
Reno terkejut saat Daddy Rey pingsan. Semua orang juga khawatir akan keadaan Rey. Terlebih Rey mempunyai serangan jantung. Kini Rey sudah dibawa masuk ke kamarnya. Tadi Reno yang menggendongnya. Risa sedang mencari minyak kayu putih. Setelah dioleskan ke beberapa bagian akhirnya Rey tersadar.
"Daddy, maafin aku. Reno yang bikin Daddy seperti ini." Sambil memegang tangan Daddy Rey dan Reno kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak usah meminta maaf nak. Daddy senang kamu akan punya anak. Tadi Daddy hanya kaget saja mendengar istrimu hamil."
Reno tersenyum karena kini Daddy Rey tidak apa-apa.
"Nak Sandra kesini nak."
Sandra lalu berjalan pelan-pelan dan mendekati Rey.
"Nak, terima kasih ya sekarang kamu sedang mengandung cucu Daddy. Maafin Daddy ya nak. Daddy yang dulu tidak tahu kalau kalian saling mencintai dan akan menikahkan Reno dengan Kezia."
"Tidak apa-apa. Daddy tidak perlu minta maaf. Justru kita yang harusnya minta maaf karena menikah tidak memberitahu Daddy and Mommy."
"Iya nak, tidak apa-apa. Usia kandungan kamu sudah berapa minggu nak?"
"Baru tiga minggu Daddy."
"Daddy akan selalu mendoakan kamu.Semoga lancar sampai lahiran ya nak."
"Aamiin. Terima kasih Daddy."
"Oh iya, kalian harus segera mengadakan acara resepsi pernikahan. Sebelum perut kamu membesar Sandra," ucap Risa dengan semangat karena akan mendapatkan cucu dari anak pertamanya.
"Iya nak, bagaimana kalau bulan depan kalian menggelar acara resepsi pernikahannya."
"Setuju Daddy." Jawab Sandra dan Reno bersamaan.
Lova dan Dean juga setuju dengan usul Rey.
"Kita akan merayakan resepsi pernikahan kalian dengan megah nak. Seperti pernikahan Revano dan Kezia kemarin."
"Iya Mommy Risa." Reno menyetujuinya.
"Kalau tidak terlalu megah saja bagaimana? Nanti akan banyak menghabiskan banyak uang."
"Tidak apa-apa nak. Kan kita punya hotel sendiri. Jadi tinggal pakai saja ballroom hotelnya." Rey berbicara seperti itu.
Sandra lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalian menginap di sini ya nak?" ucap Rey dengan penuh harapan.
Sandra dan Reno langsung saling berpandangan. Mereka saling mengkode untuk menyetujuinya.
"Iya, Daddy kita akan tidur malam ini di sini. Reno juga kangen dengan kamar Reno."
Rey bahagia anaknya akan tinggal bersamanya malam ini. Seketika Rey ingat dengan putra bungsunya. Rey akan senang jika kedua anaknya menginap di rumahnya bersama dengan menantunya.
"Oh iya, kita harus menghubungi adik kamu. Revano pasti bahagia kalau kamu sudah pulang nak."
"Sayang, aku yang akan menghubungi anak manja itu," ucapnya tersenyum tipis.
Rey terkekeh memang anak bungsunya masih manja. Kadang sepulang kuliah main ke rumah hanya sekedar ingin memeluk Mommy Risa. Kemudian Risa merogoh hp dari sakunya. Risa mulai mencari nomor telepon anaknya yang manja itu. Setelah telepon diangkat. Revano terkejut saat mendengar kabar bahwa Kakaknya kini telah pulang. Risa tidak bercerita kalau Reno sudah menikah dengan Sandra. Bahkan sudah mau punya anak. Biar Revano dan Kezia terkejut saat mendengar berita bahagia ini.
Revano lalu menutup teleponnya. Revano kini cemas akan bertemu dengan Kakaknya. Karena Kezia akan meminta pisah darinya setelah Kakaknya pulang ke rumah.
"Revano, tadi yang telepon siapa?"
"Eh, Kak Kezia ini ngegetin Revano saja. Tadi yang telepon Mommy Kak."
"Mommy Risa bilang apa? Atau jangan-jangan Mommy Risa nanyain lagi kalau aku sudah hamil atau belum."
"Apa? Pangeran aku sudah pulang ke rumah?"
"Pangeran? Jadi selama ini Kak Kezia menganggap Kak Reno pangerannya dan aku sebagai pembantunya. Hmm... Miris sekali nasibku. Aku yang suaminya tapi dianggap sebagai pembantu. Kalau lama-lama begini aku tidak kuat untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan Kak Kezia." Batin Revano.
Revano memang diperlakukan Kezia seperti pembantunya saja. Sudah tidur di bawah. Memasak dan bersih-bersih apartment. Kadang juga Kezia bicaranya ceplas-ceplos. Revano bertahan demi pernikahannya agar bisa berjalan satu tahun. Karena demi Daddy Rey agar tidak terkena serangan jantung dadakan jika sekarang mereka berpisah.
"Revano... Kok kamu bengong sih?"
"Eh, maaf Kak. Aku baru ingat kalau ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan dan dikumpulkan besok hari Rabu." Terpaksa Revano berbohong.
"Masih hari Rabu kan? Ini kan hari Senin. Ayo kita ke rumah Daddy. Aku sudah rindu dengan Kakakmu."
"Iya Kak, kita akan pulang ke rumah."
"Kita akan bercerai secepatnya setelah aku bertemu dengan Reno."
"Hmm.........." Revano hanya menjawab dengan deheman saja.
"Pernikahan macam apa ini? Katanya kontrak satu tahun. Tapi setelah bertemu dengan Kak Reno, Kak Kezia ingin berpisah denganku." Batin Revano.
__ADS_1
Revano merasa tidak dihargai sebagai seorang suami.
Kini Kezia dan Revano keluar dari apartment. Revano melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Revano juga sudah rindu dengan Kakaknya. Tapi Revano juga takut sebentar lagi akan menjadi duda. Karena Kezia berniat untuk menikah dengan Reno setelah nanti mendengarkan penjelasan kenapa Reno kemarin kabur dari pernikahannya.
"Kak, kalau aku boleh tahu. Apa Kak Kezia masih mencintai Kak Reno?"
"Iya aku masih sangat mencintainya."
Entah kenapa rasanya sakit sekali hatinya saat Kezia berbicara seperti itu.
"Kak Kezia, kalau Kak Reno tidak ingin kembali lagi dengan Kakak gimana?"
"Aku akan memaksanya. Karena Reno hanya boleh menjadi milikku."
Revano tersenyum kecut saat mendengar perkataan istrinya. Sepertinya tidak ada lagi namanya untuk bisa mengisi hatinya. Revano lalu melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Setelah sampai rumah Kezia berjalan duluan karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Reno.
"Assalamualaikum............"
"Wa'alaikum Salam..........."
"Akhirnya kalian datang juga nak. Ini Kakakmu sudah pulang." Rey tersenyum senang akhirnya anak bungsunya berserta istrinya datang ke rumah.
Kezia mengeryitkan dahinya saat ada Sandra dan berserta kedua orang tuanya. Kezia mengira mereka hanya bertamu seperti biasanya. Kezia lalu pandangannya fokus kepada Reno. Kezia berjalan dengan cepat dan mendekati Reno. Kezia langsung memeluk Reno.
"Reno sayang, akhirnya kamu datang juga. Aku sangat rindu sama kamu."
Semua orang terkejut mendengar ucapan Kezia termasuk Revano yang sudah terbakar api cemburu namun dirinya tahan untuk tidak emosi.
"Kezia apa yang kamu katakan? Aku ini sekarang Kakak ipar kamu. Seharusnya kamu bersikap lebih sopan kepadaku."
"Reno, aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu kemarin tega meninggalkanku saat acara pernikahan kita akan dimulai?"
"Karena aku ada urusan yang lebih penting." Reno mendorong Kezia agar lebih menjauh dengannya.
"Reno, tidak ada yang lebih penting daripada pernikahan kita."
"Kezia apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu masih membahas masa lalu? Kamu sudah menikah dengan adikku. Buat apa kamu masih mengharapkan aku?"
"Karena aku masih mencintaimu Reno Putra Wijaya."
Reno takut kalau Sandra sampai kepikiran dengan masalah ini. Karena ibu hamil tidak boleh banyak pikiran.
__ADS_1