
Ana membuka matanya dan menemukan bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan kamar yang sangat mewah... Ana mengerang pelan ketika tangannya terasa nyeri, lalu menemukan seorang pria berjas putih sedang menyuntikan sebuah cairan melalui infusnya dan Ana menatapnya dengan pandangan rapuh...
Pria ini seorang Dokter...?
Dokter Erik menyadari bahwa Ana sudah sadar, pria itu lalu tersenyum, ia merasa telah melewati lorong gelap yang mengerikan dan menemukan terang dengan kesadaran Ana, bisa di bayangkan jika tuan Arkana datang dan menemukan Ana belum sadar...entah apa yang akan terjadi,...
Menjadi sasaran kemarahan tuan Arkana bukan hal yang baik, kau akan di pastikan menderita di sisa usiamu dan tuan Arkana akan memastikan itu...
''Dokter...'' suara Ana sangat pelan seperti ingin menangis...
''Kau baik-baik saja selain bahumu dan lenganmu yang sedikit nyeri tidak apa-apa, aku sudah berikan suntikan pereda nyeri dan kau tidak perlu merasakan kesakitan lagi nona Ana..''
Ana hanya mengangguk patuh, terlihat kalau Dokter ini juga menjawab dengan sangat hati-hati padanya, terlihat jelas kalau dia bekerja di bawah tekanan, ia memtutuskan tidak menyulitkan Dokter malang ini lagi.
Ana lalu memutuskan sekali lagi memutar pandangan dan berusaha melirik ke luar jendela..dimanakah mereka...dimana tuan Arkana membawanya, lalu..kapan akan melepaskannya..? Ana sungguh merindukan kamar Flatnya yang kecil namun nyaman untuknya di banding berada di kamar mewah ini yang terlihat begitu penuh tekanan...
''Tugasku sudah selesai nona, aku akan mengabarkan pada tuan Arkana bahwa kau sudah sadar..''
Dokter Erik hendak melangkah namun langkahnya tertahan dengan pegangan di jassnya...
Ana menatapnya dengan mata yang redup dan sedih...
''Dokter..tolong aku.'' jerit Ana memohon..
''Nona...'' suara Erick terputus...ketika melihat gadis itu mulai menangis.,..
Jemari Ana bergetar dan itu cukup menggambarkan situasi yang sedang di alami Ana saat ini, Dokter Erik sangat mengerti tanpa harus ada penjelasan dari gadis ini...
''Aku ada dimana Dokter, apa yang akan terjadi kepadaku...isak Ana dengan bibir yang bergetar..apakah...apakah pria itu akan membunuhku Dokter...''
Ana merasa sesak nafas karna telalu panik dan kenyataan itu membuat Dokter Erik segera menyentuh pundaknya untuk menenangkan gadis malang itu, menatap matanya...
''Kau harus tenang nona Ana...''
''Bagaimana aku harus tenang, bagaimana....hidupku tak pernah jauh dari kata tenang Dokter, apa yang harus aku lakukan...Dokter....aku takut sekali padanya aku mohon...tolong aku...'' pinta Ana sekali lagi..
Matanya melirik ke arah pintu dan menjadi semakin panik, Ana menatap sang Dokter dengan pandangan nekat,
__ADS_1
''Dokter...''
''Kau harus tenang nona Ana....bagaimana cara membantumu aku tak tau nona, kita sedang berada di dalam kapal milik tuan Arkana dan entah akan di bawa kemana akupun tidak tau...aku hanya.........''
Ana begitu syok mendengar kata-kata kapal, itu berarti mereka sekarang ada di tengah laut dan entah menuju kemana...Ahh...rasanya Ana akan menjadi gila,..apa lagi yang terjadi kepadanya sekarang,....
Apakah pria itu mungkin akan membunuhnya di sebuah pulau yang sepi ataukah mungkin sebentar lagi akan melemparkan tubuhnya ke dalam laut dalam dan menjadi makanan Hiu...?
Tidak...Ana bahkan tidak takut pada kematian, namun ia tak sudi jika pria kejam itu yang membunuhnya...tidak,...
Ana menatap ke arah sang Dokter yang masih memandangnya dengan kebingungan yang tidak ia mengerti..
''Tolong aku Dokter....kau harus melepaskan aku..'' rintih Ana putus asa..
''Melepaskanmu adalah hal yang tidak mungkin nona Ana,...kita sedang berada di laut lepas, bahkan omabk akan membunuhmu begitu tubuhmu jatuh ke dalamnya...'' ucap Dokter Erik yang merasa ngeri sendiri..
''Tidak bukan melepaskanku dengan cara itu dokter..''
''Lalu apa maksudmu...''
Berada dekat dengan sosok tuan Arkana seperti ia sedang dekat dengan kematian yang mengerikan, Ana selalu ketakutan dan itu sangat buruk bagi jiwanya...ia lebih memilih bunuh diri..
Dokter Erik membeku sesaat, apakah gadis ini tau jika permintaannya akan berakibat fatal..
''Dokter....mengapa kau hanya diam..mengapa kau tidak menjawabku, mengapa...?''
Dokter Erik meraih kursi dan duduk di hadapan Ana dengan pandangan mata yang kosong...sambil melepas kacamatanya Dokter Erik menghela nafasnya yang terasa berat...
''Tidak mudah untuk memilih kematian nona Ana..''
''Apa maksudmu.'' Ana mengerutkan kening...
Bukankah permintaannya mudah, ia tidak melibatkan siapapun disini, mengapa Dokter ini terlihat pucat pasi...?
''Aku punya Anak dan istriku yang sedang hamil nona Ana...''
''Apa maksud kata-katamu Dokter, aku sungguh tidak mengerti, aku tidak membawa siapapun dalam masalah ini baik kau dan keluargamu...aku hanya meminta kau mengabulkan permintaan kecil...itu saja..'' Ana begitu heran dengan sikap Dokter Erik..
__ADS_1
Dokter Erik mengusap wajahnya dengan kasar...
''Jika kau sudah jatuh dalam cengkraman tuan Arkana maka sampai kapanpun kau tidak akan bisa melepaskan diri darinya, termasuk dengan keinginan bunuh diri, itu sangat mustahil nona Ana...''
Ana terlihat syok..........Dokter Erik melanjutkan kata-katanya...
''Jika aku menyuntikan racun di dalam tubuhmu, bukan hanya kau yang akan mati nona Ana...''
Ana melonggarkan tenggorokannya dan merasa semakin takut......
''Dokter Errik....''
Pria itu menatap dengan rasa sakit......
''Tuan Arkana akan membunuhku, dan semua keluargaku termasuk istriku yang sedang hamil dan juga anakku, bukan hanya itu nona Ana.......tuan Arkana juga mungkin akan menghabisi semua orang yang ada di kapal ini hanya karna sebuah masalah kecil yaitu keinginan bunuh dirimu...''
Dokter Erik mengatakan segalanya, dan tidak menyadari begitu pucatnya wajah Ana sekarang itu artinya...kegelapan yang ada di hadapannya....? jantung Ana berdebar kuat seolah tak mampu menerima informasi mengerikan itu...
''Tuan Arkana adalah seorang Mafia yang paling kejam nona Ana, bahkan ia tidak punya sedikitpun rasa iba di dalam dirinya...jadi aku mohon jangan membuat kami di dalam masalah nona, hidup kami bergantung kepadamu sekarang...jika kau menurut maka kami akan selamat, tapi jika kau tetap dengan pendirianmu tentang bunuh diri maka itulah akhir dari hidup kami nona Ana...'' Dokter Errik mengahapus matanya yang basah oleh airmata...
Ia sudah tidak bertemu dengan keluarganya hampir setahun, bahkan mungkin ketika istrinya melahirkan ia tak ada di sampingnya, keputusan tuan Arkana tak bisa di rubah, ada resiko besar jika siapapun yang berani melawan...
Ana menutup wajahnya dengan tangan dan menangisi hidupnya...
''Maafkan aku Dokter, aku tak pernah tau jika akan menyebabkan masalah bagi orang lain jika aku mati...aku benar-benar minta maaf...''
Dokter Erik menyentuh pundak Ana dan gadis itu mengangkat wajahnya, keduanya bertatapan...........
''Yang bisa kau lakukan adalah bersabar Ana...dan menunggu keajaiban...''
''Menunggu keajaiban..'' ulang Ana tak yakin...
Suara gerakan pintu terbuka mengejutkan Ana dan Dokter Erik...Ana menghela nafas,....
Bagaimana sekarang.......?
''Persiapkan dirimu nona Ana, itu adalah tuan Arkana.''ucap Dokter Erik dengan pandangan iba...
__ADS_1