
Damian mendekat namun Aley menjadi histeris hingga Mark harus kembali menghalangi pandangan Damian dan kini mereka saling menatap...
''Apaakah kau tidak mengerti jika dia takut melihatmu...'' tatap Mark dengan tajam...
''Aku tunangannya dia harus terbiasa melihatku meski sekarang dia tak ingat apapun, dan mengapa kau terkesan menghalangi kami..''
Mark tersenyum kesal...
''Kau sangat keras kepala, bagaimana jika dia pingsan lagi jika kau terus memaksa...ada banyak hari-hari di depan...kau bisa menggunakannya sepuas hatimu tapi tidak sekarang karna Aley masih di dalam perawatanku...'' ucap Mark tajam..
Damian menggeleng tegas...
''Periksa dia dan aku akan menghindar..namun setelah kau menyelesaikan tugasmu dokter Mark maka tinggalkan ruangan ini..biarkan aku bersama nya...dia milikku...milik Damian....''
Mark sungguh kesal....menghadapi Damian harus menggunakan ekstra kesabaran...ia pun mengalah karna tak ingin membuat keributan disni....
Ketika Aley di periksa, maka Damian menyingkir di jauh di dekat pintu namun, setelah Aley selesai di periksa...
Damian mendekat.....
Hingga matanya bertatapan dengan mata gelap milik Mark....
''Kau sudah selesai dokter, maka pergilah...''
Marka mengerang kesal namun ia harus meninggalkan ruangan ini karna ada pasien lain yang menunggunya..
Mark berbalik dan menatap wajah Aley yang pucat pasi....Aley menatap sang dokter memohon untuk tinggal...
''Dokter.....kumohon jangan tinggalkan aku.......aku takut..'' rintih Aley sesekali menatap Damian yang tak pernah melepasnya dalam tatapan...
Mark tersenyum....
''Aku akan segera kembali..........''
''Tidak....kau tidak perlu datang kesini karna kau bukan siapa-siapa...Aley...aku akan menemaninya sendiri...'' ucap Damian menaikan sebelah alisnya dengan tegas...
Mark mengepalkan tangannya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu meninggalkan Aley dan Damian yang sendirian disana....
Damian kembali menatap Aley dengan tajam...menelisik tatapan mata Aley yang bening...tatapan Aleysa seperti kertas putih yang tak kosong dan polos...
''Aley..........''
''Berhenti.......mengapa kau menatapku begitu, kau seperti ingin membunuhku saja,.....''
Damian sontak tertawa dan menatap mata Alea...
''Apakah kau sedang mengejekku....ya.....pergi kau...beruang kutub...'' desis Aleysa kesal..
Kata-kata beruang kutub membuat Damian membeku, seiring senyumnya yang menguap di bibirnya...
sembari menarik kursi....Damian mendekati Aley....
''Jangan dekat.......''
''Aku tidak dekat.........'' balas Damian lembut...
__ADS_1
Aleysa memegang kepalanya yang terasa sakit, hal itu membuat Damian merasa semakin bersalah....Aley kecelakaan karna dirinya, seharusnya ia menemani Aley....
''Apa kau mau minum atau makan sesuatu, hm...kau ingat beruang kutub...''
Aley mengangkat wajahnya dan menggeleng,...
''Ketika melihatmu aku merasa tatapanmu garang seperti beruang kutub.....''
''Hey aku tampan...mana mungkin kau menyamaiku seperti beruang..........''
Aley tersenyum...dan tak ada yang lebih membahagiakan Damian selain melihat sebyum Aleysa....
''Krna itu jangan marah-marah agar tidak seperti seekor beruang kutub...''
Damian mengangguk,....
''Baiklah aku minta maaf nona Aley........''
Aleysa menghela nafas...lalu meminta Damian memberikan minum untuknya...
''Siapa aku....aku benar-benar tak ingat..apakah kau sangat mengenalku....mengapa kau marah pada dokter tadi...''
''Aku adalah tunanganmu, bahkan kita hampir menikah jika saja kau tidak kecelakaan...''
Aley mengerutkan dahinya dengan senyuman sedih...
''Masa sih..aku bertunangan dengan beruang kutub...''
Damian lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kebersamaannya dari foto dan video......
''Pria ini tampan sekali, mengapa bukan dia saja yang menjadi tunanganku...''ucap Aley dengan polos....
Mata Damian melebar ketika Aley menunjuk sosok Dilan,...dadanya terasa panas sungguh ia tak mampu mengatakan apapun...
''Kau menyukai Dilan....'' ulang Damian mencoba sabar.....
Aley mengangguk polos..
''Dia mempunyai mata yang indah senyum yang tampan dan.....dia membawa aura positif..'' ucap Aleysa tersenyum...
Damian memejamkan matanya....
''Sebelum kau lupa ingatan dia selalu menjadi sasaran amarahmu Aley, kau bahkan terus memukulnya....''
''Mungkin saat itu aku sedang lupa ingatan............'' sambung Aleysa dengan senyum yang manis...
''Apa..........'' teriak Damian dengan murka.......
Wajah Aley yang polos kembali membuat Damian melemah..
''Oh...mengapa kau jadi begini...Aleysaku.........''
***************************
Aleysa memandang bingung pada ke empat pasang suami istri yang menatapnya dengan tangisan haru...
__ADS_1
Ana tak berhenti memeluk Aley, menciumi seluruh wajah putrinya hingga Aley hanya pasrah...mereka belum tau jika Aley mengalami amnesia,...bahkan mereka datang tiba-tiba ketika Damian menelfon dan mengabarkan Aley sudah sadar dan tidak mendengarkan penjelaan Damian lagi...
Damian duduk di sofa dan mengamati wajah ke empat orangtuanya yang sedang mengerubuni Aley dengan ucapan syukur, tanpa tau jika Aley sedang dalam masalah pada ingatannya.....Damian tak sabar melihat reaksi para orangtua ketika tau Alea lupa ingatan...
Aley melebarkan matanya ketika Ana, tak henti menciuminya dan menangis.......
''Bisakah kalian semua berhenti menangis....aku tidak mati....'' ucap Aley sedikit gerah..
Kata-kata itu sangat dingin dan mampu membuat mereka semua terkejut dan saling menatap, Aley yang biasanya sangat lembut dan manja ketika bicara mengapa sikapnya menjadi sedikit kasar...
Ana melirik ke arah Damian dan duduk dengan mata yang terpejam...apa yang sebenarnya terjadi...mengapa..Aleysa bersikap aneh..?
''Aley....kau tau kalau ibu............''
''Ibu...........''ulang Aley mengerutkan dahinya..
''Aleysa.........''
''Katakan di antara kalian berempat mana ibu dan ayah kandungku dan mana yang bukan....aku pusing sekali kalian mengerubuniku seperti ini...''
Ana hampir saja jatuh kalau saja Arkana tidak menahan tubuhnya...matanya melebar dengan sempurna..
''Aley..jangan bilang kalau kau......''
''Aku tidak ingat siapa kalian.,....maaf....'' desahnya mata polos....
''Apa............'' jerit Ana dengan histeris,..
Hal yang sama di alami Arkana dan juga Alex....yang benar saja Alex seakan gila menyadari dia menjadi salah satu orang yang tidak di kenal oleh Aleysa...
''Aley...........''
''Maaf,......aku benar-benar tidak ingat.....'' balas Aleysa dengan tatapan sedih...
Alex memegang dadanya yang terasa sesak...ia segera memanggil dokter untuk menjelaskan semuanya....saat itu juga..
Sementara Aleysa menatap ke arah Damian seraya mengulurkan tangan ke arahnya karna ia sungguh tak nyaman dengan tatapan ke empat orang dewasa ini kepadanya....
''Beruang kutub.......'' desah Aley dengan cemas.....
Melihat itu membuat mereka sedikit tenang, setidaknya Aley bisa dekat dengan Damian.....mereka berempat lalu sedikit menjauh sambil menunggu kedatangan dokter yang akan menjelaskan segalanya...
Damian tersenyum,....lalu memberikan ponsel miliknya agar Aleysa bisa melihat foto dan kebersamaan mereka agar Aley bisa tenang dan percaya kepadanya bahwa benar,....dia adalah tunangannya...
Damian duduk di penggir ranjang dan saat itulah Aleysa menelusupkan tangannya ke dalam jemari Damian...pria itu memalingkan wajahnya dan tersenyum...
Itu tandanya Aley mulai merasa nyaman dengannya.......pria itu tak berhenti bersyukur...tentu saja Aley adalah milikknya...
**************************
Day melangkah keluar dari kamar kapal milik Will, malam itu....Dayse sudah tidak punya harapan...tatapannya kosong dan ia melangkah menuju pinggir kapal....airmatanya menetes....semua sudah hancur....ia sudah tak punya keinginan untuk melanjutkan hidup....
Dayse menatap laut dalam dan gelap di hadapannya, Dayse merasa putus asa...ia lalu naik perlahan untuk segera menjatuhkan dirinya dari kapal dan mati..............
Namun sebuah tangan meraihnya dengan tepat waktu........
__ADS_1
Deg!!!!!