Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 102 - Jenis Kelamin Baby R


__ADS_3

Luna sudah memasak dan menyiapkan makanan untuk suaminya makan siang.


"Ting.... Tong......" Terdengar suara bel berbunyi.


Dengan langkah pelan-pelan Luna membuka pintunya sambil tangan kirinya memegang perutnya.


"Nona, saya kesini disuruh tuan muda untuk mengantarkan pesanan Nona. Tadi selama saya belanja tuan muda yang memilihnya untuk Nona." Sambil menyerahkan paper bag.


Luna tersenyum dan hatinya sangat bahagia mendengar asisten Aldo bicara bahwa Evan uang memilihkan kaos-kaosnya.


"Asisten Aldo, silahkan masuk terlebih dahulu."


"Tidak Nona, saya buru-buru untuk segera kembali ke kantor."


"Baiklah, kalau begitu saya titip bekal makan siang untuk suami saya. Tunggu sebentar ya."


"Baik Nona."


"Asisten Aldo sudah baik padaku. Tidak ada salahnya nanti makan masakanku bersama Evan." batin Luna.


Tak lama kemudian Luna kembali membawa 5 rantang yang tersusun rapi.


"Ini saya sengaja masak banyak, nanti kamu temani makan suami saya ya? Disini ada 2 rantang berisi nasi dan 3 rantang lagi berisi masakanku beserta lauk pauknya."


"Baik Nona, seharusnya Nona tidak usah repot-repot untuk saya. Nanti tuan muda salah paham. Besok-besok jangan seperti ini Nona."


"Saya hanya mengucapkan terima kasih untukmu. Baiklah, besok saya tidak akan lagi seperti ini," ucap Luna.


Asisten Aldo lega mendengar ucapan Luna.


"Kalau begitu saya permisi Nona."


"Iya, hati-hati."


"Nona muda sangat baik dan sopan. Perhatian lagi sama tuan muda. Tuan Ferdinan sangat beruntung punya menantu seperti Nona muda." batin Aldo.


Luna menutup pintunya setelah asisten Aldo pergi. Luna lalu membuka paper bag yang diberikan Aldo. Luna bahagia saat melihat kaos-kaos yang dibelikan Evan bagus-bagus dan pastinya pas di badannya.


"Aku akan meminta Bibi untuk mencucinya terlebih dahulu agar besok bisa aku pakai," ucap Luna.


Di kantor Evan dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


"Tok..... Tok....... Tok.........."


"Masuk," ucap Evan yang sambil meneliti berkasnya.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah ke rumah tuan dan memberikan pesanan Nona."


"Bagus Aldo. Terima kasih."


"Tuan tidak menyadari bahwa aku bawa rantang untuknya." batin Aldo.


"Tuan, tadi Nona memasak dan menitipkan bekal ini untuk Tuan makan siang."


"Apa tadi Aldo bilang Luna masak dan memberikan bekal makan siang untukku." batin Evan.


Evan lalu mendongakkan kepalanya dan langsung mengernyitkan dahinya saat melihat bekal yang dibawa Aldo.


"Kenapa banyak sekali bekalnya?" tanya Evan heran.


"Begini Tuan, tadi Nona meminta saya untuk menemani Tuan makan siang."


"Ehm baiklah. Ya udah ayo kita makan saja, taruh di meja dan saya akan cuci tangan terlebih dahulu."


"Baik Tuan."


Setelah Evan cuci tangan lalu Aldo pun juga cuci tangan. Mereka sudah duduk di sofa lalu makan di meja.


"Tuan, makanannya sangat enak. Nona pintar memasaknya."


Evan berpikir bahwa semakin besar kandungan Luna maka akan semakin susah untuk Luna bergerak bebas. Jadi Evan tidak ingin Luna terlalu capek.


"Tuan ini terlalu lebay, masa istrinya dilarang masak. Padahal masakannya seenak ini. Kalau hanya masak saja tidak akan kecapekan. Kecuali kalau Nona bekerja." batin Aldo.


...*****...


DI RUMAH SAKIT


Risa hari ini usia kehamilannya memasuki 20 minggu dan waktunya akan mengecek kandungannya. Sekalian nanti mereka akan melihat jenis kelamin bayinya. Rey menggenggam tangan Risa dengan erat saat berjalan menuju ruang dokter kandungan. Kali ini yang mengecek kandungannya bukan Yudha karena Yudha sedang koma di rumah sakit lain. Papa Kevin dan Mama Angel sudah berada di rumah sakit, mereka tadi janjian untuk bertemu.


"Nona Risa Alexander silahkan menuju ke ruang Dokter Airin," ucap suster sambil mengantarkan Risa dan Rey mendampingi Risa untuk masuk ke ruang dokter kandungan.


Sedangkan di luar ada Papa Kevin, Mama Angel dan Mami Ana. Papa Aldi sedang menjenguk duluan Yudha di rumah sakit karena semalam tidak datang, hanya Rey dan Risa yang datang ke rumah sakit menjenguk Yudha. Tak lama kemudian suster keluar ruangan.


"Sus bolehkah kami masuk. Saya mengenal orang yang punya rumah sakit ini. Pak Yudhistira adalah sahabat suami saya. Sekarang suami saya sedang ke rumah sakit tempat Yudha dirawat," ucap Mami Ana agar bisa masuk ke ruang Dokter Airin.


"Baiklah Pak, Bu. Ikuti saya, saya akan bicara dengan dokternya agar mengerti."


Mereka akhirnya masuk ke ruang Dokter Airin. Dokter Airin kaget saat akan melakukan USG ke Risa tiba-tiba ada yang masuk ke ruangannya.


"Dok, beliau sahabatnya Pak Yudhistira. Jadi mohon izinkan mereka masuk."

__ADS_1


Dokter Airin hanya menjawab dengan anggukan.


"Untung belum mulai USG." batin Mami Ana.


Dokter Airin lalu mulai menggerakkan alat di atas perut Risa.


"Kandungannya cukup sehat dan kuat. Bayinya juga sangat aktif. Untuk jenis kelaminnya," ucapnya terpotong sambil menggerak-gerakkan alatnya di atas perut Risa dan mencari sesuatu.


Rey dan Risa sudah tidak sabar ingin tahu jenis kelamin bayinya. Mama Angel, Papa Kevin dan Mami Ana juga sudah sangat penasaran dengan jenis kelamin cucunya.


"Selamat untuk jenis kelamin bayinya adalah laki-laki."


Rey langsung senang mendengar anaknya berjenis kelamin laki-laki. Rey melihat ke layar monitor.


"Yes!" ucapnya dengan tangannya yang mengepal sambil menarik menurunkannya.


Sedangkan Risa hanya tersenyum saat melihat tingkah konyol Rey.


"Sayang Baby R berjenis kelamin laki-laki," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya sayang, kamu tampaknya bahagia sekali anak kita berjenis kelamin laki-laki."


"Iya dong sayang. Pasti akan ganteng sepertiku," ucap Rey dengan percaya diri.


"Baby R, siap-siap nanti setelah kamu cukup besar di kandungan Mommy. Nanti sebentar lagi kamu akan Mommy ajak ke club motor Mommy." batin Risa.


Papa Kevin hatinya sangat bahagia, ini pertama kalinya ia mendengarkan suara detak jantung cucunya secara langsung.


"Alhamdulillah cucuku laki-laki dan nantinya akan memimpin perusahaan."


"Wah Jeng Angel cucu pertama kita berjenis kelamin laki-laki," ucap Mami Ana sambil memeluk Mama Angel.


"Iya Jeng Ana, saya sangat bahagia cucu pertama kita laki-laki. Nantinya akan meneruskan menjadi pemimpin perusahaan menggantikan suami saya di kantor."


"Gak bisa gitu dong Jeng Angel. Cucu pertama kita nanti yang menggantikan Papi Aldi nantinya di perusahaan. Baru nanti cucu kedua kita yang akan menggantikan Kevin di perusahaan," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.


Dokter kaget mendengar ucapan ibu-ibu yang berada di ruangannya memperebutkan bayi yang belum lahir untuk memimpin perusahaannya. Risa hanya melongo mendengar ucapan Mama Angel dan Mami Ana. Rey tak kalah terkejutnya mendengar ucapan mereka. Sedangkan Papa Kevin sudah tidak kaget lagi karena pernah mendengar tentang istrinya dan besannya berbicara ditelepon saat menginginkan cucu kedua setelah Baby R lahir.


"Satu saja belum lahir ini Mama, Mami," ucap Risa pelan namun masih terdengar di ruangan itu.


"Iya Mami ini jangan bilang cucu kedua dulu dong. Rey pusing, satu saja sudah repot kok ngidamnya Mami apalagi dua," ucap Rey yang akhirnya di pelototi tatapan tajam Risa.


"Duh salah bicara lagi kan aku... Mudah-mudahan saja malam ini aku tidak di usir untuk tidur di luar." batin Rey.


Dokter lalu membersihkan cairan gel di perut Risa. Dokter lalu memberikan hasil pemeriksaan dan print USG. Tak lupa juga memberikan resep vitamin agar nanti ditebus di luar. Vitaminnya sudah ditebus, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Keluarga Alexander. Di perjalanan Papa Kevin yang menyetir dan disampingnya ada Rey. Dibelakang ada Risa yang berada ditengah antara Mama Angel dan Mami Ana. Mereka masih berdebat untuk cucu pertama mereka agar menjadi pemimpin perusahaannya. Saat Risa bilang pusing karena mendengar ocehan Mama Angel dan Mami Ana, akhirnya mereka lalu terdiam.

__ADS_1


__ADS_2