
Sudah sebulan ini Revano tidur di kamar tamu. Kezia masih mendiamkan suaminya. Ada rasa bersalah namun juga sakit hati karena suaminya telah berkhianat dibelakangnya. Diam-diam menikahi wanita lain dan tanpa sepengetahuannya disaat dirinya sedang hamil anaknya. Wanita mana yang tidak sakit hati jika diduakan saat hamil.
"Sayang, sampai kapan kamu akan mendiamkan aku seperti ini? Semuanya hanya salah paham. Aku dijebak, apa kamu tidak bisa percaya padaku?" ucap Revano yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Kezia tidak menjawab perkataan suaminya dan lebih memilih untuk diam.
"Kezia, kita sudah menikah setahun lebih. Aku butuh pengertian dari kamu. Aku akan membuktikan bahwa perkataan aku tidaklah bersalah. Aku benar-benar bukan ayah dari bayi yang dikandung Viona. Sungguh percayalah padaku, aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali."
Karena tidak ada jawaban dari istrinya, Revano lalu bersimpuh dikaki Kezia. Merasa suaminya terlalu berlebihan saat meminta maaf hati Kezia luluh dengan sikap Revano.
"Maafkan aku sayang. Aku memang salah padamu. Aku hanya dijebak dan percayalah padaku. Bukankah kita suami istri dan harus saling percaya satu sama lain," ucap Revano.
Kezia melipatkan kedua tangannya pada perutnya.
"Aku percaya padamu dan bangunlah," jawab Kezia singkat dan seketika membuat hati Revano lega dan sekaligus bahagia istrinya kembali mempercayainya.
Sekarang dalam pikiran Kezia adalah ada anak dalam hubungan mereka. Bagaimanapun juga anaknya butuh sosok ayah dalam hidupnya. Apalagi Reva tidak bisa dipisahkan atau jauh-jauh begitu saja dengan Revano. Anaknya itu bahkan ingin selalu bersama Papanya dan Baby Reva selalu tersenyum dan tertawa jika bersama Revano. Tadinya Kezia ingin berpisah dengan Revano. Namun seketika hatinya goyah saat Mama Sonya bercerita dan memberikan nasihat. Saat itu juga Kezia mulai kembali memikirkan nasib anaknya dan jika harus ada yang pergi dari hidup Revano, di mana pelakor itu yang harus pergi dan bukan dirinya.
"Sayang, apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Revano dengan menggenggam tangan Kezia. Perkataan Revano dengan nada penuh harap istrinya akan menjawab dengan iya.
Kezia hanya mengangguk pelan dan membuat hati Revano bahagia. Revano lalu memeluk istrinya.
"Makasih sayang."
Tapi kali ini Kezia tidak membalas pelukannya karena masih kecewa dengan Revano. Kemudian Revano melepaskan pelukannya.
"Revano, jangan sekali-kali kamu berbohong dan membuatku kecewa lagi. Atau aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan kamu," tunjuk Kezia pada Revano.
"Sayang aku janji tidak akan pernah berbohong dan membuatmu kecewa lagi. Terimakasih sudah percaya padaku sayang. Aku bahagia kamu bisa memaafkan aku."
Keutuhan rumah tangga hanya bisa dipertahankannya jika kedua belah pihak saling percaya satu sama lain. Seketika Baby Reva menangis dengan kencang.
"Sayang, bolehkah aku," belum selesai Revano berbicara Kezia langsung memberikan kode anggukan dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Seperti mimpi Kezia mengizinkan aku untuk dekat dengan Reva." Batin Revano.
Revano matanya berbinar-binar saat diizinkan menggendong putrinya. Sudah sebulan lamanya Revano tidak diizinkan untuk menggendong anaknya. Perlahan Revano berjalan mendekati kamarnya dan lalu menggendong putrinya yang masih terus saja menangis.
"Cup.. Cup... Reva, ini Papa sayang," ucap Revano sambil mengecup pipi anaknya beberapa kali. Revano memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Papa kangen sama kamu nak," ucapnya kembali sambil mengecup kening Reva dan mengusap kepalanya perlahan.
Tahu Papanya yang menggendongnya seketika Baby Reva berhenti menangis.
"Anak Papa pintar banget sih, digendong Papa langsung berhenti menangis. Kalau kamu sudah besar jika menangis akan Papa belikan apapun yang kamu minta nak. Karena kamu adalah anak yang Papa sayangi."
Revano lalu mengajak bercanda anaknya dan Baby Reva tertawa saat digendong Revano.
"Kamu cantiknya seperti Mamamu nak," ucapnya kembali. Bayi itu menggeliat dan bersuara khas bayi. Revano sangat gemas dengan anaknya dan lalu mengusap pipinya yang semakin hari menurutnya terlihat lucu.
Kezia tersenyum tipis dan memang anaknya butuh kasih sayang dari Papanya. Kebahagiaan anaknya adalah yang terpenting bagi Kezia dan Kezia akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Revano. Kezia berpikir bahwa rumah tangganya sedang diuji dengan adanya Viona.
"Iya kalau Reva lagi tersenyum seperti itu mirip dengan kamu sayang," ucap Kezia yang seketika membuat Revano mematung sejenak.
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu barusan memanggilku dengan sebutan sayang?" tanya Revano ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.
"Apa aku harus berbicara dua kali Revano Putra Wijaya? Suamiku yang manja kamu masih bisa mendengar perkataanku yang tadi kan sayang?" ucap Kezia yang diakhiri dengan tawanya.
Revano tersenyum akhirnya perlahan istrinya kembali lagi memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Malam ini kamu boleh tidur di kamar kembali." Mata Revano langsung berbinar-binar.
Revano sangat bahagia diizinkan lagi tidur di kamar dan bisa dekat dengan Kezia sekaligus Baby Reva. Anaknya seketika bersuara khas bayi.
"Makasih sayang. Lihatlah Baby Reva bahagia kamu mengizinkan aku kembali tidur di kamar."
Kezia berjalan mendekati Revano dan juga anaknya.
__ADS_1
"Aku melakukan ini semua demi anak kita. Aku tidak ingin dia kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya," ucap Kezia sambil mengusap wajah putrinya dan memberikan kecupan dipipi bayi cantik itu.
"Iya aku tau. Kamu adalah ibu yang baik." Revano memberikan kecupan singkat pada kening Kezia.
Kezia tersenyum tipis. Revano bahagia istrinya tidak marah lagi.
"Kamu juga ayah yang baik Revano," Kezia memegang pipi Revano dan kemudian mengecup pipinya sejenak.
Revano tidak menyangka Kezia akan melakukan hal itu. Betapa bahagianya Kezia bisa seperti dulu lagi.
"Aku bahagia kamu sudah bersikap lebih dewasa dan tidak seperti dulu sewaktu kita baru menikah. Bahkan dulu kita ribut hampir setiap hari."
"Ah aku jadi malu sayang jika mengingat awal-awal kita menikah setahun yang lalu."
"Hahaha, aku masih ingat kamu dulu masih memeluk boneka. Tapi kenapa sekarang tidak?" ucap Kezia meledek suaminya.
"Karena sudah ada kamu dan putri kita. Maafkan aku yang dulu masih bersikap kekanak-kanakan."
"Sekarang kamu berjanjilah padaku dan tidak akan pernah meninggalkan aku dan putri kita."
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu dan putri kita. Karena aku sangat sayang sama kalian. Kamu dan Reva adalah yang paling penting dalam hidupku."
"Aku akan mempertahankan rumah tangga kita Revano. Pelakor itu yang harus pergi dari kehidupan kita. Aku tidak rela jika harus berbagi suami dengannya. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Kamu adalah milikku, selamanya menjadi milikku dan tidak akan pernah aku lepaskan." Batin Kezia.
Malam telah tiba akhirnya Revano bisa kembali tidur bersama istrinya. Baby Reva tidur di antara mereka. Entah kenapa malam ini Baby Reva tidak menangis seperti biasanya. Kezia merasa mungkin karena Papa dan Mamanya berada disampingnya jadi Reva tidak rewel saat malam hari.
"Nak, Mama semakin tidak rela melepaskan Papamu bersama wanita lain. Kita harus bisa bekerjasama untuk membuat Papamu tidak peduli dengan wanita itu." Batin Kezia.
"Selamat tidur sayang," ucap Revano tersenyum.
"Selamat tidur juga sayang," jawab Kezia dengan senyuman.
Revano bahagia rumah tangganya kembali harmonis seperti dulu lagi. Mereka tidur saling berhadapan dan ada Baby Reva ditengah-tengah antara mereka. Tak lama kemudian mereka sudah terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1