
Malam telah tiba Elena takut jika suaminya benar-benar memintanya malam ini. Sekarang Keano sedang mengambil minum di dapur. Elena sekarang bingung mau gimana.
"Apa aku pura-pura tidur saja ya?" lirihnya.
"Ah, tidak-tidak. Aku akan bilang jujur saja sama Keano. Pasti Keano akan mau ngertiin aku," ucapnya kembali.
Suasana jadi canggung saat Keano masuk ke kamarnya. Keano meletakkan gelasnya di atas nakas dan lalu naik ke ranjangnya.
"Sayang, kenapa kamu bengong begitu hem?"
"Tidak apa-apa, syukurlah," ucap Elena sambil menghembuskan napas kasar.
"Syukurlah apanya?" Keano mengernyitkan dahinya.
"Tidak apa-apa kok sayang, sudah malam sebaiknya kita tidur," jawab Elena dengan cepat.
"Jawablah dengan jujur sayang," ucap Keano dengan nada lembut sambil memegang pipi istrinya.
"Syukurlah kamu tidak memintaku malam ini."
"Siapa bilang? Aku tetap akan memintamu malam ini. Kita akan melakukan yang seharusnya kita lakukan sebagai pasangan pengantin baru."
"Tapi-tapi aku belum siap Keano. Ehm, maksudnya aku belum siap untuk hamil." Elena jadi bingung menjawabnya.
"Duh, salah bicara lagi. Harusnya aku tadi bilang belum siap untuk melakukannya." Batin Elena.
"Sayang kamu takut hamil? Kamu sudah bersuami, apa yang kamu takutkan?"
"Tapi kan kita belum menggelar acara resepsi pernikahan kita. Aku tidak mau hamil sebelum lulus pendidikan S2."
"Sayang, yang menikah puluhan tahun saja ada yang belum bisa diberikan keturunan. Jadi kamu gak usah takut untuk hamil. Kita sedikasihnya sama Allah saja. Kamu jangan menunda kehamilan ya sayang. Cepat atau lambat kita pasti juga akan punya anak," ucap Keano dengan senyuman manisnya, Elena kini semakin salah tingkah.
"Keano tapi aku takut," ucap Elena sambil menggigit bibirnya.
"Tidak usah takut sayang, nanti kamu juga akan terbiasa."
"Akan terbiasa katanya?" Batin Elena yang merasa semakin merinding.
Keano sudah membaca doa dan lalu memulainya dengan mengecup kening istrinya. Mereka lalu melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Elena tak bisa menolaknya karena dia sendiri yang tadi telah salah bicara. Malam pertama mereka pun berjalan dengan lancar dan tanpa kendala.
...*****...
Pagi hari Keano mengerjapkan matanya. Keano melihat sang istri yang masih tertidur pulas. Keano mengecup kening istrinya. Elena tidak bangun dari tidurnya dan terlihat masih tertidur dengan pulas.
"Maaf sayang, aku telah membuatmu lelah," ucap Keano sambil membelai rambut panjang istrinya.
Keano bahagia dirinya yang pertama kali menyentuh istrinya. Keano lalu memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi Keano melihat istrinya masih tertidur.
"Sayang, bangun sudah jam 9 pagi."
Elena mulai mengerjapkan matanya dan terkejut saat wajahnya dan wajah suaminya hanya berjarak 10 cm. Dengan cepat Keano mengecup bibir istrinya.
"Morning kiss," ucapnya.
__ADS_1
"Keano apa-apa sih! Aku kan belum mandi."
Elena tahu suaminya baru saja mandi dan masih terlihat rambutnya yang basah.
"Tidak apa-apa sayang, makasih untuk semalam. Kamu telah menjaga mahkota berharga kamu dan hanya memberikannya untukku."
"Iya, sudah jangan dibahas lagi Keano, aku jadi malu," ucap Elena yang kini pipinya merah merona.
"Tidak usah malu sayang," ucap Keano terkekeh.
"Aku mau mandi," ucap Elena.
Elena saat ini ingin mandi dan saat akan turun dari tempat tidurnya Elena merasa sakit pada bagian sensitifnya.
"Arghhh....." Elena sampai terjatuh dari tempat tidurnya karena masih merasa perih.
"Sayang......." Keano yang menyadari hal itu langsung menggendong istrinya ke kamar mandi.
"Keano, kamu jangan sembarangan menggendongku," ucap Elena.
Keano menghiraukan perkataan istrinya dan lalu mendudukkan istrinya dalam bathtub yang sudah tadi Keano isi dengan air hangat.
"Aku akan membantumu mandi."
"Tidak usah, kamu keluar saja dan aku bisa mandi sendiri."
"Tapi kan kamu tadi..." Perkataannya terpotong karena Elena tengah berteriak menyuruh Keano keluar.
"Keluar!" Teriak Elena lagi sambil menunjuk pintu kamar mandi.
"Punya istri dan Kakak sama saja. Galak semuanya," ucapnya sambil menepuk jidatnya.
Tak lama kemudian Elena sudah selesai mandi. Keano saat ini sedang melihat foto pernikahannya saat akad kemarin pagi, Keano lalu tersenyum. Keano meletakkan hpnya dan mendekati istrinya yang sedang duduk di meja riasnya. Elena sedang mengeringkan rambutnya.
"Sayang, apa masih sakit?"
"Hmm, iya masih sedikit. Kenapa emangnya?"
"Tidak apa-apa," jawab Keano dengan cepat.
"Jangan bilang kamu ingin lagi? Badanku rasanya sudah remuk semua Keano."
Keano masih ingat semalam mereka melakukannya beberapa kali.
"Tidak sayang, aku tidak setega itu sama kamu. Justru aku akan membawamu ke rumah sakit jika masih sakit," ucap Keano.
"Kita konsultasi saja yuk ke Dokter," ajak Keano.
"Tidak mau, sangat memalukan sekali jika konsultasi."
"Tapi sayang," ucap Keano yang langsung dijawab oleh Elena.
"Tidak ada tapi-tapian."
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kita sarapan saja..." Keano pasrah aja dengan keputusan istrinya.
Elena sekarang sudah berganti baju. Elena dan Keano sekarang turun dari kamarnya. Mereka akan sarapan pagi menjelang makan siang. Tadi Bibi tidak membangunkan mereka untuk sarapan. Evan yang mencegahnya karena tahu apa yang sedang terjadi. Elena semalam lupa mengaktifkan mode kedap suara kamarnya Karena memang biasanya dia tidak mengaktifkannya. Elena lupa kalau sudah bersuami sekarang.
"Wah, anak dan menantu Mama baru kelihatan nih," ucap Luna menggoda Elena dan Keano.
Meskipun mereka sudah selesai sarapan duluan tapi Evan dan Luna menikmati teh hangat bersama di ruang makan sambil menunggu anak dan menantunya turun dari kamarnya.
"Maaf Mama, Papa. kita bangunnya kesiangan."
"Iya nak tidak apa-apa, justru Papa senang karena cucu Papa sedang OTW," ucap Evan diakhiri dengan gelak tawanya.
"Hehehe, iya. Cucu Papa sedang on the way dan sebentar lagi akan launching," ucap Keano terkekeh.
"Aamiin, ditunggu kabar bahagianya nak."
"Iya Papa," ucap Keano sambil tersenyum.
Luna lalu teringat akan sesuatu.
"Kalian ini harusnya mengaktifkan mode kedap suara dulu biar kita tidak mendengarnya."
"Apa?" tanya Keano terkejut dan langsung melirik ke arah istrinya.
"Astaga... Aku lupa Mama," ucap Elena menepuk jidatnya.
"Iya jelas saja kamu lupa sayang. Karena kamu sudah terbuai dengan ketampanan suamimu ini," ucap Luna terkekeh.
Keano bahagia mertuanya bilang bahwa dirinya tampan dan memang kenyataannya seperti itu. Bahkan Keano dan Kenzo seperti pinang dibelah dua. Tingkat kemiripannya 90%.
"Kalian sarapan dulu. Eh? Lebih tepatnya makan siang soalnya sekarang sudah jam sepuluh." Evan tersenyum menampilkan gigi putihnya.
"Papa dan Mama tinggal dulu ke taman belakang ya nak. Kami tidak ingin menganggu makan bersama kalian," ucap Luna.
"Iya Mama..." Keano dan Elena menjawab bersamaan.
Evan dan Luna pergi ke taman belakang untuk sekedar melihat tamannya dan mengobrol. Sedangkan Elena dan Keano sedang makan bersama dengan lahapnya.
"Sayang, aku jadi malu sama Papa dan Mama."
"Iya sama. Apalagi aku lupa mengaktifkan mode kedap suara."
"Tapi untungnya Papa dan Mama memakluminya."
"Sudah jangan dibahas lagi."
Elena mulai besok akan tinggal di rumah mertuanya, di sana ada Revano dan juga Kezia. Karena Kezia ingin tinggal di rumahnya sampai melahirkan nanti. Elena akan ikut dengan suaminya, bagaimanapun sekarang Keano adalah suaminya jadi kemanapun Keano pergi Elena akan ikut. Elena berjanji akan sering berkunjung ke rumah orangtuanya agar mereka tidak kesepian.
Di taman belakang Evan dan Luna saling melempar senyuman.
"Sayang, sebentar lagi kita akan punya cucu."
"Ah iya sayang, aku sudah tidak sabar melihat Elena hamil. Coba kamu bayangkan jika Elena hamil anak kembar pasti perutnya akan terlihat semakin menggemaskan karena saking besarnya," ucap Luna yang menginginkan cucu kembar.
__ADS_1
Evan lalu membayangkan dan akhirnya mereka tertawa bersama setelah membayangkan Elena akan hamil anak kembar.