Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Gugatan Cerai Untuk Rio


__ADS_3

Jangan lupa like dulu sebelum membaca ❤️


Revano setelah sholat lalu menelepon istrinya. Ia ingin mengabari kalau anaknya sedang berjuang antara hidup dan matinya di rumah sakit.


"Hallo Papa. Sudah aku bilang besok aku akan ke Bogor sama Reza setelah selesai sarapan."


"Ma, aku sedang berada di rumah sakit. Reva tadi perutnya sakit dan langsung aku bawa ke rumah sakit."


"Apa? Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Tadi aku panik Mama. Lalu aku sholat tahajud dulu."


"Ya sudah, kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang.Aku akan ke sana sekarang juga."


"Iya Mama. Wa'alaikum."


"Wa'alaikum Salam ...."


Revano lalu mengirimkan alamat rumah sakit. Setelah itu Reza dan Kezia langsung pergi keluar kota. Kezia panik jika terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Yang cepat dikit dong nak."


"Iya, Mama. Ini juga sudah ngebut."


"Kamu nyetirnya kaya keong. Biar Mama yang nyetir saja kalau begitu."


"Jangan Mama. Biar Reza saja yang nyetir."


Kezia lalu berdoa agar anaknya bisa selamat. Sementara di rumah sakit Revano mondar-mandir menunggu Dokter selesai menangani anaknya.


Revano terharu saat mendengar suara tangisan bayi menangis secara bergantian. Itu artinya kedua cucunya sudah lahir ke dunia.


"Cucuku, Renata dan Revita," lirihnya yang tak terasa air matanya sudah menetes.


Jika cucunya lahir lalu bagaimana dengan nasib anaknya. Itulah yang Revano pikiran saat ini. Beberapa puluh menit kemudian cucunya sudah dipindahkan ke ruang bayi dan masih harus dibantu dengan inkubator karena belum ada 9 bulan namun sudah lahir. Tadi Revano sudah mengadzani cucunya satu persatu.


Sedangkan Reva masih dalam penanganan Dokter. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?"


"Tadinya kita akan kehilangan pasien karena denyut nadinya semakin lemah dan berhenti sejenak. Namun Tuhan memberikan mukjizat. Denyut nadinya kembali normal."


"Alhamdulillah, itu artinya anak saya tidak apa-apa kan Dok?"


"Anak Anda dalam keadaan koma saat ini."


"Seketika tubuh Revano lemas kembali saat mengetahui anaknya koma."


"Dok, selamatkan anak saya. Kapan dia bisa siuman?"


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya doa dan mukjizat yang bisa membuat pasien kembali sadar."


Reva lalu dipindahkan ke ruang rawat. Revano kemudian duduk disamping anaknya.


"Nak, bangunlah. Katanya kamu ingin memeluk Renata dan Revita. Mereka sangat cantik seperti kamu sayang," ucap Revano sambil menggenggam tangan putri kesayangannya.


"Reva, jangan buat Papa sedih nak. Bangunlah Papa mohon," ucapnya kembali sambil sesenggukan.


Tak lama kemudian Reza dan Kezia sudah datang.


"Papa," lirihnya.


Revano lalu menoleh saat anak dan istrinya sudah datang.


"Mama," ucapnya sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Kezia tahu suaminya butuh dirinya saat ini. Kezia langsung memeluk suaminya.


"Mama, anak kita koma."


"Iya Papa, Mama juga sedih melihatnya seperti ini."


"Papa, mana anak-anaknya Kak Reva?"


"Ada di ruang bayi nak. Mereka masih dalam inkubator."


"Papa, ayo kita ke sana."


"Ayo nak."


"Reva, kita tinggal sebentar ya sayang. Nanti kita balik lagi," ucap Kezia sambil mengecup kening Reva.


Revano juga melakukan hal yang sama dengan Kezia.


"Nak, Papa harap kamu segera sadar dari koma."


Mereka lalu pergi ke ruang bayi. Kezia dan Reza tersenyum tipis saat melihat kedua bayi mungil itu menggeliat.


"Cantik dan lucu banget ya Mama adik bayinya," celetuk Reza.


"Iya nak. Mirip Kakak kamu ya cantiknya," ucap Kezia yang tak terasa air matanya menetes karena terharu cucunya sudah lahir.


Reza hanya mengangguk pelan saat ini.


"Kalau kamu ingin punya anak makanya buruan nikah nak," ucap Revano meledek anaknya.


"Papa, apa-apaan sih," ucap Reza kesal.


Reva terkekeh saat ini.


"Mama, cucu pertama kita alhamdulilah sehat semua."


...*****...


Sudah sebulan lamanya Reva koma di rumah sakit. Tidak ada perubahan dalam kondisi kesehatannya.


Di tempat lain Rio kelabakan mencari istrinya. Semalam ia pergi ke rumah mertuanya tapi juga tidak dibukakan pintu gerbangnya.


"Seharusnya Reva sudah melahirkan minggu-minggu ini. Tapi kenapa keluarga Papa Revano tidak membolehkan aku masuk ke gerbang rumahnya? Apa ada yang mereka sembunyikan ya?"


"Jangan-jangan mereka telah membawa Reva pergi," ucapnya kembali.


Rio bergegas mengambil kunci mobilnya dan ingin kembali ke rumah mertuanya untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Saat akan keluar rumah, Rio terkejut saat ada tukang pos yang datang.


"Permisi Pak. Saya mau mengantar surat ini."


"Makasih ya Pak."


Rio masuk kembali ke dalam rumahnya. Rio belum membaca atau membuka amplop tersebut.


"Tumben sekali ada tukang pos datang," lirihnya sambil berjalan menuju ke sofa ruang tamu.


Rio lalu duduk di sofa dan terkejut saat membaca surat yang ia terima. Rio langsung membolakan matanya saat membaca kembali surat itu.


"Surat gugatan cerai?? Reva menceraikan aku?" ucapnya gemetar saat membuka amplop itu.


Tertulis dengan jelas alasan Reva menggugat cerai suaminya karena adanya orang ketiga dalam pernikahan mereka. Reva juga memberikan alasan karena suaminya itu sudah tidak peduli dan menafkahinya selama 2 bulan terakhir.


Rio menjatuhkan amplop dan suratnya. Ia tak menyangka istrinya menggugat cerai dirinya. ia berpikir bahwa istrinya itu pasti sudah melahirkan karena bisa menggugat cerai dirinya saat ini.


"Ini tidak benar. Reva tidak boleh pergi dari hidupku."

__ADS_1


"Ya, aku harus perjuangan rumah tanggaku. Aku akan ke rumah Papa mertua saat ini juga sebelum semuanya terlambat," ucapnya yang lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar dari rumahnya.


Rio dengan cepat mengemudikan mobilnya dan pergi ke rumah Revano.


"Pak, tolong bukakan pintu gerbangnya," pinta Rio kepada satpam.


"Maaf Tuan, tapi pemilik rumah ini tidak mengizinkan mobil Anda masuk."


Rio lalu keluar dari mobilnya.


"Kalau kamu tidak buka gerbangnya maka aku akan bakar rumah ini sekarang juga," ancam Rio.


Rio hanya menggertak satpam saja. Ia juga sebenarnya tidak berani membakar rumah mertuanya.


"Baik ..."


Satpam lalu terpaksa membukakan pintu gerbang tersebut. Rio dengan cepat mengemudikan mobilnya dan masuk ke halaman rumah.


"Masih berani kamu datang ke rumah ini?" ucap Kezia dengan nada tinggi.


"Mama, aku ingin bertemu anak dan istriku."


"Reva telah menceraikan kamu. Untuk apa kamu ke rumah ini?"


"Mama, aku tahu Reva sudah melahirkan. Makanya dia menceraikan aku. Sekarang aku ingin bertemu dengan kedua putriku Mama."


"Mereka tidak ada di sini."


"Mama pasti bohong."


"Kalau gak percaya sama cari di rumah ini. Memangnya ada Reva dan anak kamu. Cari saja sampai ketemu," ucap Kezia ketus.


Rio lalu masuk mencari anak dan istrinya. Namun tidak ada di rumah tersebut.


"Sudah puas? Sudah dibilang Reva tidak ada di rumah ini."


"Reva dan anakku di mana Mama?"


"Reva dan anak-anaknya aman di tempat lain."


"Mama, tolong kasih tahu aku mereka ada di mana."


"Tidak akan aku kasih tahu mereka berada di mana. Kamu dan Reva sebentar lagi akan berpisah."


"Mama, please ....."


Kezia lalu melemparkan buku diary Reva. Rio melihat buku diary yang jatuh di lantai.


"Baca itu sebelum kamu mencari Reva. Apa yang kamu lakukan selama ini sangat berpengaruh bagi kehidupan putriku."


Rio mengambil buku diary itu dengan tangan yang gemetar.


"Pergi kamu dari sini. Atau mau aku panggilkan satpam sekarang juga?"


"Baik Mama aku akan pergi sekarang. Tak perlu Mama memanggil satpam untuk mengusir aku."


"Baguslah kalau kamu tahu diri."


Rio lalu pergi meninggalkan rumah itu dan melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Rio penasaran dengan isi dari buku diary istrinya. Kata mertuanya isi dari buku diary tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan Reva selama ini. Selama ini Rio tidak tahu Reva menulis buku diary tersebut. Ia jadi penasaran dan cepat-cepat sampai ke rumahnya.


Bersambung ...


Maaf baru up, author sakit kepala dari kemarin 🙏


Yuk dukung novel recehku ini 🤗

__ADS_1



__ADS_2