Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Halusinasi


__ADS_3

Ana terbangun di tengah malam dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya terutama di daerah intinya, terasa sangat menyakitkan hingga airmatanya menetes...Ana menangis di dalam diamnya..


Pandangannya beralih kepada sosok Arkana yang tertidur di sampingnya, sangat lelap dengan kepuasan yang terpancar di wajahnya, Ana kembali memalingkan wajahnya tak ingin melihat Arkana lagi..


di peluknya tubuhnya sendiri dengan isakan pelan yang sungguh menyakitkan..


Hidupnya dan cintanya sudah hancur bersamaan di paksa tunduk di bawah kendali Arkana yang kejam, tak ada lagi yang tersisa, bahkan Ana tak berani membayangkan Alex di dalam kepalanya lagi,...


Ana bergerak turun dari ranjang, walau ketika ia melangkah rasa sakit menghantam sadarnya Ana tetap melangkahkan kakinya, rasanya seperti sedang menginjak duri...airmatanya terus mengalir memenuhi wajahnya yang lelah...Ana menujun toilet dan mengunci dirinya di dalam sana,


Ana tersenyum sembari menyadarkan tubuhnya di pintu toilet, bergetar dengan rasa sakit di hati dan tubuhnya, hingga Ana tak punya kekuatan lagi...tubuhnya jatuh dan tersungkur di lantai kembali menangis..


Alex...maafkan aku, mungkin aku tak bisa bertemu lagi denganmu...kita...tak bisa bersama lagi.....


Ana memejamkan matanya dengan isakan sedihnya, jika ia mendekati Alex lagi maka semua selesai....Arkana akan membunuh Alex,......


Lama Ana duduk disana dengan airmata yang menetes.....hingga matanya membulat sempurna melihat sekelilingnya...


pandangannya berhenti di shower yang mengalirkan air, wanita itu bangkit menguatkan tubuhnya...tubuhnya sangat kotor dan, bukankah ia harus membersihkannya disana....??


Crasss!!!!!


Bunyi air jatuh membasahi tubuh Ana yang yang memakai jubah handuk ia terlihat rapuh dan lelah, rasa dingin mulai memeluk tubuh Ana namun ia memilih berdiam diri di bawah shower dan memejamkan matanya menikmati setiap titik air yang jatuh dan menyentuh wajahnya yang sudah mulai mati rasa, ia merasa lebih baik dan terus memejamkan matanya....


Mengapa terasa nyaman, tadi Ana merasa suhu tubuhnya sedikit naik dan berada di bawah air membuatnya lebih baik, rasa panas di tubuhnya menghilang....


Ana tersenyum...ketika ia mulai berhalusinasi......karna suhunya meninggi...


Ana melihat bayangan panti asuhannya yang tenang dimana ia dan Steve biasa duduk bersama sambil mengajar adik-adiknya yang lain...


Ana kembali tersenyum ketika melihat Steve tersenyum kepadanya...


''Steve...kau ada disini.....? bukankah kau sudah menikah...yah...kau menghianatiku bukan...'' airmata ANa menetes di wajahnya yang tersenyum....


Steve mencubit ujung hidungnya dengan gemas......


''Kita masih sekolah Ana dan...aku berjanji jika kita pindah dari sini aku akan bekerja keras....aku...akan mencari uang yang banyak dan menikahimu,...''


Wajah Ana memerah malu....

__ADS_1


''Aku tak sabar lagi untuk lulus, tapi...apakah ibu panti akan mengijinkan kita pergi...''


''Kita akan menjelaskan bersama-sama, dan ibu akan mengerti....''ucap Steve tersenyum..


Ana menganggukan kepala...Steve sangat tampan dan baik hati, Steve bisa menjadi kakaknya dan nkekasihnya, bia menjadi teman dan musuhnya lalu bisa menjadi ayah dan ibu baginya, Ana sungguh bahagia...


''Steve...kau benar-benar mencintaiku kan, kau...tidak akan pernah meninggalkanku sedikitpun...''


Steve meraih Ana hingga tenggelam di dalam pelukannya, sembari membelai rambutnya....


''Kau ingat waktu kita kecil...ketika itu kau mau di adopsi oleh keluarga yang kaya raya, tapi aku tak mau kehilangannmu dan kita mulai membuat rencana..''


Ana tertawa lagi...


''Yah...kau bilang aku adalah gadis yang jorok dan bau, aku juga nakal....''


Keduanya tertawa lepas....


''Ibu panti sangat marah...'' sambung Ana mengingat...


Steve tersenyum....lalu menatap Ana dan menyentuh wajahnya dan membelainya...


''Wah,...aku sangat bahagia sampai mengantuk.'' Ana berbisik...


Steve menepuk pahanya dan meminta Ana berbaring......


''Tidurlah...aku akan menjagamu...Ana...''bisik Steve pelan...


Ana mengangguk lalu tidur di pangkuan Steve..........


Ana mulai kehilangan kesadarannya...wajahnya pucat pasi dengan bibir gemetar karna terlalu lama berada di bawah shower...


''Aku sangat lelah dan dingin.........'' bisiknya dengan suara yang lemah..


************************************


Arkana membuka mata di tengah malam karna rasa haus yang tidak tertahankan...matanya tajam menatap langit-langit kamar, sesaat berdiam diri sejenak, ketika menyadari ia telah melakukan percintaan kasar pada Ana, pria itu menoleh dan terkejut melihat sosok Ana menghilang...


Pria itu bangkit dan memegang kepalanya yang terasa nyeri...yah, ia terlalu marah dan tidak bisa melampiaskan seperti biasanya, Arkana terbiasa memakai cara kasar untuk melampiaskan amarahnya, entah itu memukul, menyiksa bahkan membunuh, namun tentu saja..semarah apapun ia pada Ana, ia tak bisa memukul atau menyiksa Ana seperti yang ia lakukan pada orang lain, Arkana hanya tak sanggup melakukannya pada Ana...meski yah...Arkana mengakui ia menyiksa Ana lewat percintaan mereka karna rasa cemburunya yang tak bisa ia kendalikan...

__ADS_1


Arkana mengusap wajahnya dengan kasar.......


Cemburu...mengapa ia merasakan cemburu..? Arkana tentu saja tidak mengerti, ia tak pernah mencintai seorangpun wanita selain Katren adiknya yang sudah meninggal, dengan Ana...mungkin karna mereka telah menikah dan rasa memiliki itu semakin kuat, dua bulan sudah ia dan Ana menikah jadi wajar jika ia sedikit cemburu...Arkana menutup hatinya untuk cinta...


Teringat kembali kepada Ana, pria itu lalu bergerak turun dari ranjang memakai jubah handuknya dan menatap ke arah pintu toilet...


Dahinya mengerut dengan dalam ketika sebuah pikiran melintas di kepalanya, Arkana segera meraih pistol di dalam lemarinya dan mendekati pintu Toilet...


''Ana....Ana buka pintunya....''teriak Arkana mulai cemas..ketika ia mendengar suara shower namun tak ada suara Ana...


''Ana...buka pintunya aku akan menembak jika kau tidak buka pintu...Ana.........''


Arkana tak bisa menunggu lebih lama ketika ia sudah mengarahkan pistol ke arah gagang pintu, dan...


Doorr!!!


Arkana menembak gagang pintu hingga pintu terbuka, pria itu segera melangkah masuk dan membeku ketika melihat Ana disana duduk di bawah shower yang mengalir, wajahnya begitu pucat........


Jemari Arkana mengepal,....mendekati tubuh Ana dan meraihnya mendekat.....


Ana sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya panas seperti api, mata Arkana melebar...


''Ana.....'' pria itu mengeraskan tatapannya........


************************************


Dokter Erik kehilangan kata melihat wajah Ana yang pucat pasi, namun ia lebih mengkhawatirkan sosok tuan Arkana yang tampak duduk sendiri di sudut kamar dan hanya diam saja, tatapannya dingin dan tidak bisa di baca, sementara pistol masih ada ditangannya dan tidak ada yang berani mengganggunya...


Dokter Erik menghela nafas, ini pertama kali dalam hidupnya melihat tuan Arkana seperti ini, lalu pandangannya beralih pada sosok Ana yang masih tak sadar, mau tak mau ia menyimpulkan sesuatu di kepalanya...


Apa yang terjadi pada sang tuan yang kejam...?


Pada saat yang sama Arkana menoleh dan menjebak Erik dalam tatapan bekunya, pria itu berdiri dan mendekati dokter Erik lalu menempelkan pistol di kepala sang Dokter..


"Aku ingin mendengar kabar baik, Erik, sembuhkan Ana....jangan pernah keluar tanpa kesadaran dari Ana atau hari ini akan menjadi hari terakhirmu.." desis Arkana mengancam...


Dokter Erik kembali ketakutan, dan buru-buru mengangguk.....


"Aaku berjanji tuan..." keringat mengucur dari dahi dokter Erik...ia sungguh hampir pingsan..

__ADS_1


__ADS_2