Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Aku Harus Bagaimana


__ADS_3

Ana melangkah seolah kehilangan jiwa, tatapannya kosong dan terus melangkah menjauhi rumah besar itu, hingga tanpa sadar Ana melewati mobil Hani, gadis itu membeku melihat sosok sang nyonya melangkah melewatinya begitu saja...


Airmata Hani menetes, lalu membuka pintu mobil dan melangkah mengikuti sang nyonya yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu, dan meraih lengannya sekaligus menarik Ana dari lamunan..


''Arrggghhh....''


Ana menoleh kepada sosok Hani yang sedang menatapnya sedih, namun gadis itu mencoba menundukan kepalanya ia tak ingin menambah kesedihan sang nyonya...


''Nyonya Ana....''


Ana tersenyum di wajah pucatnya lalu membalas genggaman tangan Hani dengan pandangan redup...


''Hani.....tolong...'' bisik Ana tak banyak kata...karna rasa sakitnya sudah tergambar jelas di wajahnya..hingga Hani menganggukan kepalanya dengan patuh...


''Ikut aku nyonya, kau bisa percaya kepadaku..'' balas Hani dengan tatapan teguh yang membuat Ana menjadi lega....


Membiarkan Hani membimbingnya masuk ke mobil, namun belum sampai ia masuk ke mobil, Ana membalikan tubuhnya menatap sekali lagi ke arah rumah besar dan kembali merasa sedih luar biasa....


Selamat tinggal Arkana, aku harap kau bahagia..tolong maafkan aku.... bisik Ana menahan perih sebelum masuk ke dalam mobil...


Tanpa di ketahui Ana bahwa Arkana sedang menatapnya dari atas balkon...memandang wajah pucat itu ketika masuk ke mobil...Arkana juga tak melewatkan airmata di wajah Ana sebelum wanita itu pergi...


Airmata Arkana jatuh juga...jemarinya terkepal memegang erat pinggiran balkon dengan rasa sesak di dada. bisakah..ia hidup tanpa Ana....


Oh...Ana..mengapa setelah sekian lama kau tak pernah bisa mencintaiku...Arkana tersungkur dan menyandarkan tubuhnya di balkon dan memejamkan matanya ketika rasa sakit itu datang bertubi-tubi kepadanya..mengapa aku harus bersikap kasar untuk membuatmu patuh, tak bisakah kau memberikan hatimu...


Mata Arkana terpejam dengan rasa sakit di hatinya, kini dia benar-benar sendirian..kini bukan hanya Katren, tapi waniat yang di cintainya Ana juga meninggalkannya..


Ana....semogha kau bahagia bersama pria yang kau cintai....gumam Arkana dalam hatinya....


*******************************************


Hani menatap iba ketika melihat nyonya Ana tertidur pulas, mereka menyewa Hotel dan nyonya Ana memintanya untuk tidak memberi tau apapun tentangnya kepada siapapun termasuk tuan Alex, karna itu Ana memilih mematikan ponselnya untuk menghindari panggilan tuan Alex..


Gadis itu kemudian mulai merapikan barang-barang Ana, tak ada apapun dalam tas milik sang nyonya, hati Hani bergetar..itu artinya nyonya pergi tidak membawa apapun, hanya beberapa kartu kredit dan ATM yang di buat tuan Arkana, dan ia bisa tebak jika nyonya pasti tak akan memakai uang tuan Arkana lagi...

__ADS_1


Hani mengerutkan kening, kebetulan ia punya sedikit uang yang baru saja ia tarik, tidak banyak..hanya 10 juta, Hani lalu menyelipkan uang tunai itu dalam tas milik Ana dan disaat itulah ia menemukan sesuatu yang membuat ekpresinya begitu terkejut...


Jemari Hani bergetar ketika memegang sebuah buku kontrol kehamilan, disitu tertulis nama Anastasya Arkana, airmata Hani menetes..kemudian menatap wajah pucat sang nyonya yang terlihat sangat lelah..


''Nyonya,...sedang hamil.'' desah Hani dengan rasa sedih luar biasa...


''Tidak...mengapa nyonya pergi dan membawa bayi dalam kandungannya...''


Hani menggeleng....lalu meraih salah satu foto USG dan menyimpannya, yah...tentu Hani tak mau sang nyonya menderita..yang di liat Hani jika selama ini nyonya mencintai tuan Arkana..bagaimana bisa nyonya rela pergi...?


Hani sungguh tak mengerti.........namun memilih menyimpan semua pertanyaannya di dalam pikirannya sendiri...


''Arkana...bisakah..kau memaafkan aku...bisakah...kau tau betapa menyakitkan jauh darimu...''


Ana mulai mengigau di dalam tidurnya dan Hani tak luput merekam semua yang di ucapkan Ana....


''Aku mencintaimu Arkana...aku mencintaimu...bisakah kau percaya kepadaku sekali ini saja...bisakah...''


Airmata bahkan menetes ketika Ana masih menutup matanya, suara sesegukan yang penuh derita begitu menyakitkan di dengar telinga siapapun yang mendengarnya termasuk Hani...


**************************************************


Arkana membuka matanya ketika hari sudah siang, dan mendapatinya sedang terbaring asal di lantai kamar...


''Sayang...Ana....apakah kau sudah selesai bersiap, kita akan sarapan bersama..'' bisik Arkana masih menutup matanya...tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya...entah mengapa..


Hening..............tak ada jawaban sehingga Arkana tiba-tiba membuka matanya...


Deg!!!!!!


Pria itu memejamkan matanya ketika membayangkan jika ANa sudah pergi...Ana telah ia usir kemarin dan Ana pasti sedang ada di pelukan Alex...


Mau tak mau rasa sakit dan cemburu itu membakarnya dengan cepat, Arkana lalu bangun dari sana dan mengeraskan tatapannya. ia sungguh frustasi karna di setiap kamar ini hanya menyisakan bayangan Ana dalam berbagai kegiatan, dan itu sangat menyiksa Arkana...


''Cukup..kau tak bisa menguasai hidupku wanita murahan, kau pikir aku akan sengsara karna kau meningglkanku hah..kau pikir aku tak bisa mendapatkan yang lebih baik darimu....Ana....pergilah jauh dari pikiranku....pergi..'' hardik Arkana dengan ketegasan yang sungguh-sungguh..

__ADS_1


Pagi itu ruangan makan terasa tegang seperti senar gitar yang hampir putus, semua pelayan tampak ketakutan karna hari ini semua makanan yang di hidangkan selalu salah di mata Arkana, pria itu bahkan melempar gelas ke arah salah satu pelayan karna terlmbat membawakan sarapan untuknya..


Pada akhirnya Arkana tak bisa makan sedikitpun di rumahnya dan memilih pergi dari rumah atau dia akan menjadi gila karna bayangan Ana ada dimana-mana..


Arkana sungguh merasa hampa sekaligus patah hati.


*************************************************


Ana sudah selesai membersihkan dirinya sambil menyisir rambutnya Ana menatap wajahnya yang sudah lebih baik, wajahnya sudah kemerahan...Hani benar-benar memperhatikan semua kebutuhannya, dari vitamin dan beberapa makanan bergizi...wajah Ana kembali sedih, ia terbangun pagi sekali karna terbiasa, dan baru sadar jika ia tak berada di rumah lagi semua telah selesai sekarang.


Aku harus bagaimana sekarang....? gumam Ana di dalam hatinya...


Ana menatap ke arah sosok Hani ketika ia membuka pintu kamar,...


''Nyonya Ana selamat pagi, aku membawakan sarapan...''


Ana membeku melihat roti lapis yang di bawa Hani untuknya, mau tak mau matanya menjadi panas..bagaimana sarapan Arkana, apakah dia makan dengan baik..?


''Nyonya makanlah dulu..selagi masih panas..''


''Terimakasih Hani duduklah kita makan bersama..''ucap Ana lembut..


Hani pun duduk di hadapan Ana, mereka makan saling bercerita..


''Hani aku ingin setelah kita makan kita berpisah disini saja."


Hani membeku...ia kemudian menatap Ana dengan dalam..


"Kemana nyonya akan pergi..apakah nyonya akan menyerah kepada pernikahan nyonya.'' ucap Hani dengan rasa penasaran yang tinggi tentu saja ia tau jika nyonya Ana sedang hamil..


Ana tersenyum ketika membaca pikiran Hani yang polos,


"Hani...jaga dirimu dan terimakasih..." Ucap Ana dengan mata yang basah.


Hani hanya menundukan kepalanya dengan patuh, sembari airmatanya juga menetes....

__ADS_1


__ADS_2