
Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu untuk mendukung karya author 🤗
Tak terasa sudah berjalan setengah tahun lamanya pernikahan Reva dan Rio. Suaminya itu rajin untuk minum obat. Dokter juga mengatakan bahwa kondisi Rio sudah membaik saat ini.
Malam hari mereka diundang untuk makan malam bersama di rumah kedua orangtuanya Rio. Ada Nenek yang selalu mendesaknya untuk memberikan cicit. Setelah makan malam selesai sang Nenek ingin mengutarakan isi hatinya.
"Reva, kamu itu istri yang tidak berguna! Coba kalian pikirkan jika wanita lain yang menikah dengan Rio pasti aku akan memiliki cicit saat ini. Sedangkan kalian yang sudah menikah setengah tahun tapi mana hasilnya? Kamu belum juga hamil kan?" ucap Nenek Vera yang seketika membuat hati Reva sakit.
"Mama, jangan berbicara seperti itu," ucap Viona.
Sedangkan Reva hanya diam saja. Rio ingin berbicara yang sebenarnya tapi Reva menggenggam tangannya seperti mengkode untuk tidak memberitahu hal yang sebenarnya.
"Kenapa Reva? Kamu tidak bisa jawab kan? Dasar wanita mandul! Rio, Nenek kecewa kamu menikahi wanita mandul seperti ini."
"Nenek cukup! Bukan Reva yang mandul. Tapi aku nek. Aku yang bermasalah selama ini."
Nenek Vera pun tercengang akan perkataan cucunya. Sedangkan Viona dan Vino terkejut saat mengetahui anaknya yang bermasalah selama ini.
"Tidak mungkin, kamu pasti bohong kan?"
"Nek, jujur aku selama 4 bulan ini sudah mengkonsumsi obat dari Dokter. Bukan Reva yang bermasalah selama ini Nenek. Jadi cukup untuk mengatakan bahwa istriku mandul!" ucap Rio kesal.
"Sayang, kamu kok bicara seperti itu. Kan kita sudah sepakat kalau kita tidak akan memberitahu mereka."
"Semua harus tahu sayang, terutama Nenek harus tahu apa yang sebenarnya. Kamu tidak bersalah dalam hal ini. Aku tidak suka kalau Nenek selalu memojokkan kamu, seolah-olah kamu yang tidak bisa memberikan aku anak. Padahal Dokter bilang kamu seharusnya sudah bisa hamil sejak awal kita menikah. Karena aku yang bermasalah jadi kamu yang tak kunjung hamil juga."
"Jadi semua itu benar?" tanya Nenek pelan.
"Iya benar, jadi jangan membuat Reva sedih akan perkataan Nenek yang selalu memakinya."
"Maafkan Nenek ya nak....."
Sekarang Nenek Vera malu karena cucunya yang bermasalah selama ini.
"Iya Nek tidak apa-apa."
"Sudah Mama jangan memojokkan Reva lagi," ucap Vino.
"Iya nak. Maafkan Mama," jawabnya lirih.
Akhirnya setelah makan malam itu Reva dan Rio pulang ke rumah mereka. Sebenarnya tadi Nenek Vera menyuruhnya untuk menginap tapi Rio tetap pulang membawa istrinya. Rio masih tidak terima tadi istrinya itu terus disalahkan oleh sang Nenek.
...*****...
Pagi hari mentari bersinar terang. Saat membuka matanya wanita cantik itu merasakan perutnya bergejolak pagi hari ini. Reva berlari menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Mendengar suara orang muntah Rio mulai mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping dan istrinya tidak ada. Rio lalu beranjak dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. Reva masih saja terus muntah-muntah. Rio membantu untuk memijat tengkuk leher istrinya. Setelah Reva membersihkan mulutnya dan Rio langsung menggendong istrinya. Rio merebahkan tubuh istrinya ke ranjang.
"Sayang, kamu sakit? Kita ke rumah sakit ya?" sambil memegang kening istrinya.
__ADS_1
"Aku hanya pusing saja kok. Tidak apa-apa."
"Apa karena semalam kamu tidak mau makan ya?Jadi sekarang kamu masuk angin."
"Mungkin saja seperti itu."
"Kamu tunggu di sini ya. Aku akan menyuruh Bibi untuk membuatkan kamu bubur."
Reva mengangguk pelan. Sesudah menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan bubur, Rio juga menelepon Dokter.
Buburnya sudah matang dan Rio menyuapi istrinya pelan-pelan. Baru saja 3 sendok makan bubur tapi Reva merasakan kembali perutnya bergejolak. Akhirnya Reva kembali memuntahkan isi perutnya. Sekarang Reva sudah kembali berbaring di ranjangnya.
"Sayang, Dokternya sedang dalam perjalanan. Aku sedih kalau kamu sakit."
"Aku tidak apa-apa kok. Hanya saja pagi ini aku tidak bisa sarapan."
Tak lama kemudian Dokter tersebut datang dan mengecek kondisi Reva.
"Bagaimana bro? Istriku sakit apa? Tadi dia mengeluh pusing dan muntah-muntah. Bahkan setelah makan bubur dia kembali muntah."
Dokter muda tersebut hanya tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum? Istriku sakit loh ini."
"Selamat bro, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Istri kamu hamil," ucapnya sambil menepuk bahu Rio.
Setelah mengetahui dirinya hamil, Reva langsung mengusap perutnya perlahan.
"Apa?? Hamil?" tanya Rio memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya bro, selamat ya."
"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Rio yang lalu sujud syukur.
"Jaga istri kamu baik-baik. Turuti apa saja kemauannya karena itu adalah keinginan anak kamu juga."
"Iya pasti, oh iya sudah jalan berapa minggu kehamilannya?"
"Heh, aku ini Dokter umum dan hanya tahu ciri-cirinya saja kalau istri kamu sedang hamil. Untuk lebih tahu jelasnya usia kandungannya berjalan berapa minggu kamu harus bawa Reva cek ke Dokter kandungan sekalian USG."
"Baiklah nanti aku akan bawa Reva ke Dokter kandungan. Makasih ya bro sudah menyempatkan waktu untuk datang ke rumah."
"Sama-sama, aku mau balik dulu. Istriku sedang hamil dan dia tidak bisa jauh-jauh dariku..."
"Iya bro... Sekali lagi makasih."
Rio lalu mengantarkan Dokter Arya sampai teras rumahnya. Rio dan Arya dulu adalah teman saat masih SD. Arya adalah Kakak kelasnya saat itu.
Setelah temannya itu pergi dengan segera Rio kembali ke kamarnya. Bahagianya saat mengetahui istrinya tengah mengandung anaknya.
__ADS_1
"Sayang, aku bahagia. Akhirnya kamu hamil juga," ucap Rio yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Iya alhamdulilah. Ini berkat kesabaran kita selama ini."
"Kamu jangan berkecil hati lagi ya sayang. Buktinya kita bisa punya anak," ucap Reva tersenyum bahagia terlihat dari wajahnya.
Mereka lalu berpelukan dengan erat. Anak yang selalu mereka nantikan kini telah hadir. Rio lalu melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Reva.
"Mulai sekarang kamu tidak usah masak. Aku tidak mau kamu kelelahan dan terjadi apa-apa dengan anak kita."
"Eh, kamu kenapa jadi berlebihan seperti ini sih sayang?"
"Sayang, turuti saja apa kataku. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Karena kita juga sudah lama menantikan seorang anak."
"Baiklah sayang, aku tidak akan masak."
Sekarang Reva hanya bisa pasrah menuruti keinginan suaminya. Padahal sepertinya tidak apa-apa jika hanya masak saja.
"Sayang, kamu sudah menjadi wanita yang sempurna."
"Iya, aku bahagia bisa hamil dan kita bisa membuktikan pada Nenek kalau kita bisa punya anak."
Rio tersenyum bahagia, penantiannya selama ini akhirnya telah membuahkan hasil. Anak yang selama ini dinantikan telah hadir.
"Makasih ya nak kamu sudah hadir. Kamu tahu tidak, dari dulu Papa sama Mama telah lama menantikan kamu. Papa dan Mama sayang kamu nak," ucap Rio yang lalu mengecup perut Reva dan mengusapnya perlahan.
Tak terasa air mata Reva lolos jatuh membasahi pipinya setelah mendengar perkataan suaminya.
"Sayang kamu jangan menangis. Kita harus berbahagia karena sebentar lagi kita akan punya anak."
"Ini air mata bahagia sayang."
"Kamu mau makan apa sayang? Perut kamu kosong saat ini."
"Aku tidak ingin makan apa-apa. Tadi saja setelah makan bubur aku kembali muntah."
"Sayang, tapi harus tetap diisi perut kamu. Ingat saat ini kamu tidak sendirian dan ada anak kita."
"Aku ingin makan buah apel saja."
"Baiklah, aku akan kupas beberapa buah untuk kamu. Sebentar ya sayang, tunggu aku dan kamu jangan kemana-mana," ucap Rio yang lalu mengecup kening istrinya dan pergi ke dapur.
Reva bahagia suaminya itu sangat perhatian. Apalagi saat mengetahui bahwa dirinya hamil bahkan suaminya itu tidak mengizinkannya untuk masak. Rumah tangga Reva dan Rio semakin harmonis dengan kehadiran sang buah hati yang selama ini mereka nantikan.
Berikan dukungan vote gratis setiap seminggu sekali (tanpa mengurangi poin kalian) makasih ❤️
Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan like 👍
__ADS_1
Yuk dukung author dengan meninggalkan komentar dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗