Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 90 - Double Date


__ADS_3

DI KAMAR EVAN DAN LUNA


Evan sedang duduk di sofa kamarnya dan sambil meminum teh hangat yang baru saja asisten rumah tangganya antar ke kamarnya. Sedangkan Luna yang baru saja habis mandi dia sudah berpakaian namun pakaiannya sudah tidak muat untuk menutupi bagian perutnya. Luna sedang duduk sambil memandangi foto USG.


"Sayang coba kamu lihat apa yang telah kamu lakukan padaku."


Evan menoleh ke arah Luna. Evan lalu terkekeh saat melihat perut buncit Luna yang terekspos begitu saja karena bajunya yang sudah tidak muat.


"Hehehe iya sayang karena ulahku sekarang baju kamu sudah tidak pada muat ya," ucap Evan sambil cengengesan.


"Sayang sini, kamu minum teh hangatnya dulu. Habis ini kita ke mall beli baju baru."


Luna lalu berjalan menghampiri Evan yang sedang duduk di sofa. Luna juga langsung menyeruput tehnya lalu meletakkannya di meja. Evan lalu duduknya bergeser lebih dekat ke arah Luna. Evan menarik tubuh Luna pelan agar lebih dekat dengannya. Perlahan Evan sudah memeluk Luna dengan kedua tangannya Evan sudah berada di perut Luna dan mengusapnya perlahan. Anaknya menendang-nendang saat Evan sedang mengusap perutnya.


"Sayang baby kita menendangnya jadi lebih terasa kalau aku menyentuh perutmu langsung. Biasanya aku mengelus perutmu diluar bajumu."


"Iya... Tapi sampai kapan kamu akan memelukku seperti ini?"


"Eh iya sayang aku sampai lupa kalau kita akan ke mall." Evan lalu melepaskan pelukannya.


"Ayo sayang kita ke mall, aku akan belikan baju yang banyak untukmu."


Evan lalu menggandeng tangan Luna dan saat akan beranjak berdiri dari sofa Luna teringat sepertinya masih ada baju yang muat untuk menutupi perutnya.


"Sebentar sayang masa iya aku akan ke mall dengan perutku yang terlihat seperti ini. Sepertinya masih ada baju yang muat untuk ku pakai."


"Ya udah sayang aku tunggu kamu ganti bajunya."


Evan lalu duduk kembali di sofanya. Luna dengan segera mencari baju yang dia lihat tadi sepertinya masih muat untuk menutupi perutnya. Luna langsung memakainya dan benar saja perutnya masih bisa tertutupi.


"Sayang aku udah siap. Ayo kita berangkat."


"Ayo sayang."


Evan lalu menggandeng tangan Luna untuk turun dari kamarnya. Pelan-pelan Evan dan Luna akan berjalan ke arah tangga. Evan dengan telaten membantu Luna untuk turun ke lantai bawah. Karena ibu hamil harus berhati-hati untuk turun dari tangga. Evan membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya. Luna masuk langsung duduk dan melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang sebulan yang lalu dipakaikan Evan saat menikah dengan Luna.


Luna tersenyum bahagia saat melihat cincinnya. Evan melihat Luna yang sedang melihat cincinnya pun langsung tersenyum.


"Sayang apakah kamu bahagia menikah denganku?" pertanyaan itu lolos dari mulut Evan.


Luna menoleh kearah Evan dan langsung tersenyum.


"Aku bahagia sekali sayang bisa menikah denganmu. Selama sebulan ini kamu sudah membuktikan untuk menjadi seorang ayah dan suami yang baik untuk kita berdua," ucap Luna sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Evan lalu teringat bahwa Luna berusaha untuk mempertahankan kandungannya dengan berbagai cara yang Luna lakukan di masa lalu.


"Terima kasih sayang kamu telah mau mengandung anakku." Evan lalu mengecup kening istrinya.


"Sayang kamu jangan berterima kasih kepadaku. Sudah sewajarnya sebagai seorang istri yang mengandung buah hatinya."


Seketika air mata Evan jatuh menetes membasahi pipinya. Luna langsung mengusap air mata Evan dengan kedua tangannya.


"Sayang apa karena anak kita perempuan kamu jadi cengeng begini?" Luna heran tiba-tiba Evan menangis.


"Tidak sayang, aku bersyukur kamu telah menjadi ibu yang baik untuk anak kita dan berusaha mempertahankan kandungan kamu. Aku tadi hanya teringat dengan masa lalu saja saat kamu berusaha untuk mempertahankan anak kita."


"Sudah sayang jangan bahas masa lalu. Kita harus fokus dengan masa depan kita yang lebih cerah. Kita akan lewati bersama kehidupan rumah tangga kita bersama putri kita."


"Iya sayang aku bersyukur mempunyai istri sepertimu."


"Aku akan berusaha untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik buat keluarga kecil kita."


Evan tersenyum lalu memasang sabuk pengaman untuk Luna. Kemudian juga memasang untuknya. Evan lalu melajukan mobilnya ke mall yang ia tuju.


Setelah sampai mall Evan lalu menggandeng Luna masuk ke mall. Yang mereka tuju pertama kali adalah toko pakaian. Evan dan Luna berjalan untuk mencari baju ibu hamil. Luna sedang memilih beberapa pakaian yang pas untuknya. Evan juga memilihkan beberapa dress untuk Luna yang menurutnya terlihat bagus saat Luna memakainya.


Disisi lain Rey dan Risa berada di mall yang sama dengan Luna dan Evan. Hanya saja mereka berada di toko yang berbeda. Rey dan Risa masuk ke toko mainan. Ternyata toko mainannya begitu lengkap tidak hanya menjual mainan saja tapi juga boneka dan kostum.


"Iya ada. Mari saya antar," ucap pegawai toko tersebut.


Rey dan Risa lalu mengikuti pegawai toko tersebut.


"Ini beberapa kostum yang kami jual."


Risa lalu memilih kostum yang dicari. Risa melihat kostum Dino hanya tinggal 2 ukuran L dan XL.


"Sayang kamu coba memakai ini di ruang ganti. Nanti aku mau lihat kamu saat memakainya," ucap Risa mengambil kostum Dino dengan ukuran L dan memberikannya kepada Rey.


Rey menuruti apa perkataan istrinya dan langsung menerima kostum yang diberikannya. Rey mengikuti petugas toko untuk mencoba kostumnya. Benar saja Rey pas menggunakan kostum Dinonya. Rey keluar dari ruang ganti tersebut. Risa tersenyum saat Rey menggunakan kostum Dinonya yang pas di badannya.


"Sayang sudah kamu gak usah copot kostumnya. Aku ingin lihat kamu seperti itu."


Rey terbengong saat Risa berbicara seperti itu apalagi disamping Risa ada mbak-mbak pegawai toko yang tersenyum menahan tawanya.


"Sayang tapi aku....."


"Tidak ada tapi-tapian!" Risa lalu menatap tajam Rey.

__ADS_1


"Kamu puas nak sudah ngerjain Daddy mu?" batin Rey.


Rey hanya bisa pasrah bagaimanapun juga ini demi anaknya. Risa lalu berjalan duluan menuju kasir untuk membayar kostum Dino yang Rey pakai. Risa langsung mengeluarkan black card yang pernah Rey berikan. Rey mendengus kesal lalu berjalan perlahan menuju kasir.


"Yang sabar ya mas. Ibu hamil harus selalu dituruti kemauannya," ucap sang pegawai toko tersebut.


Rey hanya tersenyum kecut mendengar ucapan pegawai toko tersebut. Setelah Risa membayar kostumnya Risa tersenyum senang melihat suaminya memakai kostum Dino.


"Sayang kamu sekarang sudah puas aku sudah pakai kostum Dinonya."


Risa hanya mengangguk dan tersenyum. Risa seketika merasakan perutnya lapar.


"Sayang aku lapar, ayo kita cari makan dulu sebelum pulang."


"Hah??? Aku pakai kostum Dino ini ke restoran?"


"Iya lah mau pakai apalagi sayang?"


Rey hanya cemberut saja saat keluar dari toko mainan tersebut. Rey hanya berdoa agar tidak ketemu dengan teman koleganya atau teman yang mengenalinya. Sepanjang jalan orang-orang pada melihat ke arah Rey ada yang tersenyum dan ada yang tertawa, lalu saat melihat perut Risa yang sudah terlihat membesar orang-orang paham bahwa istrinya yang ingin suaminya berpakaian seperti itu.


Saat berjalan akan masuk ke restoran Risa dan Rey bertemu dengan Evan dan Luna dari lain arah. Evan dan Luna habis belanja baju dan akan makan siang. Evan yang membawa semua belanjaannya. Luna dan Evan saling memandang dan tersenyum saat melihat Rey.


"Pfffttttt.............." Evan berusaha untuk menahan tawanya di depan Rey dan Risa.


"Rey kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Luna heran.


"Ini baru saja beli di toko mainan. Istriku sedang ngidam pengen aku memakai kostum Dino."


"Ngidam kamu kok aneh-aneh sih Risa?" ucap Evan.


"Emangnya Luna gak pernah ngidam yang aneh-aneh Evan?" tanya Risa penasaran.


"Tidak. Luna kalau ngidam hanya ingin memakan masakanku. Ehm... kadang juga Luna lapar saat malam hari dan aku harus menemaninya masak dan juga menemaninya makan."


"Loh kok sama seperti Lova ya? Apa mungkin karena anak Lova dan kamu sama-sama berjenis kelamin perempuan?"


"Mungkin saja Risa dan kamu ngidamnya aneh-aneh mungkin karena anak kamu berjenis kelamin laki-laki," ucap Luna.


"Mungkin saja sayang anak kita beneran laki-laki. Soalnya Papi juga pernah bilang begitu," ucap Rey tersenyum.


"Hmm mudah-mudahan saja sayang. Kita kan belum USG jenis kelamin Baby R."


"Ya udah ayo kita double date saja. Tenang aku yang akan traktir kalian," ucap Evan dengan senyuman.

__ADS_1


Mereka lalu masuk ke dalam restoran untuk makan bersama.


__ADS_2