Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Pulau


__ADS_3

Aley turun dari pesawat pribadi di sebuah pulau yang indah namun benar-benar terisolasi,..memandang kedua orangtuanya Aley mencoba mendekat dan mulai bertanya...


''Ibu....''


Ana menatap Aley dengan lembut sembari membelai rambutnya..


''Ya sayang....''


''Tempat ini sangat sepi, ibu yakin kita hanya beberapa hari disini...''


Aley menatap ke arah Damian juga Papa, mama, dan Ayah sedang berjalan di depannya..beberapa pelayan perempuan dan laki-laki lalu lalang dan menunduk ketika melewati mereka. sementara


Ana menoleh dan menganggukan kepalanya,..


''Tentu saja setelah pernikahan maka kita akan pergi...''


Wajah Aley menjadi cerah, ia sedikit menggigit bibirnya mengingat kemarin Mr. Derrek sempat menelfon dirinya hanya untuk mengucapakan selamat tidur dan doa agar ia cepat sembuh dengan sempurna, Aley memberi alasan dia akan mengikuti terapi di luar negri, dan akan segera kembali..Mr. Derrek pun setuju...dan mengatakan akan menunggunya sampai dia kembali...


Aley tersenyum tak sabar untuk pulang.....


Gadis itu lalu mengedarkan pandangan di sekitar pulau dan mulai menikmati pemandangan di sekitar pulau, ada banyak pohon di pulau ini, ada kolam ikan, ada taman bunga beraneka warna, ada peternakan kecil lalu, ada juga perkebunan,,tanpa sadar Aley tersenyum..


''Papa Alex sangat pintar mengolah pulau ini ibu..'' puji Aley dengan antusias..


''Damian juga turut andil sayang, Damian menyukai tinggal di pulang dan menyendiri..''


Aley hanya menggeleng ngeri...Damian memang aneh, mana ada orang yang suka tinggal di pulau, meski pulau ini luas dan indah namun, tetap saja..tak ada Mall, taman hiburan atau bioskop tempat ala anak muda ketika bersantai, tempat ini benar-benar terisolasi dari dunia luar..


''Damian benar-benar pria yang aneh..setelah bercerai biarkan dia tinggal disini dan jangan membuatnya pulang ibu,....''pinta Aley sambil menyipitkan matanya jengkel melihat sosok Damian sedang menatapnya...Aley langsung membuang pandangan....


Ana hanya menggeleng memandang Damian dan menenangkannya lewat tatapan matanya, ia tau Damian sedang kecewa..beruntung Damian langusng tersenyum...tatapan Ana adalah penyembuh bagi Damian..ia sangat menyayangi Ana dan Arkana...


''Jangan terlalu kasar sayang, kadang rasa benci dan cinta hanya setipis kabut....''


''Tembok kokoh ibu,....tak ada kabut di antara kami...aku akan selalu membencinya..'' ucap Aley dengan ketegasan hingga mampu membuat wajah Ana berubah, ia ingin menegur Aley namun, gadis itu segera berlari kecil menuju Mama Aira yang sedang tersenyum kepadanya..


Ana hanya menggeleng pelan...


''Sayangku maaf, tapi kau akan menghabiskan waktumu di pulau ini sampai kau benar-benar mencintai Damian..'' desis Ana pelan...


Ana melangkah menuju rumah besar..


************************

__ADS_1


Sudah ada gaun pengantin yang indah, sudah ada penata rias, dan semua perlengkapan untuk pernikahan,...besok hari pernikahan akan di laksanakan secara tertutup bahkan hanya orangtua masing-masing yang hadir, dan para penghuni pulau..meski Aley menyimpan sejuta tanya mengapa harus terlihat mewah, jika pernikahan ini hanya untuk bercerai, namun ia masih berusaha berpikir jernih...mungkin hanya demi gengsi..


Aley hanya diam ketika sang desainer melakukan fiting gaunn kepadanya dan tak jauh darinya tampak Damiaan juga melakukan hal yang sama, mata mereka bertemu namun Aley langsung membuang muka..setiap melihat Damian ia akan selalu kesal entah mengapa..berulangkali ia menepis rasa kesalnya namun..dia akan tetap membenci Damian ketika mereka bertatapan..sejak Damian memukul Derrek, ketika ia melihat kekerasan yang di lakukan Damian, ia langsung menjadi kesal sendiri, dan setiap harinya rasa kesal Aley semakin menumpuk.


''Selesai nona Aley, aku hanya perlu sedikit melonggarkan di bagian pinggang anda..''


Aley lalu tersenyum dan melangkah menuju sofa tempat kedua ibunya sedang duduk dan menantinya...


''Apa kau lelah sayang, kau mau teh hangat...'' bisik Aira memelai rambut Aley dengan sayang...


''Yah...aku sedikit lelah hari ini....''


''Mama akan membuatkannya untukmu sayang,...''


''Biarkan pelayan yang membuatnya Aira...''


Aira tersenyum kepada Ana namun ia menggeleng...


''Aku akan membuatkannya sendiri untuk menantuku yang cantik..''ucap Aira lalu melangkah menuju dapur..


Sementara Aleye menatap sang ibu...


''Ibu selalu malas melakukan apapun yang aku mau, bagaimana dengan Damian...jika ia merengek ibu akan langsung pergi dan membuatkan apapun untuknya...''


''Ibu yakin kami bukan anak yang tertukar...''


Ana memijit pelipisnya dan mengangkat bahunya..saat itu juga Aley melihat sosok Damian mendatangi mereka dan ikut duduk di sofa dan Aley menjadi sangat kesal..apalagi melihat Damian mulai merengek...


''Apa yang kau inginkan anakku...'' bisik Ana membelai rambut Damian dan pria itu memejamkan matanya sambil tersenyum..


''Ibu,....sebelum aku menjadi seorang suami besok...aku ingin merasakan teh hangat buatan ibu, rasanya berbeda,...bisakah ibu membuatnya untukku...''


Ana menatap mereka bergantian.........


''Mengapa kalian berdua meminta teh secara bersamaan...wahh..ibu sangat bahagia...baiklah, temani calon istrimu..ibu akan segera kembali...''


Aley ingin protes namun sang ibu sudah meninggalkan ruangan itu, dan meninggalkan Aley dan Damian sendiri dalam kebekuan...


Aley duduk paling tersudut dari sofa ia tak ingin sedikitpun duduk bersama Damian, rasa kesalanya akan menjadi-jadi saja..


Damian menoleh ke samping kiri...dan menemukan Aley sedang menatap layar tv, gadis itu tampak serius meski kenyataan dia sedang menonton video tentang pemandangan sekitar pulau dalam rekaman..


Aley sebenarnya bosan memandang sekitar alam yang sunyi...tampak dalam video sosok Damian yang sedang memperhatikan sekitar pulau, mengawasi para pekerja dan berbicara dengan anak buahnya..

__ADS_1


Aley menghela nafas....


''Aley..........'' bisik Damian pelan..


''Hmm......'' Aley hanya berdehem...


''Aku minta maaf tentang apa yang terjadi di rumah sakit...aku benar-benar menyesal....''


Aley menoleh dan tersenyum sinis...


''Damian kau tak perlu menjelaskan apapun kepadaku apakah kau mengerti...aku sangat berharap ini semua cepat selesai..kita menikah dan bercerai dengan cepat...aku sungguh-sungguh tak sabar Damian...''


Aley berdiri lalu melangkah meninggalkan Damian begitu saja..hingga Damian hanya memejamkan matanya....sedikit lagi Aleysa...kau akan bersamaku selamanya....meski kau menangis darah aku tak akan pernah melemah....desis Damian dengan suara yang tegas,...


******************


Diza terkejut ketika sosok Dilan menarik tubuhnya menjauh dari kerumunan penghuni Club yang penuh dengan lautan manusia itu dengan sedikit kasar,...bahkan mereka menjadi tontonan banyak orang di sana...


Diza meronta namun Dilan bahkan tidak sedikitpun melonggarkan pegangannya...Dilan terpaksa menggendong tubuh Diza seperti karung beras untuk melumpuhkan gadis itu..


''Dilan...awas kau....''


''Diam Diza....kau akan mendapatkan hukuman...''


''Arrgghh........''


Tubuh Diza akhirnya berhasil di bawa keluar walau ia tak terima....Dilan menurunkan tubuh Diza dan keduanya bertatapan tajam..


''Ada apa denganmu Dilan, kau bukan siapa-siapaku bahkan kau tidak berhak...mengaturku...''


Ucapan Diza membuat Dilan meradang, ia mendekat dan menatap Diza...


''Jadi kau tidak menganggapku...''


''Yah...kau bukan kekasihku, kau adalah teman kakakku Damian aku berkata benar...? Diza bersedekap...aku ingin mengatakan satu hal kepadamu Dilan.... pergi jauh dan tinggalkan aku...''


Diza ingin melangkah namun lengannya di cekal...


Dilan tersenyum.....


''Jika aku bukan siapa-siapamu bagaimana jika kita mulai membangun hubungan....''


Dilan tidak menunggu pria itu segera meraih tubuh Diza dan memasukannya ke dalam mobil...sinar mata Dilan menajam....

__ADS_1


Diza..........


__ADS_2