
Ana berdiri berhadapan dengan sosok Fera yang menatapnya dengan tatapan membunuh...
''Apa yang kau ingin aku lakukan Fera.''
Fera mendekat dan memincingkan matanya dengan wajah culasnya, Ana hanya menghela nafasnya bahkan di kejatuhannya Fera tetaplah wanita yang angkuh..
''Kau harus menemui Steve dan membujuknya agar kembali kepadaku bagaimana.'' ucap Fera dengan tak sabar..
Fera sudah gila, itulah kata-kata yang terlintas di pikiran Ana ketika ia mendengar permintaan yang paling mengerikan dari sosok Fera, ia tau wanita ini sangat kejam dan licik namun Ana tak pernah tau jika Fera benar-benar berhati dingin dan egois..
''Aku tak ingin mencampuri urusan rumah tanggamu Fera, aku tidak akan pernah melakukannya meski kau mendesakku.''
''Ana....aku akan melakukan apapun demi bisa bersama Steve, aku bahkan akan meminta maaf kepadamu demi masa lalu kita.''
Ana memutar tubuhnya dan melangkah, namun Fera kembali mengikutinya dengan putus asa..
''Ana...tunggu.''
Ana berbalik dan menemukan airmata Fera yang menetes....wanita hamil itu gemetar ketika ia terlihat harus merendahkan diri pada Ana, namun ia sama sekali tidak punya pilihan...Fera tersungkur dengan posisi berlutut di hadapan Ana hingga Ana terkejut..
''Fera bangun...kau sedang hamil..''jerit Ana memegang lengan Fera untuk berdiri..
''Kau juga sedang hamil bukan....''ucap Fera berdiri dengan sisa kekuatannya..
Ana membeku sembari memeluk perutnya, melihat airmata Fera membuat hantinya bergetar, kandungan Fera tampak sangat besar mungkin sekitar 8 atau 9 bulan.
''Yah,....''
''Aku sangat putus asa Ana....Steve meninggalkan aku dan bayiku....aku, tak tau dimana dia sekarang...aku sama sekali tidak tau harus kemana....bagaimana jika anakku lahir dan aku sendirian....? bahkan paman sudah tak perduli lagi kepadaku..'' isak Fera begitu terluka..
Dan mau tak mau hati Ana goyah.....ia mendekati Fera dan menatapnya...
''Betapapun aku ingin menolongmu tapi aku sama sekali tidak punya hak Fera..itu urusan rumah tangga kalian...dan jangan libatkan aku..''
''Yah...aku tidak meminta apapun Ana, aku tidak meminta uang kepadamu...aku sama sekali tidak ingin itu...Steve pasti akan mendengar jika kau yang bicara, bukankah selalu seperti itu...jika kau bilang ya maka dia akan ikut ya..sebaliknya jika kau bilang tidak maka Steve tidak akan melakukannya....Ana aku mohon...kau mungkin membenciku tapi setidaknya kau harus mengasihani anakku bukan..'' rintih Fera dengan tangan yang terulur memohon..
Ana akhirnya tidak punya pilihan lagi selain menyetujui permintaan Fera, meski ia juga tak yakin apakah Steve akan mendenngarnya...
''Baiklah...tapi aku harap ini yang terakhir, aku melakukannya karna suamiku telah menghancurkan hidup kalian...Fera, berubahlah setidaknya demi anakmu...maka mungkin Steve akan mencintaimu.''
''Yah....aku berjanji Ana...jadi kapan kau akan menemuinya...''
''Mungkin aku akan pergi sekarang saja, aku tau benar dimana dia sekarang.''
__ADS_1
Fera akhirnya tersenyum, sembari menghapus airmatanya, ia menatap Ana dengan tatapan sendu..
''Maafkan aku Ana untuk semua yang telah aku lakukan kepadamu...aku bahkan mulai takut sekarang bagaimana jika anakku akan menuai apa yang telah kutanam..''
Ana tersenyum...
''Fera....semua sudah berlalu, lupakan saja...aku telah memaafkanmu.''
Fera tersenyum sembari mengelus perutnya...
''Aku berharap kau dapat membawa Steve pulang Ana, terimakasih..karna kebaikan hatimu.''ucap Fera tampak menyesal lalu meninggalkan Ana sendirian...
Ana masih berhenti di tempatnya..............
Mengapa dia cepat sekali menuai apa yang dia tanam...? ya Tuhan...aku sudah memaafkannya...aku sudah memaafkan dirinya......... gumam Ana dalam hati.
*******************************************
Ana menatap lokasi Panti Asuhan yang sudah lama tidak di kunjunginya, sementara tampak seorang pria yang begitu di kenalnya sedang mengajar pada anak-anak di panti ini...
Ana menghela nafas, ketika kerinduan tentang masa-masanya yang dulu membuatnya sedih...
Steve menyadari kehadirannya dan membalikan tubuhnya sedikit terkejut melihat Ana datang..
''Steve.......''
''Ana.......''
''Bisakah kita bicara Steve.''
Pria itu menganggukan kepalanya dengan patuh lalu melangkah pada sebuah kursi kosong yang ada di dekat halaman panti..mereka duduk disana,
''Jadi kau bersembunyi disini yah.....''
''Aku merindukan masa laluku Ana..dan ingin menyesalinya sampai mati..''
Ana tertawa dengan mata yang berkaca-kaca...
''Dulu kita hidup dengan sangat bahagia disini, hanya belajar, bermain dan melakukan semua kegiatan tanpa sedikitpun beban..aku sangat merindukan masa itu Steve...namun aku sadar jika, semua hanyalah masa lalu...tak akan pernah mungkin bisa kembali...''
Airmata jatuh di wajah Steve...pria itu sangat menyesal,
''Aku minta maaf atas segalanya Ana...aku benar-benar minta maaf..aku begitu menyesal dan terus merasa bersalah selama ini...aku tidak bisa hidup dengan tenang..''pria itu mulai meneteskan airmatanya...
__ADS_1
Hal yang sama terjadi kepada Ana, airmatanya juga menetes.......
''Steve...aku sudah memaafkanmu, aku sudah melupakan rasa sakitku dan kau bisa berbahagia sekarang bersama dengan keluargamu..''
''Terimakasih Ana...kau tau betapa berartinya maaf darimu..aku bisa hidup dengan tenang..namun mengenai keluarga........''
''Jangan bilang kau akan meninggalkan Fera..''
''Dia wanita yang jahat...''
''Bukankah pasanganmu adalah cerminan dari dirimu sendiri...'' tatap Ana tajam..
Steve terdiam....
''Apa maksudmu....Ana...''
''Jangan menyalahkan Fera, kalau dirimu juga menginginkannya Steve...dulu kau sudah melakukan kesalahan dan bukankah kau tidak boleh mengulangi kesalahan itu.''
Steve tetap menggeleng...
''Wanita licik itu...aku tak bisa bersamanya Ana tidak, aku tak bisa bersama dengannya...dia sangat mengerikan...''
''Kau adalah kepala keluarga Steve, bukankah kau sedang mengajar disni..bagaimana jika kau mengajarkan istrimu sendiri.''
Steve berdiri dan membalikan tubuhnya membelakangi Ana...ia bahagia Ana telah memaafkan dirinya namun tidak dengan Fera..ia tak bisa kembali bersama wanita licik itu...
''Aku tak akan pernah kembali kepadanya Ana...tidak, dan jangan memaksaku, aku sedang mengajarkan anak-anak disini, silahkan kau pergi saja.''
Steve melangkah namun Ana yang terlanjur kesal mengambil sepatunya dan melemparkannya kepada Steve hingga Steve menghentikan langkahnya dan menoleh...kebiasaan Ana tak berubah ketika sedang kesal maka ia akan melempar sandal atau sepatu yang di pakainya... punggung Steve sedikit kebas..
''Ana....''
''Aku tak pernah menyangka kau begitu pengecut...''
''Apa maksudmu...'' balas Steve tak mengerti..
Ana mendekat ketika matanya menjadi panas...
''Kita berdua yang paling tau bagaimana rasanya hidup tanpa orangtua, bukankah rasanya sangat sakit....''
Steve terdiam...
''Bagaimana mungkin kau tega membiarkan anakmu lahir tanpa kasih sayangmu dan membuat anakmu merasakan apa yang kau rasakan...apakah kau mau menyebut dirimu sendiri manusia..dan seorang ayah.'' desah Ana menahan emosi..
__ADS_1
Steve seperti di sadarkan, pria itu tersungkur ketika kata-kata Ana seakan menembus jantungnya dan menghancurkan semua tembok egonya yang di bangun tinggi...
Aimatanya menetes.......