
Ana duduk di dalam ruang kerjanya, kepalanya terasa nyeri yah...entah mengapa sejak Arkana menghukum Jesika ia selalu merasa bersalah dan tak bisa berhenti menyesal, dendamnya yang membara seolah sirna di ganti rasa sakit karna membuat Jesika harus membayar mahal atas perbuatannya..
Ana memejamkan kedua matanya, dimanakah ia bisa merasakan sedikit kedamaian..? rasanya hidupnya menjadi lebih tidak tenang sekarang..
Bunyi bel di pintu membuat Ana mengangkat wajahnya..lalu menekan tombol dan pintu ruangannya terbuka, Hani muncul disana dengan kerutan di dahinya, ia bisa melihat sang nyonya tampak tersiksa. itu tergambar jelas di matanya, Hani menjadi khawatir.
''Minum dulu nyonya Ana...''
Hani meletakan cangkir emas berisi teh mint atas permintaan Ana, asam lambungnya naik dan ia jadi sering mual..Ana tersenyum dan mengambil minumannya lalu meneguknya dan menjadi lega, tak lupa meminta Hani duduk, karna ia butuh di dengar dan Hani adalah pendengarnya yang setia.
Ana menatap gadis cantik dan muda di depannya ini dan tak berhenti bersyukur, dengan semua yang ia alami ia bahagia memiliki Hani di sisihnya, ia sudah menganggap Hani adik kandungnya sendiri..Hani adalah pendengar setianya, 2 tahun lebih muda darinya usianya saat ini 17 tahun. Hani sangat dewasa dalam hal bicara dan selalu melindungi Ana dalam keadaan apapun termasuk di Hotel ketika ia dan Alex berada di dalam kamar, kalau bukan bantuan Hani maka mereka akan tertangkap
''Jangan terlalu memaksakan diri jika nyonya sedang sakit.''
Ana kembali meneguk teh mint dengan rasa nikmat,
''Aku tak pernah bisa mendapatkan ketenangan dirumah Hani, tuan Arkana...aku merasa tertekan dan menjadi benci kepadanya..''
''Benci.'' ulang Hani terkejut..
Ana mengangguk sembari tersenyum...
''Berada di dekatnya membuat aku kesal dan marah, yah mungkin saja karna rasa bersalahku pada Jesika..''
''Setiap manusia akan belajar dari kesalahannya dan kuharap nyonya Jesika belajar untuk menghormati orang lain dan tidak memandang kasta lagi.''
Ana meletakan cangkir di meja dan matanya menerawang gaun yang ia tahan karna rasa kesalnya pada Fera...
''Apakah dari pihak nyonya Fera sudah menghubungimu Hani.''
''Dia meminta bertemu dengan pemilik butik siang ini...tapi menyadari kondisi nyonya aku pikir...''
__ADS_1
''Tidak Hani...aku tidak apa-apa, rasa mualku sudah menghilang dan aku baik-baik saja.''
Ana berusaha meyakinkan Hani lagi pula ia memang ingin bertemu dengan Fera dan mengakhiri semuanya, ia tak ingin membalaskan dendamnya lagi karna cukup baginya melihat Arkana menghukum Jesika dengan kejam, kali ini jika Arkana tau Fera masih menyakitinya atau menyinggungnya maka Arkana akan sangat marah, dan Ana tak ingin itu terjadi..biar bagaimanapun Fera penah menjadi sahabatnya dulu, Ana bertekad untuk mengampuni masa lalunya...
''Aku akan mendampingi anda nyonya.''
''Tentu kau harus selalu disisihku Hani, tak ada yang bisa aku percaya selain dirimu.''
Hani sungguh terharu...
''Nyonya Ana..sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu nyonya aku merasa tak adil jika nyonya tidak mengetahui asalku sebenarnya..''
Ana menyandarkan tubuhnya di sofa santainya dan tertegun, sejak kapan Hani mempunyai rahasia darinya bukankah selama ini Hani selalu jujur,
Rupanya Hani bisa membaca arti dari tatapan Ana dan ia semakin bertekad tidak akan menyembunyikan apapun dari nyonya Ana, selama ini nyonya Ana memperlakukannya lebih dari seorang pelayan dan justru menempatkan dirinya sebagai saudara perempuan, Hani tak tahan untuk menyembunyikan rahasia ini terlalu lama.
''Katakan Hani.''
Hani lalu mengeluarkan sebuah foto kecil yang selalu ia bawa di dalam dompet dan menyerahkanya kepada Ana...
Jemari Ana sampai gemetar karna terlalu syok...foto itu terjatuh dari dalam genggaman, Ana kehilangan tenaga..matanya menjadi basah...
''Fania....apakah kau dan Fania adalah.....''
Hani menyadari bahwa apa yang di alami nyonya Ana adalah karna ulah kakaknya...ia pun menguatkan hatinya ketika ia mungkin akan menjadi sasaran amarah Ana, atau sebuah hukuman Hani sudah siap, ia rela jika harus menanggung hukuman atas apa yang di perbuat kakaknya..
Airmata Hani menetes.......
''Maafkan perbuatan kak Fania nyonya Ana.''
Ana meneteskan airmatanya ketika rasa sakit kembali hadir seolah menertawainya, betapa ia sangat percaya kepada Fania, bahkan mereka sudah seperti saudara, teganya Fania menipu Ana dan menyerahkan Ana kepada Arkana dan akhirnya hidupnya menjadi hancur...sampai sekarang Ana bahkan masih merasakan penyesalan yang dalam, mengapa Fania melakukannya apakah semua karna uang..bukankah mereka sudah mulai hidup lebih baik.? Ana mengepalkan tangannya yang gemetar..
__ADS_1
''Tak taukah kau apa yang aku alami Hani karna ulah kakakmu..''
''Dia menceritakan segalanya kepadaku, dia..menceritakan betapa menyesal dirinya ketika melakukan itu bahwa dia terpaksa..''
Ana semakin merasakan sakit kerna penghianatan orang sekelilingnya..
''Apa karna uang, apakah dia sudah mendapatkan yang ia mau.''desis Ana sinis..pandangannya pada Hani berubah dalam sekejap, rasa muak mulai tumbuh di dalam hatinya.
Hani menjatuhkan tubuhnya di hadapan Ana dan menundukan kepalanya, sedangkan Ana hanya memalingkan wajahnya tak ingin menatap Hani lagi...
''Aku akan menjelaskan kepadamu nyonya, sebenarnya alasan kakak...karna...''
Ana hanya menatapnya dengan sorot mata yang hancur sungguh ia tak pernah menyangka jika Hani yang ia percaya ternyata adalah adik dari mantan sahabatnya yang menjerumuskannya pada Arkana, Ana benar-benar merasakan sendirian sekarang.
''Kau tak perlu mengatakan alasannya lagi Hani..bukankah apapun alasannya semua tak akan berubah..? kau lihat aku sekarang...? karna perbuatan kakakmu aku hancur sekarang..aku bukan hanya kehilangan hidupku, aku kehilangan kekasihku aku kehilangan segalanya...tak ada lagi yang tersiksa di dalam diriku selain ragaku yang sudah mati rasa...aku benci Fania aku membencinya...termasuk keturunannya...'' airmata Ana menetes seolah tidak pernah habis...
Ana sungguh terluka....
''Nyonya Ana maafkan aku.......''
Ana mengeraskan tatapannya..
''Apakah kau bekerja untuk tuan Arkana lagi, aapa kalian berdua menjadi penjilatnya untuk memata-mataiku..''jerit Ana dengan murka..
Hani menggeleng tentu saja tidak, ia tak pernah bekerja untuk tuan Arkana, malah ia ingin membantu Ana kembali kepada tuan Alex, itulah satu-satu tujuannya berada di dekat nyonya Ana...
''Nyonya dengarkan aku...aku tak pernah menjadi mata-mata tuan Arkana tidak.....''
Ana yang memang sedang di landa rasa sakit bertubi-tubi bangkit dari tempat duduknya berada lebih lama di dekat Hani membuatnya semakin terluka..
Ana menurunkan pandangan kepada Hani yang masih berlutut di hadapannya..
__ADS_1
''Pergilah dari sini, aku sungguh tak ingin melampiaskan amarahku kepadamu Hani...pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi..''
Ana lalu melangkah keluar ruangannya meninggalkan Hani yang menangis..