
Please berikan jempol 👍 kalian terlebih dahulu sebelum membaca karena jempolnya semakin menghilang akhir-akhir ini 😌
Malam telah tiba, setelah makan malam Revano dan Kezia ingin tahu siapa kekasih anaknya itu. Mereka sekarang sudah duduk di ruang keluarga.
"Nak siapa nama pacar kamu?"
"Rio Jullian nama lengkapnya dan panggilannya Rio."
"Apa???" ucap Revano dan Kezia bersamaan.
Revano dan Kezia saling berpandangan satu sama lain.
"Mama dan Papa kok terkejut seperti itu? Rio kan sahabat kecil aku dulu dan aku tidak menyangka kita akan dipertemukan kembali di kampus yang sama."
"Jadi setelah selesai kelas tadi kita makan bersama di restoran. Rio sangat romantis ternyata," ucapnya kembali.
Tadi Reva disuapi dan saat ada bekas makanan yang menempel di bibirnya Rio lap dengan tisu.
"Apa kamu bahagia nak bersama dengan Rio?" tanya Revano serius.
"Aku bahagia Papa. Kita saling mencintai. Dulu mungkin saat masih kecil kita hanya cinta monyet saja. Namun aku yakin kalau aku akan bahagia bersamanya."
Kezia hanya menghela napas panjang dan tidak habis pikir akan mempunyai besan mantan madunya sendiri.
"Papa dan Mama setuju atau tidak kalau Reva sama Rio?"
"Papa terserah kamu saja nak. Kan kamu yang akan menjalaninya nanti. Yang penting kamu bahagia."
"Gimana dengan kamu sayang?" tanya Revano.
Reva bahagia Papanya berbicara seperti itu. Sedangkan Kezia melototi suaminya.
"Kalau Mama gimana?"
"Mama pusing nak," ucap Kezia memijat keningnya. yang mulai pening.
Melihat anaknya yang begitu bahagia Revano jadi tidak tega untuk memisahkan anaknya itu dengan Rio.
"Kami sudah memutuskan ingin menikah setelah lulus S1."
"Eh apa? Menikah??" tanya Kezia membolakan matanya.
"Iya Mama. Nanti Rio akan segera melamar aku setelah kita sama-sama selesai kuliahnya."
"Kamu yakin nak akan menjadikan Rio sebagai suami kamu? Menikah itu bukanlah hal yang main-main loh nak. Kamu harus mempertimbangkan dengan matang-matang," ucap Kezia.
Meskipun dulu Kezia dan Revano nikahnya dadakan karena Reno kabur. Namun kali ini berbeda, anaknya itu menjalin cinta dengan anak dari mantan madunya. Secara tidak langsung mereka sebenarnya adalah saudara tiri.
"Iya Mama, Reva yakin kalau Rio itu jodoh Reva. Sudah sejak lama Reva menunggunya kembali dan akhirnya kita bertemu lagi di kampus. Kita serius menjalani hubungan ini sampai nanti ke jenjang pernikahan."
Kezia hanya menghela napas panjang jika anaknya sudah begini lalu dia harus bagaimana lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Mama, Papa, Reva duluan ke kamar ya, mau kerjain tugas kuliah."
__ADS_1
"Iya nak."
Hanya Revano yang menjawab sedangkan Kezia tampak murung dan diam saja. Setelah anaknya pergi ke kamarnya Kezia beranjak dari tempat duduknya. Revano tahu istrinya itu sedang marah karena setuju begitu saja dengan laki-laki pilihan Reva yang tak lain adalah anak dari mantan madunya.
"Sayang......"
Revano melihat istrinya yang naik tangga dengan buru-buru. Seperti sengaja Kezia tengah menghindari suaminya. Dengan segera Revano menyusul sang istrinya ke kamar. Saat masuk ke kamarnya terlihat Kezia sedang duduk di sofa dan berpaling muka menghadap ke jendela.
"Sayang," ucap Revano dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sayang, kamu jangan egois. Anak kita itu sudah bertemu dengan jodohnya. Mereka saling mencintai dan kita sebagai orangtua tidak bisa memisahkannya begitu saja."
"Reva kita jodohkan dengan pria lain saja."
"Tapi sayang, jika Reva kita jodohkan maka hidupnya tidak akan bahagia dan tersiksa nantinya jika dia menikah dengan orang yang tidak dia cinta."
Kezia segera menepis tangan suaminya yang menggenggam tangannya. Suaminya itu seperti menggambarkan mereka ke masa lalu.
"Jadi kamu selama ini tidak bahagia menjalani rumah tangga denganku? Kita dulu menikah juga karena terpaksa dan tidak ada cinta di antara kita kan? Jawab aku Revano!"
"Duh, salah bicara lagi sepertinya." Batin Revano.
"Bukan begitu maksudnya sayang. Kita seiring berjalannya waktu bisa saling mencintai. Tapi beda dengan Reva dan Rio. Mereka kan dulu teman saat masih kecil."
"Pokoknya aku tidak setuju," ucap Kezia sambil beranjak dari tempat duduknya.
Kezia merebahkan tubuhnya ke ranjangnya dan kali ini Kezia menyingkur suaminya saat tidur. Revano menghela napas panjang dan istrinya itu mempunyai sifat keras kepala seperti Reva. Jadi wajar saja keinginan keduanya harus dituruti. Revano tahu kalau istrinya itu marah dan kesal padanya. Revano lalu berjalan dan duduk di tepi ranjangnya.
"Sayang, coba kita bujuk Reva. Jika dia mau dengan pria pilihan kamu aku akan setuju."
"Benarkah? Kamu serius kan?"
"Iya, aku serius. Karena kebahagiaan anak kita itu hal yang paling penting."
"Makasih ya sayang, kamu mau mengerti aku," ucap Kezia dan langsung berhamburan memeluk suaminya.
"Iya sayang, tapi jika Reva tidak mau dan kita harus menghormati laki-laki pilihannya."
"Iya, aku tidak akan memaksanya lagi jika Reva tidak mau dijodohkan."
Revano berusaha untuk memilihkan siapa calon suami yang terbaik untuk anaknya.
...*****...
Reva tidak mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan Mamanya.
"Mama, kenapa masih memilihkan calon suami untuk aku? Kan aku sudah punya Rio."
"Nak, tapi Alfaro adalah laki-laki yang tepat untuk kamu."
"Aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki itu Mama. Aku maunya hanya Rio nanti yang menjadi suamiku," ucapnya menghentakkan kakinya dan. laku pergi ke kamarnya.
"Revano coba kamu lihat anak kesayangan kamu itu. Terlalu sering kamu manjakan dan akhirnya jadi ngelunjak kan?"
"Reva tidak akan bersikap seperti itu jika kamu tidak menjodohkannya dengan Alfaro."
__ADS_1
Mata Kezia sudah mulai berkaca-kaca.
"Apa aku salah jika aku hanya ingin melihat anakku hidup bahagia? Aku ingin pernikahan Reva nanti juga langgeng seperti kita Revano. Kamu tolong mengertilah..."
"Iya, kamu tidak salah kok sayang. Hanya saja sepertinya kita tidak bisa menghentikan Reva. Dia bisa berbuat nekad kalau sedang marah dan apalagi nanti kalau dia tahu kamu akan menjodohkannya dengan pria lain."
"Jadi kita harus pasrah nih siapa nanti yang akan dipilih Reva?"
"Iya sayang, karena kebahagiaan anak kita juga merupakan kebahagian kita bersama."
Sekarang satu-satunya harapan Kezia adalah Alfaro sebagai calon suami anaknya.
...*****...
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu mereka akan segera lulus kuliah. Saat ini Reva dan Rio sedang menyusun skripsi. Mereka tidak menyembunyikan hubungan asmaranya dari kedua orangtuanya. Jadi mereka berpacaran diketahui oleh keluarganya selama ini.
"Setelah sidang skripsi Reva nanti aku akan memberikan kejutan untuknya."
Rio berniat ingin membawa hubungannya ke tingkat yang lebih serius. Menjadikan Reva sebagai wanitanya setelah ini. Rio akan melamarnya secara tiba-tiba saat Reva selesai sidang skripsinya.
Waktu terus berjalan, hari ini Reva akan sidang sidang skripsi. Rio sudah menyiapkan cincin untuk melamar sang pujaan hatinya. Tak lupa Rio juga membawa sebuket bunga mawar.
Reva sudah selesai yudisium dan dinyatakan lulus.
"Sayang, aku lulus," ucap Reva tersenyum senang.
"Aku turut bahagia sayang. Ini untukmu," ucap Rio sambil memberikan sebuket bunga mawar.
"Makasih sayang," ucap Reva sambil menghirup aroma bunga mawar tersebut.
"Masih ada satu lagi kejutannya."
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Rahasia ayo ikut aku," ucap Rio menggandeng tangan Reva. Mereka saat ini sudah ada di lapangan basket.
"Rio kenapa kamu membawa aku ke lapangan?" tanya Reva yang masih bingung.
Seketika Rio berjongkok dan sambil mengeluarkan kotak berisi cincin tersebut.
"Reva, menikahlah denganku. Aku ingin kamu mendampingi aku selamanya."
Lalu ada banner turun dan tertulis Will you marry me?
"Hah, aku dikamar?" Batin Reva terkejut sekaligus bahagia.
Reva saat ini merasakan senang bercampur dengan haru karena Rio yang menyiapkan semuanya.
Readers kesayangan jangan lupa tinggalkan like 👍
Yuk dukung author dengan meninggalkan komentar dan gift agar author lebih semangat berkarya 🤗
Berikan dukungan vote gratis (tanpa mengurangi poin kalian) makasih ❤️
__ADS_1