
Mobil mewah itu akhirnya terparkir di sebuah klinik kandungan terpencil di pinggiran kota, Ana memilih tempat ini agar ia bisa leluasa dan tak ada yang mengenalnya, hari ini dia datang bersama Hani...
Hani yang mengemudikan mobil, Ana kemudian melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Hani..
''Tunggulah disini Hani...''
''Tapi apakah nyonya tidak apa-apa jika sendirian ke dalam..''
ANa tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan,
''Tidak..aku baik-baik saja Hani, tunggu aku sebentar saja..'' bisik Ana dengan senyuman manis di wajahnya...
Hani menganggukan kepala menyerah dan menunggu disana, sambil menatap sang nyonya yang berjalan pelan menuju klinik yang sepi itu...
**********************************
Akhirnya setelah beberapa menit menunggui, nama Ana akhirnya di panggil masuk setelah sebelumnya urinnya di periksa. jemari Ana gemetar saling bertautan, ia tak pernah setakut ini sebelumnya..sampai untuk melangkah saja Ana kehilangan kekuatannya..
Ceklek.........
Pintu terbuka dan tatapan Ana langsung di hadapkan dengan sosok dokter perempuan yang berusia sekitar 50an tersenyum kepadanya..
''Selamat datang Nyonya Anastasia...'' sapanya dengan sangat ramah dan Ana tersenyum..
''Terimakasih dokter Reni.'' balas Ana sopan..
Ana duduk di hadapan dokter berkacamata itu yang sedari tadi tersenyum kepadanya..
''Dokter.....bagaimana..''
''Jadi hasil tespek anda positif nyonya, anda sedang hamil.'' ucap sang dokter dengan lembut..
Deg,.................
Jatung Ana berpacuu dengan kecang, rasanya seluruh dunianya runtuh saat itu juga,...
Hamil....
Hamil....
Hamil.....
''Hamil dokter, aa..aku benar benar hamil..'' ulang Ana dengan bibir yang gemetar...
''Benar sekali nyonya Ana, usianya sekitar beberapa minggu jadi kita akan memastikannya nyonya Ana..''
''Memastikannya.'' ulang Ana mengerti ketika melihat ranjang tempat melakukan USG,
''Yah.....bisakah nyonya berbaring sebentar..kita akan melihat sang janin di layar..kita akan melakukan USG..''
__ADS_1
Ana membeku sesaat namun ia tak membantah kata-kata sang dokter biar bagaimanapun ini adalah anaknya...
Ana bangkit dari tempat tidur seolah telah kehilangan separuh jiwa...wanita itu berbaring disana dan dokter mulai mengoleskan Gel di perutnya lalu menggunakan Alat dan menyentuh permukaan perutnya lalu Dokter Reni memintanya menatap di layar..
Ana gemetar ketika tampak di layar sebuah makluk kecil berbentuk bulat, matanya menjadi panas dan airmata menetes di sudut matanya..
''Dia sudah memasuki usia kehamilan 3 bulan, kau sudah bisa mendengar detak jantungnya...apa kau mau mendengarnya nyonya..''
Ana mengangguk...
''Tentu saja dokter...''
Deg!.....Deg!......Deg!.............
Detak jantung mungil itu membuat tangisan Ana pecah seketika itu juga, airmatanya menggenang awalnya pelan kemudian menjadi tangisan panjang...dokter pun mengerti dan mulai menenangkan Ana..
''Apa kau terlalu senang nyonya Ana...aku ikut senang.''bisik sang dokter mengerti..
''Ini seperti mimpi bagiku dokter.'' Isak Ana mencoba tenang.
''Kau Kana mulai terbiasa menyadari kehadirannya di dalam dirimu nyonya Ana.''
Ana mengangguk lalu menghela nafas...
Hamil...bagaimana bisa ia tak berpikir sebelumnya..? kehamilan ini sama sekali di luar dugaan, ia mengandung anak Arkana di saat dia akan pergi bersama Alex, bagaimana bisa...?
Sudah 3 bulan anaknya tumbuh dan merasakan semua kesedihan dan mungkin anaknya menjadi saksi betapa ibunya bersiasat jahat untuk meninggalkan ayahnya...sungguh Ana merasa sedikit bersalah, namun apakah Arkana akan senang dengan berita ini, suaminya pasti akan bahagia bukan.. senyum Ana terbit di wajahnya..walau ia sedikit ragu.
''Bagaimana mungkin aku tidak merasakannya dokter jika aku sedang hamil.''
Ana turun dari ranjang setelah pemeriksaan di lakukan...dan dokter memberikan foto hasil USG4 dimensi yang memperlihatkan betapa bayi itu sudah mulai terlihat tumbuh dengan baik.
Sambil menuliskan resep sang dokter lalu menatap Ana...
''Beberapa kehamilan memang tidak terdeteksi, kau bertubuh kecil nyonya dan bayimu sama sekali tidak menyusahkanmu di awal kehamilan itu bagus..dia anak yang pintar.''
Ana mengangguk bangga sambil mengelus perutnya dengan sayang,....
''Apakah dia sehat dokter.'' lirik Ana penasaran, bagaimanapun ia calon ibu baru..dan ia sama sekali tak tau tentang kehamilan di tambah lagi usianya masih muda.. namun Ana berjanji akan mencari tau segalanya dari sekarang...
''Tentu dia tumbuh dengan baik.''
''Aku senang sekali.'' balas Ana dengan antusias..
''Lain kali datanglah bersama suamimu nyonya, agar dia bisa mendengar detak jantung anaknya..''
Deg..........
Ana menutup senyumnya seketika.........
__ADS_1
''Baik dokter aku akan mengingat semua perkataanmu,.''
Ana berdiri dengan langkah yang ringan melangkah keluar dengan senyuman, yah...dia hamil...namun apakah Arkana akan benar-benar senang? lalu bagaimana dengan Alex..bagaimana caranya memberitahu Alex tentang ini semua...? Ale xakan sangat marah jika dia ternyata sedang hamil....
Wajah Ana kembali mendung...ia merasa bingung saat ini...
Baru saja ingin melangkah ia terkejut dengan kehadiran seseorang di hadapannya...berdiri dengan perut yang lebih besar darinya...
''Fera...''
Wanita itu terlihat sangat marah kepadanya, ada apa...bukankah semuanya sudah selesai...??
''Kau hamil yah...bayi siapa Ana,...bayi tuan Alex ataukah suamimu tuan Arkana...'' desis Fera menyindir dirinya...
Ana mengepalkan tangannya, ia harus bisa mengendalikan keadaan, lebih baik dia pergi saja atau wanita ini akan membuatnya hilang kendali, ia sedang hamil sekarang dan tidak ingin menambah masalah..,
Ana menghindari Fera dengan melangkah melewatinya, namun bukan Fera jika wanita itu menyerah begitu saja.
''Berhenti Ana...'' jerit Fera dengan kemarahan yang menguar sekarang.
''Aku tidak mau mencari masalah lagi denganmu Fera bukankah di antara kita sudah selesai...aku harap jangan saling mengganggu..apa kau mengerti.''
Fera tertawa kesal...
''Wah...setelah semua yang suamimu lakukan kepada keluargaku kau pikir aku akan tenang Ana..kau pikir aku akan diam saja..''
Ana sangat terkejut, membalikan tubuhnya dan menatap Fera dengan tajam..
''Katakan apa maksudmu Fera...apa yang telah di lakukan suamiku...kau benar-benar sudah gila Fera...jika kau sekali lagi..''
''Suamimu...tuan Arkana menghancurkan ini perusahan keluargaku, dan kau tau akhirnya apa...perusahaan yang kami bangun sejak turun temurun hancur.....jerit Fera marah, paman menjadi hampir gila karnanya, dan memutuskan pergi ke luar negri tanpa perduli lagi kepadaku, dan Steve membawa lari semua uang kami dan menceraikan aku...kau lihat mengapa aku bisa datang ke klinik terpencil ini....kau tau mengapa...? karna aku telah kehilangan segalanya....aku kehilangan semuanya Ana, dan kau pikir aku akan membiarkan kau bahagia begitu...dasar wanita pembawa sial dalam kehidupanku...''
Tubuh Ana bergetar hebat mendengar semua yang terjadi...airmatanya menetes tak ingin percaya..tidak mungkin Arkana melakukannya..tidak mungkin bukan...?
''Fera....''
''Hidupku sekarang menjadi gelap, aku bahkan sama sekali tidak punya uang untuk melahirkan bayi ini...''
''Fera...aku mohon tenanglah dulu aku bisa....''
''Bisa apa...kau mau menjadi pahlawan di mataku begitu....''
Fera mendekat dengan mata tajam,.....
''Aku tidak akan menerima apapun dari gadis miskin sepertimu tidak...Ana..''
Ana menghela nafasnya....
''Lalu apa yang kau inginkan Fera...'' jerit Ana menantang...
__ADS_1
Fera mengepalkan tangannya dengan kuat...