Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Perasaan Aneh Mark


__ADS_3

Diza menghempaskan pegangan Mark kepadanya dan bergerak menuju pinggir jalan dan segera menyetop taxi yang lewat namun ketika taxi itu berhenti Mark segera menahan tangannya dan meminta supir itu pergi...


''Lepaskan tanganku.'' jerit Diza enggan suara keras...


Keduanya bertatapan dengan tajam hingga untuk beberapa saat masih berdiri di tengah jalan...


''Masuk ke dalam mobil Diza...aku akan mengantarmu pulang, percuma kau menyetop taxi aku tak akan membiarkanmu pergi...''


Diza hanya diam saja....lalu melangkah mesuk ke dalam mobil meninggalkan Mark yang masih berdiri menahan perasaannya...tak pernah ada gadis yang berani bersikpa keras kepasanya,..Mark terbiasa dengan sikpa lembut para wanita kepadanya..dia seorang dokter dan sikap ramah lembah lembutlah yang biasa ia terima namun kali ini berbeda...seakan Diza menembus semua batas yang selama ini di anggap wajar oleh Mark..gadis ini mampu membuat ia terkejut dengan sikapnya...


Mark menoleh melihat sosok Diza yang membuang pandangan ketika mereka saling menatap..akhirnya Mark masuk ke dalam mobil..


Namun...


Keheningan melanda mereka dengan cepat...


''Diza maafkan aku...sebenarnya aku........''


Airmata Diza menetes entah mengapa.....ia sangat malu di hadapan Mark saat ini, bagaimana ia menumbuhkan harapan kepada pria dewasa ini sedangkan Mark malah menganggapnya seorang adik..? yah..usia mereka cukup jauh...jadi...mana mungkin Mark menyukai dirinya...?


''Aku yang harus minta maaf dokter Mark...ini kesalahanku, aku yang terlalu berharap...''


Deg!!!!! Mark membeku........


''Diza sebenarnya kita bisa......''


''Tidak...kau tidak akan pernah mengharapakannya lagi...''


''Diza.....''


Aku lelah dan mengantuk, bisakah kita pulang saja sekarang..'' tatap Diza dengan airmata yang menetes....


Mark terdiam di balik stir mobilnya, mengapa ia malah kecewa...? ini gila...mengapa ia merasakan perasaan aneh kepada Diza...pria itu mengepalkan tangannya di stir mobil sesuatu di hatinya bergetar dan kemudian ia menghidupkan mesin mobil.....


Setelah perjalanan penuh kebekuan itu akhirnya sampai di halaman rumah Diza....gadis itu tidak sediktipun menatap mata Mark..ia hanya menundukkan kepalanya...


''Aku harus pergi dokter Mark, terimakasih untuk makan malamnya....''


''Diza....''

__ADS_1


''Aku baik-baik saja, aku akan segera melupakannya...kau tidak perlu khawatir tentang aku...besok juga pasti aku akan melupakan semua yang terjadi hari ini...''


Diza ingin membuka pintu mobil namun jemarinya di genggam oleh Mark dengan erat, hingga keduanya saling menatap...


''Dokter Mark...''


''Maafkan aku Diza....aku tak pernah ingin menyakitimu...''ucap Mark pelan..


Diza berusaha menelan rasa kecewanya dan kemudian mengangguk dengan rasa sakit...


''Tak ada yang perlu di maafkan Dokter, ini adalah perasaanku sendiri dan aku akan mengatasinya sendiri...selamat malam.....''


Diza menarik tangannya dan kemudian keluar dari dalam mobil dengan hati yang hancur lebur..beruntung malam ini tak ada siapapun dirumah jadi dia bisa menangis sepuas hatinya...Diza berlari ke dalam rumah dan menutup pintu dengan cepat lalu segera naik ke lantai atas menuju kamarnya...


Sementara Mark masih duduk di dalam mobilnya dan pandangannya terarah pada lantai atas tepat pada kamar Diza yang gelap, bahkan gadis itu tidak menyalakan lampunya...


Pria dewasa itu sedikit mengerutkan keningnya,....perlahan jemarinya menyentuh ujung dadanya dan berhenti di sana...ia menghela nafas, mengapa rasanya seperti ia sedang patah hati...?


Diza...tidak mungkin kan dia benar-benar menyukai Diza...?


Mark segera menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah kediaman Alex Rule dengan cepat...walau hatinya masih sedikit terganjal..ia terpengaruh dengan airmata Diza dan sama sekali tak bisa melupakannya. gadis ini benar-benar berbeda..


********************


Diza membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis sampai ia tertidur...


Sementara Dilan berada di halaman rumah dan berulangkali melakukan panggilan telp namun Diza tak juga mengangkatnya...Dilan berdiri masih menatap ke lantai atas tepat di kamar Diza yang gelap...mengapa Diza tidak mengangkat telp darinya...


Ada apa.....?


Dilan menghela nafas,....ia lalu mengusap kasar wajahnya....sebenarnya tadi Dilan sedang melakukan kencan dengan gadis yang baru saja di kenalnya namun entah mengapa justru hati dan pikirannya tertuju kepada Diza....senyum Diza, cara gadis itu cemberut dan marah sungguh membayangi Dilan hingga pria itu akhirnya meninggalkan teman kencannya demi menemui Diza..


Dada Dilan menjadi panas ketika membayangkan bahwa mungkin dokter Mark juga menyukai Diza lalu mereka...Arrgghhh...tidak, ia tak akan membiarkan Diza jatuh dalam pelukan dokter Mark meski ia memang tak tau mengapa, perasaan ingin melindungi Diza terlalu besar hingga membuat Dilan tak ingin jauh dari Diza..ia juga tak mengerti mengapa ia merasakan ini.


Lama Dilan berdiri disana menunggu jika mungkin Diza keluar namun, Diza tak kunjung keluar dan membuatnya semakin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi....


*************************


Aley sedang duduk bersandar di ranjang, ruangannya, perkembangan kondisinya sudah mulai membaik...dan kata dokter, dia sudah bisa pulang walaupun harus melakukan terapi untuk lututnya yang masih membuatnya melangkah sedikit pincang..

__ADS_1


Ketukan pintu di kamarnya membuat Aley mengangkat wajahnya, sebagian ingatannya sudah pulih..meski hanya sebagian....


''Siapa kau...'' desah Aley berusaha mengingat meski ia tidak bisa mengingat juga...


Seorang pria tampan datang dan membawa bunga untuk dirinya...


''Aley.....''


''Maaf tapi ingatanku.....


''Aku adalah dosenmu Mr. Derrek.....''


''Mr. Derrek......Aley hanya mengangguk, silahkan duduk...''


''Bunga untukmu...''ucap Derrek lalu mendekat dan memberikan bunga itu ke dalam tangan Aley dan gadis itu tersenyum penuh ucapan terimakasih


''Bunga yang indah...terimakasih....'' ucap Aley lembut...


Derrek pun menjadi puas...


Namun pada saat yang sama......


Pintu terbuka lagi dan sosok Damian muncul dengan membawa bunga, namun ia begitu terkejut ketika melihat Aley sedang memegang bunga yang di berikan Derrek..


Damian mengepalkan tangannya, bahkan ketika Aley sakit, ia sama sekali tidak menyerah..bagaimana mungkin...??


Damian sungguh tak sanggup menahan emosinya Damian lupa jika Aley sedang sakit dan lupa ingatan begitu melihat Damian...emosinya naik pada level maksimal...sementara Derrek hanya menaikan alisnya..inilah yang dia mau melihat emosi Damian.....


Damian mendekat, merebut bucket bunga dalam tangan Aley dan menghancurkannya dengan segera....lalu ia mendekati Derrek dan melayangkan pukulan telak di wajah pria itu...


Bugggghhhtttt


Pukulan keras itu meluncur di wajah Derrek hingga pria itu terjatuh ke lantai...


Aley yang tak tahan melihat pemandangan itu menjerit keras....


''Apa yang kau lakukan.......'' jerit Aley marah......


Saat itulah Damian baru menyadari kondisi Aley......keduanya bertatapan tajam..

__ADS_1


__ADS_2