
Percintaan panjang dan menyakitkan bagi Aleysa itu akhirnya selesai seiring Damian yang berhasil membawanya menuju puncak kepuasan...tubuh Damian ambruk ketika kenikmatan itu mencapai puncaknya.
Aleysa mengerang ketika rasa nyeri itu kembali ia rasakan setelah sengatan kenikmatan itu berlalu darinya, milik Damian masih berada di dalam dirinya seolah enggan keluar dari sana,....sisa kepuasan yang masih tertinggal membuat Damian masih betah menatap mata Aleysa yang bening dan basah malam ini..
Damian bahkan tak ingin beranjak dari tubuhnya,...
Mengapa...?
Damian sengaja menumpahkan benihnya dan berharap keajaiban kalau saja Aleysa segea mengandung anaknya....Damian mendekat mengecup kelopak mata Aleysa yang basah oleh airmatanya...ia mengerti sungguh mengerti airmata Aleysa...kesuciannya terenggut malam ini, tubuh keduanya masih menyatu bersama peluh...
''Aley,......''
''Sakit.....aku bukan gadis lagi...bagaimana mungkin..'' isak Aleysa mulai terdengar pilu di malam yang dingin itu hingga Damian harus menenangkannya...
Damian kembali mengecup kelopak mata Aleysa dan bergerak turun menyentuh bibirnya dengan sangat lembut...
''Maafkan aku harus melakukan ini...kita akan segera menikah.....''
Aleysa menatap mata Damian yang tajam....
''Tidak...kita akan menikah 3 bulan lagi Damian...'' isak Aleysa membalas..
''Mengapa kau malah setuju menikah 3 bulan lagi Aley...setelah apa yang kita lakukan.....aku tidak ingin menunggu selama itu...''
Aleysa kembali meneteskan airmatanya...
''Aku tidak mau kita mempercepat pernikahan ini Damian...''
Damian mengangguk mengalah untuk sementara waktu Aley sedang terguncang...ketika ia merasa waktunya sudah cukup, Damian turun dari tubuh Aley dan segera bangkit dan melangkah ke arah Aley...
Gadis itu langsung menutup mata ketika melihat tubuh polos Damian yang melintas di hadapannya, mengapa pria itu tidak malu sedikitpun..ya ampun...
Ketika Damian masih berada di kamar mandi, Aley mencoba untuk bangun atau setidaknya beranjak dari ranjang namun, seketika ia mengerang...ketika rasa nyeri itu menghujaninya dengan begitu kuat...
''Arrrgghh....mengapa rasanya begini...'' Aleysa kembali menutup wajahnya dengan tangannya..
Ia sudah tidak suci lagi..bagaimana bisa....??
****************************
Damian dan Aleyssa sudah sama-sama membersihkan diri, Aleysa menaikan pandangannya menatap sosok Damian yang sedang sarapan dengan lahap yah dia lapar karna mengeluarkan tenaga yang besar...dia makan tanpa beban, bahkan Damian tidak memikirkan bagaimana hatinya yang masih sedih karna kehilangan kesucian sebelum pernikahan...
Gadis itu mengaduk supnya masih merassa aneh dengan daerah intinya yang masih sedikit nyeri,...ia mengenang..tadi Damian menggendongnya ke kamar mandi dan memandikannya karna Aley bahkan tak bisa berjalan...sebenarnya bisa namun...ia tak bisa menahan nyeri dan memilih mengalah ketika Damian bertanggung jawab, tentu saja..ia kesakitan karna Damian..jadi Damian haruslah bertanggung jawab...
''Makanlah..dan jangan memandangiku terus, apakah kau mau kita mengulangi lagi..''
''Haiiss..kau benar-benar, aku masih kesakitan Damian...'' jerit Aleysa tak terima..
Damian terkekeh melihat tingkah Aley yang lucu, pria itu memajukan tubuhnya..
''Jadi kalau kau sudah tidak kesakitan lagi apakah kita bisa melakukannya...''
__ADS_1
''Tidak mau...''
''Eiittt...kau adalah milikku..'' desah Damian dengan kedipan mata yang membuat Aleysa jengkel..
Aley menatap mata Damian dengan hati-hati,.....
''Ehm...kita sudah melakukannya bukan, kau sudah tidak marah lagi...'' ucap Aleysa dengan wajah serius..
Damian mengangguk sambil mengunyah makanannya...ia menatap Aleysa..
''Yah...percintaan kita berhasil memandamkan amarahku sayang..''
''Bagus Damian...jadi jangan cemburu lagi kepadaku okey...''
Damian meminum segelas air dan mengernyit...
''Apa maksudmu Aley, bukan berarti kau bisa bebas dekat dengan si tua Derrek..aku berjanji akan menghajarnya lagi...''
Aleysa memutar bolamatanya kesal..
''Aku tidak dekat dengannya Damian, aku akan menjelaskannya bisakah kau..mendengarkan aku...''
Damian terdiam sebentar walau akhirnya ia menganggukan kepala..
''Katakan...''
Aleysa mengangguk...
''Aku ke kampus kemarin, maksudku adalah aku akan ke ruang dosen untuk menyerahkan tugas yang kau kerjakan itu, namun Geri salah satu temanku mendatangiku dan bilang jika Mr.Derrek sedang menungguku di aula...aku kesana dan sudah ada bunga-bunga dan balon dalam jumlah banyak...''
''Aku tak mengerti.....siapa yang memberikanmu foto-foto itu dan mengenai bunga dan balon, mengapa Mr. Derrek bisa tau kalau aku suka bunga dan balon...hanya teman dekat aku saja yang tau Damiaan..aku tidak.....''
Kata-kata Aleysa terputus ketika Damian menyentuh jemarinya dengan lembut lalu mengecupnya....keduanya saling menatap..
''Aku akan mecari tau siapa di balik ini semua sayang, namun..aku tau benar jika Derrek menyukaimu dan aku tidak akan tinggal diam, jangan pernah menemuinya dengan alasan apapun Aley....kau akan mendapat hukuman dariku...''ucap Damian tegas.,..
Aleysa bersedekap...
''Hukuman apa....kau seperti Mr. Derrek saja,...kau senang memberi hukuman...''
''Eiit..kau sudah melakukan kesalahan dengan menyebut namanya di depanku aku tak suka Aley....itu artinya kau harus mendapat hukuman.''
''Hukuman...'' desah Aley dengan nada yang lemah.
Damian mengulum senyum dan sungguh candu menatap reaksi wajah Aleysa ketika dia sedang cemas,..
Damian bangkit dari tempat duduk, mendekati Aley dan duduk di pinggir meja..ia memajukan tubuhnya membuat Aley sontak menghindar dan terjebak di sandaran kursi...
''Tubuhmu adalah milikku bukan...''
''Tidak,...'' balas Aley dengan polos..
__ADS_1
Karna merasa gemas, Damian tak tahan untuk tidak melum** bibir Aleysa yang penuh...
dan menyesapnya dengan hangat namun membekas....pria itu menjauhkan wajahnya..
''Kita bahkan baru saja melakukannya dan kau tidak mau mengaku...sayang..''
Aley memalingkan wajahnya dengan rasa malu yang tak bisa di tanggungnya...
''Ya...ya...aaku....''
''Jika kau tidak mengaku kau berhutang ciuman lagi plus cumbuan....'' ucap Damian dengan panas..
''Baik...tubuhku adalah milikmu..'' ucap Aleysa melonggarkan tenggorokannya dengan gugup..
Damian tersenyum menang...
''Bagus...itu artinya kau hanya punya satu hutang kepadaku...''
Aley menoleh dengan rintihan...
''Damian....tolongalh..jangan hukuman yang berat okey...''
Damian tersenyum...
''Hukuman yang indah sayang..''
Damian lalu melangkah menuju meja dan meraih kunci mobil dan mendekati Aleysa yang sedang bersiap-siap...
''Hukuman indah....'' ulang Aleysa menebak...
Damian menggenggam jemari Aley mendekat dan tersenyum...
''Kau akan tau apa hukumannya sayang....sekarang aku akan mengantarmu pulang..''ucap Damian dengan tegas. mereka pun keluar dari sana dengan wajah yang cerah...
*******************
Rumah Kediaman James Arkana...
Mobil berhenti di garasi namun tatapan Aleysa sedikit terkejut ketika melihat ada mobil papa Alex di rumahnya..untuk sesaat Aley menatap Damian...
''Mengapa ada mobil papa dirumah...''ucap Aleysa sungguh penasaran..
Saat itulah Damian menoleh dengan senyuman...sambil mengecup punggung tangan Aley ia pun tampak sangat yakin...
''Aku sengaja mengumpulkan orangtua kita Aley...''
''Untuk apa...''tanya Aleysa penasaran...
Damian menatap kerumah besar dan menghela nafas...
''Aku akan mengaku di hadapan mereka tentang apa yang terjadi di antara kita bahwa kita, telah tidur bersama..''
__ADS_1
Wajah Aleysa menjadi pucat...
''Damian...tidak..apa maksudmu kau sudah gila....'' desahnya menggeleng takut, matanya menjadi panas...