
Ana menggeleng dengan airmata yang menetes, yah..katakanlah ia gadis pendendam namun melihat seseorang mati di hadapannya membuat Ana tak mampu membiarkannya, nuraninya menolak...mungkin saja wanita ini punya anak bagaimana perasaan anak-anak mereka jika ibunya meninggal dengan cara yang tragis, Ana tak bisa membiarkannya..tidak..
''Mengapa kau..menghalangiku..'' Arkana mengerutkan kening..
Bukankah Feni telah melemparkan fitnah kepadanya, bahkan mempermalukannya tanpa sedikitpun ragu..? mati adalah keutusan final bagi Arkana, dia tak akan membiarkan siapapun yang berani mempermalukannya lolos..
''Bukankah kita akan menikah..hari ini..''
Arkana terkejut....
''Menikah...''
''Menikah itu artinya jangan ada pertumpahan darah di hari ini...aku memang marah padanya, namun...aku memaafkannya untuk hari ini...lagi pula aku tak mau mengotori hari bahagia kita....sayang..''
Sungguh tak mudah bagi Ana menyebut kata sayang dengan mulutnya, apalagi pada sosok Arkana yang kejam, ia mempertaruhkan segalanya dan menunggu dengan pasrah jika pria ini mungkin tidak akan mendengarnya...
Namun........
Ana menjadi lega ketika Arkana menurunkan pistol dari genggamannya dan menatap Ana dengan pandangan beku....lalu menatap anak buahnya memberi isyaarat, lalu menatap Feni yang masih menangis memohon...
''Kau liat itu Feni, orang yang kau fitnah dengan kejam malah memohon ampun untuk nyawamu..yah..aku menurutinya dengan tidak membunuhmu namun...aku tidak akan melepaskanmu walau untuk sesaat..'' Arkana masih marah tentu saja...
Feni merasa begitu bingung dengan kenyataan ini, ia memandang sosok Ana sekali lagi yang masih berdiri di hadapannya menghalangi pistol yang mungkin saja akan membunuhnya dalam hitungan detik....
Mengapa Ana malah membelanya, apakah selama ini dia menerima informasi yang salah...? apakah Fera sudah membohonginya dengan cerita yang palsu....? airmata Feni jatuh tanpa bisa di cegah...ia terkejut dan buru-buru berdiri dengan sisa rasa malunya ketika Ana mendekatinya dan menatapnya.........
''Jarak antara si kaya dan si miskin hanya setipis kabut...sekejap saja posisimu bisa berubah. si miskin mungkin akan di ijinkan Tuhan untuk merasakan jadi orang kaya, dan sebaliknya si kaya mungkin juga akan di biarkan Tuhan untuk merasakan kesakitan orang miskin....jadi jangan pernah membiarkan anak-anakmu akan menanggung malu dengan cara ibunya yang sadis dalam hal cara pandang...'' Ana tersenyum dingin.....
Arkana lalu membiarkan anak buah membawa Feni pergi dan segera menghubungi desainer baru,...sementara semua yang ada di kamar itu menunduk penuh hormat,
Pandangan mereka tentang kasta sekejap saja berubah, semua bisa saja terjadi tanpa di duga..bahkan jika mereka tak sempat untuk menghindar.........
Arkana lalu meminta semua orang di ruangan itu keluar dan meninggalkan dirinya dan Ana....
Pria itu tersenyum dan meraih Ana di dalam pelukannya........
''Mengapa kau melepaskannya, bisakah aku tau jawabannya...?''
Ana menatap mata Arkana yang tajam lalu tersenyum......pria kejam ini, apakah dia sedang tidak bermimpi bahwa sebentar lagi akan menjadi istri seorang Arkana? seperti apa rasanya menjadi seorang istri dari Mafia yang bahkan tak ragu untuk membunuh..?
Bisakah dia menjalani masa depannya....? Ana sungguh tak tau, ....
''Aku hanya tak ingin membiarkan anak-anaknya merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan...itu saja..'' Ana melonggarkan tenggorokannya dengan sedikit gugup ketika Arkana merapatkan tubuhnya..
__ADS_1
Arkana tersenyum menatap wajah Ana yang segar saat ini mulai menjadi candu baginya, wajahnya mendekat hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.....
''Meski aku tidak membunuhnya namun...aku tak akan membiarkan penghinaannya kepadamu lewat begitu saja..''
''Tuan Arkana....''
Ana memejamkan mata ketika jemari kokoh Arkana menjalar ke pungggungnya dan terus naik ke atas.......pria itu tersenyum..
''Aku benci..penghianatannya kepadaku Ana...aku akan menghancurkan hidupnya sampai ia tak sanggup lagi untuk berdiri....''
Ana membeku.............
''Tuan Arkana bukankah cukup....''
''Bagiku belum cukup sayang, dan aku juga ingin kau melihatnya jika aku...tak pernah akan mengampuni penghianatan...sekecil apapun....Ana........''
Suara Arakana berubah menjadi serak, matanya bersinar mendamba..membuat Ana menjadi takut..
Namun Ana mencoba menguatkan hatinya untuk menatap Arkana....
''Kau harus ingat satu hal Ana...setelah kita menikah maka kau adalah mutlak milikku selamanya, aku memberikanmu segalanya namun....jangan mencoba melepaskan diri dan lari dariku karna aku tak akan membiarkannya.....''
Jemari Arkana berhenti di belakang kepala Ana dan sedikit menguat disana....membuat Ana menatapnya tanpa mampu bergerak.......
Namun...mungkin setelah pernikahan..Arkana punya hasrat yang besar soal bercinta jadi dia memberikan waktu untuk tubuh Ana memulihkan diri sebelum ia menikmatinya lagi.....
''Aku tak akan menghianatimu..''ucap Ana dengan matanya yang sayu dan berkaca....
Arkana mengangguk puas lalu melepaskan pelukannya, Ana menghela nafas seakan baru saja melewati seutas tali di tepi jurang...menegangkan dan membuatnya sesak nafas..
''Bagus....aku senang mendengarnya Ana....karna jika kau menghianatiku sekali saja, maka aku akan menghabisi orang terdekatmu termasuk..orang yang kau cintai itu dengan sangat kejam,...aku tak akan menarik kembali kata-kataku Ana sayang...'' ancam Arkana dengan nada suara yang lembut..
Ana buru-buru menganggukan kepala dan membuat pria itu menjadi tenang kembali...
Arkana menjadi puas dengan jawaban Ana...
''Aku akan bersiap dan mengganti baju, untuk dirimu Desainer baru akan datang..kau akan menjadi pengantinku yang cantik...''
Ana mengangguk......
Arkana lalu melangkah menuju pintu dan menghilang di baliknya..
Seketika Ana tersungkur dengan mata berkaca-kaca...tangannya menekan dadanya yang terasa nyeri,...
__ADS_1
Tuan Arkana begitu menakutkan dan sadis...astaga apa yang harus ia lakukan sekarang...
Bagaimana hidupnya, mereka tidak saling mengenal dan cinta....itu jauh dari bayangannya, tak akan pernah ada cinta di antara mereka..
Lalu,...apa yang sebenarnya di cari Ana.....? bagaimana dengan ALex..yah,...meski Alex membohonginya namun ALex melindunginya....
sesungguhnya hatinya masih mengharapkan Alex...ia sungguh mencintai pria yang menyelamatkannya dan memberinya arti kehidupan sebenarnya....
Alex.......bisakah aku bertemu denganmu lagi...bisakah..?? aku sungguh merindukanmu...aku merindukanmu.....
Ana menundukan kepala dan mulai menangis, ia tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya, begitu mudahnya tuan Arkana mengangkat pistol untuk mengambil hidup orang lain jika orang itu membuat sedikit kesalahan..
Jemarinya terkepal dengan kuat....
*****************************************
Ana menatap pelayan barunya yang bernama Hani, yang menggenggam tangannya menuju altar..keduanya saling menatap..
''Nyonya sangat cantik...''
''Terimakasih....Hani, kau menjadi pendampingku..''
''Sebuah kehormatan bagiku mendampingi nyonya..''
Ana tersenyum........pandangannya naik dan jatuh pada sosok Arkana yang berdiri menantinya di depan Pendeta, pria itu sedikitpun tidak memperlihatkan senyumnya...
Tatapannya sedingin es, dengan aura kekuasaan seorang Arkana membuat seisi ruangan menjadi hening.......
Arkana menyambut jemari Ana dan menggenggamnya.,..keduanya lalu menatap sang Pendeta untuk mulai mengucap janji suci di hadapan beberapa pasang mata yang di ijinkan Arkana menghadiri pernikahan....
Janji suci itu meluncur dari bibir Arkana tanpa satu kesalahan apapun, dan ia mengangguk puas ketika Pendeta menyatakan keduanya sudah Sah menjadi suami istri di hadapan Tuhan dan Negara...
Seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan ikut senang, tentu mereka harus terlihat senang kalau tidak akan memancing amarah sang tuan.....
''Dengan demkian aku menyatakan kalian sebagai suami dan istri yang sah di mata Tuhan...apa yang sudah di persatukan Tuhan tidak dapat di ceraikan manusia..''
Pendeta menutup ucapannya dengan senyuman......
Arkana tertawa untuk pertama kalinya dengan Ana di dalam pelukan posesifnya...ia mendekati Ana dan mengecup bahu Ana dengan senyuman bangga.......
''Kau adalah milikku, Anastasya.......''
Ana hanya mampu diam menelan rasa sakitnya..........
__ADS_1