
Diza menaikan sudut bibirnya, mengenang jika semalaman ia benar-benar patah hati, bahkan menangis sampai ia tertidur...
''Maaf dokter tapi aku sedang sibuk dan tidak ingin bicara.....lagi pula, kita akan bicara tentang apa?'' Diza menggeleng sembari melepaskan pegangan Mark kepadanya..
Namun Mark kembali mencegah Diza masuk ke dalam mobil....mereka kembali saling menatap..
''Diza tolonglah bisakah kau ikut aku....aku janji ini yang trakhir...aku mohon...'' suara Mark merendah dan membujuk, sejak semalam ia sama sekali tak bisa tidur, wajah sendu Diza dan juga kesediahannya mampu membuat Mark menyadari..sesuatu terjadi pada hatinya..mungkin sedikit terlambat namun..ia tak ingin menyerah...
Dilan yang merasakan panas di dada kemudian mendekat dan menghalangi pandangan Mark dan juga Diza....
''Ehm..permisi tapi aku pikir, dokter sudah tau jawaban Diza...dia tidak suka di paksa lagi pula,...bukankah tempatmu di rumah sakit bukan di kampus...'' tatap Dilan jelas dia tak suka...
Mark menaikan sudut bibirnya.......
''Aku tak ada urusannya denganmu Dilan, bukankah kau punya banyak wanita yang antri untuk kau dekati...''
Dilan mengeraskan tatapannya....yah...meski kita saudara aku tak akan membiarkan kau mempermainkannya dokter Mark..''
Mark tersenyum.....lalu mengangguk..
''Karna itu menyingkirlah dariku pergi dan urus saja urusanmu...''
Sementara Diza merasa semakin kesal melihat kedua pria ini bertengkar lalau segar menaiki mobilnya dan menghidupkan mesin mobil,...disaat Mark dan Dilan berbalik mereka menemukan mobil Diza sudah bergerak pelan menjauhi kampus..Mark mengepalkan tangannya dengan kuat kemudian menunjuk sosok Dilan..
''Kau...awas kau Dilan...''
Mark lalu mlangkah menuju mobilnya dan berlalu dari sana....meninggalkan Dilan yang tersenyum menang...
''Diza harus menjadi milikku bukan milikmu pria tua yang menyedihkan...ckckck...'' Dilan berbalik dan melangkah menuju kelas...
***************************
Aley sudah keluar dari rumah sakit dan melakukan rawat jalan sementara Ana mengumpulkan Damian, Arkana, Alex dan juga Aira..ia ingin mengatakan tentang kondisi Aley yang berubah dan menjadi sulit untuk di kendalikan...
Arkana menghela nafas,
''Apa yang akan kita lakukan Alex, dan bagaimana menurutmu Damian..mengenai kondisi Aley aku tak ingin menunda pernikahan....''ucap Arkana..dan di amini Ana..
Namun Alex dan Aira memiliki pemandangan lain
, keduanya saling menatap...
''Dengan kondisi Aley, kita tidak mungkin memaksanya...dia akan marah dan membenci kita..''ucap Alex tajam..
Damian mengangkat wajahnya dan mengerutkan keninng ia menatap kepada papanya...
__ADS_1
''Jangan bilang papa akan menunda pernikahanku...''
''Kau tidak punya pilihan Damian, saat ini Aley membencimu, dan iru semua adalah salahmu sendiri kau melakukan hal itu, kau menunjukan kemarahan kepadanya dia trauma.....kaui harus rela...''
Damian menggeleng...
''Tidak papa,...aku tidak mau pernikahan kami batal..'' ucap Damian mulai terlihat tak sabar...
Aira memijit pelipisnya sungguh dia di landa dilema...apa yang harus ia lakukan...putranya sudah terlanjur cinta...
Alex menggeleng...
''Kau sama sekali tidak punya pilihan Damian...''
''Aku punya pilihan, aku....hanya butuh kepercayaan kalian sekarang, bagaimana kalau Aley sedang hamil...aku tak ingin menunda pernikahan...''
Alex mengerang....menatap tajam ke arah Damian
''Jangan melakukan hal gila kepada Aley, atau papa akan memaafkanmu...'' desis Alex menggertakan giginya...
Damian tak mau kalah namun, Arkana mencoba menghentikan perdebatan ayah dan anak itu.....masing-masing mereka memendam amarah...
''Bisakah kalian berdua diam...ucap Arkana dengan nada dingin,...Arkana lalu menatap Alex..bagaimana kalau kita mendengar rencana Damian, biar bagaimanapun aku tak ingin orang lain yang menikahi putriku...aku setuju usulan Damian, yang terpenting adalah menikah secepatnya...''
Alex menatap Damian kemudian menganggukan kepalanya,...
Damian lalu menatap ke empat orangtuanya dan kembali berbicara....
Mereka mendengar dengan penuh perhatian, awalnya Alex menolak namun bagaimanapun Arkana dan Ana setuju, ia tak punya kekuatan untuk melawan.
Setelah mengatakan hal yang ia inginkan serta mendapat persetujuan maka Damian menjadi tenang..ia menatap ke lantai atas tepatnya kamar milik Aley dan tersenyum.. ia sudah gila jika kehilangan Aley, apapun akan di lakukan Damian demi impiannya menikah dengan Aley...
***************************
''Menikah di pulau...''
Ana menganggukan kepala dengan wajah sendu, ia kemudian menyentuh kepala Aley....
''Kau tau jika ibu dan ayah tak bisa menghindar dari pernikahan ini tapi kami bisa menyelamatkanmu..Aley..''
''Apa maksud ibu...''
Ana tersenyum...
''Damian bilang jika kalian sudah menikah maka dia akan membebaskan dirimu, dia juga sebenarnya punya kekasih tapi papa dan ayah menginginkan pernikahan kalian..''
__ADS_1
Aleysa mengerutkan kening....
''Damian punya kekasih...''
''Yah...kalian hanya akan menjalani prnikahan sementara di hadapan keluarga lalu Damian akan menceraikanmu Aley....kau bisa kembali pada kehidupanmu dan begitu juga Damian....'' tawar Ana..
''Mengapa harus di plau yang jauh, mengapa tidak disini saja..''
Ana menggeleng...
''Jika menikah disini semua orang akan tau pernikahan kalian jadi akan sulit bagi kalian jika berpisah..''
Aley memijit kepalanya....
''Ibu kapan kita akan berangkat.....''
''Malam ini juga...hanya keluarga kita....''ucap Ana tajam...
''Malam ini.....''
''Yah.....''
Aley lalu mengangguk, baiklah....ia hanya akan menikah sementara lalu Damian akan menceraikannya...matanya berbinar dengan bahagia....
**************************
Diza menatap sebuah pesan di ponselnya, mamanya bilang orangtuanya dan orangtua kak Aley lalu kak Damian sudah berangkat ke pulau milik papa untuk pernikahan kak Aley dan kak Damian selama seminggu, itu artinya rumah akan sepi...dia sendirian, masih kata mama dia disuruh menginap di rumah Bunda Hani dan Ayah Danar itu artinya rumah Dilan, membayangkan Dilan membuat Diza merasa malas..pria itu akan mencerewetinya tanpa henti dan akan mengawasinya kemanapun, lebih baik dirumah saja...Diza tersenyum..
Sementara ia mendapat undangan party di salah satu club malam di luar kota, senyum Diza mengembang.....saatnya ia berpesta dan melupakan kemalangan akibat patah hatinya karna Mark..
Diza segera melompat ke kamarnya dan bersiap-siap pergi....
**************
Club Malam.......
Suara bising yang memekakan telinga menjadi ciri khas pencari hiburan di tengah malam, asap rokok, bau minumann keras bercampur menjadi satu...Diza datang bersama temannya..baru masuk saja ia sudah sesak nafas....
Aada banyak orang, pria dan wanita sedang menikmati malam yang panas itu...ada yang berdansa, ada yang berciuman...ada yang minum, tertawa dan bahkan menangis...ini kedua kalinya Diza datang ke club, yang pertama dia di ajak Dilan untuk menemui pacarnya, dan saat ini Diza merasa bebas..tak ada yang mengawasinya,..
Diza akhirnya bertemu dengan teman-temannya, ia tidak pernah meminum minuman beralkohol, papa dan kak Damian akan membunuhnya jika tau....
''Minumlah Diza..tak ada yang melihatmu..'' bisik seorang temannya..
Diza mengangguk..baru ingin mencicipi minuman itu namun...ia begitu terkejut ketika gelasnya di rebut oleh seseorang...
__ADS_1
''Beraninya kau datang ke tempat ini...'' teriak pria itu dengan murka...
Diza membeku ketakutan........