
Steve menjatuhkan tubuhnya di tanah ketika kata-kata Ana mampu menggetarkan jantungnya, sungguh Steve merasa bersalah ketika membayangkan anaknya mungkin akan merasakan hal yang sama dengannya jika dia pergi.
Masih teringat jelas di ingatan Steve kata-kata ibu panti asuhannya dulu, yang mengatakan jika dirinya di tinggalkan begitu saja di halaman panti Asuhan di tengah malam, suara tangisan malamnya mampu membangunkan para penghuni panti yang kala itu telah tertidur lelap, Steve memjamkan matanya sedih..bahkan sampai saat ini ia tak pernah tau dimana orang tua kandungnya dan mengapa mereka sampai melakukan itu kepadanya, luka itu bahkan masih menganga dengan lebar...
Ana mendekatinya dan menyentuh bahunya dengan lembut...
''Kau masih belum terlambat Steve...masih ada waktu untuk merubah semuanya...anakmu akan lahir sebentar lagi.''
Steve mengangkat wajahnya dan mendekati sosok Ana yang sedang menatapnya dengan lembut, pria itu berdiri dan menegakan tubuhnya ia tersenyum..
''Aku tak tahu hatimu terbuat dari apa Ana, walau kau tau aku dan Fera kami sudah melukaimu namun kau masih saja memaafkan kami.''
Ana tersenyum.....
''Anggaplah aku melakukannya demi anakkmu dan anakku.''
Steve menatap ke arah perut Ana yang masih terlihat rata, dahinya mengerut dengan senyuman....
''Ana...kau...''
''Aku hamil Steve...dan aku sangat bahagia...''
Steve tak mampu berhenti untuk mengucap syukur, yah...dengan semua yang pernah terjadi di antara mereka Steve bersyukur, Ana jatuh pada pria yang tepat, mencintainya dan juga kaya raya..dan pria itu tentu saja lebih baik darinya..
''Selamat Ana, dan aku harap kau selalu berbahagia...''bisik Steve mengulurkan tangan tanda perdamaian di antara mereka..
Ana mengangguk ketika hatinya menjadi lega sekarang, seakan beban hilang darinya, keduanya saling melemparkan senyum tulus..
''Fera sudah menyadari kesalahannya Steve, aku harap kalian memulai semua dari awal demi bayi kalian.....''
Steve menganggukan kepalanya dengan patuh.....
''Aku akan selalu mengingat semua perkataanmu Ana, dengarkan aku baik-baik Ana...jika kau membutuhkan bantuanku apa saja....maka jangan sungkan untuk menghubungiku...aku akan selalu siap untukmu..''
Steve memberikan kartu namanya dan Ana menerimanya dengan senyuman..
''Kau harus bersiap-siap jika suatu saat aku menelfonmu.'' goda Ana...
Steve memandang dengan serius...
''Jika itu tengah malampun aku akan datang dan menemuimu, aku menganggap kau adikku sekarang.'' ucap Steve berjanji.
Ana sungguh terharu mndengar semua perkataan Steve dan mengangguk dengan cepat......
''Baiklah aku harus pulang Steve, aku harus menemui suamiku dan mengabarkan jika aku hamil.''
Steve menganggukan kepalanya ikut bersyukur...
''Selamat Ana dan berbahagialah.....''ucap Steve dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Ana akhirnya tersenyum lalu lebih dahulu pamit meninggalkan Steve yang masih berdiri dan menatapnya sampai memasuki mobil.
''Ana...kau sudah dewasa sekarang...dan aku hanya bisa mendoakanmu agar bahagia.''
Steve lalu melangkah pergi, ia harus pamit dan segera pulang menemui Fera dan menyelesaikan masalah di antara mereka.
***********************************
Ana baru saja membuka pintu mobil lalu di hadapkan dengan sosok Hani yang menatapnya dengan kecemasan yang kentara...
''Ada apa dengan wajahmu Hani...''ucap Ana tampak sangat santai, berbanding terbalik dengan wajah Hani yang pucat pasi...
''Nyonya Ana....tu..tuan Arkana baru saja menelfon dan aaku...aaku.....''
Ana mengerutkan keningnya, ia menatap Hani yang mulai ketakutan..
''Apa yang terjadi.....katakan dengan jelas, aku sama sekali tak mengerti Hani...''
Hani menoleh dengan mata yang basah,...
''Tuan Arkana tampak sangat marah dan aku tidak tau apa yang terjadi dirumah nyonya, bahkan suara tuan Arkana terdengar seperti akan membunuhku...aku sangat takut nyoya...''
Ana merasa sedikit sesak nafas, anatar ingin tau dan ketakutan yang begitu kuat memeluknya...ia menatap Hani..
''Menurutmu apa yang terjadi, mengapa tuan Arkana marah...''
Hani gemetar memegang stir mobil, '' Kata pelayan disana keadaan sangat kacau, tuan Arkana menggila dan menghukum berat setiap pelayan yang di nilai gagal menjaga rumah dan mengawasi nyonya...'' jerit Hani sungguh ketakutan...
''Aku tak tau apa yang terjadi nyonya Ana, mengapa tuan Arkana melakukan semua itu.''
Mata Ana melebar dengan ekpresi lemas di seluruh tubuhnya, ia sedang hamil dan usia 3 bulan adalah rawan bagi bayinya, apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi kemarahan Arkana yang ia sendiri belum tau.. jemarinya terkepal dengan sangat kuat......
''Apakah itu mungkin Alex...''desah Ana menebak.
Hani menggeleng dengan tatapan polos, ia sama sekali tidak tau siapa yang berani melakukan itu kepada sang nyonya..
''Mungkinkah tuan Alex melakukannya nyonya..mungkinkah tuan Alex tega melakukan itu, sedangkan dia pasti sudah bisa membayangkan jika nyonya pasti akan mendapatkan amarah dari tuan Arkana...
Ana memejamkan matanya ketika ada pesan masuk dari Arkana...
Arkana
Pulang sekarang atau kau akan bertanggung jawab dengan hilangnya nyawa para pelayan ini...
Ana menghela nafas, lalu mencoba membalas pesan Arkana dengan cepat, takut pria itu akan marah lagi kepadanya.......
Anastasya
Maafkan aku Arkana, aku hampir sampai jadi hukum aku saja jangan mereka yang tidak berdaya....aku mohon..
__ADS_1
Airmata Ana menetes dengan ekpresi pasrah dan menyadari kenyataan itu membuat Hani menoleh tak rela jika sang nyonya terlihat menderita..
''Nyonya bagaimana jika kita pergi saja...aku akan membawa nyonya kepada tuan Alex, dia akan......''
''Hani...kau tidak mengerti, karna kau belum menikah...aku akan menghadapi suamiku apapun yang terjadi..dan aku tak akan menjadi pengecut...''
''Tapi nyonya...bagaimana jika kemarahan tuan Arkana akan menyakiti nyonya....'' jerit Hani sangat cemas....
''Kau tenang saja....aku ingin kau bersiap untuk sesuatu Hni, jika itu sampai terjadi maka kau...harus menolongku.''
Ana menatap mata Hani yang memerah oleh airmata, gadis muda itu mengangguk...
''Aku...akan melakukan apapun bahkan..nya....''
''Eiit...aku tidak meminta nyawamu Hani..''ucap Ana berusaha mencairkan suasana..
Hingga Hani menjadi sangat sedih......
''Ayo kita pulang......''bisik Ana seraya menghapus airmatanya...
Matanya terpejam membayangkan apa yang akan terjadi, sementara kedua jemarinya memeluk perutnya dengan gerakan melindungi...
Kau harus kuat anakku....demi ibu...gumam Ana memohon di dalam hatinya..
Mobil akhirnya melaju meninggalkan lokasi panti asuhan dan pulang menuju rumah...
Sepanjang perjalanan Ana hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, kedua tangannya masih melingkar erat di perutnya, semakin mendekati rumah..tubuhnya semakin tegang saja...
Ana berusaha menguatkan hatinya.............
Mobil akhirnya memasuki kawasan Mansion yang berpagar tinggi itu, lalu tenggelam di baliknya.
Dari jauh tampak rumah dalam keadaan hening,...Hani lalu memarkirkan kendaraannya di garasi dan menatap sang nyonya...
''Nyonya Ana.....''
''Apakah kau bisa menungguku disini Hani...dan tolong jangan pernah menghubungi tuan Alex.''
Hani mengangguk dengan susah payah...
''Baik nyonya Ana...''
''Bagus.....aku pergi...''
**********************************
Ana membeku ketika memasuki ruang tamu, airmatanya menetes melihat hampir semua lantai di penuh dengan fotonya dan Alex, juga ada bukti percapakan mereka melalui pesan singkat yang sudah di print dengan sangat banyak......
Mata Ana jatuh pada sosok Arkan yang menatapnya dengan sangat dingin...pria itu berdiri dan mendekatinya...
__ADS_1
''Kau sudah pulang Ana......'' senyumnya dengan tatapan membunuh yang kentara..
''Arkana....''