
Ana tak sanggup membayangkan jika kedua pria ini bertemu lagi apa yang akan terjadi, mungkinkah mereka memang benar akan saling membunuh..
''Kau menyakiti tanganku Arkana..'' suara Ana menjadi serak dan sedikit gelisah..
Seperti terkejut Arkana lalu melepaskannya buru-buru dan menatap Ana dengan pandangan yang redup.
''Maafkan aku...aku terbawa emosi Ana...''
Ana hanya tersenyum skeptis...
''Bagaimana kalau kita istirahat di bawah pohon besar itu..''ucap Ana menunjuk sebuah pohon besar yang rindang, dan Arkana pun setuju, dengan bergandengan tangan keduanya mendekati pohon besar dan duduk di rerumputan disana..
Ana mengeluarkan beberapa potong roti dan dan salad buah, ada juga aneka minuman terbuat dari jus segar dan Arkana hanya memejamkan matanya menyerah karna Ana benar-benar melakukan itu, benar-benar serius tentang makanan sehat.
''Kulitmu akan bagus jika kau minum rutin jus ini.''
''Kau memang pintar ketika merayu.''lirik Arkana kagum,..
Ana memberikan jus jeruk kepada Arkana, pria itu hanya menurut dan meminumnya sambil mengunyah roti bakar yang di bawa Ana, Arkana mengenang kalau dulu Katrenlah yang terus memperhatikan dirinya dan mengurus semua makanannya..tanpa sadar mata Arkana berkaca-kaca.
''Disini pemandangannya indah sekali, Ana menatap wajah Arkana yang beku, oya Arkana aku sungguh minta maaf kau pasti terluka ketika mengenang adikmu.''
Arkana hanya terdiam.....
''Dia pergi namun Tuhan mengirim seseorang kepadaku, yaitu kau...jadi aku lebih bersemangat sekarang.''
Tatapan Arkana berubah menjadi serius sambil mengambil tangan Ana dan menggenggamnya, hingga Ana mrasa lebih gugup dari sebelumnya.
''Kau adalah milikku dan selamanya kita akan bersama, aku berjanji...dan Ana...jangan tinggalkan aku.''
Mata keduanya bertemu dengan pandangan yang begitu dalam hingga Ana merasa sedikit merasa bersalah.
Bagaimana ini, mengapa Arkana malah bersikap semanis ini, dan membuat Ana goyah. bersikap lembut adalah bukan kebiasaan Arkana sehingga sedikit aneh baginya.
''Tentu...mana mungkin aku..meninggalkan suamiku.'' kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Ana, walau setelah mengatakannya Ana menjadi bersalah sendiri kepada Alex, mereka akan pergi bersama dan kali ini Ana akan benar-benar pergi jauh.
Ana menatap Arkana sedikit tersenyum di wajah cantiknya, walau tetap saja ia menyimpan semua perubahan itu dengan kata-kata Arkana yang mengandung banyak arti, pria itu lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Ana...
''Aku rasa kau sudah mencuri hatiku Ana.''bisik Arkana dengan mata yang redup.
''Aku mencuri hatimu Arkana..''
''Yah...dan kau akan menjadi tawananku sekarang.''
Keduanya saling melemparkan senyum dan semuanya berubah menjadi santai.
__ADS_1
''Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan..'' ucap Arkana lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Ana dan Ana berdiri sambil meraih keranjang makanan yang mereka bawa.
Namun...
Tubuh Ana menjadi goyah ketika rasa pusing menyerang kepalanya, Arkana yang menoleh begitu terkejut melihat tubuh Ana terhuyung hampir jatuh....
''Ana.......''
Gerakan Arkana sangat cepat ketika menangkap tubuh Ana agar tidak jatuh..
Mata Ana melebar nyeri membayangkan tubuhnya jatuh membentur tanah namun Arkana menolongnya...
''Ana...ada apa denganmu.''
''Aku hanya sedikit pusing...''
Arkana membantu Ana berdiri, pria itu terlihat cemas ketika melihat wajah Ana yang pucat, sontak ia merasa sedikit bersalah...tentu saja Ana merasa pusing..Arkana tidak membiarkan malam Ana tenang dan selalu membawanya dalam percintaan..
Ana menangkap rasa bersalah di mata Arkana dan menyentuh wajah suaminya dengan lembut hingga pria itu menatapnya..
''Aku hanya sedikit lemah....aku baik-baik saja Arkana..''
Arkana lalu menunduk dan membelakangi Ana...
''Naiklah ke punggungku.''
''Aku bisa jalan sendiri...''
''Naik ke punggungku.''titah Arkana tak terbantah..
Mau tak mau Ana harus setuju dan kemudian naik kepunggung Arkana yang kokoh..mereka pun berbalik arah pulang..
''Arkana....apakah aku terlalu berat.''
''Yah...apa yang kau makan Ana, tubuhmu semakin berat saja..''
Ana kemudian menggigit pundak Arkana hingga pria itu mengerang...
''Mengapa kau mengigitku..''teriaknya tidak terima..
Ana tertawa keras hingga Arkana menjadi kesal, beraninya Ana mengigitnya, seumur hidup tak ada yang mampu melakukan itu kepadanya..tidak, namun wanita ini menembus semua batasan itu tanpa perduli...Arkana hanya pasrah sembari terus menggendong tubuh Ana yang memang lebih berisi sekarang..
''Yah...bagi wanita ketika kau menyinggung tentang berat badan kami, maka itu artinya kau telah membangunkan yang tertidur, kau harus siap di gigit atau di cakar.'' bisik Ana masih mengalungkan tangannya di leher Arkana..
''Yah..bukankah kejujuran adalah yang terbaik..'' seru Arkana tak mau kalah...
__ADS_1
''Tidak berbohonglah untuk yang satu itu kau akan di maafkan.''
''Astaga..wanita memang Aneh.''
Keduanya kembali tertawa dengan lepas, sepanjang jalan mereka hanya saling bercanda dan tertawa bersama, sepanjang hari itu Arkana tak berhenti untuk tersenyum melihat tingkah Ana yang menggemaskan...
******************************
Alex menatap anak buahnya dan mengerutkan kening, tak ada tanda-tanda kepulangan Ana dari vila bersama Arkana, katanya hanya sampai seminggu mengapa ini berubah menjadi dua minggu..pria itu menjadi semakin kesal saja. mau tak mau rencananya harus di undur sementara segala persiapan telah ia lakukan dengan cepat, tinggal menunnggu kepulangan Ana dan semuanya selesai.
''Panggil Hani kemari..''ucap Alex duduk di sofa ruang kerjanya,
Tak berapa lama kemudian sosok Hani muncul dan menunduk di hadapannya lagi.
''Tuan Alex.''
Alex bangkit dari sofa dengan tak sabar menatap Hani dengan kesabaran yang mulai menipis..
''Kau bilang Ana hanya seminggu disana tapi liat yang terjadi, malah dia dua minggu dan belum tau kapan dia kembali, apakah kau sedang membuatku kesal...apakah informasimu benar.''
Hani segera menundukan kepalanya sedikit cemas...
''Aku minta maaf tuan Alex, tapi nyonya Ana bilang sendiri kalau nyonya akan ada disana selama seminggu tidak lebih karna nyonya harus bkerja kembali di butik.''
Alex mengepalkan tangannya, sial..apa yang sedang terjadi, mengapa selalu saja ia kehilangan kesempatan..
Arkana mendekati Hani mencengkram lengan gadis itu hingga menatap matanya yang dingin...
''Cepat cari tau dengan cara apapun untuk menghubungi nyonya Ana, aku ingin kabar darinya Hani...jika kau tidak sanggup melakukannya maka kau akan mendapatkan amarah dariku.''
Hani yang merasa kesakitan di lengannya hanya mampu menahan semua itu dan menganggukan kepalanya dengan cepat..
''Aku akan berusaha tuan Alex...aku berjanji.''
''Bagus..''desis Alex dengan tajam,
Dihempaskannya tubuh Hani hingga tubuh gadis itu mundur beberapa langkah dan kemudian berdiri kembali..dengan wajah tertunduk...
''Pergi dari ruanganku sekarang...dan aku menunggu kabar secepatnya.''
Hani menundukan kepalanya..
''Baik tuan Alex.''
Gadis itu segera kluar dari ruangan Alex, dan pria itu mengepalkan tangannya...
__ADS_1
''Arkana....aku akan menghabisimu demi bisa memiliki Ana....''sinar mata tajam yang membara terlihat di wajah Alex....