
Fera tidak terima dengan kenyataan dan menatap Ana dengan tatapan beku, entah pria tua mana yang menjadikan Ana simpanannya dan membuat si gadis miskin ini mendapatkan semua kemewahan, yang pasti dia bukan orang sembarangan..
''Kau memang pintar Ana..aku akui jika kau berbakat dalam hal merayu para pria kaya untuk bisa memberimu semua ini.''
''Hati-hati bicara anda nyonya Fera kau tidak tau siapa nyonya Ana sekarang, jadi berhentilah menghina sebelum kemalangan akan mengikutimu.'' jerit Hani tanpa takut..
Sudah sedari tadi ia menahan diri melihat betapa wanita ini mempunyai mulut yang tajam dan suka menghina, apakah semua orang kaya seperti itu, jika tuan Arkana tau apa yang terjadi pada istrinya maka dia pasti sudah berpindah ke dunia lain..ckckck...gerutu Hani tak tahan.
Fera meradang melihat asisten Ana melabraknya, ia pun menantang...
''Yah...kau jaga bicaramu, aku bisa melemparmu ke jalanan...jika...'' kata-kata Fera terputus ketika Steve menatapnya dengan pandangan dingjn
''Cukup Fera...kau selalu membuat semua orang muak kepadamu, kau pikir kau seorang putri, aku sudah tak tahan lagi denganmu..''ucap Steve bangkit dari tempat duduknya dan bersiap pergi..
''Tunggu Steve....''
Ana ikut berdiri dan meletakan cek kosong di hadapan Steve, membuat pria itu menatap Ana dengan sangat tajam...
''Tolong isi biaya penggantinya, karna itu adalah alasannku kemari menemui kalian...''
Pandangan Ana beralih kepada Fera dan tersenyum,
''Bisakah kau berhenti curiga, bisakah kau berhenti menghina, bisakah kau...lebih percaya diri...aku sangat kasihan kepadamu..'' Ana meredupkan matanya, ia sungguh tak ingin bertengkar lagi dengan Fera.
''Kau.....''
Fera tak bisa melakukan apapun karna tatapan peringatan yang di berikan Steve kepadanya, ia pun menahan dirinya..
''Kau tak perlu mengganti apapun Ana.....''ucap Steve merasa tak mampu lagi berdiri di hadapan Ana, dan ingin secepat itu pergi dari sana..
''Tidak...aku tak ingin berhutang Steve, aku tak pernah mau berurusan dengan kalian lagi...aku sudah tutup buku,.''
Steve membeku....ia sudah kehilangan kesempatan itu dan Ana terlihat begitu membencinya, Steve lalu menganggukan kepala,
''Maafkan aku Ana...maafkan aku dan Fera yang telah menyakitimu sedalam ini...aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu, aku tau..jika aku sama sekali tidak pantas mengatakan ini lagi kepadamu tapi...satu hal yang harus kau tau Ana jika aku sangat menyesal...''
Untuk beberapa saat Ana dan Steve saling menatap, rasanya begitu menyakitkan ketika kebersamaan mereka dulu yang indah harus hancur karna penghianatan, bahkan Ana tak pernah membayangkan jika ketika Steve melukainya akan menumbuhkan dendam yang luar biasa di dadanya, Ana membeku ketika matanya berkaca-kaca, demi masa lalu dia pasti akan memaafkan Steve dan Fera, ia tak ingin Arkana tau jika mereka masih saling dendam karna pria itu akan menghukum mereka dengan kejam dan Ana tak ingin seseuatu terjadi kepada Fera terutama Steve, mereka adalah orang pernah tertawa bersamanya dan membuat ia bahagia di masa lalu...
Ana mengangguk........
''Aku ingin kalian berdua tau jika aku.....sama sekali tidak merasakan dendam apapun aku....telah memaafkan kalian, terutama kau Steve....''
__ADS_1
Steve tersenyum dengan mata yang basah...ia lalu menatap Ana untuk yang terakhir kalinya sungguh ia sangat sakit melihat Ana sekarang....dan tak berhenti larut dalam penyesalan walau semua sudah terlambat...
Ana lalu meletakan cek itu dan menyusutkan airmatanya,..
''Aku akan menunggu kabar dari kalian berdua..''
Ana tak menunggu, berada lama di dalam ruangan bersama Fera dan Steve membuatnya merasakan nyeri, ia pun segera pergi dari ruangan itu meninggalkan Steve dan Fera dengan ekpresi berbeda...
Steve meletakan cek itu di tangan Fera dan mengirimkan sinyal ancaman lewat matanya...
''Tulis berapapun yang kau rasa itu kerugianmu dan berhentilah mencari masalah...''
''Steve...tapi bukan aku yang mencari masalah...Ana dia....''
Steve menggertakan giginya,
''Jika sekali lagi kau...membuat masalah dengannya maka percayalah bahwa aku akan membuat hidupmu seperti di neraka...''gumam Steve dengan santai lalu meninggalkan Fera sendirian
Wanita itu meradang..........Steve membela mantan kekasihnya..cih...Fera tak akan diam saja...
''Ana....kau mulai menyombongkan dirimu yah...aku taka akan pernah berhenti untuk menghancurkanmu...liat saja nanti..'' desis Fera berjanji...
*****************************
Arkana menatapnya dengan tajam sembari menuju kursi kebesarannya dan menyandarkan tubuhnya disana...
''Ada apa Leo.''
Leo lalu mendekat dan meletakan sebuah file di hadapan Arkana dan menunduk..
''Tuan akan menemukan hal yang menarik disana....''
Senyum misterius terbit di wajah Arkana, pria itu kemudian tertawa....
''Leo....kali ini dia akan mendapatkan pelajaran yang berharga dariku...aku berjanji, dan kau aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.''
Leo menundukan kepalanya dalam-dalam....
''Aku akan selalu mengabdi kepadamu tuan Arkana, dengan nyawaku.'' balas Leo tegas..
''Bagus...''
__ADS_1
Arkana lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya...
''Anastasya...kau adalah milikku, sekuat apapun kau melarikan diri kau tidak akan pernah bisa lolos dari cengkramanku.'' desis Arkana dengan suara yang tegas...
*****************************************
Ana membeku ketika menyadari semua Bodyguardnya di tarik oleh Arkana, wanita itu segera menghubungi Arkana dan suaminya bilang mulai sekarang ia tak akan pernah memperlakukan Ana seperti tahanan dan akan memberikan Ana kepercayaan penuh..
Tentu saja ini seperti angin segar untuk Ana, ia lalu tersenyum lega dan tak lupa mengucap terimakasih atas kebaikan hati suaminya,
Ana menatap Hani yang berjalan seolah melamun di belakangnya..
''Hani...aku punya kabar bagus...''
''Kabar bagus apa nyonya Ana...''
''Suamiku akan memberiku kebebasan penuh, para Bodyguard itu sudah pergi..''
Hani mengerutkan keningnya, tidak mungkin seorang tuan Arkana akan melepaskan Nyonya Ana begitu saja.mengapa Hani tidak percaya walau ingin...?
''Nyonya Ana.....ini terlalu aneh, ini bahkan belum sehari tuan Arkana menempatkan para Bodyguard...aku merasa....''
Ana kemudian menarik lengan Hani untuk berjalan bersamanya,
''Jangan terlalu menebak-nebak hal yang tidak mungkin di kepalamu, aku bahkan tidak curiga sedikitpun.'' ucap Ana dengan tatapan berbinar.
Namun lain halnya dengan Hani...
Gadis itu masih saja curiga, mereka lalu melangkah ke arah parkiran Restoran sembari bercanda...
Ana sungguh bahagia menyadari jika ia mempunyai sedikit kebebasan, segera menuju mobil...langkahnya menjadi ringan..
mobil keluar dari area parkir Restoran...
Kali ini Hani yang membawa mobilnya,..
Baru beberapa saat keluar dari Restoran, sebuah mobil yang datang dari arah belakang meluncur dan tiba-tiba menghalangi laju mobil milik Ana..
Hani menginjak rem dengan cepat, dan mobil pun berhenti..keduanya saling menatap bingung meski tak butuh waktu lama, ketika seorang pria tampan keluar dari mobil depan dengan tatapan tajam melangkah ke arah mobil mereka...
Tubuh Ana menjadi lemah.....
__ADS_1