
Ana hanya diam saja sepanjang jalan..di tambah kepalanya yang masih terasa pusing Ana hanya ingin cepat sampai dan semua berakhir secepatnya lalu ia bisa pergi dan hidup baru bersama anaknya..tanpa sadar Ana memeluk perutnya dan membelainya dengan sayang..
''Ada apa...kau sakit.'' ucap Arkana di sela menyetirnya.
Ana menoleh dan lalu sadar jika ia membuat sebuah kesalahan yang mungkin akan fatal jika Arkana tau..
'''Tidak...aku baik-baik saja...lalu dimana alamat pengacaramu, mengapa lama sekali Arkana..''
Arkana tersenyum sinis..
''Apa kau sudah tidak sabar lagi ingin menikah dengan Alex karna itu kau terburu-buru soal perceraian kita.''
Ana memalingkan wajahnya dan mencoba untuk menelan rasa sedihnya ia pun menganggukan kepalanya..
''Tentu saja...Alex akan melamarku dan kami akan menikah.''ucap Ana yang mencoba berbohong sekali lagi..
Untuk kali ini saja Tuhan...karna Ana tak tau bagaimana cara melepasakan diri dari Arkana kalau tidak dengan cara begini dan dia berharap mereka akan melupakannya setelah dia pergi...
Arkana tersenyum dingin, lalu kembali melajukan mobilnya lebih kencang dari sebelumnya..hingga Ana merasa sedikit takut...hanya memejamkan mata ia berdoa agar cepat sampai..
Setelah menempuh jarak 30 menit lamanya mobil itu memasuki sebuah apartement mewah milik Arkana..hingga Ana begitu terkejut ketika pria itu mematikan mesin mobil..Ana menoleh protes, apa sesungguhnya keinginan Arkana..mengapa malah datang ke apartemennya dan bukan kantor pengacaranya...?
''Arkana....''
''Aku meninggalkan berkas kita disini..jadi aku perlu mengambilnya di apartement sebentar..''ucap Arkana dengan dingin...
Ana mengangguk setuju,
''Baiklah...aku akan tunggu disni saja...''ucap Ana keras kepala..
Arkana menganggukan kepala sambil membuka pintu,
''Terserah kepadamu Ana....yang pasti kau harus bersiap ketika petugas keamanan akan menanyaimu beberapa hal seperti kemungkinan kau adalah simpananku yang tak ingin di ketahui oleh istriku yang sah..mungkin mereka akan mengambil fotomu...dan.....''
Ana merasa ngeri sendiri lalu menggeleng dengan cepat lalu ikut membuka pintu mobil dan keluar secepatnya dari sana hingga Arkana hanya terkekeh geli sendiri...
''Aku akan ikut saja Arkana, bolehkah...''
''Tentu saja kau masih istriku yang sah.'' ucap Arkana dengan senyum ketegasan....
Ana hanya tersenyum salah tingkah, wajahnya memerah sekarang.....
Arkana lalu melangkah mendekatinya, mengambil jemari Ana dan menggenggamnya dengan erat membuat Ana menoleh kepadanya...
''Aku akan menikmati hari terakhir sebagai suami seorang Anastasia..bolehkan...?''
Ana membeku namun ia tak menolak ketika Arkana menuntunnya menuju apartemennya..keduanya melangkah beriringan dalam kebekuan yang menyesakan...
Ting...........
__ADS_1
Pintu lift terbuka dan mengantarkan keduanya sampai ke depan pintu...
Arkana lalu menekan angka yang membuat Ana sekali lagi membeku karna Arkana memberikan tanggal lahirnya sebagai password apartemennya, Ana memalingkan wajahnya merasa sedikit nyeri di dalam hatinya...
Semua akan baik-baik saja setelah dia pergi, buktinya Arkana nyata mampu mendapatkan wanita yang seibu kali lebih baik darinya..Ana hanya harus menguatkan hatinya...menyingkir dari kehidupan Arkana dan Alex selamanya...
Ceklek!!!!
Pintu kamar apartemen terbuka dan mereka pun masuk bersama...
Ana tertegun melihat benyaknya foto pernikahan mereka yang masih terpasang di hapir setiap dinding ruangan, mau tak mau hatinya bergetar...menjadi canggung....
Arkana menyadari peruibahan wajah Ana dan berdehem,
''Aku akan menurunkan semua foto kita tenang saja..'' ucap Arkana menjelaskan...
Ana hanya diam saja lalu melangkah dan duduk dengan baik di sofa...sementara Arkana melepas Jasnya berikut dasinya...
''Mengapa kau tidak kembali kerumah...''tanya Ana menatap Arkana yang mendekatinya dan duduk di sampingnya..
''Aku hanya mencari suasana baru...''
''Baiklah...itu bagus untukmu...''balas Ana menundukan wajahnya...
Sementara Arkana menoleh kepadanya.....
''Setelah kau pergi dari rumah..kau tidur dimana...''
''Itu.....aku...''
''Apa kau bersama Alex...''
''Alex.'' ulang Ana dengan wajah polosnya ketika Arkana secara tidak langsung sedang menuduhnya...
Sementara Arkana mengepalkan tangannya...ketika rasa cemburu mulai membakarnya dengan cepat..
Apa yang harus di katakan Ana...jika ia jujur kalau ia tidur di Hotel dan di temani Hani maka Arkana mungkin tidak akan melepasnya..namun tekadnya sudah bulat jika ia harus pergi...
Ana menatap Arkana dan tersenyum dengan penuh keyakinan,
''Tentu saja...aku bersama dengan Alex..bukankah kau sama sekali tak percaya kepadaku...jadi mengapa kau masih bertanya dimana aku malam itu ketika kau mengusirku.'' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca...
Arkana mengeraskan tatapannya...
''Ana....''
''Bukankah kau ingin menceraikan aku secepatnya...wanita itu yang kau turunkan di jalan tadi sangat cantik...setidaknya kalian berdua sangat cocok...''
Arkana tersenyum...
__ADS_1
''Tentu saja....dia tak akan pernah menghianatiku sepertimu, sudah kubilang aku mampu menggantimu dengan cepat.''ucap Arkana dengan tajam..
Ana tersenyum menganggukan kepala,..mengabaikan rasa sakit di dadanya ia menatap Arkana...
''Itu bagus..jadi..apalagi yang kau tunggu, mana berkas perceraian kita karna aku tak punya waktu untuk menunggu.''
''Hoh...kau benar-benar telah mempersiapkannya dengan baik...'' Arkana tampak sangat marah..
''Tentu saja Arkana..aku ingin ini cepat selesai...''balas Ana dengan tatapan beku...
Arkana lalu mengangguk...berdiri dan melangkah ke dalam ruangan kerjanya sementara Ana hanya menunggu dengan mata berkaca-kaca,...yah..apa yang ia lakukan adalah benar, Arkana tidak percaya kepadanya jadi..inilah yang terbaik..berpisah adalah yang terbaik bagi mereka saat ini....
Ana merasakan kram di perutnya yang mulai menyerangnya dengan halus....rasanya sedikit ngilu....
Anakku...bisakah kau bertahan sebentar lagi...kita akan pergi dan kali ini kita akan hidup tenang jadi..bisakah kau bekerja sama dengan ibumu nak..? bisik Ana dengan mata berkaca-kaca sembari memejamkan matanya...
Tak berapa lama kemudian...Arkana datang dan membawa beberapa lembar yang harus di tanda tangani Ana,...keduanya saling menatap sebentar...lalu Ana buru-buru memutus kontak mata di antara mereka..
Arkana lalu menundukan kepalanya.
''Tanda tangan disini...''ucap pria itu menuntun Ana...
Ana lalu menganggukan kepala, jemarinya memegang pulpen dengan jemari yang bergetar, sementara Arkana melihat itu semua dan sedikit berpikir...
''Mengapa kau ragu...''ucap Arkana tajam..
Ana menggeleng...
''Aku tidak ragu...aku akan menandatangani ini semua dengan cepat.'' ucap Ana lalu mulai menandatangani berkas di hadapannya...akhirnya semua selesai juga...hati Ana merasa sedikit nyeri...
Arkana tersenyum puas.....
''Mengapa kau tidak mau membacanya dulu sebelum tanda tangan tadi...kau sangat ceroboh..''lirik Arkana misterius..
Ana lalu menurunkan pandangan.......di raihnya lembaran kertas yang sudah terlanjur ia tanda tangani tanpa curiga..
Namun Ana kalah cepat ketika Arkana lebih dulu mengamankan lembaran yang berisikan tanda tangan di atas materai itu,...
''Arkana...aapa..apa maksudmu ini.''
Arkana berdiri dengan senyuman ketegasan...
''Sudah kubilang bukan kalau apa yang menjadi milikku akan tetap menjadi milikku...yang kau tanda tangani tadi bukan berkas perceraian namun kau menandatangani berkas kalau kau tidak akan pernah bersedia bercerai denganku apapun alasannya.'' Arkana tersenyum menang...
Wajah Ana begitu pucat.....
Arkana tak menunggu, segera ia menarik tubuh Ana berdiri sejajar dengannya..matanya tajam seakan menusuk ke dalam hati Ana...bibirnya sungguh merindukan bibir Ana...
''Aku merindukanmu Ana... bukankah kau juga...''
__ADS_1
Arkana mendekatkan wajahnya.........
''Tidak...Arkana....''