
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di restorannya. Setelah makan bersama Lova merasakan sakit perut yang teramat sangat sakit dan tidak seperti biasanya.
"Beb, perutku sakit sekali," ucapnya sambil memegang perutnya.
"Beb, gimana apa sudah enakan?" Tanya Dean sambil mengelus perut Lova.
Lova hanya menggelengkan kepala lemah. Biasanya Dean mengelus perutnya dan akan tidak sakit lagi. Namun kali ini Lova masih saja merasakan kesakitan di tambah bayinya yang dari tadi terus-menerus menendang-nendang.
"Lova, jangan-jangan kamu mau melahirkan?" ucap Sonya khawatir.
"Tidak mungkin, kandungannya baru jalan 9 bulan kurang 3 hari Sonya. Kamu ini ada-ada saja. Lova sudah terbiasa seperti ini yang kadang perutnya terasa kram."
"Atau jangan-jangan kamu sedang mengalami kontraksi palsu beb?" ucap Dean kembali.
"Siapa tahu bayinya lahir secara prematur Dean," ucap Rey.
Dean terdiam sejenak dan memikirkan perkataan Rey ada benarnya juga.
"Auwww............" Lova meringis sambil memegang perutnya.
"Beb............." Suara Lova semakin melemah.
"Astaga Dean, Lova beneran mau melahirkan. Itu ada darah dikakinya," ucap Risa saat melihat ke bawah dan benar saja kaki Lova sudah mengalirkan darah.
"Ayo kita ke rumah sakit beb."
Dean dengan segera menggendong Lova dan akan berjalan keluar dari restoran.
"Ayo aku antarkan saja Dean," ucap Kenzo yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Aku naik taksi saja sama Lova. Kalian nanti menyusulnya saja ya ke rumah sakit."
"Baiklah..."
Dean sudah naik taksi dan menuju ke rumah sakit. Mereka semua sudah berada di mobil. Kenzo segera melajukan mobilnya mengikuti taksi yang ditumpangi Dean dan Lova.
"Beb, bertahanlah... Kita hampir sampai di rumah sakit."
"Perutku sangat sakit sekali... Aku sudah tidak kuat....." Lova dengan wajahnya yang sudah pucat.
"Jangan bilang begitu beb.. Pak, lebih cepat ya."
"Siap Mas..."
Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Pak, ambil saja kembaliannya."
"Makasih mas.. Mudah-mudahan persalinannya berjalan dengan lancar."
"Aamiin. Terima kasih Pak."
Pak sopir taksi tersebut membantu membukakan pintu Dean. Setelah itu Dean berlari menuju rumah sakit.
"Sus, istri saya mau melahirkan."
Tak lama kemudian Lova sudah diletakkan di brankar rumah sakit dan masuk ke ruangan IGD. Dean menemaninya di dalam.
"Pak, sepertinya istri Anda tidak bisa lahiran secara normal dan harus caesar karena sang ibu sudah pingsan."
__ADS_1
"Baiklah dok. Lakukan yang terbaik agar anak dan istri saya selamat."
"Baik Pak. Kalau untuk caesar bapak tidak perlu untuk menemaninya dan silahkan nunggu di luar. Nanti kami akan panggil bapak jika bayinya sudah lahir."
"Baik dok."
Dean lalu keluar dari ruang ICU. Rey, Risa, Kenzo dan Sonya baru saja sampai di rumah sakit.
"Loh Dean kok kamu di luar tidak menemani Lova melahirkan?" tanya Risa.
"Lova sudah pingsan dan akan dilakukan operasi caesar. Jadi aku disuruh menunggu di luar."
Risa mengangguk mengerti. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang ICU.
"Oek...... Oek....... Oek..........."
"Anakku.............." Dean matanya sudah berkaca-kaca, kini buah hatinya sudah lahir.
"Selamat bro, kamu sudah menjadi seorang ayah," ucap Rey sambil menepuk pundak Dean. Karena Rey duduk disampingnya.
"Selamat Dean akhirnya julukan Papa muda sudah terwujud," Kenzo yang berdiri disampingnya Dean juga menepuk pundaknya.
"Terima kasih Rey, Kenzo."
Tak lama kemudian suster keluar dari ruang ICU.
"Pak, mari silahkan masuk. Putrinya sudah dibersihkan dan siap untuk di adzanin."
"Iya sus."
Dean langsung berdiri dari kursinya dan mengikuti suster masuk ke dalam untuk mengadzani anaknya.
"Sandra Halim."
"Wah nama yang bagus Pak. Pas sesuai dengan putri bapak yang cantik. Wajahnya sangat mirip sekali dengan ibunya. Bagaikan pinang dibelah dua, sama-sama cantik."
"Terima kasih sus."
Setelah mengadzani putrinya Dean lalu mencium pipi Sandra. Sandra sangatlah lucu tidak menangis digendong Papanya. Dean melihat istrinya yang masih terbaring lemah dan belum sadar karena masih terpengaruh obat bius. Beberapa menit kemudian Lova sudah dipindahkan di ruang rawat inap.
"Beb, anak kita sudah lahir. Terima kasih ya beb," ucap Dean sambil mengecup kening Lova.
"Lihatlah dia sangat cantik dan sangat mirip denganmu. Sadarlah beb, aku dan putri kita menunggumu," ucap Dean sambil menggendong Sandra.
Tak lama kemudian suster lalu membawa masuk box bayi dan diletakkan di samping Lova. Rey, Risa, Kenzo dan Sonya juga masuk menjenguk Lova.
"Lova belum sadar juga Dean?"
"Belum Rey."
Sandra seketika menangis dengan kencang.
"Cup... Cup... Cup...... Nak, sayang ini Papa. Kamu jangan menangis ya?" ucap Dean sambil menenangkan bayinya.
"Namanya siapa Dean?" Tanya Risa
"Sandra Halim."
"Sandra, kamu haus ya? Sabar ya nak. Nunggu Mamamu sadar terlebih dahulu ya."
__ADS_1
Tak lama kemudian Lova mengerjapkan matanya saat mendengar suara tangisan bayi.
"Beb............." Lirihnya.
"Beb, kamu sudah sadar?" ucap Dean saat melihat Lova.
Sandra yang masih di gendongannya dan masih saja terus menangis.
"Sini beb, mungkin dia haus."
"Sandra, kamu sama Mama dulu ya," ucap Dean sambil menyerahkan Sandra kepada Lova.
Kenzo dan Rey lalu memalingkan wajahnya ke arah lain saat Lova akan memberikan asinya kepada Sandra.
"Namanya Sandra beb?" Tanya Lova.
"Iya, Sandra Halim. Nama yang bagus bukan untuk anak kita?"
"Iya beb, bagus namanya."
"Lihatlah beb, dia sangat mirip denganmu. Sama-sama cantik."
"Ah iya aku baru sadar ternyata dia sangat mirip denganku. Tidak sia-sia aku mengandungnya selama 9 bulan kurang 3 hari. Dia akhirnya mirip sepertiku hehehe," ucapnya terkekeh.
Dean hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya. Setelah Sandra sudah diberi asi dan tidak menangis lagi, Sonya ingin menggendongnya.
"Lova, bolehkah aku belajar menggendongnya?"
"Boleh Sonya. Kamu juga harus belajar menggendong bayi. Jadi saat anak kamu sudah lahir kamu sudah bisa menggendongnya."
Sonya lalu pelan-pelan menggendong Sandra.
"Sayang, lihatlah imut sekali wajahnya," ucap Sonya memperlihatkan Sandra kepada Kenzo.
"Iya imut dan lucu ya mirip seperti Lova. Sayang aku gak sabar deh menunggu bayi kita lahir."
"Masih lama sayang hampir 6 bulanan lagi. Kandunganku kan baru jalan 3 bulan 2 minggu."
"Hmm iya aku sudah tidak sabar menantikan hal itu. Kalau anak kita perempuan pasti akan sangat cantik seperti kamu."
"Kamu bisa-bisanya gombal saat seperti ini."
"Aku gak gombal sayang."
Mereka yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat perdebatan Kenzo dan Sonya.
"Sonya, sini aku juga mau coba menggendongnya."
"Ini Risa hati-hati ya,"ucapnya sambil menyerahkan Sandra.
"Aku sudah pernah menggendong bayi dan ini untuk kedua kalinya," ucapnya dengan senyuman.
Risa lalu menggendong Sandra dengan hati-hati.
"Sandra, ini Tante Risa, nanti kamu kalau sudah besar sering-sering main ya sama Baby R. Tante harap kalian juga bisa sahabatan nanti," ucapnya sambil mengayun-ayunkannya.
"Iya Tante cantik siap," ucap Lova menirukan suara anak kecil.
Lova bahagia sahabatnya juga sangat menyayangi anaknya. Lova berharap persahabatannya akan selalu seperti ini sampai anak-anak mereka tumbuh besar.
__ADS_1