
''Bukankah kita sudah sepakat Arkana...kau membiarkan aku yang membalas Alex..'' Ana menoleh meminta penjelasan..
Pria itu menyandarkan tubuhnya matanya memandang ke depan dengan senyuman yang samar,
''Aku berubah pikiran setelah kemarin dengan beraninya dia menatapmu di pesta, aku tak bisa membiarkan dia hidup dan bernafas lebih lama Ana...aku akan menghancurkannya dengan segera dan kau...tak perlu melakukan apapun dan mulai sekarang kau berhenti untuk menghubunginya...berhenti berpikir bahwa kau yang akan membalasnya tak perlu Ana..kau tidak perlu lagi melakukannya.'' ucap Arkana penuh janji.
Bagai petir di siang hari, hati Ana begitu nyeri, itu artinya tak ada kesempatan lagi baginya, Ana tak mengerti mengapa Arkana tiba-tiba berubah bahkan Arkana melarangnya untuk melanjutkan rencananya, wanita itu menoleh dan terpenjara dengan tatapan Arkana yang dingin..
''Mengapa kau berubah Arkana, mengapa kau malah melarangku...ada apa boleh aku tau..''
Arkana lalu merengkuh Ana hingga tubuhnya berpindah tempat ke pangkuan Arkana yang kokoh...pria itu melum** bibir Ana sekaligus melepas kerinduan pada istrinya Arkana sungguh tak bisa jauh dari sosok Ana yang selalu mampu menghipnotisnya.
''Kau hanya milikku, semua yang ada padamu adalah milik seorang Arkana dan aku tidak akan pernah membiarkan pria itu berpikir bisa merebutmu dariku...''
''Dia tidak akan merebutku Arkana tidak...''
''Aku punya intuisi yang kuat Ana dan jangan pernah menemuinya atau kau akan melihat kematiannya di depan matamu karna walaupun kau menangis dan memohon ampun atas nyawanya kau telah kehilangan kesempatan untuk meminta.''
Ana seperti kehilangan seluruh hidupnya tentu saja bagaimana bisa dia mendengarkan hal mengerikan ini dari seorang Arkana, meski mereka telah menikah ia selalu tidak percaya kepada Ana, bahkan keinginan untuk melenyapkan Alex justru semakin besar saja..
''Apakah kau benar-benar ingin membunuhnya karna cemburu ataukah kau masih dendam atas kematian adikmu..aku sangat penasaran Arkana..'' Ana ingin jawaban hingga ia bisa menentukan apa yang harus ia lakukan selanjutnya..
Arkana mendekatkan wajahnya dan tersenyum kejam....
''Alex telah menorehkan luka kepadaku karna kehilangan adikku dan satu-satunya keinginanku untuknya adalah Alex harus mati bersama adikku, apalagi dengan resiko dia tak akan menyerah tentangmu aku tau benar jika Alex masih mengharapkanmu Ana, jadi aku tidak akan mengampuninya...Ana..''
Ana membeku itu berarti tak ada harapan untuknya bersama Arkana, pria seperti apa dia...dengan mudahnya dia membunuh hanya karna dendam dan rasa cemburu yang tak berujung. apakah pria ini tidak tau jika adiknya yang bersalah, atau dia menutup kenyataan demi egonya..
Airmata Ana menetes menguatkan hatinya, ia tak akan pernah mau hidup selamanya bersama Arkana tentu saja, keinginan untuk pergi secepatnya dari Arkana semakin kuat saja, saat ini Ana akan menunggu waktu yang tepat..untuk lari....
''Baiklah...aku akan mengikuti semua perintahmu Arkana..''
''Bagus...aku bahagia sayang.''
Arkana menarik tubuh Ana merapat kepadanya dan memulai cumbuan panas di dalam mobil yang tertutup rapat..
********************************************
Pagi yang dingin......
__ADS_1
Setelah melalu percintaan yang panas semalam dan membuat tubuhnya lelah pagi ini Arkana turun sarapan bersamanya sebelum mereka masing-masing berangkat ke kantor.
Ting......
Pintu lift terbuka dan Arkana masih memeluk posesif pada istrinya, menuju ruang makan...
Ana merasa sungguh sakit kepala dan asam lambungnya naik belakangan ini, tentu saja ia terlalu tertekan hidup bersama Arkana sehingga ia merasa akan depresi. Arkana mengontrol setiap aktifitasnya melalui cctv belum lagi ada beberapa anak buah yang berjaga di sekitarnya dan membuatnya semakin sesak nafas.
Ana tak tau apapun tentang Arkana selain pria ini begitu tergila-gila pada tubuhnya, Ana bahkan tak berani bertanya tentang kemungkinan Arkana mungkin mencintainya...ah..itu hal yang paling tidak mungkin bagi seorang Arkana bukan..? Arkana hanya membutuhkannya itu saja..
Memasuki ruang makan Ana duduk di tempat biasanya dan Arkana menempati tempat yang biasa ia duduk, mereka duduk berhadapan..
Para pelayan memulai tugas mereka memberi sarapan, dan hari itu Arkana sedikit terkejut karna Ana tidak mengambilkan sarapan seperti biasa..pria itu hanya menatap Ana dari seberang meja dan mulai meneliti apa yang di pikirkan Ana...
Ketika pria itu memulai sarapannya Ana belum juga memulai sarapan bersamanya, dan Arkana tak suka di abaikan..
''Ehmm..''
Prang!!!!
Suara pecahan keramik memecah kesunyian pagi itu dan menembus lamunan Ana, wanita itu terkejut ketika menatap mata Arkana yang dingin...
''Arkana.......'' suara Ana tercekat dengan kegugupan yang kentara..
''Maaf....''
Arkana melepas aktifitas sarapannya dan memusatkan diri menatap Ana dengan tajam, pria itu tersenyum namun yang terlihat begitu mengerikan di mata Ana.......
''Katakan apa yang kau pikirkan...katakan...apakah kau memikirkan mantan kekasihmu Alex.''
Jemari Arkana yang terkepal tak luput dari pandangan Ana dan wanita itu mulai gelisah...rasanya sulit untuk bernafas untuk saat ini...ia telah membuat Arkana tersinggung..
Hening.........
''Aku....tidak memikirkannya Arkana tidak..''
''Lalu...''
Arkana menunggu alasan Ana yang lebih baik dan bisa meredakan emosinya yang sudah terlanjur naik...
__ADS_1
''Aku merindukan ibuku di panti.....''
Akhirnya alasan itu keluar begitu saja dari bibir Ana dan membuat wajah Arkana yang tadinya mengeras berubah lembut...
''Ibu panti..''
Ana menghela nafas, mengucap syukur karna ia memberi alasan yang tepat, karna jawabannya akan sangat berpengaruh dengan apa yang akan di lakukan Arkana..
''Aku sudah menikah dan lama tidak mengunjungi ibu panti yang sudah tua, bahkan adik-adikku disana.....''
''Mengapa hal itu mencemaskan hatimu hingga kau merusak sarapan pagi kita sayang, kau tinggal bilang dan kau bisa pergi kapan saja....''
''Kau mengijinkannnya..''
''Bawalah banyak hadiah dan minta Hani untuk menemanimu..''
Senyum di wajah Ana terbit saat itu juga, dan ia pun mengangguk...
''Terimakasih kau baik sekali..Arkana..''
Arkana membalas senyuman Ana walau senyum itu berubah menjadi kebekuan...
Ana mau membohonginya..Ana pikir dia adalah seorang pria bodoh yang gampang di tipu...
Ana salah jika ingin mengujinya, Arkana sudah menyiapkan sebuah perangkap kecil dan jika Ana masuk ke dalam perangkap itu maka......ia akan membuat wanita ini mengerti bahwa ia tak suka di duakan, bahwa Ana hanya harus memikirkannya bukan orang lain..... Arkana menutup senyumnya..
''Kau tidak marah padaku bukan.''
''Aku tak pernah bisa marah padamu sayang.''
Ana menjadi lega...
''Aku akan mengunjungi panti di akhir pekan saja....''bisik Ana..
''Baiklah....sampaikan salamku kepadanya dan katakan maaf jika aku tak bisa menemuinya karna aku sangat sibuk..''
''Tentu saja sayang..''
Ana tersenyum sembari melanjutkan sarapannya, setelah selesai mereka pun melangkah bersama menuju mobil.
__ADS_1
Arkana meminta Ana pergi lebih dahulu..dan Ana pun pergi bersama mobil lain bersama Hani sang asisten..
Arkana kemudian mengambil ponsel dan segera menelfon seseorang.......