
Ketika Dave melepaskan ciuman mereka, pandangan mata mereka bertemu, pria itu tersenyum, seraya menyentuh wajah Maya dengan lembut hingga membuat Maya menatapnya dengan tajam..
''Kau bisa memegang janjiku dari sekarang, setelah keluar dari sini kita akan menikah dengan segera, aku berjanji akan berubah demi dirimu..aku akan berjanji setia kepadamu dan menyerahkan hidupku kepadamu Maya.''
Deg!!!!!
Maya membeku mendengar dan melihat semua pernyataan Dave yang terasa begitu aneh dimatanya, ketika pria ini bersikap serius maka Maya akan langsung mengatakan tidak percaya. mudah bagi Maya untuk percaya kalau pria tak akan berubah selamanya di banding percaya bahwa Dave akan berubah apalagi bersikap baik..
Maya hanya diam saja menikmati semua pernyataan Dave yang terasa omong kosong baginya, bagaimana mungkin ia bisa menyerahkan hatinya pada pria yang bahkan menginginkan kematiannya..? Maya belum gila untuk percaya segampang itu. dan pergi adalah keputusan final baginya, Maya tak akan membuang waktu,...
''Baiklah aku percaya kepadamu Dave, tapi bisakah kau....tidak berbohong lagi..'' jawab Maya untuk menyudahi semua kata-kata Dave yang membuatnya seketika merasakan mual..
Maya memegang kepalanya hingga membuat Dave seketika siaga...
''Maya....apa yang terjadi,..''
Dave memegang tubuh Maya dan menatap Maya dengan pandangan berbeda, pria itu menaruh telapak tangan di dahi Maya sembari meredupkan matanya..
''Kau tidak demam..apakah kau merasa mual..''tanya Dave menebak...
Maya tanpa sadar mengangguk dengan polos,
''Aku baru merasakannya sekarng, entahlah...mungkin asam lambungku....''
''Karna itu kau harus banyak makan sekarang...''
Dave bangkit dari ranjang dan tersenyum, meraih beberapa kantung berisi kotak makanan yang telah ia beli, makanan yang di pesan di restoran termahal, terhigenis dan terbaik di kota ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk Maya dan juga bayi mereka, Dave tersenyum sendiri ketika ia merasakan perasaan berdebar-debar seperti sedang jatuh cinta, yah..ia jatuh cinta pada Maya dan juga anak mereka sebagai pengikat..dan tentu saja sebagai calon ayah, Dave ingin yang terbaik bagi anak mereka...
Maya melebarkan matanya dengan begitu heran, ketika sebuah meja khusus di bentang di hadapan Maya, lalu ada begitu banyak makanan mahal di atas meja yang di sajikan untuk dirinya. hingga mau tak mau hati Maya terasa hangat walau untuk sesaat, tak pernah ada pria yang memperlakukannya seperti ini dan Dave adalah pria pertama yang memberi perhatian kepadanya hingga Maya terdiam mengenang...
Dulu ketika masih tinggal di panti asuhan ketika anak-anak orang kaya mengundang mereka untuk makan bersama maka Maya akan menemukan makanan mahal ini dan hanya bisa melihat saja, kala itu kak Ana hanya memeluknya dan menenangkannya dari rasa iri dan sedih melihat nasib mereka yang berbeda..
Namun sekarang ketika seseorang memberi perhatian penuh kepadanya Maya merasa ada sesuatu di hatinya yang kosong sejak dulu mulai terisi sedikit demi sedikit meski dengan perhatian yang kecil.
Maya memandang wajah Dave yang tengah serius menghidangkan makanan itu di atas meja, Dave melayaninya...??
Wayah Maya dengan cepat berubah cemas, bagaimana kalau Dave hanya brsikap pura-pura, bagaimana jika pria ini hanya menarik perhatiannya agar dia lengah...
''Makanlah...'' ucap Dave sembari duduk di hadapan Maya..
Hening....
Maya menundukan kepala dan menatap semua hidangan itu dengan rasa ingin yang besar namun ia terlalu takut dan menjadi enggan untuk menyentuhnya...
''Mengapa kau diam saja..apakah kau,tidak menyukai makanan ini...'' tanya Dave hati-hati...
Maya mengangkat wajahnya, dan menatap mata Dave...
''Entahlah semua makanan ini adalah makanan yang paling enak jadi aku sangat takut untuk makan Dave...''
''Mengapa....'' kerutan di dahi Dave semakin mendalam..
__ADS_1
Maya menghela nafas,
''Aku tiba-tiba teringat kepada para tahanan yang akan di eksekusi mati...mereka akan di beri makanan enak sebelum di bunuh...'' suara Maya menjadi lemas..
Hening lagi...
Dave benar-benar kehilangan kata, bagaimana bisa Maya berpikir seperti itu, mau tak mau perkataan Maya yang terasa menggelikan membuat tawa Dave pecah di ruangan itu hingga Maya semakin heran...
Dave bahkan memegangi perutnya karna tidak tahan dengan ucapan Maya yang polos...tawa Dave seketika menguap ketika melihat wajah Maya hampir menangis...lalu pandangannya turun di perut Maya yang masih rata,...ia menatap Maya..
''Aku tak akan mengeksekusimu seperti tahanan itu, aku memberi makannan enak agar kau cepat sembuh Maya, jika aku ingin membunuhmu mungkin aku tak akan membawamu ke rumah sakit...''
Maya melonggarkan tenggorokannya....menyadari kebenaran ada di kata-kata Dave, lalu ia pun mengangguk...
Kkrurrururukkkk!!!!!
Suara perut Maya yang lapar membuat keduanya terkejut, Dave lalu berdehem..sedikit panik, apakah anaknya sedang kelaparan...apa dia baik-baik saja di dalam sana...?
''Makanlah Maya...'' ada penekanan di nada suaranya..
Dan Maya pun mengalah..baiklah kalau pun benar Dave akan membunuhnya setidaknya ia bisa menikmati makanan enak sebelum di bunuh bukan...?
Maya lalu mengangguk dan mulai melahap makanan di hadapannya, dan diam-diam Dave menaruh menu spageti di atas meja, ia sengaja menaruhnya disana..apakah Maya akan menyukainya ia penasaran kalau ya...itu pasti keinginan anaknya...
Dave sangat menyukai spageti dan tak akan pernah ragu menghabiskan makanan itu dan mengabaikan makanan lainnya..
Dan setelah menunggu, senyum bangga tergambar jelas di wajah Dave ketika Maya menghabiskan spageti di hadapannya tanpa menyisakannya sedikitpun...
Ekspresi itu sangat lucu dan menggemaskan di mata Dave, pria irtu menganggukan kepalanya...
''Aku akan memberikanmu Maya, dan...apalagi yang kau inginkan...''
''Hah....''
''Katakan saja apapun yang kau mau akan aku berikan asal kau...makan dengan banyak, anggap saja sebagai permintaan maafku telah menyakitimu selama ini..''
Maya mengerutkan dahinya, mengapa Dave baik sekali...?
''Baiklah Dave, aku mau..............''
****************************************
Rio masuk ke dalam ruangan Maya di tengah malam dan membangunkan Maya, hingga gadis itu terkejut, ia makan dengan banyak dan puas hingga mengantuk,
''Rio.....''
''Bangunlah....kita harus pergi sekarang...''
''Pergi kemana..apa maksudmu Rio ini tengah malam dan....''
Rio mengeraskan tatapannya.....
__ADS_1
''Besok Dave akan membawamu ke pulau dan membuatmu menjadi budaknya dan menyiksamu...''
Wajah Maya menjadi pucat...
''Rio....''
''Aku menunggumu di mobil berwarna biru di depan, keluar sekarang atau kau...akan terkurung selamanya...''
Maya masih enggan untuk pergi, karna Dave bersikap baik kepadanya..
''Tapi....Dave dia,...''
Rio tertawa hingga Maya menjadi semakin bingung...
''Rio....''
''Jangan terlena hanya ketika dia memberimu makanan enak,..kau hanya akan di senangkan sebelum di ekeskusi./.''
Deg!!!!!!
Maya menghela nafas........
''Baiklah aku akan pergi tunggulah aku disana...'' jawab Maya penuh janji..
Rio pun mengangguk setuju.....
****************************************
Maya berhasil keluar dengan hati yang begitu nyeri, Dave membohonginya...? bagaimana bisa ia memberikan hatinya...
Maya melihat sosok Rio namun entah mengapa hatinya meragu, Maya berhenti di tengah-tengah pintu lalu kembali berbalik dan ia membeku melihat seseorang yang begitu ia rincukan...
''Alex....'' desah Maya dengan mata berkaca-kaca...
''Maya...'' ucap Alex sangat terkejut...
Sebenarnya Alex mengalami kecelakaan kecil sewaktu berkendara dan singgah di rumah sakit ini untuk mendapatkan perban..namun siapa sanga ia malah menemukan Maya...
Maya lalu menghambur dan memeluk Alex dengan erat.......
''Tolong aku....Alex....''
Alex membalas pelukan Maya dengan erat, seraya melindunginya...
''Ayo kita harus segera pergi Maya...''ucap Alex menggenggam tangan Maya dan membawanya pergi...
***********************************************
Rio masih menunggu di mobil ketika pintu kaca mobil terbuka dan Azura melayangkan pistol ke arahnya...
''Keluar sekarang penghianat....tuan Dave menunggumu..'' ucap Azura dengan dingin...
__ADS_1
Rio memejamkan matanya dengan gusar.......