Dibawah Ancaman Mafia Kejam

Dibawah Ancaman Mafia Kejam
Menikmati Kekayaan


__ADS_3

Fera menutup telp dengan mata yang memerah marah tentu saja gaun yang telah ia idam-idamkan selama ini untuk di pakai di acara penting bersama Steve batal begitu saja dan sekarang malah Butik Diamond sama sekali tak mau bertanggung jawab dan malah menantangnya untuk menuntut...


Fera merasa selama ini hubungannya dengan pemilik butik baik-baik saja, setiap pesanan yang ia minta tak pernah di kecewakan dan gaunnya siap selalu tepat waktu...lalu mengapa sekarang dia melakukan ini, sedangkan acara akan di lakukan besok malam, dimana lagi ia harus mencari gaun yang pas....Steve pasti akan sangat marah kepadanya, hubungan mereka memburuk dan sedingin es, Steve bahkan selalu mencari kesalahannya setiap mereka bertemu, hingga Fera sangat takut jika membuat suaminya marah.


Fera membuka lemarinya dan meraih jaket lalu keluar dari sana, ia harus menemui pemilik butik itu dan meminta pertanggung jawabannya, Fera tak akan pernah menyerah dan akan menuntut pemilik butik itu.


Fera kemudian melangkah menuju pintu dan sedikit terkejut melihat sosok Steve akan masuk ke dalam kamar, wanita itu kembali gugup...


Steve menatapnya dengan tajam..


"Kau mau kemana....?"


"Aaku....aku...."


Steve melangkah melewatinya dengan geraman halus yang merupakan isyarat baginya...


Fera yang sudah hafal geraman itu dan menyerah untuk mengikuti langkah Steve.


Pria itu tampak sangat dingin....


''Mengapa kau tak menjawabku...''


''Aku ingin menemani kak Jesika untuk mengambil gaun..''


Steve terdiam lalu membuka jasnya berikut dasinya,


''Baiklah..jangan lupa besok malam kau harus memakai gaun yang kau tunjukan padaku waktu itu, ada malam malam bersama investor dari jepang, aku rasa istrinya menyukai mode gaun seperti yang kau tunjukan...''


Deg................


Wajah Fera begitu pucat, bagaimana mungkin ia memakai gaun itu sementara pihak butik telah mengecewakannya...


''Baiklah...aku akan mengambilnya nanti..''


''Bagus...''


Fera mendekat hendak membantu Steve melepaskan dasinya namun, pria itu menghindar dengan hempasan tangan yang kasar pada lengan Fera...

__ADS_1


''Jangan mecoba merayuku, karna percuma.''


Steve berbalik dan menurunkan pandangan pada sosok Fera yang hampir menangis, ia tersenyum...


''Aku sama sekali tidak tertarik pada tubuhmu, melihatmu mencoba merayuku membuat aku semakin muak dan teringat dengan apa yang kau lakukan kepada Ana......kau seperti patung bagiku.'' desis Steve melangkah meninggalkan Fera yang membeku di tempatnya...


Airmatanya menetes dengan kepalan tangan yang gemetar, semua gara-gara Anastasya sialan itu....awas saja, ketika mereka bertemu nanti Fera akan menghancurkannya.....


****************************


Anasatasya menatap gaun pesanan Fera yang menjuntai indah menyentuh lantai, gaun berwarna merah maroon itu begitu memukau di taburi kristal mengkilap membentuk payetan yang mengukir indah..


Gaun itu sangat indah bila di pakai....karna membentuk lekukan tubuh sang pemakai, menimbulkan kesan sexy dan keanggunan yang misterius...


Ana menaikan sudut bibirnya....gaun itu tak akan pernah menjadi milik Fera, ia sudah membayangkan betapa wanita itu sudah menggila sekarang..ia pasti sudah berteriak dan marah.....


Widya bilang, Fera tak berhenti berteriak dan mengancam akan menuntut butik mereka...Ana sudah tidak sabar lagi untuk melihat wajah Fera....ia akan memberi kejutan kepadan wanita itu...


Mereka akan bertemu lagi tapi bukan sekarang, ada waktunya nanti.


Pintu di ketuk dan Ana mengangkat wajahnya...lalu menekan tombol di meja dan pintu terbuka...


"Nyonya Ana...ada sesuatu yang harus ada temui saat ini di mall.."


Ana menaikan alisnya....


"Katakan ada apa...?"


"Nyonya akan bersenang-senang...." Hani menunduk hormat.


Ana tersenyum melihat tatapan Hani yang penuh isyarat...


"Kau tau jika aku tidak sabar lagi Hani...."


''Tentu saja...nyonya bisa melakukan apapun disana..''


Ana bangkit dari temapt duduknya dan melangkah meninggalkan ruangannya.....

__ADS_1


****************************************


Mall Termewah Di kota itu....


Ana melangkah dengan beberapa pelayan di belakangnya, menyusuri pertokoan mahal di dalam Mall itu, sementara tak banyak orang yang ada disana mengingat harga barang di disini sangat mahal.


Ana bahkan lupa bahwa ia kini telah mampu membeli semua yang ia mau tanpa memandang harga.


Matanya berkeliling untuk mencari sesuatu yang di belinya, sementara Hani mendampinginya sambil melirik ke segala arah untuk mencari seseorang yang memang telah di tunggunya....gadis itu tampak gelisah...


Ana menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang begitu ia kenal...matanya melebar dengan senyum yang terbit di bibirnya...


Jemari Ana terkepal dengan kuat lalu melangkah mendekat ke arah sebuah gerai yang menjual tas mewah dan mahal, ia pun dengan percaya diri melangkah masuk setelah menyadari wanita itu menatap ke arah tas yang sama....


''Aku mau yang itu...''seru Ana dengan cepat sebelum wanita itu bicara,...


Mata Ana berbinar senang ketika sang pelayan menyerahkan tas berukuran kecil namun begitu manis di tangannya, sementara wanita yang sejak tadi melihat tas itu menjadi marah dan iapun menoleh tidak terima...


''Apa maksudmu..aku lebih dahulu.....''


Kata-katanya menggantung dengan ekpresi yang sangat syok, bahkan ia nyaris pingsan disana...Ana tersenyum dengan lirikan sinis..


''Hay.....Jesika...''


Tubuh Jesika menegang sangat terkejut, bahkan tubuhnya goyah menyadari jika yang berdiri di hadapannya adalah sosok Ana...


bagaimana gadis miskin ini bisa....berubah dalam waktu sekejap, bagaimana bisa ia yang miskin berubah menjadi sosok mahal dengan wajah yang bersinar dan perawatan ratusan juta di sekujur tubuhnya...Jesika tau karena ia biasa melakukan perawatan kelas atas, dan melihat Ana yang berubah semakin cantik, mulus dan bersinar membuatnya yakin Ana telah mengeluarkan banyak uang demi tubuh dan wajahnya...


Ana yang dulu bahkan sudah tak tampak lagi kepadanya,...Jesika tertawa dengan kesal, apakah dia sudah menjual dirinya dan mendapatkan ini semua...? cih...tentu saja, gadis miskin sepertinya mana bisa berubah dalam sekejap tanpa melac*rkan dirinya...


Mungkinn saja dia menjadi simpanan para pria kaya, menyadari bukti bahwa Danar dan Ardy dengan mudah jatuh cinta kepadanya...yah Ana pasti sudah menjadi simpanan [ara pria kaya yang tua...dan bibir Jesika tak tahan lagi untuk menghina wanita miskin tak tau diri ini...


Jesika bersedekap menatap keseluruhan Ana dengan pandangan jijik.....


''Wah...aku sama sekali tak menyangka bisa menemukanmu di butik mahal ini Ana, aku pikir kau bekerja sebagai pelayan disini...maaf kalau aku salah....apa kabarmu....''


Jesika sedikit tertawa dengan raut wajah mengejek yang kentara dan Ana hanya tersenyum dingin dengan kepalan tangan di balik punggungnya....

__ADS_1


''Lebih tepatnya aku akan membeli tas ini untuk pelayan kesayanganku, bagiku tas ini terlalu murah...tanganku mungkin akan gatal memakainya..'' Ana menaikan sudut bibirnya...


Jesika meradang............


__ADS_2