
Kezia lalu melepaskan pelukannya. Pandangan Revano lalu mengarah pada perut Kezia. Yang sudah semakin membesar.
"Selamat tidur anak Papa." Revano memberikan kecupannya pada perut istrinya dan lalu mengusap perut Kezia.
"Selamat tidur juga Papa," jawab Kezia menirukan suara anak kecil sambil mengusap perutnya. Kezia maupun Revano sama-sama merasakan adanya pergerakan dari dalam perut Kezia. Mereka lalu saling berpandangan.
"Sayang, apakah kamu merasakannya?"
"Iya, dia begitu aktif menendang-nendang dalam perutku," jawab Kezia dengan senyuman.
Revano bahagia setiap kali mengusap perut sang istri, putrinya selalu merespon dengan tendangan kecilnya.
"Sayang, aku bahagia setiap kali aku mengusap perut kamu, anak kita merespon dengan tendangannya."
"Iya sayang, dia tahu kalau Papanya yang memberikan perhatian kepadanya," ucap Kezia dengan senyuman.
"Sayang, kalau begini aku jadi ingin punya anak lebih dari satu."
Kezia matanya terbelalak saat Revano meminta anak lebih dari satu. Padahal saat ini dirinya sedang mengandung anaknya.
"Revano, ini satu saja belum lahir." Sambil memegang perutnya.
"Hehe kan hanya rencana saja sayang," ucapnya terkekeh sambil memegang pipi Kezia dan mencubitnya dengan gemas.
"Hmm... Apapun yang kamu mau, aku akan turuti sayang," jawab Kezia dengan senyuman.
"Benarkah?" Revano tidak percaya bahwa Kezia akan mengabulkan permintaannya.
"Iya suamiku, tapi dua anak saja cukup kan?" Tanya Kezia menatap wajah suaminya.
"Cukup kok sayang."
"Tapi nanti saja ya, setelah anak kita sudah TK atau SD. Biar jaraknya tidak terlalu dekat."
"Iya sayang. Makasih ya sayang. Selamat tidur istriku," Revano lalu mengecup kening Kezia.
"Selamat tidur juga suamiku," jawab Kezia lalu dengan cepat mengecup pipi kiri Revano.
"Yang kanan belum sayang?" ucap Revano terkekeh sambil menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.
"Hmm, kebiasaan minta paket lengkap." Kezia lalu mengecup pipi Revano kembali.
"Biar tidak iri sayang dan biar kita semakin mesra," ucapnya kembali.
__ADS_1
"Dasar modus! Sudahlah yuk sekarang kita tidur."
Mereka lalu memutuskan untuk tidur karena sudah malam. Kezia dan Revano merebahkan tubuhnya ke ranjang. Revano membiarkan istrinya senyaman mungkin untuk tidur. Kezia tidur di lengan kekar suaminya sambil memeluk suaminya. Revano tidak menyangka kehidupan rumah tangganya akan seperti ini. Dulu dalam benaknya sifat Kezia tidak akan pernah berubah. Tapi ternyata dugaannya salah. Kezia bisa berubah menjadi baik dan bahkan sikapnya menjadi keibuan. Revano jadi berpikir bahwa kehadiran sang buah hatinya bisa mengubah sikapnya jadi seperti ini. Revano berharap setelah anaknya lahir nanti sikap Kezia tidak akan pernah berubah seperti dulu lagi.
Di kamarnya, Sandra sudah tertidur pulas. Reno memeluk istrinya dengan melingkarkan tangannya ke perut Sandra. Reno mengusap-usap pelan agar Sandra tidak terbangun dari tidurnya.
"Aku tidak menyangka akan menjadi ayah secepat ini. Kalau diingat-ingat lucu juga nikah bareng sama Revano. Istriku juga hamilnya bareng sama istri adikku. Bahkan hanya berbeda 2 bulan saja," ucapnya tersenyum.
"Papa menunggu kelahiran kamu nak. Jagoan Papa cepat tumbuh besar ya nak," ucapnya kembali sambil terkekeh sendiri mendengar perkataannya.
Sekitar sebulanan lagi jagoannya akan lahir. Alangkah bahagianya saat USG waktu itu Dokter mengatakan bahwa Sandra mengandung bayi laki-laki. Reno bahagia akan memiliki anak laki-laki sesuai dengan harapannya.
...*****...
Di kamar Risa lalu mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa.
"Sayang, ini diminum dulu."
Rey meletakkan hpnya dan lalu meraih gelas dari tangan Risa dan langsung meminumnya.
"Makasih ya sayang," ucap Rey sambil meletakkan gelasnya di meja.
"Iya sama-sama suamiku..." Risa lalu juga meminum air putihnya.
"Wah, aku jadi teringat saat kamu dulu hamil sayang. Aku juga selalu menemanimu saat kamu ngidam."
"Iya, kamu selalu masak dan menemaniku makan malam." Risa tersenyum. Rey beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Risa.
"Aku bahagia kedua anak kita bisa masak. Itu semua berkat kamu istriku yang hebat."
"Aku hanya mengajarkan anak kita agar bisa menggantikan istrinya memasak saat istrinya sedang hamil ataupun melahirkan." Risa membalas pelukan Rey.
Rey melepaskan pelukannya. "Makasih sayang, kamu telah mengajarkan anak-anak kita dalam kebaikan. Aku semakin sayang dan cinta padamu," ucapnya sambil mendaratkan kecupannya dikening Risa.
Risa bahagia meskipun mereka dulu hanya dijodohkan tapi akhirnya mereka kini saling mencintai dan dikaruniai dua anak dari pernikahannya.
"Aku juga sayang dan cinta sama kamu, suami kecilku." Risa memegang pipi Rey.
"Kamu kok kata-kata itu muncul lagi setelah belasan tahun aku tidak mendengarnya. Sayang, kita ini sudah mau punya cucu. Bahkan dua cucu loh."
"Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi suami kecilku," ucap Risa terkekeh.
"Sayang, kita hanya berbeda usia beberapa bulan saja. Aku tidak suka kamu memanggilku suami kecil. Kita sebentar lagi juga akan menjadi Kakek dan Nenek. Sandra sebulanan lagi akan segera melahirkan cucu pertama kita."
__ADS_1
"Hmm, iya sayang. Ayo kita tidur, sudah malam."
"Tidak mau. Kamu harus membayar atas tadi kamu sudah mengatai aku suami kecil."
"Maksudnya?" Risa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku merindukan dirimu," ucap Rey berbisik pada telinga Risa.
Risa matanya terbelalak saat mendengar perkataan Rey. Risa tahu apa maksud dari perkataan suaminya jika berkata seperti ini.
"Sayang, kita buatkan adik yuk untuk Revano. Aku merasa kesepian saat kedua anak kita berada di apartemennya mereka masing-masing."
"Aku tidak mau!" Risa langsung menolak ajakan suaminya.
"Sayang kamu masih bisa hamil karena kita dulu menikah saat usia masih terbilang sangat muda."
"Rey aku tidak mau hamil lagi. Kamu tidak lihat kalau kita akan punya dua cucu? Aneh kan kalau kedua menantu kita hamil dan aku hamil juga?"
Rey menghiraukan perkataan Risa. Rey menjawab dengan berbalik tanya dengan Risa. "Sayang mau ya?" ucapnya dengan nada memohon.
"Tidak! Aku bilang tidak ya, tidak Rey!" Gertak Risa.
"Ya sudah....." Rey hanya bisa pasrah jika istrinya tidak mau lagi punya anak. Padahal sepertinya Rey tidak ingin merasakan kesepian.
"Aku akan meninta Revano untuk tinggal menetap di rumah kita. Biar kita gak kesepian."
"Hmm......." Rey hanya menjawab deheman saja.
"Rey, kamu marah sama aku?" Tanya Risa dengan melihat aura wajah Rey yang terlihat masam.
"Tidak......" Jawabnya singkat.
Risa kini tahu suaminya tengah kesal dengannya saat tadi Risa tidak mau punya anak lagi. Rey jadi merasa kesepian. Maka dari itu Risa akan membujuk putra bungsunya untuk tinggal menetap di rumahnya. Risa akan tetap menjalankan tugasnya sebagai istri.
"Rey, kita bisa melakukannya. Tapi kalau untuk punya anak, aku tidak bisa mengabulkan permintaan kamu. Karena kita cocoknya menggendong cucu bukan menggendong anak lagi."
"Beneran sayang kamu mau?" Mata Rey langsung berbinar-binar. Rey tadi bilang seperti itu memang sebenarnya Rey tidak ingin merasa kesepian karena kedua anak-anaknya ke apartemennya masing-masing.
"Hmm iya....." Jawabnya singkat.
"Akhirnya rayuanku berhasil juga membujuk Risa." Batin Rey tersenyum bahagia.
Mereka lalu melakukan apa yang semestinya mereka lakukan. Risa tak mau mengecewakan Rey. Sedangkan di kamar lainnya kedua putranya dan kedua menantunya sudah tertidur pulas menuju ke alam mimpi.
__ADS_1