
Dilan dan Diza dan Damian sedang duduk di taman sementara Aley melangkah menuju rumah besar bermaksud untuk mengambil minuman dingin untuk calon suami dan juga adik-adiknya yang lain, langkah Aley terarah ke dapur yang memang langsung terhubung dengan ruang tamu dimana dia bisa melihat para orang tua ketika bicara,
Aley sedikit tersipu mana kala ia mendengar nama Damian di sebut,....berkali-kali namun senyum Aleysa berubah membeku ia memutuskan mendengar apa yang tengah di bicarakan orangtuanya..
Ruang Tamu....
Alex menatap ke arah, Ana dan Arkana..dengan tatapan tajam...
''Aku tak bisa mengatakan apapun lagi, tapi aku benar-benar tidak memprediksi jika Damian dan Aley akan melakukan hal di luar batas, aku harap kita bisa menyembuhkan gangguan kepribadian yang di alami Damian lebih dahulu....setelah dia benar-benar sembuh lalu kita akan menikahkan mereka..''
Arkana hanya menganggukan kepala.......
''Tapi kau bisa lihat Alex bahwa selama ini penyakitnya tidak kambuh....lagi pula dia mencintai Aley,..'' Arkana masih membela...
Hening.......
''Tidak kambuh bukan berarti semua sedang baik-baik saja....'' balas Alex masih khawatir, ia sangat mencintai Aley dan takut jika Damian akan menyakitinya suatu saat nanti.
''Itulah yang aku takutkan Kakak, kita semua pernah ingat ketika Damian kecil pernah menguci salah satu pelayan di kamar mandi dan menutup semua lubang udara, dengan maksud membunuhnya dengan menyiksa,.....untung saja waktu itu ada tukang kebun yang melihat dan melaporkannya kepada kita......aku sungguh tak bisa membayangkan jika Damian kembali melakukan hal di luar batas.....ketika dia sedang marah...''ucap Aira dengan suara bergetar...
Ana mengangguk, ia tau benar kejadian itu, waktu itu usia Damian 10 tahun, dia sangat marah kepada sang pelayan karna terlambat membawakannya minuman ketika cuaca sedang panas-panasnya waktu itu sepulang sekolah..semua heboh karna sang pelayan hampir saja meninggal jika dia tidak segera di tolong..ada jiwa psikopat dalam diri Damian yang tidak bisa di bendungnya jika ia sedang marah..bahkan mereka sedikit ngeri dengan kenyataan itu.
Sejak saat itu Damian berada di bawah pengawasan dokter, karna dia tidak bisa mengatasi emosinya, dan cenderung kasar ketika ia merasa apa yang terjadi di luar keinginannya...
''Mari kita jangan berburuk sangka,....kita tidak bisa menunda pernikahan ini lagi...bagaimana kalau Aley Hamil...bagaimana kalau itu terjadi...kita akan mengawasi Damian, sambil mengobatinya....semua akan baik-baik saja bukan...''ucap Ana optimis..
Ia sungguh menyayangi Damian, dan berharap calon menantunya itu tidak akan pernah melakukan sesuatu di luar akal..Damian tak akan bereaksi kalau tak ada yang memprovokasi..jadi semua akan baik-baik saja.
''Aley akan menyebuhkan Damian, aku sangat yakin itu Alex, aku sangat menyayangi kedua anak itu dan aku tak ingin pernikahan ini tertunda...''ucap Arkana tegas..
Arkana menatap sekelilingnya dan menjadi tenang karna tak ada satupun yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka untuk sementara ini semua menjadi aman...
Yang mereka tidak sadari kalau dari tadi Aley mendengar semuanya dan menjadi ketakutan sendiri, ia berdiri di sudut dapur dengan mata berkaca-kaca...
Ada apa dengan para orangtua, mereka bahkan tidak memikirkan nasibnya sedikitpun dan lebih memilih memikirkan Damian, hanya Damian bahkan ayah dan ibunya tidak membelanya sedikitpun...
Apakah itu artinya dia menikahi seorang monster...? jantung Aley berdebar ketakutan, bahkan sampai airmatanya menetes...
__ADS_1
Jemarinya terkepal dengan kuat, apakah dia penyembuh Damian...dia hanya alat untuk menyembuhkan Damian, hoh...betapa mengerikannya keluarga ini...
Aley melangkah keluar dengan wajah yang pucat tanpa sadar ia melangkah dengan tatapan mata yang kosong, ia sungguh tak menyangka jika ia menikahi seorang monster,
Aley menghentikan langkahnya lalu menatap sosok Damian yang sedang bercanda dengan Diza dan juga Dilan, jika di lihat sepintas..Damian tampak sama seperti anak lain, meski dia memang tertutup..
Aleysa terus melangkah meski matanya tak beranjak sedikitpun dari sosok Damian, hingga sekejap saja, Damian merasa ia sedang di tatap dan kemudian membuang pandangan ke arah Aley yang sedang menatapnya juga,...
Deg!!!
Tatapan mereka bertemu dengan dalam, hingga Aley merasa ngeri ketika menatap mata hitam yang misterius itu, yang sedang menatapnya dengan tajam...
Aley menggeleng...tidak mungkin dia rela menghabiskan waktunya hidup bersama pria yang sakit jiwa ini tidak bukan,...?
''Kak Aley,....mana minuman dinginnya, katanya kakak ingin mengambilnya...''
Aley tersenyum minta maaf,...
''Diza....maaf, aku sakit perut jadi.....
Damian mendekat, ia merasa sesuatu yang aneh dari sosok tunangannya, tatapan matanya menjadi sangat lain, terlalu hati-hati dan takut, apa yang sedang terjadi...
''Aku baik-baik saja Damian....''
Aleysa menghindar dengan mendekati Diza dan Dilan yang sedang menatap mereka..Damian berhenti sebentar, sementara jemarinya terkepal...
''Pelayan akan membawakan minuman dingin, aku minta maaf aku melupakannya...''
''Tidak masalah kakak.....''ucap Diza mengerti...
Dilan sedari tadi mempermainkan rambut pnjang Diza dengan gemas, dan Diza tidak menyukainya dan mereka berdua kembali bertengkar...
''Aku mau pulang saja,.....''ucap Diza bangkit berdiri...
''Mengapa kau mau pulang....''ucap Aleysa...
''Aku ada les Tari sore ini kakak.....''ucap Diza memberi penjelasan..
__ADS_1
Dilan melebarkan matanya....
''Kau berbohong Diza.....kau mau kemana hah...kita sekelas...aku tau tak ada les sore...'' ucap Dilan protes....
Diza menyipitkan matanya tajam, sebenarnya dia ada janji dengan kekasih barunya namun tak mungkin dia jujur disini, dia takut kak Damian akan marah...
''Ehm.....kau cerewet sekali sih...lebih baik urus urusanmu sendiri, astaga....menjauhlah dariku...''
Diza lalu pamit meninggalkan taman di ikuti Dilan yang penasaran...sementara Aleysa dan Damian berdiri dalam kebekuan....
''Aku harus ke kamar...''ucap Aleysa melangkah...
''Tunggu Aley.....''ucap Damian dengan suara dinginnya yang tidak terbantah....
Aleysa menghentikan langkahnya, namun ia tidak sedikitpun berbalik. Damian melangkah dan berdiri di hadapan Aleysa...
''Katakan ada apa....mengapa setelah keluar dari sana kau terlihat aneh....''
Aleysa menghela nafas, mengapa ia beru menyadari sisi gelap Damian sekarang, kemarin dia memukul Mr. Derrek membabi buta, Mr. Derrek hampir pingsan....
Bahkan darah berceceran dimana-mana....tubuh Aleysa merinding...
''Aku baik-baik saja Damian, aku hanya lelah dan ingin istirahat saja,...''
Damian menaikan sudut bibirnya...
''Ingin istirahat yah...bagaimana kalau kau istirahat di apartemenku saja, disini orang tua kita sedang rapat...kau akan menganggu Aley...''
''Tapi Damian....''
Damian bahkan tidak membutuhkan persetujuan Aleysa, ia lalu melangkah sambil membawa Aleysa di dalam genggamannya...menuju mobil.
Pintu terbuka dengan kasar dan tubuh Aleysa di paksa masuk dan Damian menutupnya dengan kecang..
Damian mengeraskan wajahnya, ia tau sesuatu terjadi kepada Aleysa...Aleysa tampak meragu untuk pernikahan ini dan bersikap aneh...
Damian harus tau alasannya bukan...?
__ADS_1
Pria itu segera masuk ke dalam mobil...