dengan tajam...
Damian hanya menganggukan kepalanya sambil terus memancing,..walaupun sikap Aley dingin padanya namun, Damian akan mencoba sabar, ia sedikit lega karna Aley masih mau melayani kebutuhan ranjangnya meski ia marah..pria itu tersenyum mengerti..ia lalu kembali fokus memancing...
Namun........
__ADS_1
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menariknya dengan kuat dari dasar laut, hingga Damian mulai tertarik ke dalam air..
Aley yang menyaksikan tubuh Damian jatuh ke dalam laut kemudian berteriak histeris....ia melihat ke sekelilingnya dan berteriak kencang..sementara tubuh Damian mengilang..
Aley menangis histeris dengan suara yang gemetar...airmatanya menetes..
''Oh tidak......cepat tolong suamiku aku mohon...'' jerit Aley dengan suara yang terputus....
Beberapa anak buah tampak ikut terjun ke dasar laut sementara...Aley tampak sudah tidak sabar ia melompat turun ke atas batu namun karna terlalu licin kakinya terpeleset dan...tubuh Aleysa jatuh dan kepalanya membenturr karang di bawahnya Aleysa langsung jatuh pingsan..
Sementara.....
Damian keluar dari air dengan wajah pucat..dia melompat ke dalam air dengan maksud ingin membuat Aley memaafkannya tapi mengapa malah membuat Aleynya pingsan.....
''Kepalanya berdarah tuan Damian......'' jerit anak buahnya dengan histeris,...
Dan kali ini..Damian benar-benar pucat...ia pun melompat dengan kepanikan luar biasa..Damian pun tidak membuang waktu...ia segera meminta anak buahnya menyiapkan helikopter dan membawa tubuh sang istri kembali ke kota...
++++++++++++++++++++++++++++
Seluruh keluarga telah berkumpul di rumah sakit, begitu menerima telp ke empat orangtua mereka langsung pulang, termasuk Diza yang sudah berada di rumah sakit,
Tak berapa lama kemudian Mark keluar bersama seorang dokter temannya..
sekilas Mark menatap tajam ke arah Diza yang langsung memalingkan wajahnya...
''Bagaimana dokter Mark...'' ucap Damian dengan khawatir...
Damian sudah tau jika Mark dan Diza saling mencintai..jadi nada suaranya menjadi bersahabat..
''Tenanglah Damian, Aley baik-baik saja..dia pingsan karna terlalu panik dan kepalanya hanya ada luka gores...''
Alex tersenyum lega di ikuti yang lain..
''Oya....Damian, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu..''
''Apa sesuatu yang serius,..''
Mark tersenyum lalu menatap mata Diza dengan tajam....
''Aley sedang hamil....selamat kau akan jadi ayah....''ucap Mark dengan senyuman lebar...
Damian tertawa dengan kencang..
''Aleysa hamil....'' ulang Damian melompat tinggi..
Ketika semua keluarga bergembira lain halnya dengan Diza..wajahnya begitu pucat...
Hamil........?? ulangnya dengan mata berkaca-kaca...saat ia membuang pandangan tak sengaja ia menemukan tatapan mata Mark yang begitu tajam...
__ADS_1
Deg!!!!!!