
Ramon mendekati Aira dan hendak memegangnya namun gadis itu meronta sekuat tenaga hingga pria itu bergerak mundur...
Rosi terlihat sangat marah dan menatap Airna dengan tajam...
''Kau...''
''Jangan pernah mengusirku dari rumahku sendiri ibu...''
Entah dari mana datangnya keberanian Aira namun untuk saat ini dia tak akan pernah mundur dan kalah di hadapan wanita ini..yah...tidak mungkin ia menyerah dan mati, tidak....Aira akan mempertahankan nyawanya..
''Kau sedang melawanku..''tatap Rosi mendekat, melihat darah dari sudut bibir Aira ia kemudian tertawa....
Keduanya bertatapan tajam........
''Apakah aku harus turun tangan untuk membunuhmu lebih dahulu...baru kau akan pergi..'' lirik Rosi dengan tajam.
Aira mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap mata sang ibu tiri yang menyeramkan, percayalah..kau akan lebih suka melihat hantu dari pada melihat ibu Rosi..
''Aku tak ingin mati namun, bagaimana jika kau membiarkan aku pergi saja...aku akan menghilang dan orang lain akan berpikir aku akan mati....aku akan membunuh identitasku namun tidak diriku...''
Aira mencoba memberi penawaran meski ia tau semua tak mudah, ia harus berhati-hati....
''Jangan coba menawar denganku Aira, kau sama sekali tidak punya hak...untuk memutuskan...'' lantang Rosi dengan mata memerah...
Aira tersenyum dingin...mengepalkan tangannya dengan kuat, yah...mungkin karna wanita ini ingin membunuhnya lalu menjadikan putri kandungnya sebagai pewaris...walau Aira sedikit penakut namun bukan berarti ia bodoh...
''Bagaimana dengan hutangmu dalam jumlah banyak di bandar judi itu...karna itulah kau ingin menikankan aku dengannya bukan...''
''Shhiiitt......'' desis Rosi kesal...
''Dengarkan aku ibu tiri, bagaimana jika kau membiarkan aku pergi dan semua warisan papa atas nama kak Nela...''
Rosi terdiam......
Yah....ia dan putrinya akan mendapatkan semua ini...ia tak akan pernah menunda...Rosi menoleh dengan tertarik, matanya berbinar membayangkan akan menjadi orang kaya, ia dan ayah Aira sudah menikah lama...namun pria tua bangka itu sama sekali tidak pernah menyinggung tentang warisan di depannya, tentu saja sudah berbagai cara Rosi lakukan untuk merayu namun suaminya hanya membelikannya beberapa properti atas namanya dan Nela, tapi bukan hanya itu yang Rosi mau...ia ingin semua harta milik Aira jatuh ke tangan putrinya..dan penawaran Aira sungguh menggiurkan, ia yakin tua bangka itu sudah memindahkan asetnya atas nama Aira sang putri kandung...
Sial...jika bukan karna harta, Rosi pasti sudah melenyapkan ayah Aira,...namun dia sadar pewaris sesungguhnya adalah Aira, percuma mengotori tangannya demi membunuh tua bangka itu..sekarang Aira menyerah, bukankah itu lebih baik...?? meski ia harus tetap membunuh Aira setelah mendapatkan semua harta mereka,...
''Baiklah...aku setuju Aira...''
Aira tersenyum...
''Malam ini aku akan pergi...pastikan kau tidak akan pernah menghianatiku ibu tiri...''
__ADS_1
Aira lalu melangkah menuju kamar sedangkan Ramon mendekati wanita itu...
''Lalu kita harus melakukan apa...''
Rosi tersenyum jahat...
''Malam ini juga kau ikuti dia dan tembak dia sampai mati, lalu pergilah yang jauh...dan tunggu kabar dariku...''
''Kau akan tetap membunuhnya....''ucap Ramon sungguh terkejut..
Rosi menoleh dan menaikan sudut bibirnya....mendekati Ramon dan bersedekap...
''Aku melakukan semua ini demi putri kita Nela...apa kau tidak mau melihatnya bahagia...'' ancam Rosi tersenyum..
Dan kata-kata itu adalah kelemahan Roman, pria itu lalu mengangguk dengan patuh..ia akan melakukan apapun demi Nela, walaupun gadis itu malu mengakuinya sebagai Ayah...
***************************************
Aira membuka pintu kamarnya dengan hati berdebar, lalu melangkah menuju sebuah dinding rahasia berisi seluruh aset kekayaan milikknya yang telah di wariskan ayah sebelum ayah menikahi ibu tirinya...
Syukurlah ayah melakukan itu sebelum Rosi, wanita licik itu masuk dan menghancurkan hidup mereka...Aira lalu meraih seluruh berkas dan uang tunai serta seluruh perhiasan warisan sang ibu lalu di taruh di dalam tas milikknya yang sudah terlihat usang, Aira tidak ingin ibu tiri curiga ada barang berharga dalam tas usang ini...
Setelah mengamankan asetnya, Aira lalu mengambil foto keluarganya, hanya ada gambar ibu kandungnya, ayah serta dirinya..lalu memasukannya ke dalam tas...
Gadis itu lalu bersiap siap pergi, ia tau benar nyawanya sedang terancam, Aira sangat hafal dengan sifat sang ibu tiri...
Setelah selesai bersiap-siap, gadis itu membuka pintu kamar dan menyadari sang ibu sudah menunggunya di bawah...
Aira memejamkan matanya dengan rasa takut...namun ia harus kuat atau wanita ular ini akan menang...
Aira akhirnya menyentuh tangga bawah dan menyadari jika mereka tersenyum aneh kepadanya...Rosi mulai bersikap baik....
''Ehm...lalu bagaimana dengan semua aset-asetmu Aira, aku hanya ingin memastikan....''
Aira tersenyum lalu mendekati wanita yang serakah itu dan mendekatkan wajahnya...
''Aku sudah menelfon pengacaraku dia akan datang besok pagi dan meminta tanda tangan ibu dan Nela...''
''Bagaimana kalau kau membohongiku...'' tatap Rosi tak puas..
''Ibu, aku akan ke rumah pengacaraku sekarang, Nela bisa ikut denganku kalau ibu tidak percaya...''
Nela lalu mengangguk, jiwa serakahnya menyerupai sang ibu...
__ADS_1
''Aku dan Ramon akan mengikuti mobilmu...awas saja jika kau membohogi kami...''
Aira tersenyum.....
''Bagus.......ayo pergi...''
Aira melangkah dan menarik tas lusuhnya hingga Rosi mencibir, Aira sama sekali tidak punya aura sebagai orang kaya, yah...lagi pula dia akan mati sebentar lagi....Rosi tertawa dengan sangat dingin...lalu melangkah menuju kamar dan berbarig dengan santainya...
**************************************************
Aira duduk di mobil dengan gemetar, ia telah mengubungi anak buah kepercayaannya untuk membawa jenis mobil yang sama di jalan untuk mengecoh Nela dan Ramon yang mengikuti mereka dari dalam,
Gadis itu melajukan mobilnya sedikit kencang dari biasanya, aksi kebut-kebutanpun tak terelakan...seperti yang sudah di rencanakan, mobil yang sama tiba-tiba menghadang mobil Ramon dan Nela dan berhasil memecah konsentrasi mereka..
Nela menoleh geram...
''Sial...Aira, berhasil mengoceh kita...bisakah kau lebih cepat...?? bodoh sekali.'' brntak Nela dengan kasar,...
Ramon hanya mampu menghela nafas..menghadapi Nela sama seperti menghadapi Rosi, meski wajah Nela mirip dengannya namun sifatnya adalah mirip ibunya.,..Ramon melajukan mobilnya sambli mengeluarkan pistol ke arah mobil di depannya...
Dorrr!!!!!
Suara tembakan di ban mobil Aira membuat gadis itu meringis sial, sementara anak buahnya menghadang jalannya dan memberi isyarat ia segera melarikan mobilnya entah itu berbelok..agar Ramon dan Nela tidak curiga...
Aira semakin panik ketika mobilnya hilang keseimbangan sementara mobil itu mulai pelan...
mata Aira berkeliling memikirkan cara agar terbebas...dan ketika ia lewat dari pusat perbelanjaan besar matanya menangkap seorang wanita yang hendak masuk ke dalam mobil mewahnya...
Tanpa berpikir Aira memarkir mobilnya di sisi jalan yang sedikit gelap dan keluar dari sana dengan mengendap-endap...setelah di rasa aman, gadis itu melompat mendekati mobil wanita itu dan masuk ke dalam bangku penumpang....yah...ia harus bisa menumpang mobil secara acak, lalu membawanya pergi..
Aira masih merinding ketika mengintip dari jendela mobil, Nela dan Ramon mendekati mobilnya, gadis itu tersenyum...
Kalian tidak akan bisa menemukanku...........desis Aira menjadi lega...
Sementara........
Ana mendekati pintu mobil setelah memastikan semua barang-barang sudah di naikan para karyawan swalayan..
Ana membuka pintu mobil dan tersenyum, betapa senangnya ia bisa berbelanja sendiri dan para pria yang menjaga baby Aleysa...
Mobil itu lalu meninggalkan lokasi swalayan dengan cepat....
*********************************
__ADS_1
''Ramon kau bodoh sekali..mengapa kau malah kehilangannya...kau memang selalu tidak berguna...'' teriak Nela dengan geram...
Ramon hanya tertunduk lelah...yah, sekali lagi Nela menunjukan sikap kurang ajar kepadanya.......