
Kezia menghubungi nomor Revano tapi tidak aktif. Mengirimkan pesan WhatsApp juga hanya ceklis satu. Kezia sekarang bingung Revano entah pergi kemana.
"Kemana sih Revano? Awas saja kalau sampai ketemu denganku." Kezia langsung melemparkan hpnya ke tempat tidur.
Keinginan Kezia adalah setelah setahun pernikahannya dirinya yang akan menceraikan Revano. Tapi kini kenyataannya Revano telah melayangkan gugatan perceraiannya saat usia pernikahannya yang baru berjalan 3 bulan lebih satu minggu.
Kenzo kini sudah tahu tentang kepergian menantunya dari Bibi.
"Sayang, kita ke apartment anak nakal itu ayo sekarang juga."
Kenzo menyebutnya anak nakal karena Kezia sering membantah perintahnya. Berbeda dengan Keano, putra bungsunya justru anak yang penurut.
"Kenapa kamu marah-marah sayang?" Sonya mendekati suaminya.
"Iya Papa setelah mendapatkan telepon kok marah-marah sih." Keano sahutnya.
"Kakak ipar kamu pergi dari apartment. Kezia sekarang sedang marah-marah di kamarnya, membanting segala sesuatu yang ada di kamarnya."
"Apa??" Sonya dan Keano terkejut mendengar Kenzo berbicara seperti itu.
"Ayo kita ke apartemennya sekarang. Kalau Kezia tidak berbuat sesuatu yang menyakiti hati suaminya, pasti Revano tidak akan pergi."
"Benar Papa, kita harus ke apartemennya Kak Kezia sekarang juga."
"Aku ikut ya sayang?" Sonya meminta untuk ikut dengan suaminya.
"Iya ayo......."
Mereka lalu keluar rumah dan langsung masuk mobil. Kali ini yang menyetir mobilnya adalah Keano. Sonya dan Kenzo ada di kursi belakang.
"Anak kita sepertinya sudah keterlaluan dengan menantu kita ya Papa."
"Iya Mama. Kita harus tanya masalah apa lagi yang ada dalam rumah tangganya. Mereka sepertinya tidak bisa kalau untuk tidak akur. Masih saja seperti Tom and Jerry selalu bertengkar hampir setiap hari."
"Iya Papa bikin pusing saja itu anak." Sonya kesal dengan anaknya yang bandel.
Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di apartemennya Kezia.
"Dimana dia?" Tegas Kenzo yang membikin jantung Bibi hampir meloncat.
"Masih di kamarnya Tuan, Nona Kezia."
Kenzo lalu berjalan ke kamar anaknya dan disusul belakangnya ada Sonya dan Keano. Mereka bertiga matanya terbelalak saat melihat kamar Kezia seperti kapal pecah. Kezia menatap ke arah jendela kamarnya.
"Apa-apaan kamu ini nak? Kamar sudah seperti kapal pecah."
__ADS_1
Kezia menoleh ke arah Kenzo.
"Papa.............."
"Kemana Revano pergi? Menantuku pasti sudah kamu perlakuan dengan buruk?" Sambil memegang dagu anaknya.
"Aku tidak melakukan apa-apa Papa. Percayalah padaku!"
Kezia kini ketakutan dengan Papanya. Kezia baru kali ini dimarahin Papanya sampai seperti ini.
"Bohong! Pasti ada apa-apanya. Jika tidak, Revano tidak akan pergi dari apartment ini."
"Papa, ini ada surat dan tulisannya Revano," ucap Keano yang memberikan suratnya kepada Papanya.
Kenzo melepaskan tangannya dari dagu anaknya. Sonya mendekati suaminya. Sonya penasaran dengan isi surat yang menantunya tulis. Kenzo dan Sonya lalu membaca surat dari Revano bersama-sama. Kenzo dan Sonya membulatkan matanya saat membaca surat tersebut.
"Kalian selama ini memiliki perjanjian nikah kontrak selama satu tahun, apakah itu benar?"
Kezia mengangguk pelan sambil menunduk tidak berani menatap wajah Papa dan Mamanya. Kenzo geleng-geleng kepala tidak habis pikir anaknya bertindak gegabah seperti ini.
"Astaga Papa. Revano benar-benar menggugat cerai anak kita," ucapnya sambil mengambil amplop yang berada di atas tempat tidur.
"Menantu kita sudah tidak betah dengan kelakuan anak kita yang keterlaluan ini Mama."
"Kenapa kamu tidak berubah juga nak? Akhirnya Revano pergi kan dari hidup kamu." Sonya kini kecewa dengan anaknya yang membikin menantunya pergi entah kemana.
"Kalau kamu tidak merasa Revano itu penting dalam hidupmu, kenapa kamarmu ini sangat berantakan seperti kapal pecah?"
"Aku hanya ingin yang boleh menggugat cerai duluan adalah aku. Gengsi dong Papa kalau Revano yang menggugat cerai diriku. Makanya kamar ini jadi berantakan karena aku tadi kesal dengan Revano."
"Kakak ini kenapa bisa Revano meninggalkan Kakak? Revano kan baik orangnya, bahkan lebih baik dari Kak Reno. Kenapa Kakak memperlakukan Revano dengan buruk selama ini? Sehingga dirinya tidak betah dengan pernikahan ini."
"Astagfirullah nak. Pikiran kamu kemana sih? Bisa-bisanya kamu mengusirnya dua kali." Sonya membaca kembali surat yang Revano tulis.
"Sudahlah! Kalian semua membikin kepalaku pusing. Aku akan menemukan Revano. Kalau pun harus bercerai biarkan saja. Aku juga berhak bahagia Papa."
"Papa sudah merobek surat gugatan cerai kamu dulu. Tapi Papa tidak berhak untuk merobek surat yang Revano ajukan."
"Kezia, Revano pergi kemana nak?" Tanya Sonya dengan nada lembut dan mendekati anaknya.
"Kezia tidak tahu Mama. Nomornya tidak aktif dan WhatsApp hanya ceklis satu."
"Mungkin Revano pergi keluar negeri Papa." Keano berasumsi bahwa Kakak iparnya itu pergi keluar negeri.
"Baguslah! Jadi aku tidak bisa melihatnya lagi." Sambung Kezia dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Kakak akan menyesal setelah ini. Aku yakin Kakak akan merasakan betapa kehilangan orang yang dicintai."
"Keano... Jaga omongan kamu ya! Kakak itu tidak mencintai Revano. Ingat itu baik-baik!"
"Kakak ini jangan munafik. Aku tahu Kakak sudah memiliki perasaan dengan dirinya kan? Tapi Kakak tidak sadar akan hal itu."
"Sudah-sudah kalian jangan ribut. Mama pusing ini, menantu Mama entah kemana. Bagaimana ini aku bilang sama Risa dan Rey?" Sonya bingung mau beralasan apa jika Rey dan Risa datang ke apartment ini untuk menengok anaknya atau menyuruh Kezia dan Revano datang ke rumahnya.
"Kita bilang seperti yang Revano tulis dalam surat ini saja sayang. Bahwa Revano mendapatkan beasiswa keluar negeri. Ini solusi yang terbaik agar Rey tidak terkena serangan jantung dadakan lagi."
"Aku setuju dengan solusi kamu sayang."
Kenzo lalu teringat akan sesuatu hal.
"Oh iya mana surat perjanjian nikah kontrak yang kamu sembunyikan?" Tanyanya kembali dengan menatap tajam anaknya.
"Di laci Papa, ada map yang berwarna hijau." Sambil menunjuk lacinya.
Kenzo lalu membuka laci bagian paling bawah.
"Papa akan sita surat gugatan perceraian ini dan surat perjanjian nikah kontrak kalian. Bila Revano sudah ketemu kalian harus ke rumah Papa. Apa kamu mengerti Kezia Leonardo?"
"Mengerti Papa," ucapnya sambil mengangguk.
"Beritahu aku jika Revano datang kemari atau kalian langsung datang saja ke rumah."
"Baiklah........"
"Ayo kita pulang sekarang. Biar Kezia meratapi nasibnya ditinggalkan pergi oleh orang yang terpenting dalam hidupnya."
"Papa kok bicara seperti itu sih? Revano tidak penting dalam hidupku." Kezia kesal Papanya berbicara seperti itu.
"Kamu belum sadar saja nak. Sebenernya kamu sudah jatuh cinta sama Revano nak. Mama juga pernah muda nak. Mama tahu apa itu tandanya cinta atau tidak dan kamu memang benar-benar sudah mulai jatuh cinta sama Revano."
"Kak Kezia siap-siap bucin saja sama Revano. Kakak pasti akan menyesal telah menyia-nyiakannya selama ini dan sekarang Revano entah pergi kemana. Aku yakin Kakak sebentar lagi akan mencarinya." Keano meledek Kakaknya.
"Aku tidak akan menyesalinya. Biarkan saja dirinya pergi."
Kenzo, Sonya dan Keano lalu pergi dari apartment. Kezia kini duduk kembali di tempat tidurnya. Kezia masih memikirkan perkataan Mama Sonya, Papa Kenzo dan Keano.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️
__ADS_1